Cinta Sang Duda

Cinta Sang Duda
Fania Ingin Bunda?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, baik Fandi maupun Asha sama-sama diam. Mereka membiarkan Fania terus saja berceloteh mengatakan hal yang dia lakukan selama di sekolah tadi, tidak terlupa juga tentang dirinya yang menyantap bekal Asha.


"Ayah, nanti kita mampir di rumah Bu Asha, ya. Boleh, 'kan, Bu?" Asha menoleh ke belakang di mana Fania berada. Tadi dia sengaja meminta Asha untuk duduk di samping Fandi.


"Boleh," jawab Asha membuat Fania begitu kegirangan.


"Sayang, tapi Ayah harus segera ke kantor lagi. Kasihan Om Haris sama karyawan yang lain." Fandi menatap Fania lewat kaca kecil, gadis kecilnya merajuk dengan bersedekap dan bibirnya yang manyun.


Melihat Fania kembali merajuk membuat Fandi lagi-lagi harus menghela napas panjang. Dia lantas melirik ke arah Asha yang tampak gusar dengan ponsel di pangkuannya. Fandi beberapa kali melihat Asha yang tidak tenang mungkin ada sesuatu yang sedang guru muda itu pikirkan.


"Ekhm, Bu Asha tidak apa-apa kalau kita tidak jadi mampir?" tanya Fandi pelan. Asha yang merasa namanya dipanggil menoleh dan tampak kebingungan. "Sepertinya Anda sedang melamun?"


"Maaf, Pak." Asha menoleh melihat Fania yang hampir menangis karena keinginannya untuk mampir ke rumah Asha tidak diizinkan Fandi. Dia mengulurkan tangannya menyentuh kepala Fania dan tersenyum hangat saat mata bocah tersenyum menatapnya penuh harap, seakan matanya berbicara meminta untuk membujuk Fandi.


"Fania boleh kok main ke rumah Ibu, lain kali tidak harus hari ini."


"Tapi Fania maunya sekarang, Ayah boleh, ya? Fania mohon!" pintanya penuh harap.


"Baiklah, tapi Ayah tidak bisa temani. Nanti sore setelah Ayah selesai dengan pekerjaan langsung Ayah jemput." Fandi akhirnya mengalah. Dia tidak mau jika Fania akan mogok bicara kepadanya. Hal tersulit dalam hidupnya saat sang putri memilih mengabaikan dirinya.


"Hore, Ayah terbaik sedunia." Dia lantas memeluk Fandi membuat Fandi yang kaget mengurangi laju kendaraannya.


Sesampainya di depan rumah Asha, Fandi turun mengantarkan putrinya yang terlihat sangat antusias. Dia hanya mengantarkan sampai ke depan gerbang saja.


"Kamu jangan nakal, tiga jam lagi Ayah akan menjemputmu." Fandi berjongkok menyamakan tingginya dengan Fania.


"Siap, Bos." Gadis kecil itu memberi hormat kepada Fandi layaknya seorang prajurit yang memberi hormat komandannya dengan tawa lebar yang menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Fandi mengusak pelan kepala Fania dan lantas berdiri.


"Saya titip Fania, semoga dia tidak merepotkan." Asha yang ditatap Fandi mendadak canggung, dia langsung mengangguk dan menatap Fania yang juga menatapnya.


"Anda tidak perlu khawatir, lagipula saya tinggal sendiri, jadi kalau ada Fania tidak akan kesepian."

__ADS_1


"Ya, sudah. Ayah pamit dulu, ya," pamitnya. Belum juga Fandi pergi, Fania langsung menarik tangan Asha untuk segera masuk ke dalam rumah.


Fandi menatap nanar interaksi keduanya. "Maafkan, Ayah." Fandi segera masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari sana.


"Fania Ibu ke kamar sebentar mau ganti baju." Fania mengangguk, matanya melihat tiap sudut rumah Asha, begitu menenangkan bagi dirinya. Ada sofa berwarna cokelat yang diletakkan menghadap ke televisi yang berada di ruang sebelah ruang tamu, ruangan yang hanya disekat dengan lemari hias saja. Dia lantas memilih duduk di sofa tersebut dan merebahkan tubuhnya. Meninggalkan tas yang dia taruh di sofa ruang tamu.


"Kalau Bu Asha jadi bundanya Fania pasti Fania bahagia." Khayalnya membayangkan jika Fandi dan Asha menikah.


"Fania, minum dulu." Asha ternyata membawakannya segelas air minum setelah berganti pakaian dengan pakaian santai dan langsung diterima Fania. "Kamu biasanya melakukan apa di rumah setelah pulang sekolah?"


Asha duduk di sampingnya dan mulai menyalakan televisi dengan volume rendah. Fania seolah sedang berpikir serius, jari telunjuknya dia tunjuk-tunjukkan ke dagunya dengan pandangan ke atas dan kepala miring. Melihat tingkah menggemaskan Fania membuat Asha tersenyum simpul. Setidaknya rasa gusar karena tidak bisa bertemu Ren terobati sedikit setelah kehadiran Fania.


"Biasanya main sama Boba." Asha mengerutkan keningnya menatap Fania yang tertawa pelan. "Boba teman Fania di rumah, dia itu nakal tapi juga lucu."


"Kucing?"


Fania menggeleng. "Lantas?"


"Eh, Ibu kira kucing."


"Fania alergi bulu, pasti kalau dekat sama kucing bakal bersin-bersin. Makanya sama ayah dilarang pelihara kucing." Fania menjelaskan alasannya tidak memiliki peliharaan kucing.


"Benar sekali, kalau kita ada alergi harus dihindari penyebabnya. Ibu boleh tanya sesuatu?" Asha tampak ragu untuk bertanya saat Fania mempersilakannya lewat anggukan kepala. Pandangan gadis kecil itu sekarang fokus ke layar televisi yang menampilkan serial kartun.


"Bunda Fania ke mana? Apa bunda tidak marah Fania main ke sini?" Fania menoleh dan menunduk. Dirinya seketika sedih saat pertanyaan itu muncul dari wanita yang ingin dia jadikan bundanya.


Asha tampak bersalah, dia segera memeluk tubuh Fania yang bergetar karena menangis. "Maafin Ibu, ya." Dia berusaha menenangkannya.


Asha mengurai pelukannya. "Fania enggak punya bunda. Kata ayah, Fania cuma punya ayah saja."


Tangan mungil itu menghapus bulir yang jatuh membasahi pipinya. "Baiklah, enggak apa-apa. Ayah Fania juga baik. Fania harus tetap bersyukur. Eem, bagaimana kalau sekarang Fania bantu Ibu masak di dapur terus kita makan."

__ADS_1


"Mau-mau," jawabnya antusias seolah melupakan kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya bersedih.


***


Tepat pukul lima sore Fandi kembali sampai di depan rumah Asha untuk menjemput putri kecilnya itu. Dia terlihat khawatir jika Fania sampai membuat Asha kewalahan. Belum sempat dirinya sampai di teras rumah Asha, pintu rumah terbuka. Fania yang melihat Fandi segera berlari menghampirinya diikuti Asha yang membawakan tas Fania.


"Ayah." Fandi segera menggendongnya dan menerima tas dari Asha.


"Terima kasih, Bu. Maaf kalau putri saya merepotkan Anda." Fania menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Fandi, terlihat dia masih mengantuk.


"Sama sekali tidak merepotkan. Fania sepertinya masih mengantuk." Asha mengusap lembut rambut Fania. Dia segera mundur saat tidak sengaja tatapan matanya beradu pandang dengan Fandi.


"Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih." Fandi segera menuju ke mobilnya berada, dia terlibat begitu hati-hati saat meletakkan Fania di kursi depan samping kemudi dan memasangkan sabuk pengaman.


"Entah kenapa lihat Fania aku jadi ingat kakak," monolog Asha yang masih bergeming menatap keduanya yang hendak pergi.


Fandi yang masih fokus dengan kemudinya dikagetkan dengan Fania yang tiba-tiba bertanya. "Bu Asha menurut Ayah gimana?"


"Kamu sudah bangun?"


"Jawab, Ayah!"


"Baik."


"Cantik, tidak?"


"Fania lebih cantik," ucap Fandi seraya menaik-turunkan alisnya menggoda Fania.


"Kalau begitu Ayah menikah dengan Bu Asha, ya." Fandi kembali menoleh dan mendapati putrinya terkikik pelan.


"Fania sangat ingin bunda?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Fandi. Selama ini Fandi sengaja tidak memberitahu perihal ibu kandung putrinya karena permintaan sang mantan istri. Awalnya dia yang terluka tidak mau lagi untuk mengenal wanita dan berprinsip bisa mengurus sendiri Fania. Namun, semenjak sang putri selalu menanyakan tenang ibunya membuat Fandi berpikir untuk bisa kembali lagi dengan mantannya karena dia masih memiliki perasaan cinta kepada mantannya, tetapi kenyataan yang harus diterima saat ini bahwa ibu kandung putrinya menghilang tak berjejak dan mungkin menginginkan Fandi untuk bisa melupakannya.

__ADS_1


"Ayah mau kasih Fania bunda?"


__ADS_2