Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Jatuh Cinta Berjuta Rasanya


__ADS_3

Mohon bijak dalam membaca, ada adegan 17+


Tok..tok.. tok..


Leon mengetuk pintu rumah tantenya Viona. Tak berapa lama ada yang membukakan pintunya.


"Lee...!" ucap Viona yang menampakkan keterkejutannya. Ia tak menyangka Leon akan menyusulnya.


"Hai Vio!" jawab Leon.


"Eh ayo masuk, kamu kok bisa sampai sini." ajak Viona yang masih nampak tidak percaya Leon akan menyusulnya.


Leon mengikuti langkah Viona dan duduk di ruang tamu. Viona terlihat menjaga jarak, biasanya ia sering duduk bersebelahan tapi sekarang memilih duduk menjauh.


"Siapa yang datang Viona?" teriak Tante Mia dari dalam.


"Ini tante temenku!" jawab Viona.


Tante Mia keluar menuju ruang tamu, "Eh ada tamu, temen Viona?" tanyanya, ia terpana melihat ketampanan wajah Leon.


"Malam tante, maaf malam - malam mengganggu." ucap Leon sambil menyalamu dengan hormat tantenya Viona.


"Tidak apa - apa, pasti ada alasan penting kan sampai menyusul Viona ke sini. Silahkan dilanjut, tante ke dalam dulu."


"Makasih tante."


Setelah Tante Mia masuk, Leon pindah duduknya di samping Viona. Ia tau Viona menjaga jaraknya dengannya. Tak pelak Viona juga tidak bisa menghindarinya lagi.


"Vio.. kenapa kamu tidak bilang kalau ke sini?" ucap Leon agak ketus. Entah memang sikapnya itu tidak bisa lembut terhadap wanita.


"Terserah aku dong, emang kamu siapaku? kita kan cuman sahabatan Lee!" balas Viona sebal, 'cowok ini ga peka banget sih!' batinnya.


"Kok gitu sih Vio, kamu sengaja menghindariku ya?" tanya Leon sambil berusaha memegang tangan Viona.


Namun Viona mencoba menolak, "Lee apaan sih, ini di rumah tante, kamu kenapa mau pegang tanganku?"


"Oke kalau di apartemenku bebas ya." ucap Leon licik sambil mengerlingkan matanya, ia sengaja menggoda Viona.


"Cukup Leon! Aku tidak mau jadi bahan mainanmu!" ucap Viona ketus.


"Maaf Vionaku.. jangan marah dong aku hanya bercanda. Oke?" balas Leon, ia tau jika Viona sudah memanggil namanya lengkap, tanda sedang marah.


Viona tak menjawab malah membuang mukanya.


Leon dengan sengaja menangkup wajah Viona dengan kedua tangannya dan memandang lekat kedua mata Viona, "Vionaku dengar aku, please jangan marah lagi ya, aku mencintaimu!" ucapnya dengan nada suara yang halus.

__ADS_1


Viona tak menyangka Leon akan mengungkapkan perasaannya saat ini. Jantungnya berdebar dengan kencang, ia masih terjebak dengan tatapan mesra Leon. Ia tersadar saat bibir Leon menyentuh lembut bibirnya. Kali ini hanya kecupan singkat.


Viona langsung melepaskan kedua tangan Leon, wajahnya sudah merah merona, ia takut mendadak Tante Mia keluar dan melihatnya.


"Lee, apaan sih kamu! kan sudah kubilang jangan suka nyosor seenaknya. kalau Tante Mia lihat kan ga enak."


"Berarti kita lanjut di apartemenku ya!" goda Leon.


Viona langsung memukul lengan Leon. Saat itu keluarlah Tante Mia membawa senampan teh hangat dan sepiring bakwan beserta teman - temannya.


"Hem.. hem.. hem.. duh yang lagi kangen - kangenan..!" goda Tante Mia.


Viona hanya tertunduk malu, untung saja tantenya tidak melihat sewaktu Leon menciumnya.


"Makasih Tante. Kok repot - repot lho, ini ada yang ngambek jadi minta disusulin tante hehee.." kata Leon dengan sengaja menggoda Viona.


"Dih pede banget sih.. siapa yang kangen? kamu yang nyusul aku kok!" kata Viona tak mau kalah.


"Udah jangan berantem, baru juga ketemu kan. Oh ya Nak Leon, berhubung sudah malam, sebaiknya menginap di sini saja. Bahaya jika naik motor malam begini, takut ada begal."


"Ga pa - pa Tante, nanti saya lewat jalan yang ramai. Soalnya di apartemen ada adek saya sendirian." tolak Leon.


"Maksud tante, jalan menuju arah kota kan sepi, sering ada begal. Coba dihubungi adeknya dulu. Kalau tante sarankan menginap saja, masih ada kamar kosong kok, anak tante kan kerja di luar kota, jadi kamu bisa memakai kamarnya." jelas Tante Mia bijak.


"Begitu ya tante, baiklah saya hubungi Dimas dulu." jawab Leon.


Akhirnya Leon menginap di rumah Tante Mia.


"Nah gitu dong, tante siapkan kamarnya dulu ya, silahkan dinikmati mumpung masih hangat!" tawar Tante Mia ramah.


"Makasih banyak Tante."


Tante Mia pun masuk ke dalam untuk membersihkan kamar anaknya. Tante Mia memang tinggal sendirian, suaminya sudah meninggal, sedangkan putra tunggalnya bekerja di Kota Y, jadi jarang pulang.


Kembali ke Viona dan Leon.


"Vio, kenapa belum dijawab tadi?"


"Emang kamu nanya apa?" tanya Viona balik. Toh tadi bagi dia itu hanya pernyataan bukan pertanyaan.


"Aku mencintaimu Vio!" ucap Leon gemas.


"Terus aku harus bagaimana?" balas Viona, ia sengaja membalas mengusili Leon.


"Oh iya ya, aku belum nanya ya, bagaimana apakah kamu juga mencintaiku?" tanya Leon yang mendadak gugup juga menanti jawaban Viona.

__ADS_1


Viona hanya tersenyum, "Aku juga mencintamu Lee!"


"Yesss!" kata Leon bahagia, dan reflex akan memeluk Viona. Namun dengan cepat Viona menahannya dengan bantal sofa.


Viona tidak mau tantenya melihatnya. Dan benar tak berapa lama Tante Mia keluar mengabari kalau kamar sudah siap.


Malam menjelang Viona dan Leon sudah berada di kamar masing - masing.


Kebetulan rumah Tante Mia terletak di pinggiran kota, dan masih banyak persawahan di sana, kalau malam masih terdengar suara jangkrik di sawah.


Menjelang dini hari Leon masih belum bisa tidur, ia hanya membolak balikkan badannya. Kemudian ia memutuskan keluar kamarnya ingin mengambil air minum.


Nampak lampu kamar yang di tempati Viona masih menyala. Entah ada kekuatan apa Leon mendekati kamar itu dan membukanya, ternyata tak terkunci.


Leon melihat Viona sudah tertidur, dengan posisi memunggungi, pemandangan yang indah, Viona hanya memakai celana pendek dan kaos putih tipis. Leon tertegun melihatnya, sebagai lelaki normal ia sangat tergoda.


Leon masuk dan menutup pintunya pelan pelan, ia kemudian memeluk Viona dari belakang.


Saat Leon memeluknya, Viona kaget dan menengok. Leon segera membekap mulutnya supaya tidak teriak, "ini aku Leon." bisiknya pelan.


Viona kemudian tersadar kalau itu Leon, ia pun membalikkan badannya. Viona tidak menyadari kalau kaos putihnya yang tipis menampakkan gambaran kedua bukitnya yang tanpa pengaman. Viona memang kalau tidur hanya memakai kaos saja tanpa memakai pakaian dalamnya.


Leon awalnya hanya ingin memeluk Viona, namun melihat pemandangan indah itu, reflex ia mencium bibir Viona dengan penuh gairah.


Viona kaget lagi - lagi Leon menyerangnya. Ia tak kuasa menolak malah mulai menikmati.


Kedua insan yang sedang jatuh cinta itu saling membalas ciuman yang semakin lama semakin menuntut lebih. Awalnya hanya bibir akhirnya turun ke leher jenjang Viona. Leon memberi tanda kepemilikan di leher Viona.


Leon sudah dihinggapi hasratnya sebagai lelaki, dengan cepat ia menindih tubuh Viona dan mulai membuka kaos Viona. Nampaklah kedua bukit indah menyembul. Leon langsung menyerangnya. Dan keluarlah desahan dari bibir Viona.


Beberapa saat Leon bermain - main di kedua gundukan bukit Viona. Kemudian Leon membuka kaosnya sendiri dan membuangnya. Ia melanjutkan lagi, Viona sudah tampak terengah - engah. Ia juga tidak bisa menolaknya.


Namun saat Leon mulai membuka celana pendeknya, Viona mulai sadar kalau itu tidak boleh di lanjutkan.


"Cukup Leon jangan!" larang Viona.


Leon awalnya tidak mau mendengar, namun melihat wajah Viona mulai mengeluarkan air matanya ia tersadar.


"Maaf Vio.."


bersambung..


duhh deg deg.an nulisnya..


maaf ya kalau ada yang kecewa tidak berlanjut..

__ADS_1


*salam author*


__ADS_2