
Tak jauh berbeda dengan Abdi dan Aurora, setelah mengetahui perjodohan itu dibatalkan. Keesokan harinya Abdi menyusul ke Kota B.
Abdi akan membuktikan keseriusannya, kalau dia memang mencintai Aurora.
Aurora berharap bisa membuka hatinya hanya untuk Abdi, dan lambat laun akan melupakan Leon.
Sore ini Aurora menjemput Abdi ke stasiun. Tepat pukul 4 sore, kereta yang membawa Abdi tiba.
Aurora melihat Abdi keluar dari dalam stasiun, ia melambaikan tangannya. Entah mengapa ia merasa bahagia melihat Abdi datang.
"Hai Di, capek ga?" sapa Aurora sambil tersenyum manis.
"Enggak kok, apalagi sudah ditunggu sama nona cantik ini, bukan apa - apanya!" goda Abdi sambil mencubit gemas pipi Aurora.
"Auww sakit tau!" teriak Aurora.
"Maaf habis gemes sih!" ucap Abdi.
"Tapi ga usah lebay dong.. udah yuk kita ke parkiran." ajak Aurora.
Mereka berjalan beriringan menuju parkir mobil, kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Aurora.
Sesampai di rumah, mereka telah disambut Papa dan Mamanya Aurora.
"Malam Om dan Tante, saya Abdi teman Aurora." sapa Abdi dengan hormat.
"Malam.. yakin cuma teman?" goda Mama Lusi.
"Hehee habisnya putrinya belum jawab - jawab Tante." jawab Abdi asal sambil tertawa.
"Heii.. kamu ku minta menyusul ke sini itu apa artinya Di? lagian kamu juga ga nanya lagi." balas Aurora pura - pura marah.
"Udah... udah jangan berantem. Nak Abdi masuk dulu. Mau mandi dulu atau langsung makan nih?" tawar Papa Andika.
"Saya mandi aja dulu Om." jawab Abdi.
"Oke. Rara antar Nak Abdi ke kamar buat tamu." perintah Papa Andika.
"Siap bos!" jawab Aurora.
Kemudian Aurora mengantar Abdi untuk memebersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Abdi menyusul keluarga Aurora untuk makan malam. Setelah selesai santap malam, Papa Andika mengajak mereka mengobrol di ruang keluarga.
__ADS_1
"Nak Abdi teman SMA Leon?" tanya Papa Andika saat mereka sedang santai duduk di ruang keluarga.
"Betul Om, kami bersahabat sejak SMA, namun setelah kuliah kami memilih fakultas yang berbeda." jelas Abdi sopan.
"Oh ya, Nak Abdi memilih jurusan apa?" tanya Papa Andika.
"Saya Sastra Jepang Om di Universitas Negerinya, selain itu saya mengambil kursus musik juga." jawab Abdi.
"Kenapa Nak Abdi menyukai putri saya?" tanya Papa Andika serius.
"Sejak pertama bertemu saya sudah jatuh cinta Om. Tidak perlu alasan apapun, saya merasa nyaman. Waktu itu saya juga tidak tau kalau Rara wanita yang dijodohkan dengan Leon." jawab Abdi jujur.
"Terus setelah tau? kamu bagaimana?" selidik Papa Andika.
"Tetap lanjut Om, karena saya sangat memahami karakter sahabat saya, selain itu Leon mencintai Viona. Saya percaya Rara bakal menerima kehadiran saya Om." jelas Abdi.
"Saya salut juga sama kamu yang pantang menyerah!" balas Papa Andika.
"Terimakasih Om. Saya akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan Rara." janji Abdi.
"Sekali lagi saya hargai keberanianmu, anak muda zaman sekarang harus begitu, tau apa yang kalian mau. Ada tapinya.." ucap Papa Andika sedikit menggantung.
"Tapi apa Om?" tanya Abdi penasaran, dalam hati ia gugup juga kalau sampai ditolak.
"Ya Om, saya janji." balas Abdi.
"Oke, saya tunggu janjimu. Berhubung sudah malam, saya mau istrihat dulu. Ayo Ma kita ke kamar." ucap Papa Andika sembari mengajak istrinya ke kamar.
Setelah Papa Andika dan Mama Lusi tidak nampak,
"Hufhhh..." ucap Abdi lega sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa.
"Hahaha... kenapa Di? lucu banget deh kamu, tadi gayanya sok tangguh banget!" ledek Aurora sambil tertawa.
"Kalau gak demi kamu Ra, mungkin tadi aku udah kencing di celana, gilaa.. papamu introgasinya kayak aku terdakwa saja!" terang Abdi.
"Hihii sudah ga usah takut, papaku emang gitu kadang susah diajak bercanda, tapi aslinya orangnya baik banget kok." jelas Aurora.
"Iya, makasih ya." ucap Abdi ambigu.
"Untuk apa?" tanya Aurora kebingungan.
"Untuk kesempatan yang kau berikan!" jawab Abdi sambil menatap pujaan hatinya.
__ADS_1
"Aku yang terimakasih Di, kamu yang begitu pantang menyerah. Akhirnya aku menyadari bahwa kenyamanan yang aku cari, dan itu ada disaat bersamamu." balas Aurora.
Reflex Abdi hendak memeluk Aurora namun Aurora melarangnya.
"Heii.. jangan Di. Ga enak nanti dilihat orang lain. Baru aja dapat restu ntar ditarik lagi kan susah." tolak Aurora.
"Reflex sayang.. aku kangen banget sama kamu! Oh ya, kabar Leon dan Viona bagaimana?" ucap Abdi sambil nyengir.
"Baik kok. Kayaknya Vio masih di sini kok." jawab Aurora.
"Kalau gitu besok kita janjian ketemu dengan mereka yuk!" ajak Abdi.
"Boleh. Coba kamu hubungi Leon." kata Aurora.
"Oke. Bentar ya."
Abdi langsung menelepon Leon,
"Halo Di! ada apa?" jawab Leon.
"Halo Leon, kamu di mana?" balas Abdi.
"Lagi di rumah. Kenapa?" jawab Leon.
"Aku udah sampai di rumah Rara nih. Kamu besok ada acara tidak?" kata Abdi.
"Belum sih, paling besok sore anter Viona ke stasiun." jawab Leon.
"Loh Vio udah mau balik?" tanya Abdi.
"Iya. Dia ada acara keluarga besok Sabtu. Jadi pulang duluan. Gimana kalau kamu main ke rumahku aja paginya." tawar Leon.
"Bisa. oke besok aku ke rumahmu dengan Rara. Aku tutup dulu ya." jawab Abdi.
"Oke!" balas Leon kemudian menutup panggilan telepon dari Abdi, sambungan teleponpun terputus.
"Ya sudah sekarang kita istirahat aja Di. Kamu pasti udah ngantuk kan." ucap Aurora.
"Iya nih. Besok jam 9 kita main ke rumah Leon ya. Viona besok sore sudah balik."
"Siap!" jawab Aurora.
Kemudian mereka masuk ke kamar masing - masing untuk istirahat.
__ADS_1
bersambung...