Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Masih Ragu


__ADS_3

...Jika kamu tidak bisa mencintainya,...


...setidaknya jangan kau sakiti....


^^^Leon Aditama^^^


Pagi harinya Leon mendatangi pengelola gedung apartemen ditemani Dimas. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya mencarikan apartemen untuk Aurora.


Ternyata masih ada sekitar 5 kamar kosong di sana. Leon segera menghubungi Aurora untuk melihat dan memilih sendiri.


Sewaktu sedang bersama Aurora, Abdi menghubungi Leon mengajak bertemu. Akhirnya Abdi menyusul bergabung dengan mereka.


Jiwa playboynya muncul saat melihat Aurora, "Siapa Leon? boleh dong dikenalin hmm.."


"Kenalan aja sendiri, jangan sok polos!" ejek Leon.


Abdi hanya tersenyum kecut. Sedangkan Aurora hanya diam sambil memandang Abdi dari atas ke bawah, 'cowok ini manis juga, tapi kok kayak player ya' batinnya.


"Halo cantik! kenalkan aku temannya Leon. Namaku Abdi." kata Abdi dengan percaya dirinya, sambil mengulurkan tangannya menyalami Aurora.


Aurora menyambutnya, saat tangannya digenggam Abdi, entahlah dia merasakan kenyamanan saat menatap mata Abdi.


"Hai aku Aurora." jawab Aurora singkat.


"Leon kamu punya teman cantik kenapa ga dikenalin sih dari kemarin - kemarin. Viona kemana nih?" ucap Abdi dengan cueknya, memang anak satu ini suka ceplas - ceplos jadi susah jaga rahasia.


"Dia anak dari teman papaku, yang akan kuliah di sini. Vio ada di rumahnya. Hari ini aku anter Aurora cari apartemen." jawab Leon jujur karena memang kemarin dia juga sudah pamit dengan Viona.


"Owh.. gitu ya. Kalau aku yang anterin mau tidak Ra? Biar Leon kangen - kangenan sama Viona." tawar Abdi.


"Eh gimana ya Leon, aku sih terserah." jawab Aurora ragu karena mau menolak tapi pasti Leon juga tidak akan membelanya.


"Beneran Di? kalau iya jadi aku bisa nitip kamu." ucap Leon senang.


"Beneran lah.. i'm free now." jawab Abdi.


"Oke, maaf ya Aurora, berhubung ada keperluan lain, kamu sama Abdi saja ya, tenang saja walaupun dia ganjen seperti itu, aslinya baik kok."


"Makasih broo...!" ucap Abdi bangga karena dipuji Leon.


"Dimas mau ikut kakak atau Aurora?" tanya Leon kepada adeknya.


"Aku ikut Kak Rara saja. Kalau Kak Leon mau kencan silahkan, biar aku tidak mengganggu hehehe...!" jawab Dimas bijak, karena ia tau kakaknya seperti masih merindukan sahabatnya.


"Okelah! Aurora aku nitip Dimas ya. Makasih" pamit Leon dengan memberikan senyuman kepada Aurora yang membuat ia sempat bahagia sesaat.


Leon segera beranjak dari sana langsung menghubungi Viona.


**


Tak lama kemudian Leon sudah sampai di rumah Viona.

__ADS_1


Viona menyambut kedatangan Leon dengan bahagia. Mereka berbincang di ruang tamu.


Leon mengajak Viona keluar karena ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan dengannya.


Tibalah mereka di Cafe 'Bunga Telang'


Leon memegang tangan Viona, "Vio ada hal yang mau kubicarakan. Rasanya masih mengganjal dihatiku."


"Tentang apa Lee?"


"Kejadian sebelum aku berangkat ke Kota B, saat aku menciummu." jelas Leon.


Blusss... muka Viona merona kemerahan mengingat kejadian di apartemen Leon.


"Maaf ya Vio, aku sudah lancang, jujur semua reflex begitu saja, aku terbawa suasana karena kita akan berpisah sesaat." jelas Leon.


"Owh jadi hanya terbawa suasana ya Lee?" tanya Viona sedikit kecewa.


"Bukan gitu juga sih.. duh aku jadi bingung mau bilang apa."


"Terus apa maksudmu? kita kan sahabatan Lee, kenapa tiba - tiba kau menciumku?" tanya Viona penuh selidik.


"Tapi kamu juga membalasnya Vio, jadi bukan salahku juga kan?"


"Dasar ya.. hati kulkas! bisanya kamu malah nyalahin aku juga." timpal Viona tak percaya.


"Bukan nyalahin Vio, tapi berarti mau sama mau kan? hehhee.."


"Maaf Vio, aku belum siap cerita saat ini, aku tidak mau kehilanganmu setelah kamu mengetahui apa sebenarnya."


"Ada apa sih Lee? aku sebenarnya agak curiga juga setelah kemarin kamu mendadak balik ke sini. Apa ada hubungannya dengan Rara? Seringkali Rara seperti mengorek tentang dirimu."


Leon agak terkejut, ia tak menyangka ternyata Viona mulai curiga, ia takut lambat laun Viona akan mengetahui juga. Hanya saja, yang ia takutkan Viona mendengarnya dari orang lain.


"Tidak ada hubungan apa - apa Vio, apa selama ini aku pernah berbohong padamu? Aku hanya belum siap cerita." jawab Leon masih menutupi.


"Ya sudah kalau kamu belum siap cerita, aku juga tidak akan memaksa Lee.. lagian aku cuma sahabatmu, apa hakku. Tapi ingat, jangan lagi kamu main nyosor seenakmu ya!" kata Viona sambil mengancam Leon.


"Iya Vio, tapi ga janji ya.. hahaa!" timpal Leon cuek.


Saat tertawa, dengan sengaja Viona memasukkan kentang goreng ke mulut Leon, sehingga Leon reflex menutup mulut dan mengunyah kentang itu.


"Hahaa enak kan?! wekk..!" ledek Viona.


Mereka berdua memang seperti itu kadang ribut tapi dengan cepatnya juga berdamai.


***


Di lain tempat tepatnya di gedung apartemen 'SAKURA' dimana Leon juga menyewa di sana. Tampak Aurora, Abdi dan Dimas masih melihat satu persatu kamar yang siap disewakan.


Akhirnya Aurora memilih kamar yang terletak satu lantai di bawah kamar Leon. Kamar dengan desain minimalis terdiri dari 2 ruang tidur, ruang tamu dan dapur. Selain itu ia telah jatuh cinta dengan interior kamar tersebut, perpaduan warna abu - abu dan putih yang elegan.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pembayaran sewa untuk 1 tahun, Aurora mengambil barang - barangnya yang dititipkan di kamar Leon. Hari ini Aurora juga telah cek out dari hotel.


Abdi, Dimas dan Pak Kurdi ikut membantu membawakan barang - barangnya.


"Terimakasih ya Pak Kurdi, Dimas dan Abdi. Nanti biar aku sendiri yang menatanya, yang penting semua sudah masuk ke sini semua. Oh ya, Dimas sampai kapan rencanamu di sini?" ucap Aurora.


"Sama - sama." jawab mereka bertiga hampir bersamaan.


"Pak Kurdi sudah mau kembali ya? kalau mau duluan tidak apa - apa, aku masih pengen liburan di sini. Nanti aku pulangnya naik kereta saja." jawab Dimas.


"Gini den, sebenarnya saya mah nurut aja. Tapi berhubung Tuan Andika sudah menanyakan kapan kembali, sepertinya saya tidak bisa lama - lama di sini." jawab Pak Kurdi.


"Ya udah Pak Kurdi duluan saja, tadi kan Dimas bilang bisa naik kereta." ucap Aurora bijak.


"Iya Pak, silahkan kalau mau duluan." timpal Dimas.


"Baiklah non dan den. Berarti nanti malam bapak berangkat." kata Pak Kurdi lega.


"Ya. Bapak istirahat dulu saja di kamar yang belakang. Supaya nanti fresh pas berangkat. Oh ya pak, sekalian saya mau bicara." saran Aurora.


Aurora dan Pak Kurdi jalan menuju kamar belakang.


"Ada apa non?" tanya Pak Kurdi.


"Ini pak uang transport buat nanti di perjalanan, selain itu aku bisa minta tolong tidak?" kata Aurora.


"Apa Non?"


"Tolong rahasiakan sikap Leon selama di sini ya Pak. Apalagi hubungan Leon dan Viona. Walaupun kami dijodohkan, aku tidak mau Leon terpaksa untuk menerimaku. Tolong ya Pak jangan sampai kedua orangtua kami tahu." jelas Aurora.


"O tentang itu Non, janji Non, bapak akan jaga rahasia." kata Pak Kurdi.


"Makasih ya Pak. Ya sudah bapak istirahat saja dulu. Nanti aku pesankan makanan, kalau sudah sampai nanti kukasih tahu."


"Ya Non, makasih."


Pak Kurdi masuk kamar, dan ia membatin, 'sebenarnya kasian Non Aurora, tapi yang namanya cinta juga tidak bisa dipaksakan sih, apalagi dua - duanya juga sama cantiknya, pasti den Leon juga bingung, ah sudahlah itu urusan mereka, yang penting tugasku hanya sebagai sopir sudah beres.'


Aurora kembali ke ruang tamu.


"Aku mau order makan siang nih, kalian mau apa guys?" tanya Aurora.


"Cocok nih, pas lapar Kak! Aku mau ayam bakar, es teh manis juga!" Dimas menimpali dengan semangat.


"Kamu apa Di?" tanya Aurora ke Abdi.


"Samain aja biar ga repot!" jawab Abdi singkat.


"Oke deh!"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2