Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Cinta Segi Tak Beraturan


__ADS_3

Adrian tak menyangka ternyata Viona telah berbohong, 'berarti Viona ketemu dengan siapa?' batinnya.


Adrian bergegas menuju cafe 'A' untuk menyusul Viona. Ia penasaran Viona pergi menemui siapa. Apakah mungkin itu Leon?


Sekitar 15 menit perjalanan sampailah Adrian di cafe tersebut. Kemudian ia segera mencari keberadaan Viona, namun sayang tidak ada.


Adrian pulang dengan rasa kecewa. Ia segera menghubungi nomor kontak Viona, namun handphonenya tidak aktif.


Sebenarnya Adrian hendak menyusul menuju rumah Viona, untuk memastikan kekasihnya sudah pulang atau belum. Namun diurungkan niatnya, ia tidak mau membuat mamanya Viona khawatir. Adrian memutuskan besok saja ia akan menanyakan kepada Viona secara langsung.


**


Setelah dari cafe 'A' Leon mengajak Viona keliling kota, mereka menuju daerah perbatasan kota dengan pegunungan yang berada di sebelah utara.


Mereka berhenti di sebuah tempat wisata hutan pinus.


"Ah... sejuk sekali!" teriak Viona sambil membentangkan kedua tangannya. Tak disangka Leon memeluk dari belakang.


"Lee jangan di sini, malu tuh dilihat banyak orang!" ucap Viona seraya melepaskan tangan Leon di pinggangnya. Namun Leon malah semakin erat memeluknya.


"Sebentar saja sayang, dulu kita belum sempat menikmati masa pacaran. 5 menit saja, aku suka aroma tubuhmu."


Akhirnya Viona membiarkan Leon memeluknya, karena percuma melarangnya.


"Vio.. habis selesai ujian akhir kamu ikut aku ya?" pinta Leon.


"Kemana?" tanya Viona.


"Pulang ke Kota B, aku ingin mengenalkanmu secara resmi kepada keluargaku." jawab Leon.


"Lee.. aku takut." balas Viona.


"Kenapa? ada aku sayang." ucap Leon sambil melepas pelukannya dan mereka saling berhadapan.


"Aku takut papamu menolakku lagi." ujar Viona jujur.


"Lagi? mereka kan belum tau kamu, apa papaku pernah menemuimu?" tanya Leon penuh curiga.


"Iya Lee... sebenarnya aku tidak mau kamu tau. Tapi berhubung kita sepakat berjuang bersama, aku tidak mau menutup - nutupi lagi." jawab Viona.


"Jadi karena itu, kamu menghindariku? kenapa kamu tidak bilang dari dulu Vio?"


"Maaf.. aku tidak mau kamu jadi anak durhaka, aku juga tidak mau menjalin hubungan tanpa restu." kata Viona.


"Argghh.. Vio.. kalau kamu dari dulu bilang, aku pasti sejak dulu juga langsung menghentikan perjodohan sialan itu." sesal Leon.


"Jangan gegagah Lee.. terus gimana Aurora?" ucap Viona.


"Abdi sedang mengurusnya. Semoga saja berhasil." jelas Leon.


"Jadi playboy itu sudah insyaf?" tanya Viona.


"Begitulah, Abdi tergila - gila dengan Aurora. Jadi biarkanlah dia berusaha. Kalau Aurora mau menerimanya kan kita juga bebas sayang." jelas Leon.


"Ya semoga Lee. Eh langit mulai mendung pulang yuk!" ujar Viona sambil melihat ke atas langit.

__ADS_1


"Ke apartemen dulu ya? please.." ajak Leon.


"Ngapain Lee? langsung ke rumahku aja." tolak Viona.


"Please Vio.. sebentar saja." rayu Leon.


"Janji sebentar dan ga macem - macem lho!" ancam Viona.


"Satu macam aja kok hehehe..." goda Leon.


"Dasar kamu ya!"


Akhirnya mereka berdua pulang, namun hujan terlanjur turun, berhubung apartemen Leon sudah dekat, mereka nekat menerjang hujan. Alhasil tubuh mereka basah kuyub.


Viona hanya memakai kemeja sehingga merasa kedinginan. Leon berhenti sejenak melepas jaketnya supaya dipakai Viona.


Sesampai apartemen Leon menyuruh Viona terlebih dahulu mandi. Ia mencarikan handuk dan kaosnya untuk dipakai Viona. Tak lupa Leon mematikan handphone Viona supaya tidak ada yang menghubunginya.


Selesai mandi Viona tersadar kalau celana panjang dan kemejanya basah. Untung saja pakaian dalamnya masih kering.


"Leon... mana handuk dan baju gantiku?" teriak Viona dari dalam kamar mandi.


"Buka pintunya, ini aku bawakan!"


Viona membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya dan menerima baju dan handuk pemberian Leon. Dengan segera Viona menutup pintu kamar mandi.


Di luar Leon berusaha keras menahan diri, niat awalnya ia ingin menerobos masuk. Tetapi ia tidak mau mengulang kesalahan kedua kalinya. Cukup sekali mereka kelepasan, Leon ingin fokus dengan perjuangannya mendapat restu kedua orangtuanya terlebih dahulu.


Viona selesai berpakaian, kaos dan celana Leon sedikit kebesaran ditubuh langsingnya. Leon gantian mandi.


***


Keesokkan harinya Viona berangkat ke kampus dengan ceria. Ia sudah tidak terlalu memusingkan permasalahannya. Saat ini ia fokus untuk persiapan ujian akhir semester.


Dua mata kuliah berturut - turut telah selesai Viona ikuti. Ia mulai lapar dan memutuskan ke kantin.


Adrian telah menunggu kedatangan Viona di kantin. Ia berusaha menahan emosinya terhadap Viona.


"Hai.. duduk sini Vio." sapa Adrian.


"Ya kak." jawab Viona.


"Mau pesan apa?" tanya Adrian.


"Udah kok kak, bentar lagi dianterin." jawab Viona.


"Kemarin pulang jam berapa?" tanya Adrian langsung.


"Ehh.. sekitar jam 3 kak." jawab Viona agak gugup, karena ia tak menyangka Adrian bakal membahasnya.


"Kok ga ngabarin? kan sudah ku bilang kalau mau ku jemput." ucap Adrian ketus.


"Maaf kak, kemarin tiba - tiba aku harus cepat pulang, jadi aku naik ojek." jawab Viona asal.


"Owh jadi ga bareng Citra?" selidik Adrian.

__ADS_1


"Enggak. Oh ya, bentar ya kak, aku mau ke toilet dulu." ucap Viona, ia tahu Adrian sedang mengintrogasinya sehingga ia memutuskan lebik baik menghindari dahulu.


'Viona tak kusangka kamu pandai berbohong, aku harus selidiki dulu.' batin Adrian.


Di toilet Viona menelepon Citra, ia menanyakan di mana Citra kemarin berada. Dan akhirnya Viona paham kenapa Adrian curiga padanya. Ternyata kemarin Adrian menghubungi David untuk menanyakan keberadaannya. Ia menyadari keteledorannya tidak menghubungi Citra terlebih dahulu.


'Kenapa aku harus bingung? bukannya aku akan memutuskan Kak Adri. Malah momen ini bisa jadi waktu yang tepat.' batin Viona.


Kemudian ia kembali ke meja di mana Adrian masih setia menunggu.


"Pesananmu sudah datang, segera di makan Vio." titah Adrian.


"Iya kak, makasih. Engg.. Kak Adri masih ada kuliah tidak?" tanya Viona ragu - ragu.


"Udah enggak sih. Cuman nanti jam 1 mau konsul ke dosen pembimbing dulu. Ada apa?" kata Adrian.


"Nanti sore kita ketemu di tempat biasa ya, ada yang mau ku bicarakan." pinta Viona.


"Owh oke. Ku jemput ya jam 5." balas Adrian.


"Ga usah kak, kita ketemu di sana saja." tolak Viona.


"Baiklah." jawab Adrian, ia sengaja tidak memaksa menjemput. Mulai hari ini ia akan menyelidiki kemana saja Viona pergi dan dengan siapa.


****


Di Cafe "Lemongrass"


Cafe tersebut merupakan tempat favorit Adrian, sehingga ia sering mengajak Viona ke sana.


Adrian dan Viona sudah berada di sana, mereka memilih tempat di pojok yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang.


Selesai menikmati makan malam mereka. Adrian penasaran dengan apa yang hendak Viona bicarakan.


"Vio, ada apa? kamu mau bicara apa?" tanya Adrian.


"Kak.. sebenarnya ini tentang kita. Aku harap setelah aku selesai bicara. Kakak jangan membenciku ya." jelas Viona.


"Kenapa cantik? aku tak pernah bisa membencimu!" balas Adrian.


"Maaf kak.. engg.. maaf.." ucap Viona sambil menundukkan kepalanya, ia bingung harus menyusun kata seperti apa.


"Vio ada apa? maaf untuk apa?" tanya Adrian kebingungan.


"Maafkan aku kak, aku sudah berusaha mencintaimu tapi aku tidak bisa meneruskan hubungan kita." akhirnya terucap juga dari mulut Viona.


"Maksudnya apa? Vio aku tidak marah kok, walaupun kamu sudah berbohong kemarin. Tapi aku tidak mau kita berpisah." ucap Adrian meyakinkan Viona.


"Maaf kak. Aku yang tidak bisa. Kita putus Kak. Permisi." ucap Viona pada akhirnya, setelah itu ia segera beranjak pergi karena tak tega melihat ekspresi wajah Adrian yang nampak sedih.


Adrian masih terkejut dan nampak tidak percaya dengan ucapan Viona, kemudian ia tersadar kalau Viona sudah menjauh pergi.


"Viona tunggu!" teriak Adrian sambil berlari menyusul Viona.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2