Cinta Sang Duda

Cinta Sang Duda
Ajakan Menikah


__ADS_3

"Terima kasih untuk helmnya." Fandi menyerahkan helm kepada wanita muda di parkiran swalayan. Tidak ada jawaban balik atau sekadar senyum. Fandi tahu, janjinya terlampau lama, walau saat mengecek ponsel hanya telat lima belas menit.


Bagaimana Fandi bisa menganggap itu waktu yang sebentar, sedangkan sebagai pengusaha dia selalu berusaha untuk disiplin waktu.


"Ayah!" Teriakan Fania yang digendong Sri di teras membuat Fandi buru-buru memarkirkan motornya asal.


"Kenapa anak Ayah ada di luar?" Fandi menggendong Fania dan menyerahkan kunci motor kepada Sri. Wanita itu tampak pasrah saja saat Fandi memintanya untuk memasukkan ke garasi.


Fandi mengecek suhu tubuh putrinya dengan telapak tangan, demamnya mulai berkurang. "Kenapa di teras? Fania masih sakit," tegur Fandi. Bahkan sekarang putrinya batuk-batuk.


"Tadi Fania bangun Ayah enggak ada, Bu Asha juga enggak ada." Gadis kecil itu merengek begitu manja, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Fandi.


"Maafin Ayah, tadi Ayah antar Bu Asha pulang. Sekarang sudah sore jadi Bu Asha harus pulang dulu." Fandi mendudukkan putrinya di sofa dan mengambil minum dan memberikan kepada Fania.


"Bu Asha kenapa enggak pamit sama aku?" tanya Fania menelisik. Fandi menaruh gelas di nakas dan memangku putrinya itu.


Fandi hanya diam. "Ayah!" Fania bahkan mencubit hidung Fandi membuat pria itu pura-pura mengaduh kesakitan.


"Tadi Fania sedang tidur. Sudah sekarang Fania istirahat lagi." Gadis kecil itu menggeleng. "Kenapa?"


"Fania mau bunda!" protesnya. Fandi menghela napas dan mencium pipi chubby putrinya. "Ayah," ucapnya lemah. Fandi masih terdiam.


"Sekarang Ayah mandi dulu, setelah itu kita bicara lagi."


"Bicara apa?" tanya Fania polos sembari menatap lekat mata Fandi.


"Bunda."


Wajahnya berbinar bahagia dan berseru kegirangan, "Asik, Fania mau punya bunda." Fandi hanya tersenyum, seolah ucapannya adalah obat mujarab untuk Fania.


***


Asha menangis sejak kepergian Ren dan orang tuanya, dia sudah beberapa kali mengatakan kepada Ren belum siap untuk menikah, tetapi pria itu terus saja mendesaknya. Bahkan sore tadi malah membawa kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aku harus apa? Sungguh aku masih belum siap, kepergian kakak yang tiba-tiba buat aku kehilangan arah. Dia satu-satunya keluarga yang kupunya, tapi sudah beberapa tahun setelah dia menikah tanpa aku di sampingnya dia menghilang begitu saja." Asha menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha meredam tangisnya agar tidak terdengar.


Ponselnya berdering nyaring. Dengan gerakan malas Asha menurunkan tangannya membiarkan jejak-jejak air mata masih di wajahnya. Tanpa melihat siapa yang menghubungi Asha menerima panggilan tersebut.


"Ren, aku—" Ucapannya terpotong saat suara yang menghubungi dirinya bukan milik sang kekasih. Asha melihat nama di layar ponselnya dan mendegus perlahan.


"Iya, Pak Fandi. Ada apa?" tanyanya dengan ketus. Dia masih kesal orang tua Ren marah karena ulah Fandi. Walau pada akhirnya tetap akan marah jika dia menjawab belum siap menikah dengan putra mereka.


Terdengar helaan napas berat, Asha hanya diam dan menghapus air matanya. "Besok bisakah kita bertemu setelah jam pulang sekolah?"


Kening Asha mengerut, ada urusan apa Fandi sampai ingin mengajaknya bertemu. "Ada yang ingin saya bicarakan."


"Baiklah, besok akan saya kabari di mana kita akan bertemu." Asha langsung memutuskan panggilan begitu saja. Seharusnya dia tidak menerima tawaran Fandi untuk mengantarnya pulang. Seharusnya dia memastikan Fandi pulang sebelum menghampiri Ren dan orang tuanya.


Baru saja dia meletakkan ponselnya, benda pipih itu kembali berdering. Asha tidak mau seperti tadi yang langsung mengangkat panggilan, dia memastikan nama yang ada di layar ponselnya dan segera menerima saat nama Ren yang terpampang di layar.


"Ren ...."


Hening


Suara di tepat Ren berisik, Asha hanya bisa menggigit bibirnya kuat sampai merasakan perih. "Baiklah kalau kamu enggak mau bicara, selamat malam."


"Sha, ada apa denganmu?" Mendengar lagi suara Ren membuatnya tersenyum, tetapi mendengar pertanyaan kekasihnya itu Asha kembali mengulang hal yang sama, menggigit bibirnya.


"Kau tahu, aku sudah berusaha meyakinkanmu, orang tuaku kalau aku akan menikahimu." Asha menggeleng.


"Ren, aku ... aku belum siap. Kamu tahu aku cinta sama kamu, tapi untuk menikah sungguh aku belum siap. Aku harus mencari kakakku dulu."


Terdengar Ren mengembuskan napas kasar dan itu mengusik Asha. "Aku sudah bilang berkali-kali kepadamu, aku akan membantu mencari kakakmu. Kehilangan seseorang bukan alasan membuatmu menunda pernikahan kita. Kalau kamu selalu begini, sepertinya orang tuaku pun tidak akan lagi memberi restu."


"Ren, aku tahu kamu pasti akan tepati janjimu, tapi sungguh selain kakak ada hal yang buat aku takut."


"Apa?" tanya Ren menuntut balasan, tetapi hanya kebisuan saja. "Sepertinya itu hanya alasan yang kamu buat-buat, tidurlah tenangkan dirimu. Besok aku akan menemanimu." Ren mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Kakak sebenarnya di mana? Kenapa perginya lama?" Asha kembali terisak dan kini makin kencang. Dia lantas tidak peduli jika ada tetangga yang mendengar.


***


Fania tetap ngotot masuk sekolah, setelah meminta saran dari Dian akhirnya Fandi menuruti permintaan putrinya.


"Siang Ayah jemput Fania." Gadis kecil itu mengangguk, dia meronta ingin diturunkan dari gendongan Fandi yang berjalan santai menghampiri guru yang berdiri di depan pagar menanti murid datang untuk menyambut mereka.


Tepat di barisan paling belakang murid yang menunggu giliran bersalaman dengan guru Fandi menurunkan Fania. "Ingat, ya, Fania tidak boleh sama sekali minum es." Dia mencium kepala Fania dan berpamitan ke kantor.


Gerakan membuka pintu mobil terhenti saat melihat Asha yang berjalan menghampirinya. "Pagi," sapa Fandi. Asha yang berjalan menunduk dengan tatapan kosong menatap Fandi dengan malas.


"Bu Asha baik-baik saja?" Fandi tampak khawatir saat melihat mata Asha yang terlihat sembab walau sebenarnya wanita itu telah berusaha menutupi dengan make up yang digunakannya.


"Iya," ucap Asha ketus.


"Soal kemarin saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk membuat Anda dan kekasih atau orang tua kekasih Anda menjadi salah paham dengan saya." Asha mengangguk, dia menatap iba Fandi yang merasa bersalah.


Asha memaksa senyumnya dan berkata sopan, "Maafkan saya juga sudah berkata ketus tadi. Tapi permisi saya harus ke sekolah sekarang karena sudah hampir masuk." Fandi mengangguk mempersilakan Asha meninggalkannya.


"Maukah kamu menjadi bunda untuk Fania?" Langkah Asha terhenti tidak jauh dari Fandi. Dia berbalik badan dan menatap Fandi menelisik.


"Anda becanda, Pak? Bagaimana perkataan seperti itu sangat mudah Anda ucapkan?" Fandi menunduk sesaat, kemudian menghampiri Asha.


Fandi mencengkeram kedua bahu Asha. "Saya tahu Anda sudah punya kekasih dan saya tahu begitu lancang meminta hal yang tidak bisa Anda lakukan, tapi saya sangat serius mengatakannya." Fandi begitu terlihat sungguh-sungguh mengucapkannya di mata Asha.


"Maaf, saya tidak bisa." Asha menepis kedua tangan Fandi di tubuhnya dan pergi meninggalkan Fandi.


Pria itu menatap punggung wanita itu sampai memasuki halaman sekolahan dan selanjutnya masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang dalam pikiran kacau.


Merutuki kebodohannya mengatakan hal seperti itu. Seharusnya dia sudah tahu jika Asha akan menolak dan lebih memilih Ren yang jelas-jelas adalah kekasihnya.


bersambung

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca, tinggalkan jejak dengan beri vote, komentar, atau favoritkan🌷🌷🌷🌹🌹🌹❤️❤️❤️


__ADS_2