
Asha kembali mengunci diri di rumah dan menangis sesegukan di sana. Tidak membiarkan siapa pun mengganggu, bahkan tetangga sekaligus sahabatnya yang berkali-kali mengetuk pintu tidak dia hiraukan.
"Ren, kamu jahat. Kenapa gegabah sekali ambil keputusan!" Asha membiarkan wajahnya banjir air mata. Masa bodo jika besok matanya akan terlihat bengkak, dia tidak peduli.
"Kak, aku rindu." Saat seperti ini kenangan bersama orang tercintanya sangat dia rindukan. Namun, Asha sadar pencariannya kepada kakak tersayang begitu berat dan sama sekali belum menemukan titik terang.
"Sha, kalau kamu sedih panggil kakak dan kakak janji akan ada di samping kamu buat tenangin kamu."
Saat itu Asha bahagia, kehilangan kedua orang tua sekaligus tidak membuatnya terlalu larut dalam kesedihan, masih ada kakak satu-satunya yang selau ada untuk dirinya. Namun, saat dia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Surabaya semua terjadi, kakaknya menikah dan menghilang tanpa kabar.
"Kak, Asha kangen. Pengin dibuatin teh hangat lagi sama kakak." Dia menelungkupkan kepalanya di antara kedua lutut yang ditekuk.
***
"Kamu kenapa lesu begitu, Fan?" Dian memilih duduk di samping adiknya. Mengusak rambut Fandi sampai berantakan dan begitu puas saat pria berstatus ayah itu membiarkan saja.
"Fania mana, Kak?" Fandi mencari putrinya tanpa membuka mata, dia memijat pelipisnya berusaha meredakan sakit kepala.
Dian menjauhkan tangan Fandi dan membantu memijat pelipis adiknya perlahan. "Dia sama Al, mereka berdua kalau sudah ketemu sampai lupa waktu."
"Enak banget, Kak. Lanjutkan." Bukan melanjutkan pijatnya, Dian malah menjambak rambut Fandi sampai pria itu membuka mata dan mengaduh kesakitan. "Astaga, perempuan kasar banget."
Dian beranjak dan pergi dari kamar adiknya. Namun, sesaat dia melongok ke kamar berbicara dengan Fandi. "Kata Fania kamu lagi galau." Terdengar tawa Dian meninggalkan kamar. Fandi terperangah karena putrinya mengatakan kata-kata yang sepantasnya dibicarakan orang dewasa.
"Darimana dia bisa tahu kata-kata begitu, astaga ini pasti karena aku sibuk dengan kerjaan."
Saat baru saya mengangkat pantatnya sedikit menjauh dari sofa, gadis kecil itu masuk bersama dengan sepupunya membawa buku. "Ayah." Fandi memilih duduk lagi dan meminta keduanya mendekat. "Ayah, mau beli ini, dong." Fandi mengangguk mengira Fania meminta dibelikan buku seperti milik sepupunya.
"Akan Ayah belikan yang banyak." Mata Fania melebar dan begitu berbinar bahagia, dia menatap sepupunya dan loncat-loncat kegirangan. "Wah, Ayah tidak sangka ternyata putri Ayah suka sekali baca buku. Al juga?" Keduanya lantas terdiam. Fania membuka buku yang dibawanya dan memperlihatkan gambar kepada Fandi.
__ADS_1
"Ini, Ayah. Fania enggak mau bukunya. Di rumah banyak!" Fandi menggaruk tengkuknya dan nyengir kepada keduanya.
"Om Fan, kata mama kalau janji harus ditepati loh." Al, bocah berusia tujuh tahun itu mengingatkan Fandi dengan wajah seriusnya.
Fandi tidak habis pikir jika yang diminta mereka itu alat make-up. "Tapi Fania masih kecil, yang lain saja. Dan Al, apa iya kamu juga mau mainan alat make-up begitu?"
"Tapi kata Ayah tadi boleh." Fandi meringis, dia salah. Seharusnya melihat dulu dengan saksama apa yang diminta putrinya. Bukan malah mengiyakan begitu saja.
"Enggak dong, Om. Al mau jadi atlet." Fandi bangun mengusap pelan kepala Al dan menggendong Fania yang sudah mulai cemberut dan hampir menangis karena permintaannya tidak dituruti Fandi.
"Kita ke bawah, Oma sama Tante Dian sudah selesai masak." Fania masih saja terdiam membuat Fandi merasa bersalah. "Maafin, Ayah. Fania minta yang lain saja pasti Ayah turuti. Kalau alat begituan nanti wajah Fania rusak."
"Kalau rusak itu jelek, Om?" Fandi tersenyum dan mengangguk sembari menuruni anak tangga.
"Fania enggak mau jelek, tapi Elle punya alat-alat begitu di rumahnya Ayah." Fania melingkarkan kedua tangannya di leher Fandi. "Tapi wajahnya Elle enggak jelek." Fandi bingung, dia tidak paham dengan masalah begituan. Lebih baik tanya saja masalah uang yang ada di kantor atau tentang kain apa yang bagus untuk kulit anak kecil.
"Aku larang dia beli alat make-up. Kenapa juga ada gambar begitu di buku bacaan Al, Kak." Fandi mendengus setelah putrinya melengos saat dia akan mengecup pelipisnya.
Dian berpandangan dengan mamanya dan terbahak. "Dasar bapak-bapak. Harusnya kamu tahu kalau sekarang ada beragam alat make-up yang disesuaikan dengan kondisi kulit anak kecil. Belikan saja, jangan pelit."
Fandi sudah bersiap duduk di samping papanya. "Enak saja, aku enggak mau kalau muka Fania malah rusak. Banyak jerawat terus apa lagi gitu, kamu dokter masa menyepelekan masalah begitu." Dian bersungut kesal, ingin rasanya menjitak kepala Fandi, tetapi dia lebih mengurusi kedua bocah yang sedang bingung dengan obrolan orang tua mereka.
"Makanya karena Kakak dokter Kakak bisa tahu, sekarang ada banyak alat make-up gitu yang disesuaikan untuk anak perempuan, dan banyak kok yang sudah beli. Aman-aman saja."
"Kalau Fania jadi centil gimana?"
"Kamu bapaknya, kenapa tanya sama aku." Dian mengambilkan ikan goreng untuk Al dan Fania. Berbeda dengan Al yang langsung lahap makan, Fania hanya menatap makanan di piringnya tanpa berniat untuk makan. "Fania kenapa? Makanan Tante enggak enak?" Fania lantas menggeleng. "Fania pusing, orang dewasa ribet." Fandi menghentikan kegiatan makannya, sedangkan Dian dan kedua orang tua mereka terbahak mendengarnya. "Opa, Fania benar. Ayah tadi galau, terus kepo lagi sama Bu Asha, sekarang enggak bolehin Fania belajar dandan."
"Siapa Bu Asha?" tanya Dian mendesak.
__ADS_1
Fania melirik ayahnya sekilas dan menjulurkan lidah mengejek. "Guru Fania, nanti jadi bundanya Fania juga."
"Fan, benar?" tanya mamanya begitu senang. "Ah, Mama enggak sangka kamu bakal buka hati lagi buat perempuan."
"Oma, bunda Fania cantik banget. Tante Dian kalah." Fania cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Al yang sedang asyik makan menatap kesal Fania dan berseru. "Mamaku cantik, Fania!" Matanya melotot kesal.
"Iya, tapi Fania kan punyanya bunda bukan mama. Jadi bunda Fania yang cantik."
"Mamaku cantik."
"Bunda cantik. Iya, kan, Ayah?" Fandi mengangguk cepat dan tersenyum masam.
"Sudah kalian makan lagi!" perintah Dian. Al yang sudah membuka mulut dan hendak menyerang kembali ucapan Fania mendadak diam dan menurut. "Fania makan, ya, Sayang."
Gadis kecil itu menggeleng, mendorong piring makannya menjauh. "Mau dibelikan yang tadi dulu. Ayah sudah janji." Dia menunduk.
"Fan, anakmu nih. Turuti kenapa?"
Fandi menghela napas perlahan. Dia mengangguk pasrah dan beranjak menghampiri putrinya. "Tapi Kakak harus tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Fania," ancam Fandi. Dia masih belum percaya dan belum rela jika Fania memiliki barang seperti itu.
"Iya, nanti Kakak deh yang belikan. Pakai uang kamu."
"Sekarang Fania makan, setelah itu kita pulang ke rumah," pinta Fandi dan mengecup pelipis Fania. Bocah itu mengangguk antusias, mendekatkan kembali piringnya dan makan begitu lahap.
"Kamu enggak menginap saja di sini?" Fandi menggeleng. "Padahal Papa mau bicara sesuatu sama kamu dan ini serius. Menginaplah malam ini di rumah."
Fandi memicingkan matanya, curiga dengan apa yang akan dibicarakan pria berstatus papanya itu karena jarang sekali pria itu mau berbicara serius dengan wajah terlihat serius juga. "Ayah, jangan kepo!" Semua tergelak mendengar ucapan Fania yang tiba-tiba.
__ADS_1