Cinta Sang Duda

Cinta Sang Duda
Keinginan Fania


__ADS_3

"Ayah, Ayah, janji dengarkan Fania?" Gadis kecil itu terus saja mengganggu konsentrasi Fandi yang sedang menyetir. Sesekali dia menoleh dan tersenyum agar gadis kecilnya tidak marah. Fania melakukan semua itu karena sangat paham jika Fandi akan terlalu fokus dengan kemudinya saja, sedangkan dirinya perlu memberitahu sesuatu yang baginya penting.


"Silakan Putri." Fandi mengusap lembut kepala Fania, melihat gadis kecilnya memanyunkan bibir membuat Fandi gemas. Dia lantas mencubit pipinya.


"Ada guru baru di sekolah, Yah, cantik sekali," ujarnya dengan mata berbinar. Kedua tangannya dia rentangkan untuk menerangkan ucapannya itu. Fandi hanya menggeleng dengan tingkah menggemaskan gadis kecilnya.


Fandi memelankan laju kendaraannya saat di perempatan jalan karena lampu merah yang masih menyala, sebelum dia menghentikan kendaraannya Fania menyentuh lengan Fandi merasa diabaikan. "Wah, apa Fania-ku suka dengan guru barunya?" Fandi mengalihan atensinya kepada Fania. Menangkup kedua pipi chubby Fania. Fania mengangguk bahagia.


"Baiklah, Ayah harus kembali fokus karena lampu sudah berwarna hijau yang artinya?"


"Jalan!" seru Fania semangat.


Fandi tahu, Fania sangat menginginkan memiliki bunda seperti teman-temannya. Namun, rasanya sulit bagi Fandi untuk memenuhi harapan gadis berusia lima tahun itu. Perasaannya semua tertinggal kepada mantan istri.


"Ayah, bundanya Alif bilang kalau Fania harusnya punya ibu, tapi Fania selama ini tinggal sama Ayah saja." Ucapan yang kembali diulang, kemarin ibunya Angel, kemarinnya lagi mamanya Sarah, dan masih banyak ibu yang mempengaruhi Fania untuk terus mengatakannya.


Fandi bahkan harus mendengarkan ucapan para ibu anaknya yang menyuruh dirinya untuk segera memberikan ibu baru bagi Fania.


"Sarah, kau dengar anakmu terus memintaku mencari ibu untuknya?" Fandi menghela napas panjang. Dia menoleh memandang Fania yang memilih menyanyi lagu Potong Bebek Angsa tanpa irama musik.


Sesampainya di depan sekolah Fania, gadis kecil itu lantas keluar dan berlari menghampiri beberapa guru yang sedang menanti para muridnya datang.


Fandi mengikuti Fania dan tersenyum melihat gadisnya begitu semangat berbaris menunggu giliran untuk bersalaman.


Memastikan Fania telah masuk ke dalam lingkungan sekolah, Fandi lantas kembali ke mobil untuk segera menunju ke kantor.


"Haris, tolong kamu siapkan meeting, setengah jam lagi saya sampai di kantor dan kita langsung meeting." Padahal agenda meeting pagi ini pada pukul sepuluh pagi, tetapi karena mengingat sesuatu yang tidak mau dilewatkan Fandi memilih memajukannya.


"Baik, Pak. Akan saya sampaikan kepada para karyawan yang ikut meeting pagi ini."


Fandi tersenyum tipis dan lantas membalas obrolan tersebut, "Terima kasih." Dia mematikan panggilannya dan lantas memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, mengambil risiko tinggi untuk sampai di kantor karena jarak sekolah Fania dan kantornya memakan waktu setidaknya satu jam lebih.

__ADS_1


***


"Fania, ayah kamu kapan kasih kamu bunda?" Fania menggeleng pelan, wajahnya perlahan muram saat pertanyaan itu kembali muncul. Semua temannya memiliki bunda, hanya dia seorang yang tidak memilikinya.


Wajahnya kembali ceria saat melihat guru baru yang dia ceritakan kepada Fandi tadi pagi menghampiri dirinya. "Fania, Elle kalian tidak ke kantin?"


"Elle bosan dengan menunya, mau yang beda." Elle salah satu teman akrab Fania memasang wajah cemberut, padahal perutnya sudah berbunyi nyaring. Berbeda dengan Fania yang hanya diam dan terus menatap gurunya itu.


"Padahal perut, El, berbunyi loh. Fania juga bosan dengan menunya?" Fania mengangguk cepat. Dia memang bosan dengan menu di kantin sekolah yang hanya itu-itu saja.


Asha—guru Fania dan Elle—tersenyum melihat kedua muridnya yang menolak untuk makan siang. Padahal sengaja pihak sekolah memberikan menu yang sesuai kebutuhan mereka. "Baiklah, kalian mau makan apa? Atau mau makan bekal Ibu?" Asha memperlihatkan kotak bekal berwarna biru dengan motif Doraemon kepada keduanya.


"Mau," jawab keduanya kompak.


"Baiklah, kita makan di kursi itu, yuk. Fania rapikan dulu buku gambar dan crayonnya. Ibu bantu ya, Elle tolong bawakan kotak bekalnya, Nak."


Asha menyerahkan kotak bekal kepada Elle—muridnya yang berkucir kuda—dan langsung membantu Fania untuk membereskan peralatan gambarnya.


Fania merasa hari ini sangat begitu bahagia, keputusannya mengajak Elle ke taman area sekolahnya adalah hal yang tepat. Dia melakukan itu karena sudah melihat beberapa hari Asha sering menghabiskan waktunya di taman.


"Iya, Ibu guru belajar masak di mana?" Asha tertawa pelan, dia mengusap lembut pipi Fania.


"Memang Fania mau belajar memasak?"


"Bukan Fania, tapi Mbak Sri."


"Mbak Sri itu ...."


"Yang jagain Fania dan juga urusin keperluan di rumah Fania, Bu. Kata ayah Mbak Sri itu super women." Fania begitu antusias menjelaskan membuat Elle yang mendengarkan terkikik lucu mendengarkan ocehan Fania dengan mulut penuh makanan.


Asha kembali memberikan suapan kepada Fania, dia lantas berujar, "Heem, Ibu belajar masak dari kakak, sayangnya sekarang kakak Ibu tidak ada di sini." Terlihat jelas raut wajah Asha yang dipaksakan untuk terus tersenyum. "Ayo habiskan."

__ADS_1


Terlihat beberapa murid yang bermain di taman melihat interaksi mereka bertiga yang tampak asyik bercengkerama. Tidak lama setelah selesai menyantap makan siangnya, bel masuk berbunyi. Elle lantas berlari menuju ke kelas meninggalkan Fania dan Asha.


"Loh, Fania masih di sini?"


Fania tampak ragu untuk berbicara. kedua tangannya berada di belakang tubuhnya, kepalanya menunduk, dengan ujung kaki sebelah kanannya yang masih berbalut sepatu membentuk lingkaran di tanah. Asha yang melihatnya tampak mengerutkan kening karena bingung, padahal tadi Fania biasa saja bahkan terlihat antusias saat bercerita.


"Fania, ayo!" teriak Elle yang sudah berada di depan kelas mereka, Fania menoleh singkat dan kembali menghadap Asha.


"Bu guru cantik aku ke kelas dulu, ya." Dia lantas berlari menghampiri Elle yang masih menunggunya, menunda keinginan untuk meminta Asha menjadi bunda untuknya.


***


Fandi memijat pelipisnya setelah mendapat panggilan dari Abas—sopir yang bekerja di rumahnya—saat mengatakan Fania ingin dijemput olehnya. Dia lagi-lagi harus menunda pekerjaan untuk menjemput sang putri, bukan hal yang sulit sebenarnya, hanya saja dia jelas mengetahui maksud Fania begitu ngotot memintanya untuk menjemput.


"Ayah, nanti pulangnya sambil antar Bu Asha, ya."


Fandi mengingat kembali permintaan Fania tadi. Tidak mau membuat putrinya menunggu terlalu lama, Fandi segera pergi dan sebelumnya meminta Haris untuk menggantikannya bertemu dengan salah seorang klien.


"Saya percaya sama kamu, Ris." Fandi menepuk pelan pundak Haris sebelum menghilang bersama dengan mobilnya.


"Sarah, apa yang harus aku lakukan? Kamu pergi ke mana?" Fandi melonggarkan dasinya, dirinya benar-benar frustrasi. Harapan bertemu dengan mantan istri sirna saat mengetahui jika wanita yang telah memberinya seorang putri cantik itu sudah pergi dan menghilang tiga bulan lalu.


Fandi padahal sudah mengingat dengan jelas kapan mantan istrinya itu akan bebas dan bertemu dengannya untuk mempertanggungjawabkan semua perasaan yang dihempaskan begitu saja.


Di TK, Asha memilih menemani Fania karena permintaannya. Bahkan, dia tidak bisa berkutik saat Fania menampilkan wajah memelas dan begitu memohon untuknya bisa pulang bersama.


"Es krimnya enak?" Mereka kini duduk di bangku taman sekolah setelah Fania merengek meminta dibelikan es krim yang berada di depan sekolah.


"Terima kasih, Bu. Nanti Fania minta ayah untuk antar Ibu sebagai ganti es krim Fania." Asha tersenyum tipis. Dia menghela napas panjang ketika kembali gagal untuk bisa langsung menemui Ren siang ini.


Fania lantas berdiri dan berlari keluar gerbang mengetahui mobil Fandi telah sampai. Dia terlihat begitu bersemangat meninggalkan Asha.

__ADS_1


"Ayah."


Fandi menghampiri Fania dan menggendong gadis kecilnya itu. "Menyusahkan saja," ucapnya dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi di pipi membuat Fania geli dan meminta untuk diturunkan.


__ADS_2