Cinta Sang Duda

Cinta Sang Duda
Ulah Fandi


__ADS_3

"Enak?" Fania mengangguk lemah, walau begitu senyumnya takpernah hilang. Wajahnya masih pucat, bahkan masih batuk dan pilek. Asha bisa menjenguk Fania setelah pulang sekolah, hal itu membuat gadis kecil berhidung mancung itu merengek meminta Asha segera datang, bahkan dia sampai takmau makan apa pun.


"Pintar anak cantik." Asha meletakkan mangkok buburnya di nakas dan menatap Fania dengan lekat, pikirannya terus terbayang dengan seseorang yang sangat dirindukan. Bagi Asha melihat Fania sama seperti dia sedang melihat orang tersebut. "Sekarang Fania minum obat dan tidur, ya."


Hebat ... itulah kata yang tepat, Fania yang biasanya sangat sulit untuk meminum obat kini dengan mudahnya menurut, bahkan Fandi yang sejak tadi duduk diam di sofa sampai terperangah. Dia beranjak berdiri menghampiri Fania dan tersenyum saat melihat putri kecilnya tengah meminum obatnya.


"Anak Ayah hebat, mau minum obat." Fandi mengacungkan dua jempolnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Fania, lantas mencium kening putrinya yang terasa hangat.


Dalam jarak yang dekat Asha dapat mencium aroma parfum yang dipakai Fandi. Dia mencoba untuk biasa saja walau rasanya aneh saat berdekatan dengan pria. Walau dia memiliki kekasih, tetapi hubungan mereka tidak terlalu dekat, bahkan Asha meminta kekasihnya untuk menjaga jarak dengannya.


"Bu Asha jangan pergi, ya." Asha taklangsung menjawab, dirinya menatap Fandi meminta jawaban. Takada jawaban apa pun yang bisa dia dapatkan membuat Asha hanya bisa mengembuskan napas berat. "Bu ...," rengek Fania yang pertanyaannya takkunjung mendapat jawaban.


"Iya, tapi sekarang Fania harus istirahat biar cepat sehat." Gadis kecil itu kembali mengangguk, mulai memejamkan mata.


"Saya akan keluar dulu, Anda bisa di sini menemani Fania." Asha hanya membalas dengan anggukan, seolah enggan menatap Fandi ataupun membalas dengan suara.


Baru saja Fandi menutup pintu kamar Fania, Asha mendapati pesan masuk dari ponselnya. Dia tampak mengerutkan kening saat membaca pesan tersebut. Namun, taklama dia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan taklupa menjadikan mode senyap ponselnya tanpa berniat membalas pesan.


"Fania cantik banget, matanya buat aku ingat sama kakak."


Asha membelai lembut rambut Fania dan setelah memastikan gadis kecil itu tertidur nyenyak dia memilih beranjak pergi. Sungguh pesan masuk tadi membuatnya taknyaman.


***


"Maaf Pak, tapi saya harus pergi sekarang." Asha tampak takenak hati mengatakannya, tetapi dia harus pergi dan takbisa menepati janjinya kepada gadis kecil itu. "Soal Fania, saya minta maaf. Saya usahakan ...."


"Tidak perlu, Anda bisa langsung pergi. Nanti biar saya yang beri pengertian ke Fania." Asha menunduk, dia merasa begitu bersalah.


"Terima kasih." Asha segera pergi meninggalkan Fandi yang masih bergeming. Sekilas Dia menatap ruang tengah yang penuh bingkai foto Fania dengan berbagai gaya sebelum akhirnya mendapat pesan masuk dari Ojol yang dipesannya.

__ADS_1


"Bu Asha, masih di sini?" Fandi mengira Asha sudah pergi setelah berpamitan dengannya, ternyata wanita tersebut masih berdiri di dekat pagar rumahnya dan tampak taktenang.


"Iya, padahal tadi ojolnya bilang sudah hampir sampai. Ini sudah lima belas menit." Asha terlihat sekali gelisah, Fandi yang niatnya hendak pergi ke swalayan di depan kompleks perumahannya dengan motor merasa kasihan dengan guru putrinya itu dan akhirnya menawari tumpangan.


"Di sini susah dapat transportasi, saya antar sampai depan biar nanti Ibu bisa menaiki taksi saja." Asha menelisik Fandi yang tersenyum menatapnya. Dia melirik jam yang melingkar di lengan kirinya dan akhirnya mengangguk. "Ayo, maaf tidak ada helm."


"Anda mau ke mana, Pak? Bagaimana dengan Fania jika dia bangun?" Asha mendekatkan tubuhnya kepada Fandi agar pria itu dapat mendengar pertanyaannya.


"Saya hanya pergi ke swalayan di depan, Bu." Asha taklagi bertanya, dia kembali mengecek ponselnya dan ada pesan masuk dari orang yang sama.


"Tunggulah di sini, tidak lama lagi akan ada taksi yang lewat. Atau Anda mau saya temani?" Wanita itu menolak, baginya dengan Fandi mengantarnya sudah cukup. Fandi segera pergi, pria itu sungguh takbisa berbasa-basi dengan wanita.


"Iya, tunggu setengah jam lagi, ya." Asha bernegosiasi kepada orang yang menghubunginya. Setelah panggilan terputus tanpa jawaban dari yang menghubungi membuatnya menjadi kesal sendiri, apalagi takada transportasi yang mau berhenti, bahkan ojol yang dipesannya mengabari jika ban motornya bocor.


"Bagaimana ini? Pasti dia marah," monolognya sendiri. Taklama terdengar suara klakson motor membuatnya mengalihkan pandangannya ke samping. Asha tampak kaget saat melihat pria yang sedari tadi selalu menampilkan senyum takseperti hari pertama bertemu itu berada di sampingnya.


"Tapi—"


"Tenang saja, helm itu bersih dan wangi." Benar saja yang dikatakan Fandi, helm tersebut tercium aroma wangi parfum. Dia tersenyum tipis saat menyadari tidak ada belanjaan yang dibawa Fandi dan bahkan Fandi tampak cepat sekali belanja jika memang pria tersebut benar-benar melakukannya.


Kembali Asha mendapat boncengan gratis dari pria berstatus ayah itu. Pria yang takterlihat malu hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos bergambar Winnie the Pooh di bagian depan.


***


"Mereka siapa?" Asha menyerahkan helm kepada Fandi. Pria tersebut mengamati tiga orang yang berada di depan teras rumah guru putrinya itu. Asha hanya menghela napas pelan dan tersenyum.


"Mereka orang tua Ren."


"Dan pria yang berkemeja hitam itu Ren?" Asha mengangguk dan menatap tiga orang yang menatap mereka heran.

__ADS_1


Tanpa Asha sadari, Fandi taklangsung pergi. Dia malah memilih memarkirkan motornya dan mengikuti Asha. "Assalamualaikum, Om ... Tante." Asha menyalami kedua pasangan suami istri yang menatapnya tanpa ekspresi itu dan beralih menatap pria berperawakan tinggi yang menatapnya juga tanpa ekspresi. "Ren," cicitnya.


"Dia siapa, Sha?" Ren menunjuk Fandi yang berdiri beberapa langkah di belakang Asha lewat sorot matanya, Asha menoleh mengikuti arahan dari mata Ren dan mendapati Fandi tengah berdiri tanpa berniat mendekat.


"Pak Fandi ada apa?" Fandi tersenyum dan malah berjalan mendekati mereka yang masih berdiri di teras rumah Asha.


"Siapa kamu?" Fandi mengulurkan tangannya mengajak Ren bersalaman, tetapi pria tersebut tampak acuh tak menghiraukannya dan malah membuang muka.


"Ren ...," tegur Asha kepada pria tersebut.


"Anda siapanya Asha?" Kini seorang pria paruh baya yang diperkirakan Fandi sebagai orang tua Ren berbicara.


"Saya Fandi orang tua dari murid Asha." Fandi tampak tenang, berbeda dengan Asha yang merasa hawa panas sedang mengelilingi mereka. Mau apa Fandi malah mendekat dan juga dia yakin jika Ren akan kembali salah paham. Terlihat dari wajah Ren yang sedang menahan amarah dengan terus diam.


"Maaf, Pak. Tapi saya—"


Seolah mengerti dengan yang sedang dipikirkan Asha, pria tersebut mulai berbicara. "Anda tenang saja, saya kemari karena hendak menyerahkan ini." Fandi menyerahkan sebuah bros kecil berkarakter bunga kepada Asha. "Fania yang meminta saya memberikannya kepada Anda. Kalau begitu saya permisi." Fandi lantas pergi tanpa bertanggung jawab dengan kekacauan keadaan yang kini harus dihadapi Asha.


Ren yang menatapnya kesal dengan sorot mata penuh kekecewaan, ibu Ren yang sedari tadi hanya diam padahal seperti tengah menyiapkan kejutan besar, dan ayah Fandi yang menatap Asha tanpa ekspresi. "Kalau begitu kita masuk dulu, Om, Tante, Ren." Asha hendak membuka pintunya, tetapi perkataan ibu Ren membuatnya menghentikan aksinya.


"Tidak perlu. Kamu sudah buat Tante kecewa." Wajahnya terlihat begitu kesal. Asha yang kaget dengan ucapannya mendekat dan hendak menyentuh tangannya, tetapi langsung ditepis. "Kamu tahu berapa lama kami menunggu di sini?" Suaranya kini naik satu oktaf.


"Marni!" tegur ayah Ren karena takingin ada keributan.


"Mas diamlah, aku belum puas membuatnya sadar diri!" Matanya nyalang menatap Asha yang tertunduk.


"Ma, tenanglah. Sekarang kita masuk dulu ke rumah Asha," bujuk Ren. Bagaimanapun dia taktega melihat Asha tampak ketakutan walau dia sendiri masih kesal karena harus menunggu lama kekasihnya itu apalagi ditambah kehadiran pria beranak tadi.


"Sekarang kita pulang. Kamu tahu saya sudah sangat bersabar akan tingkahmu kepada Ren, putraku." Marni menarik tangan Ren mengajaknya pergi diikuti ayah Ren yang tak berkata apa pun. Air mata lolos begitu saja membasahi wajah Asha.

__ADS_1


__ADS_2