
Beberapa hari ini Fandi begitu kewalahan dengan pertanyaan Fania. Dia terus mengikuti Fandi hanya untuk menanyakan apakah pria berusia tiga puluh dua tahun itu mau menikah dengan Asha. Guru idolanya.
Seperti malam ini, setelah selesai makan malam Fandi yang menemani Fania mengerjakan tugas harus terus mendengar rengekan putrinya itu. "Ayah, kalau Fania punya bunda, pasti yang temani Fania belajar itu bunda," celotehnya dengan tangan sibuk mewarnai gambar yang ada di buku tugasnya.
"Apalagi kalau bundanya Fania, Bu Asha. Fania suka banget." Fandi hanya tersenyum masam, padahal kini dia sedang fokus mencari mantan istrinya itu. Bagi Fandi yang Fania butuhkan ibu kandungnya bukan wanita lain yang hadir menjadi ibu sambungnya.
"Fania belum selesai menggambar?" Gadis kecil itu menggeleng. Fandi yang memilih duduk di sofa mencondongkan tubuhnya ke arah putrinya, dia mencium puncak kepala Fania dengan penuh kasih sayang.
Tidak lama ponselnya berdering, melihat nama yang tertera di layar ponselnya buru-buru Fandi menerima panggilan tersebut, bahkan dia harus pergi menjauh dari Fania.
Melihat ayahnya yang terlalu sibuk dengan ponsel membuat Fania mengembuskan napasnya berat, seolah beban berat tengah menindihnya. Dia bahkan seperti wanita yang sudah dewasa, menggeleng melihat ayahnya tersebut. "Heem, kalau ada bunda pasti Fania enggak dicuekin begini, orang dewasa sukanya sibuk."
Selesai dengan menggambarnya, Fania segera membereskan buku dan peralatan sekolahnya. Dia dengan telaten memasukkan semuanya ke dalam tas. Fania tumbuh tanpa seorang ibu di sampingnya, membuat dia terlihat seperti orang dewasa yang bisa mengurusi dirinya sendiri walau terkadang membuat Fandi pusing. Seperti kali ini, Fandi yang telah selesai dengan ponselnya tampak pusing melihat Fania yang memasukkan semua bukunya ke dalam tas membuat tas berwarna pink itu berisi penuh.
"Kamu mau pindahan?" Fandi kembali duduk setelah berhasil mengambil tas putrinya yang tergeletak di atas meja.
"Kata Ayah aku harus merapikan tempat yang kuberantaki, sekarang sudah rapi. Apa yang salah?" Fania menepuk pelan keningnya sendiri melihat Fandi yang kembali mengeluarkan isi tasnya. "Ayah aneh," serunya kesal dan memilih duduk di samping Fandi.
"Kamu harusnya melihat dulu besok mau bawa apa saja, Nak. Fania sudah bisa membaca dan jadwal pelajaran sudah Ayah catatkan." Fandi memperlihatkan jadwal sekolah pada kotak pensil Fania.
"Lama ... ribet, Ayah." Tanpa menunggu persetujuan Fania, Fandi memasukkan buku pelajaran untuk besok dan menata rapi buku yang tidak dibawa di atas meja. "Lalu siapa yang bawa buku itu?" Fania menunjuk buku yang berada di atas meja kepada Fandi.
"Itu buku Fania, bukan?" Gadis kecil itu mengangguk antusias. "Kalau begitu tentu saja Fania yang melakukannya." Fania memijat pelipisnya bak orang dewasa yang tengah dirundung masalah berat.
"Fania masih kecil sudah diberi beban seberat ini, Tuhan. Ayah buruan deh Carikan bunda buat Fania." Fandi mengangkat tubuh putrinya dan mendudukkannya di pangkuan. Dia mencium gemas pipi chubby Fania.
"Putri Ayah sudah besar dan cerewet sekali. Apa Ayah saja tidak cukup?" Fandi memeluk tubuh putrinya. Merasa pengap, membuat gadis itu memberontak.
"Tapi, Fania mau kayak teman yang lain. Elle punya mami, Alif punya buni, Angel punya mama, kenapa Fania enggak punya bunda?" Fandi menatap mata Fania yang begitu penuh harap.
"Baiklah, tapi sekarang Fania tidur dulu, oke?" Dia menurunkan putrinya dan meminta untuk membawa buku yang berada di meja ke kamarnya. "Ayah bantu bawakan tas Fania."
__ADS_1
Selesai dengan rutinitasnya, Fandi menemani Fania tidur. Biasanya Fania akan sangat antusias memintanya untuk membacakan dongeng dari buku yang sudah Fania miliki sejak dirinya belum bisa membaca. Namun, malam ini berbeda saat Fania meminta Fandi untuk tidak membacakan dongeng. "Kenapa? Fania bosan?"
"Tidak!"
"Lalu?"
Fania menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya. "Fania mau langsung tidur saja." Fandi menghela napas berat, dia mengangguk dan mencium kepala Fania yang terhalang selimut lama.
"Selamat tidur putri Ayah." Fandi segera keluar tanpa mematikan lampu. Mendengar pintu kamarnya ditutup, Fania segera menurunkan selimutnya.
"Tuhan, Fania mohon semoga Bu Asha jadi bundanya Fania. Aamiin."
***
"Tuan, Non Fania tubuhnya panas. Dia terus panggil tuan." Fandi yang baru keluar dari kamarnya dibuat khawatir setelah Sri memberitahu kondisi putrinya pagi itu. Buru-buru dia ke kamar Fania.
"Bi, tolong ambilkan air dingin dan handuk kecil untuk mengompres." Sri mengangguk dan berlalu dari pandangan Fandi.
"Sayang, maafkan Ayah." Taklama Sri datang membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk kecil permintaan tuannya.
"Ini, Tuan."
"Terima kasih, Bi." Fandi mencelupkan handuk kecil dan memerasnya. Dengan telaten dia mengompres tubuh Fania yang masih terasa panas.
"Suhu tubuhnya juga lumayan tinggi." Fandi mengecek suhu di termometer, angka yang tertera di sana 38,1° Celcius. Khawatir dengan keadaan Fania, dia segera menghubungi Dian—Dokter pribadi sekaligus kakak kandungnya—untuk datang mengecek tubuh putrinya.
"Ayah." Mendengar Fania memanggilnya Fandi yang tengah berseteru dengan Dian segera mematikan sambungan teleponnya.
"Iya, Sayang?" Fandi mengambil handuk basah di kening Fania dan meletakkannya ke dalam baskom lagi. "Mana yang sakit, Sayang? Bilang sama Ayah."
"Bu Asha, Ayah." Fania kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Selang lima belas menit, Dian sudah berada di kamar Fania. Wanita itu terlihat kesal sebab Fandi yang mematikan panggilannya tadi. "Kamu apakan keponakan kesayanganku ini?" Fandi menghela napas panjang. Apa yang akan dia lakukan kepada putrinya sendiri.
"Dia sakit apa?" tanya Fandi penasaran. Dian bukannya menjawab, dia malah memukul lengan Fandi dengan keras karena kesal.
Dian lantas membereskan peralatan kerjanya dan memasukkan ke dalam tas. "Aku tanya malah dibalas tanya. Btw Fania demam biasa, kamu tahu, 'kan, dia ada masalah dengan pernapasan?" Dian menoleh sekilas ke arah adiknya itu, Fandi mengangguk lemah pandangannya takpernah lepas dari putrinya.
"ISPA-nya kambuh." Dian yang telah selesai, memilih duduk di samping Fania dan menatap kasihan. "Tapi, Kakak rasa ada yang lebih parah dari sekadar ISPA." Dian memeras handuk dan mengompres tubuh Fania.
"Maksudnya?"
Dian menoleh ke samping dan menatap Fandi sengit. "Kamu bodoh atau pura-pura bodoh, sih? Fania itu butuh sosok ibu."
"Sarah belum kembali, lantas bagaimana aku bisa ...."
"Apa enggak ada wanita lain? Kenapa wanita itu? Dia sudah melukai hati kamu terlalu dalam, meninggalkan putrinya yang baru berusia dua bulan—" Ucapannya tidak diteruskan lagi, mengingat kejadian beberapa waktu silam membuatnya begitu emosi.
Fandi diam tidak bersuara, pikirannya buntu. "Kakak sudah ikhlaskan semuanya, tapi kalau untuk menerima dia kembali Kakak rasa kamu terlalu baik. Masih banyak wanita lain yang pantas untuk jadi istri kamu dan bunda untuk Fania."
Melihat Fandi hanya diam, Dian lantas menghampirinya dan mengusap pundak adiknya lembut. "Jangan terus membuat dirimu tersiksa. Di sini yang menderita bukan cuma kamu, tapi ada Fania juga." Dian mengambil tasnya dan berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.
"Jika ada apa-apa, kamu hubungi Kakak. Resepnya Kakak kasihkan ke Bi Sri biar bisa dia tebus obatnya segera." Fandi hanya mengangguk lemah.
Apakah dia terlalu egois? Apakah salah jika dia masih mengharap Sarah untuk kembali walau sudah jelas luka hati masih belum bisa dia sembuhkan? Pikiran Fandi terus bercabang sampai Fania yang kembali memanggilnya.
"Ayah, Fania mau Bu Asha." Fandi mengangguk pelan. Dia tanpa pikir panjang menghubungi nomor Asha. Tiga hari lalu dirinya terpaksa meminta nomor guru Fania itu karena desakan Fania yang beralasan ingin berbicara serius saat tiba di rumah.
"Terima kasih banyak, maaf merepotkan." Fandi meletakkan ponselnya di atas nakas setelah selesai berbicara dengan Asha.
Catatan:
ISPA: Infeksi Saluran Pernapasan Akut
__ADS_1