
"Viona tunggu dulu.." teriak Leon mengejar Viona yang sudah beranjak pergi mengendarai motornya.
Viona tidak memperdulikan teriakan Leon. Ia sudah terlanjur kecewa, ternyata selama ini Leon sudah berbohong.
Leon segera naik ke atas kamarnya untuk mengambil kunci motor.
Mamanya dan Dimas dibuat bingung.
"Ada apa nak? kamu mau kemana lagi?" tanya Mama Audi.
"Maaf ma, aku pergi dulu ada urusan penting." jawab Leon sambil berjalan keluar apartemen.
Dalam waktu 10 menit Viona telah sampai di rumahnya, ia sudah menahan tangisnya supaya mamanya tidak curiga.
Viona langsung masuk ke kamarnya, ia menangis sejadi - jadinya. Leon yang ia anggap benar - benar mencintainya ternyata seorang pembohong.
Tak lama kemudian Leon sudah sampai di depan rumah Viona dan memencet bel rumah.
Mama Sinta yang membukakan pintu gerbangnya.
"Masuk saja Leon, Viona barusan pulang, tante panggilkan dulu ya." ucap Mama Sinta
Leon duduk menunggu di ruang tamu. Mama Sinta kemudian menuju kamar Viona.
Tok.. tokk..
"Vio.. ada Leon datang." kata Mama sinta sambil mengetok pintu kamar Viona.
Cekrek..
Viona membuka pintu kamarnya, "Ma, aku capek. Tolong bilang ke dia kalau aku udah tidur ya Ma."
"Vio kamu habis nangis sayang? ada masalah ya?" tanya Mama Sinta beruntun.
"Untuk saat ini aku belum mau ketemu Leon Ma.. tolong ya Ma." jawab Viona.
"Ya sudah, mama mengerti. Kamu istirahat dulu ya sayang." kata Mama Sinta sambil mengusap kepala putrinya.
"Makasih Ma." ucap Viona kemudian menutup pintu kamarnya kembali.
Mama Sinta kembali ke ruang tamu.
"Maaf ya nak Leon, Vionanya ternyata udah tidur." kata Mama Sinta.
"Ya sudah tante tidak apa - apa. Saya pamit dulu ya." balas Leon.
"Ya. Hati - hati di jalan ya sudah malam." kata Mama Sinta.
"Ya tante. Permisi" pamit Leon.
__ADS_1
Leon sangat menyesal kenapa ia menunda untuk memberitahu Viona tentang perjodohannya.
Leon mampir ke sebuah kedai kopi, malam ini ia enggan untuk pulang ke apartemennya. Leon memutuskan menghubungi Abdi. Malam ini ia akan menginap ke rumah Abdi.
**
"Pa.. apa yang sebenarnya terjadi? ini sudah larut malam, Leon belum pulang juga." kata Mama Audi khawatir.
"Aku juga belum tau pasti Ma, tadi pas kami ngobrol di lobby, tiba - tiba datang seorang gadis. Sepertinya ia mendengar perbincangan kami. Gadis itu terkejut kemudian lari keluar apartemen, terus Leon mengejarnya. Kata Rara itu pacarnya Leon." jelas Papa Dirga.
"Apa? Leon punya pacar?" kata Mama Audi tidak percaya.
"Entahlah. Kita belum tau pastinya. Sebentar, kita tanya Dimas saja Ma, barangkali kakaknya cerita." kata Papa Dirga.
"Besok aja Pa, Dimas sudah tidur." balas Mama Audi.
"Ya sudah. Telepon Leon saja, tanyakan dia di mana, dan suruh cepat pulang." titah Papa Dirga.
"Udah Mama coba dari tadi, tapi handphonenya tidak aktif." jelas Mama Audi.
"Anak itu, semakin tambah umur semakin susah dimengerti. Kita tidur saja Ma, paling juga dia menginap di rumah temannya." balas Papa Dirga.
Mama Audi mengikuti kemauan suaminya, namun hati seorang ibu tetap saja khawatir jika belum mengetahui kabar keberadaan di mana putra pertamanya itu.
Akhirnya Mama Audi hanya mengirim pesan kepada Leon. Dan hanya bisa mendoakan keselamatan putra pertamanya.
***
Leon sedang berbincang dengan Abdi di ruang tamu.
Leon berkata, "Aku nyesel Di, sekarang runyam jadinya."
"Sudahlah broo, menyesal tiada guna, mungkin sekarang Viona sedang kecewa dan marah, jadi maklum kalau dia tidak mau menemuimu." nasehat Abdi.
"Iya aku juga berpikir seperti itu. Mudah - mudahan ia mau mendengar penjelasanku serta mengerti kondisiku." harap Leon.
"Ya mudah - mudahan saja. Sekarang sudah larut malam Leon, sebaiknya kita tidur. Tenangkan pikiranmu dulu. Oke!" ucap Andi bijak.
"Makasih ya Di." balas Leon.
Akhirnya Leon menuju ke ruang tidur untuk tamu yang telah disediakan oleh Abdi. Ia merebahkan badannya, pikirannya menerawang jauh.
Leon sendiri tidak tau harus bagaimana lagi. Orangtuanya sepertinya tidak main - main dengan perjodohannya dengan Aurora.
Alhasil malam itu Leon susah memejamkan matanya, ia baru bisa tertidur sekitar pukul 3 dini hari.
****
Pagi harinya di rumah Viona.
__ADS_1
Mama Sinta heran anaknya sampai jam 8 pagi belum keluar juga dari kamarnya. Ia berinisiatif masuk ke kamar Viona yang pintunya tidak terkunci.
Mama Sinta kaget ternyata Viona masih tertidur, "Vio sayang, bangun nak. Kamu kuliah jam berapa?" ucapnya lembut.
Viona membuka pelan - pelan matanya. Ia merasakan pusing karena habis menangis semalaman. Badannya juga agak demam.
Mamanya menyuruh Viona untuk tidak masuk kuliah hari ini. Sebenarnya beliau ingin menanyakan apa yang terjadi, namun diurungkan niatnya.
Ting tong..
Terdengar bunyi bel rumah Viona.
Mama Sinta membukakan pintunya, "Nak Leon, silahkan masuk."
"Makasih tante, Viona ada tante?" sapa Leon.
"Ada. Masih di kamar, lagi tidak enak badan." jawab Mama Sinta. Beliau juga melihat Leon nampak kusut wajahnya.
"Ohh.. boleh saya jenguk Tante?" tanya Leon.
"Sepertinya jangan dulu. Sebenarnya tante tidak mau ikut campur nak. Tapi ada masalah apa kamu dengan Vio? semalam Vio menangis." jelas Mama Sinta.
"Maaf tante, saya bingung mau mulai cerita darimana. Kemarin Vio datang ke apartemen saya, dan ia mendengarkan pembicaraan kami. Saya benar - benar tidak bermaksud menyakitinya." jelas Leon ragu - ragu.
"Katakan saja nak. Siapa tau tante bisa bantu." kata Mama Sinta.
"Saya sebenarnya dijodohkan tante." ujar Leon
"Apa dijodohkan? sejak kapan?" tanya Mama Sinta yang terkejut dengan pengakuan Leon.
"Sejak liburan kemarin, dengan Aurora." jawab Leon jujur.
"Apa? Sama Aurora? Waduh tante tidak menyangka, kamu bisa tega membohongi Viona selama itu!" ucap Mama Sinta.
"Maafkan saya tante. Saya mencintai Viona tante, saya tidak mau kehilangan dia. Makanya saya nekat pacaran dengan Viona. Saya punya rencana sendiri tante." pengakuan Leon.
"Begini ya nak Leon, putri tante juga sangat berharga. Jadi dia berhak bahagia dan diterima. Kalau kamu dijodohkan otomatis kehadiran Viona tidak diinginkan keluargamu. Jadi lebih baik nak Leon menjauhi putri tante mulai sekarang." nasehat Mama Sinta.
"Tante dengarkan penjelasan saya dulu. Saya janji nanti setelah saya lulus. Saya akan memperjuangkan cinta kami. Maafkan jika saat ini saya belum bisa menolak keinginan orangtua saya." kata Leon.
"Sudah nak, tante juga orangtua. Tante tidak ingin kamu menjadi anak yang tidak menurut orangtua. Karena bagi tante restu orangtua adalah nomor satu dalam sebuah hubungan. Mumpung sekarang kalian masih belum lama menjalin hubungan, sebaiknya jauhi putri Tante. Sekarang kamu pulang dulu ya."
"Tapi tante, saya tidak mau berpisah dengan Viona, saya mohon tante" ucap Leon sambil memohon, air matanya keluar. Baru kali ini ia menangis selain di depan orangtuanya.
"Tante juga tidak tega melihat kalian berpisah tapi bagaimana lagi nak? Lebih baik nak Leon pulang dulu dan selesaikan masalahnya dengan orangtuamu."
Akhirnya Leon hanya menurut perkataan Mama Sinta. Ia melanjutkan pulang ke apartemennya.
bersambung...
__ADS_1