
Malamnya di rumah Viona, Leon sedang berkunjung.
"Adrian itu yang jadi mentor pas kamu ospek ya sayang?" tanya Leon.
"Iya. Kenapa emangnya?" jawab Viona.
"Feeling aja, sepertinya dia suka sama kamu Vio!" ucap Leon.
"Hush ngaco kamu, jangan mengada - ada sayang.." ucap Viona sambil menepuk - pelan lengan Leon supaya meredam emosinya.
"Aku laki - laki sayang, jadi bisa merasakan." bela Leon.
"Yang penting aku kan tidak menanggapinya sayang, aku hanya menghargai dia sebagai senior saja. Kamu percaya aku kan?" rayu Viona.
"Aku percaya kamu sayang, tapi aku tidak percaya dia!" ucap Leon tegas.
"Please sudah ya, aku tidak mau meributkan persoalan yang belum jelas. Yang penting kita saling percaya. Oke?" rayu Viona lagi.
"Iya iya... " jawab Leon akhirnya.
"Nah gitu dong, senyum ya.. ternyata kamu kalau cemburu lucu juga ya." goda Viona.
"Aku tidak cemburu sayang, aku cuman tidak suka ada laki - laki lain yang menatapmu seperti Adrian." jelas Leon.
"Ya udah ntar kalau aku ketemu Kak Adri bakalan buang muka hehehe atau aku pakai kacamata hitam ya.. hahaha." ledek Viona.
Leon gemas menanggapi kata - kata Viona dan ingin memeluknya.
"Stop Lee! nanti kalau mama lihat kan ga enak." tolak Viona.
"Hehe habis gemes sama kamu sayang, lanjut ke apartemen aja yuk, kan sepi" goda Leon.
"Dasar mesum!" ucap Viona sambil memukul Leon dengan bantal sofa.
Leon hanya tertawa, waktu sudah mulai larut malam, akhirnya Leon pamit pulang.
**
"Citra kamu dimana?" kata Viona saat menghubungi Citra lewat telepon.
"Aku lagi di kampus. Tapi lagi istirahat nih, kamu dimana Vio?" jawab Citra.
"Aku juga di kampus. Makan siang bareng yuk? ketemu di kantin universitas ya. Sekarang!" kata Viona.
"Oke, sampai jumpa Vio!" kata Citra mengakhiri panggilan teleponnya.
Tak lama mereka berdua hampir bersamaan sampai di kantin universitas.
"Hai Vio, apa kabar?" sapa Citra sambil cipika cipiki.
"Kabar baik Cit. Kamu gimana?" ucap Viona.
"Baik banget. Leon ga ikut?" jawab Citra.
"Enggak, dia masih ada kuliah. Lagian ntar kalau ada Leon kita ga bisa ngerumpi hehehe.." jelas Viona.
"Aku bilangin lho.." goda Citra.
"Bilang aja sana, aku ga takut. Eh Cit, kamu kenal Kak David anak pertanian kakak angkatanku?" tanya Viona.
"Huk.. huk.. huk..!" mendadak batuk musiman menyerang Citra, apalagi ia sedang menyeruput es tehnya.
"Dih kenapa Cit? kenal kan?" tanya Viona heran.
__ADS_1
"Iya, dia teman Kak Sisil. Kenapa?" ujar Citra.
"Jadi bener nih lagi pendekatan?" tanya Viona lagi.
"Duh awalnya aku mau kenalin kalau kami sudah jadian. Tapi kamu udah tau duluan." ucap Citra.
"Santai aja sih.... kemarin dia nanya tentang kamu. Aku ikut seneng, kayaknya dia cowok baik ya." jelas Viona.
"Entahlah, sampai sekarang aja belum nembak kok." ujar Citra pasrah.
"Kamu kurang perhatiannya Citra." saran Viona.
"Aku kan cewek jadi jaim dong.." elak Citra.
"Dulu waktu kamu suka Leon bisa kan terang - terangan." ledek Citra.
"Leon lagi dibahas. Ini beda Vio, dulu masih cinta monyet. Kak David lebih bisa membuatku mati kutu. Aku tidak berani." ujar Citra jujur.
"Jadi Leon monyetnya ya hahaha... Kubilangin ke Leon lho!" balas Viona menahan geli.
Tiba - tiba datang Adrian dari arah masuk kantin, dan mendekati mereka.
"Masih kosong kan kursinya Vio?" tanya Adrian.
"Masih kak." jawab Viona.
"Boleh ikutan duduk di sini?" tanya Adrian.
"Engg.. boleh kak. Oh ya kenalkan ini temanku SMA yang kuliah di fakultas ekonomi." ucap Viona sambil memperkenalkan Citra kepada Adrian.
"Halo aku Adrian."
"Aku Citra kak."
"Benar kak, ini anaknya!" ucap Viona.
"Pantesan David.." kata Adrian.
"Kenapa kak?" tanya Citra.
"Eh enggak pa - pa." balas Adrian.
"Kakak temannya Kak David?" tanya Citra.
"Iya. Tenang aja David anaknya baik kok. Cuman dia tipe orang yang cuek." jelas Adrian.
"Hehee gitu ya." timpal Citra.
Selesai makan siang, Citra dan Viona berpisah kembali ke kampus masing - masing.
Adrian menawarkan diri mengantar pulang, namun Viona menolak karena ia membawa motor sendiri.
***
Ting tong...
Terdengar bel pintu apartemen Leon berbunyi.
"Papa, Mama, Dimas!" ucap Leon kaget saat membuka pintu apartemennya.
"Halo sayang! surprise!" kata mamanya.
"Kalian kenapa ga kasih kabar sih kalau mau ke sini." protes Leon.
__ADS_1
"Halo kak! santai aja kenapa sih?" kata Dimas.
"Bukan gitu dek, hari ini jadwal kuliahku padat. Jadi tidak bisa menemani kalian." ucap Leon.
"Ga pa - pa, kami kan bisa ditemani Aurora. Kamu berangkat kuliah saja nak." jawab Papa Dirga bijak.
"Ya sudah nanti kuhubungi Aurora buat nemenin kalian ya." kata Leon.
Setelah menyiapkan minuman dan sarapan buat keluarganya. Leon pergi ke kampus.
****
Sesampai di kampus Leon segera menghubungi Aurora. Ia meminta tolong untuk menemani keluarganya disaat ia sedang kuliah.
Sebenarnya Leon juga ingin hubungi Viona kalau sementara jangan ke apartemennya dulu, namun jika ia berkata seperti itu nanti Viona curiga.
Hari ini Leon dan Viona sama - sama sibuk, sehingga tidak sempat bertemu.
Setelah selesai kuliah Leon langsung pulang dan ia lupa memberi kabar Viona.
Di apartemen Leon, sudah ada Aurora bersama keluarganya.
Papa Dirga tiba - tiba berkata, "Leon dan Aurora, papa mau bicara sebentar."
Kemudian mengajak Leon dan Aurora keluar menuju lobby apartemen dan mengobrol di sofa lobby.
"Leon dan Aurora, begini, kami sepakat untuk mempercepat tunangan kalian." jelas Papa Dirga.
"Apa!?" ucap Leon dan Aurora hampir bersamaan.
Tak sengaja pembicaraan mereka terdengar oleh Viona yang baru saja sampai di lobby, niatnya ke sana ingin mengajak Leon makan malam bersama.
"Leon? apa maksudnya?" pekik Viona terkejut, kemudian ia langsung pergi bergegas keluar menuju parkiran.
"Tunggu Vionaa...!" teriak Leon sambil beranjak hendak berdiri mengejar Viona.
Namun tangannya sudah di cekal papanya terlebih dahulu.
"Papa.. please lepaskan tanganku!" pinta Leon.
"Siapa gadis itu Leon? jelaskan!" kata papanya tegas.
"Maafkan Leon pa, aku belum bisa menjelaskan saat ini. Tapi tolong biarkan aku pergi dulu." ucap Leon yang sudah tidak sabar menghadapi sikap papanya. Mata Leon sudah berkaca - kaca sehingga membuat Papa Dirga membiarkan anaknya menyusul gadis itu.
Aurora hanya bisa diam tidak bisa berkomentar apa - apa. Dalam hati ia merasa senang tetapi juga tidak tega melihat Leon dan Viona akan mendapatkan masalah.
"Nak Rara, bisa jelaskan sama om, siapa gadis tadi?" tanya Papa Dirga kepada Aurora.
"Maaf om, itu hak Leon untuk menjelaskan. Aku tidak mau menyakiti siapapun." jawab Aurora bijak.
"Jelaskan saja nak, om tidak akan memarahimu. Apa gadis itu kekasih Leon?" ucap Papa Dirga.
"Enggg... iiyaaa... om." jawab Aurora terbata - bata.
"Dan kamu tahu itu?" tanya Papa Dirga lagi.
Aurora hanya mengangguk pasrah, ia sudah tidak tahu bagaimana nanti kelanjutan perjodohannya.
"Keterlaluan kamu Leon!" ucap Papa Dirga menahan amarahnya.
bersambung...
terus dukung dan baca karyaku ya kakak - kakak...
__ADS_1