Cinta Sang Duda

Cinta Sang Duda
Pingsan


__ADS_3

Beberapa hari Asha tidak masuk ke sekolah dengan alasan sedang sakit, mengetahui guru kesayangannya sakit Fania membujuk Fandi mengantarnya menjenguk Asha.


Tidak hanya mereka berdua, ada Alif. Bocah yang selalu diwanti-wanti Fandi agar tidak dekat dengan Fania. Dia akan melotot kesal kepada bocah itu saat melihat Alif usil terus mendekati Fania dan bahkan menggandeng tangannya.


Fania menepuk keningnya saat Fandi memarahi Alif yang sengaja memancing Fandi. Lelaki kecil dan kurus itu sengaja menggandeng tangan Fania saat keluar dari mobil ke rumah Asha yang tertutup.


"Fania lelah lihat kalian berantem, pusing!" Fania berlagak mengikuti Dian saat memarahi dia dan Al ketika bertengkar berebut remot televisi atau saat Al tidak mau mengajari atau mengajak main Fania.


"Tuh, Om, Fania saja sampai pusing lihat Om marah-marah." Malas meladeni bocah menyebalkan itu, Fandi menggandeng tangan Fania dan mengetuk pintu rumah Asha, tetapi dengan usil Alif menggenggam satu tangan Fania yang bebas.


"Kamu ngapain, hah?" tanya Fandi kesal. Wajahnya memerah ingin sekali memaki dan kalau perlu meninju.


"Gandengan sama Fania, Om," jawab Alif enteng.


"Menyesal aku terima tawaran orang tuamu untuk ajak kamu ke sini. Demi kerjasama, Fandi. Sabar." Fandi mengusap dadanya mengingat jika dirinya akan bekerjasama dengan orang tua Alif asal Alif boleh ikut menjenguk Asha.


"Yah, Bu Asha kok lama, ya?" Fandi baru sadar sudah hampir lima menit tidak ada tanda-tanda Asha akan membuka pintu.


"Kita pulang saja, mungkin ibu gurunya lagi keluar." Sebenarnya Fandi khawatir dengan keadaan Asha, dia takut jika akibat ulahnya Asha sampai begini.


Fania menggeleng. "Enggak mau! Bu Asha lagi sakit, ngapain main-main? Fania kalau sakit di rumah aja, tuh."


"Iya, Alif juga. Kalau sakit enggak dibolehin pergi main dulu," sela Alif. Fandi mendesah pasrah. Dia akhirnya mengangguk dan mengetuk kembali pintu rumah Asha.


"Fan, pulang saja, yuk. Kayaknya Bu Asha benar deh enggak ada di rumah." Fania tampak lesu dan tidak bersemangat akhirnya mengangguk. Namun, saat mereka hendak pergi terdengar suara kunci yang diputar dan kenop pintu yang ditekan. Fania dan Alif saling pandang dan tertawa bahagia.


"Assalamualaikum, Bu guru," sapa keduanya serempak dan memeluk Asha yang wajahnya tampak layu.


"Wa'alaikumussalam." Asha mempersilakan mereka masuk, saat Fandi melewati dirinya untuk masuk wanita itu menatap tidak suka.


"Bu Asha sakit apa?"


"Bu Asha besok masuk sekolah?"


Asha mengangguk canggung menjawab pertanyaan dua muridnya yang memilih duduk di sisi kanan-kiri dirinya. "Wajahmu pucat, sudah berobat?" Asha mengangguk tidak berniat menjawab.


Fania mengulurkan tangannya dan meletakkan di kening Asha, seperti Fandi yang sering melakukannya saat dirinya sedang sakit. "Enggak demam." Dia bahkan menempelkan tangannya pada keningnya sendiri.

__ADS_1


"Ibu sudah baikan."


"Yeeay," sorak mereka berdua.


"Syukurlah." Fandi menimpali.


Asha pamit ke belakang akan membuatkan mereka minum, tanpa dia ketahui Fandi ikut ke belakang atas perintah Fania. kedua bocah itu meminta agar Fandi menjaga Asha, takut kenapa-kenapa walau dirinya merasa curiga akan apa yang diperbuat keduanya.


"Saya bantu." Ucapan Fandi yang tiba-tiba membuat Asha kaget dan sampai menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Dia berbalik dan menatap kesal Fandi.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Asha sembari berjongkok memunguti pecahan gelasnya.


Fandi ikut membantu dan berkata, "Fania meminta saya ke sini untuk membantu gurunya. Kamu tidak apa-apa?" Asha mendengkus dan beranjak ke kotak sampah membuang pecahan gelas, diikuti Fandi juga.


"Sebaiknya Anda temani mereka, saya tidak mau ada hal buruk jika Anda masih di sini." Asha mengambil gelas baru dan memasukkan kopi. "Berapa sendok?"


"Hah? Apa?"


"Kopi," ucap Asha sedikit ketus. Fandi menggaruk tengkuknya dan cengengesan walau Asha tidak melihatnya. "Dua?" Fandi menggeleng.


"Bisa minta tolong?"


"Apa?"


Asha menolehkan sedikit kepalanya. "Kalau tidak mau juga tidak masalah." Fandi menganga tidak paham dengan maksud Asha.


"Kamu enggak bilang apa-apa dan aku enggak tahu apa yang kamu mau."


"Ambilkan biskuit di lemari samping kamu dah masukkan ke toples." Asha mengaduk perlahan kopi milik Fandi perlahan. Fandi lantas menuruti saja permintaan Asha. Padahal dahulu dia tidak pernah melakukannya kecuali atas permintaan Sarah, kepada Dian dan mamanya dia akan sering kali beralasan apa saja untuk tidak menurut.


***


"Jadi kamu lagi jatuh cinta, nih?" ejek Dian saat Fandi mengantarkan Fania ke rumah orang tuanya Gadis kecil itu ingin mengadu dan bercerita kepada Al, tante, opa, dan omanya tentang Asha.


Fandi melirik kesal Dian yang sekarang sangat suka menggodanya. "Ya, enggak apa-apa, sih, malah bagus. Jadi kamu sudah bisa lupa sama Sarah!"


Fandi memijat pelipisnya. "Bahkan sampai kapan pun itu enggak akan mungkin," ucapnya yakin. Dian menjambak rambut Fandi akibat terlalu kesal.

__ADS_1


"Jangan keras kepala dan akui saja. Susah banget. Kalau dia sampai diambil orang awas saja kalau sampai nangis." Dian lantas masuk menghampiri Al dan Fania yang sedang berebut buku gambar mengabaikan Fandi.


"Wanita kasar," gumamnya.


Tidak lama Fania berlari menghampiri Fandi dan menyerahkan ponsel yang dipinjamnya. Fandi membelalakkan mata melihat Fania tengah melakukan panggilan masuk dengan Asha. "Kenapa?"


"Tadi, Fania mau dengar suara Bu guru, tapi ...." Fania memainkan ujung rambutnya dengan dipilin, tidak berani menatap Fandi. Belum sempat Fandi bertanya kembali, terdengar suara seseorang dengan khawatir.


"Ya, halo," sahut Fandi. Keningnya mengerut saat suara itu bukan milik Asha. "Pingsan?" Fandi melirik Fania yang menatapnya penuh harap. "Baiklah, saya akan segera ke sana." Fandi mematikan panggilan masuk dan bangkit.


"Ayah, ikut." Fandi berjongkok menyamakan tingginya dengan sang putri dan mengusap kepalanya lembut.


"Fania di sini sama Kak Al. Ayah harus ke rumah sakit, enggak akan lama." Fania menggeleng. Bahkan sekarang dia sudah menangis. Dian menjewer telinga Fandi melihat keponakannya menangis.


"Kamu apain ponakanku ini?" Dian menggendong Fania walau agak kesusahan karena bobotnya.


Fandi mencebik kesal dan bangkit. "Ngapain anak sendiri emang? Fania mau ikut aku ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" tanyanya tanpa menatap Fandi. Dian berusaha menenangkan keponakannya yang masih saja menangis. "Bawa anakmu, kamu tahu sendiri Fania ini kalau udah mau sesuatu pasti harus dituruti!" perintahnya lagi.


"Rumah sakit enggak bagus buat anak kecil. Lagipula aku hanya sebentar, Asha pingsan." Dian menatap Fandi menyelidik.


"Jangan salah paham. Fania tadi telepon gurunya pakai ponselku makanya aku tahu." Fandi mendekati Fania yang masih mengusap air matanya.


"Dengarkan Ayah!" Fania mengangguk. "Sekarang Fania di sini, nanti Ayah akan kasih kabar tentang Bu Asha untuk Fania," ucap Fandi lembut. Dia mengecup kening putrinya.


"Ikut Ayah, Fania khawatir sama bunda. Bunda pasti ketakutan sendiri di sana." Dian menahan tawa saat melihat bagaimana keponakannya memanggil gurunya bunda dengan wajah menggemaskan.


Fandi mengembuskan napasnya kasar, dia melirik Dian meminta bantu, tetapi wanita itu malah mengangkat bahunya tidak peduli. "Ayah," rengeknya.


"Oke, tapi jangan nakal."


"Aku juga ikut!" seru Al yang menghampiri mereka bertiga. Fania meminta turun dan bersorak senang saat Fandi mengiyakan.


"Ya sudah, nanti Mama menyusul. Fandi jaga anak sama ponakanku. Awas sampai ada yang lecet." Fandi tidak peduli, dia mengajak keduanya keluar dari rumah.


"Fan, rumah sakitnya di mana? Tempat Kakak kerja bukan?" seru Dian dan Fandi hanya mengangguk tanpa memberi jawaban lewat suara. Dia teramat kesal dengan kakak perempuannya itu yang tidak bisa diajak kerjasama.

__ADS_1


__ADS_2