
Ren menanti Asha di depan gerbang sekolah, menendang krikil di depan matanya dengan malas, sudah hampir setengah jam dia berada di situ dan Asha belum juga menampakkan diri. Bukan hanya Asha, tetapi semua guru dan murid mereka. Hanya ada beberapa orang tua yang sudah datang menanti anak-anak mereka pulang.
Tidak jauh dari dirinya berdiri, Fandi keluar dari mobil. Melihat Ren dia menghampiri dengan wajah kalem dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka sebelumnya. "Permisi, sedang menunggu anaknya juga," sapa Fandi. Ren menata Fandi dengan menyipitkan mata. Dia menelisik Fandi yang terlihat berbeda dengan kemarin.
Ren menggeleng, cuek dan membiarkan Fandi seperti angin lalu. "Anda sepertinya terlalu lama menunggu sampai keringat bermunculan." Fandi memberikan tisu dari sakunya. Ren menggeleng. "Baiklah, tetapi sangat tidak enak ketika orang yang Anda tunggu menghampiri dengan wajah berkeringat begitu."
Ren mengembuskan napasnya perlahan, dia memilih menjauh dari Fandi. Mencari jarak aman dari pria yang telah merusak harinya kemarin.
"Kenapa dia lama sekali," gerutu Ren saat beberapa wanita yang menunggu anaknya menatap dia dengan beragam ekspresi, tetapi yang Ren tidak tahu Fandi membalas tatapan mereka dengan senyuman.
Beberapa murid keluar, berlari menghampiri orang tua mereka. Begitu juga dengan Fania yang bergandengan tangan dengan Elle dan Alif. Melihat putrinya bergandengan tangan dengan laki-laki, Fandi geram dan menghampiri mereka bertiga dengan wajah kesal.
Dia menarik tangan Alif agar menjauh dari putrinya membuat mereka bertiga kaget. "Ayah." Fandi diam, menatap putrinya tanpa senyum dan bergantian menatap Alif seolah telah melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal.
Fandi menoleh ke samping kanan saat Elle berpamitan pulang setelah melihat mobil jemputannya datang. Dia kini menatap Alif dan melipat tangan di dada. "Siapa yang suruh kamu pegangan tangan sama Fania?" Suara Fandi tidak meninggi, biasa saja. Namun, lewat sorot matanya yang tajam kedua bocah itu tahu jika Fandi tengah kesal. Fania menepuk keningnya mengingat pesan Fandi kepadanya.
"Jangan pegangan tangan sama laki-laki, selain ayah, kakek, om, dan Al."
Fania mendekati Alif yang menunduk takut, dia tidak berani ke mana-mana karena orang tuanya belum juga menjemput. Fania membisikkan sesuatu yang membuat mereka cekikikan dan Fandi menjadi makin kesal. "Fania kamu bicarakan Ayah apa?" Fania menggeleng.
"Om, lucu." Ucapan Alif membuat kening Fandi mengerut, dan menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?"
"Kenapa Fania yang nggak boleh pegangan tangan sama Alif? Alif kan enggak nakal, Alif bakal jagain dia kalau Om enggak ada loh." Fania terkekeh kecil sembari menutup mulutnya. Fandi melirik putrinya kesal.
"Kamu diajari siapa bilang begitu?" Belum sempat memberi jawaban lagi walau mulutnya sudah setengah terbuka, Alif berlari saat ibunya memanggil.
"Dah Fania. Besok main lagi. Dah Om galak."
"Fania bilang apa sama cowok tengil itu?" Fania mendekat, menghentikan tawanya dan bertanya apa maksud ucapan Fandi.
"Astaga, seharusnya aku enggak bilang begitu." Fania merengek meminta jawab. Namun Fandi memilih menggendongnya dan membawanya ke mobil.
"Ayah, kenapa Alif tengil? Memang tengil itu apa?" tanya Fania polos. Fandi bahkan dicubit saat akan memasangkan sabuk pengaman pada tubuh putrinya.
"Astaga, siapa yang mengajarimu mencubit."
"Ayah jawab dulu, Fania kepo." Fandi terperangah mendengarnya. Kenapa sekarang Fania mendapat kata seperti itu.
"Kamu memang tahu artinya kepo?" Fania mengangguk antusias. Poninya ikut bergerak. "Apa, apa?"
"Penasaran. Sekarang jawab Ayah," desaknya tidak sabaran. Bukannya menjawab Fandi malah memperhatikan Asha sedang dibonceng Ren pergi meninggalkan sekolah.
__ADS_1
"Ayah!"
"Oke, oke. Tengil itu ... Hemm, jelek."
Fandi melajukan mobilnya meninggalkan sekolah putrinya. Dia memikirkan akan pergi ke mana mereka berdua dengan sepeda motor dalam cuaca yang Anas seperti ini. "Tapi ... Alif ganteng, dia enggak jelek," gumam Fania.
"Hah, apa?"
"Alif ganteng loh Ayah. Yang jelek itu Ayah kalau bangun tidur." Fandi terbahak, mengacak rambut Fania.
"Ayah, itu Bu Asha." Tunjuk Fania pada pengendara di depan mereka. Fandi memang sejak tadi mengikuti motor Ren. Dia terlalu penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.
"Iya, kita ikuti mereka. Mau?" Fania meletakkan telunjuknya di dagu, memiringkan kepalanya ke kiri berpikir keras setuju atau tidak.
"Tapi Fania boleh ke kantor Ayah?"
"Ngapain?"
"Main sama Om Haris."
"Oke. Jangan nakal!"
Fandi masih terus saja mengikuti motor Ren yang kini berhenti di cafe. setelah memastikan keduanya masuk Fandi memarkirkan mobilnya dan mengajak Fania keluar. "Kita makan di sini."
Belum juga pantatnya mendarat sempurna di kursi, Fania malah berlari menghampiri Asha yang sedang membolak-balik buku menu.
Fania memeluk Asha dan mengajak Fandi untuk duduk dengan mereka. "Hay, kalian juga di sini," tanya Fandi basa-basi di dekat mereka. Fania menarik tangan Fandi agar duduk. Asha menatap malas Fandi, sedangkan Ren sudah terlihat murka karena kedatangan keduanya.
"Sayang, kita pindah tempat makan saja."
"Ren, tapi ...."
"Bu Asha aku mau disuapi, boleh?" Asha tidak kuasa menolak, dia meminta persetujuan Ren untuk tetap di sana.
"Baiklah, kita di sini saja."
"Maaf kalau kehadiran kita malah buat kencan kalian tidak jadi." Fandi merasa tidak enak dan merasa bersalah. Namun, dia sungguh penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan.
"Ren, kamu pesan apa?"
"Saya Nasi goreng cumi saja, Fania juga. Tapi yang satunya setengah porsi saja dan tidak pedas," jawab Fandi.
"Ren, kamu mau minum apa?"
__ADS_1
"Lemon tea dua, ya." Ren begitu geram karena Fandi yang selalu menjawab pertanyaan Asha untuknya.
"Kopi saja." Setelah semua pesanan mereka dicatat dan pramusaji pergi keheningan terjadi.
Asha tampak tidak nyaman, dia hanya tersenyum saat Fania terus memainkan gantungan ponselnya yang dipinjam. "Ren, kamu kerja di mana?" tanya Fandi sedikit basa-basi.
"Saya buka usaha bengkel," ucap Ren malas.
"Motor atau mobil?"
"Keduanya."
"Wah bisa, dong, kapan-kapan saya antar mobil saya ke bengkel mobil kamu."
"Silakan." Fandi menatap kedua wanita beda usai itu tampak terkekeh pelan saat Fania membisikkan sesuatu.
"Kalian bicara apa?" Fandi menyipitkan matanya. "Tidak bicara soal Ayah, bukan?"
Fania menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tawa, saat Fandi menuntut balas dari Asha wanita itu salah tingkah saat Fandi terus saja menatapnya. "Baiklah." Fandi mengangguk senang. "Fania bilang kamu itu cemburuan." Fania makin tidak bisa menahan tawanya saat mulut Fandi menganga dan meliriknya.
"Kamu tahu kata cemburu?" Fania mengangguk antusias. "Dapat kata itu dari mana?"
"Itu di televisi, Ayah. Katanya kalau marah-marah sama cowok itu cemburu. Ayah tadi marah sama Alif."
"Ayah enggak marah, hanya melarang kamu untuk enggak gandengan tangan sama dia." Pembicaraan mereka terjeda saat hidangan telah siap dan sedang ditata di meja.
***
"Kita putus!" Ucapan Ren yang tiba-tiba membuat Asha menjatuhkan helm. Dia tidak pernah berpikir sampai putus dengan Ren.
"Tapi kenapa?" Ren menghela napasnya perlahan setelah mengambil helm yang dijatuhkan Asha.
"Kamu tahu jawabannya, orang tuaku melarang kita, kamu menolak menikah dengan beragam tentang kakakmu, dan pria itu ... aku tahu ada sesuatu antara kalian!" Asha menggeleng. Dia tidak terima dengan tuduhan Ren. "Maaf." Ren lantas pergi setelah mengusap kepala Asha untuk yang terakhir kali. "Tapi ini yang terbaik untuk kita. Aku pergi!"
"Ren apa yang kamu benci?"
"Saat tawamu bukan aku."
"Apa kamu akan putusin aku kalau ada yang bisa buat aku tertawa selain kamu?"
"Heem, bisa iya bisa tidak. Iya kalau ternyata kamu juga memiliki rasa yang sama dengan orang itu, tidak jika yang buatmu tersenyum dan tertawa adalah keluargamu sendiri. Tapi tetap aku tidak suka jika asal tawamu bukan dari aku."
Asha terus memandang punggung Ren berbalut jaket kulit dan perlahan makin menjauh dengan sepeda motornya.
__ADS_1