
tak sadar Nindi menitiskan air mata, jahat rasanya kalau aku tidak memberikan maaf pada mba Dian,hanya sekedar memberikan jawaban maaf dari ucapan mba Dian,aku harus menghilangkan ego ku. yang dapat mba Dian lakukan untuk sekarang ini hanya meminta maaf pada ku, untuk sebuah pengampunan Dosa yang ia lakukan dulu pada ku,agar ia pulang nanti tidak membawa beban,
"aku memaafkan mba Dian,mba harus sembuh,mba ga ingin melihat calon cucu mba,dari Syila nanti"ucap Nindi sambil mengelus perut Syila yang sedang hamil muda.
Syila menangis sesenggukan melihat nafas mamahnya yang semakin berat,
Dian menggenggam tangan Nindi dengan erat,Nindi menuntut doa ketika Dian masih mampu mengucapkan nya,
"mamah,,,jangan tinggalkan Syila mah," Syila berteriak kini mamah nya telah tiada,
mba Dian telah pergi jauh yang telah menyisahkan tangis buat kami ."aku sudah memaafkan mba dan mengiklaskan semua mba yang tenang di alam sana",mas Doni mencium kening Dian untuk terakhir kalinya,"yang tenang dialam sana mah,jangan khuatir Syila biar aku yang menjaganya."
Syila menangis sedih,Nindi mengingatkan,
"kamu sedang hamil nak jangan menangis berlebihan,mamah sudah ga sakit lagi,iklaskan mamah Syila"
Nindi memeluk Syila,"hanya mamah yang menemani ku dari kecil sampai aku menikah,sekarang mamah pergi meninggalkan ku bu,aku tak sanggup,,"
Doni memeluk Syila,"kamu tinggal di Jakarta ya nak papah akan mencarikan tempat tinggal untukmu,"
Syila terdiam dan tak menangis lagi, teringat akan kandungannya yang masih muda,suami Syila baru datang, ia bertugas di Jakarta,baru mendapatkan ijin dari kantornya,
Dian dimakamkan di Belanda,rencana Syila ingin tinggal bersama suaminya ke Jakarta.Doni senang mendengarnya kami akan berkumpul di Jakarta.
______***
Fatia hari ini sibuk dengan aktifitasnya ditoko Fatia yang baru,dan mengecek toko kue melalui asistennya,setelah mas Pras berangkat ke kantor,Fatia mengatur aktifitasnya hari ini,sebelum memulai beraktifitas Fatia menyempatkan diri menelpon Aini adik Pras yang paling besar,
"hallo Aini kabar kamu dan adik-adikmu gimana,kemarin mba mentransfer sejumlah uang untuk biaya sekolah kalian ya,mba harap sisa nya di pergunakan dengan baik ya,dan doa kan mba agar usahanya lancar ya Aini"
"iya mba trimakasih banyak, alhamdulilah kami semua disini sehat mba"
tak lama ada seseorang mengetuk pintu depan,aku lihat itu ibu datang mengunjungi ku,
"ibu,,,kenapa ibu ngabarin aku kalau mau kesini,biar aku jemput nanti"
__ADS_1
"ada mang ujang yang setia menemani ibu kemana pun,gimana kabarmu nak,,,"
"kabarku baik bu,kamarin aku mengiriman Aini sejumblah uang untu k memenuhi kebutuhan mereka bulan ini."
"iya nak cukup memenuhi kebutuhan mereka saja nak,jangan terlalu berlebih memberikan mereka uang cukup apa yang mereka butuhkan,"
"baik bu, recananya kalau ada waktu aku akan mengajak mereka jalan-jalan ke suatu tempat yang mereka suka"
"iya,,tapi jangan sampai Pras mengetahuinya,takut dia marah besar pada mu nak"
"baik bu"
"ibu mau beli sesuatu ke supermarket,"
setelah ibu berangat ke supermarket aku pun segera pergi ke toko pakaian karna aku baru memiliki 2 kariawan toko,jadi aku masih harus ketoko untuk membantu,
ketika aku datang ke toko aku sudah di sambut dengan pelanggan toko yang berniat membelanjakan uangnya untuk beli pakaian dalam bentuk grosir,aku sengaja menjual juga pakaian dalam bentuk grosir agar penjualan ku luas,biasanya mereka ku suruh datang pagi-pagi agar tidak berbarengan dengan pembeli pakaian satuan.
Pras datang ke toko siang ini mengajakku makan siang bersama, aku senang sekali Pras mengajakku makan siang di restauran yang aku suka.
"kenapa ga di angkat sugar pie ku,,"
"aku takut kamu marah Pras,"
"marah kenapa aku harus marah Fatia"
"ini telpon dari adik-adikmu Pras"
"angkat lah aku mau melihat mereka"
aku kaget mendengar Pras berkata seperti itu,aku segera menghubungi mereka kembali.
"kakak Fatia,,bagaimana kabar mu" adik Pras yang no 2 menelpon tanpa sepengtahuan Aini.
"ka terima kasih antas kiriman uangnya kemarin,nenek bisa masakin aku makanan enak hari ini,aku dimasakin ayam hari ini sama nenek k terimakasi ya k,"Pras menarik ponsel ku dan melihat adiknya,mata Pras terlihat berkaca-kaca,,adik Pras menutup mulutnya dan segera mematikan ponselnya.
__ADS_1
adik Pras takut Pras marah selama ini yang ia tau mereka tak boleh menghubungi,apalagi memperlihatkan wajah mereka di hadapan Pras,mereka hanya mengenal wajah Pras dari Foto-foto yang dikirimkan ibu.
"kamu sering menghubungi mereka dan mengirimkan uang untuk mereka Fatia,"
"maaf Pras mereka anak yatim piatu itu kewajibanku menyisihkan dari sedikit keuntungan ku untuk memenuhi kebutuhan mereka agar rejeki ku lancar,mereka pun anak-anak yang memang benar-benar membutuhkan uluran tanganku.
Pras hanya diam saja tak menjawab kata-kata dari Fatia,
____***
Hari ini Syila pindah ke Jakarta mengikuti tugas suaminya,di bantu Vino dan istrinya,
"kamu yakin akan meninggalkan Belanda Syil"
"iya om suami ku juga tugas di sana, aku juga ada klinik yang masih berkembang di sana,aku ingin dekat dengan papah om,kini mamah telah tiada,aku hanya sendiri tinggal disini"
"baiklah lah kalau itu keputusan yang terbaik bagimu,kita berkumpul di Jakarta,apa kamu mau tinggal bersama om di Jakarta,"
"papa sudah mencarikan tempat tinggal untuk kami,yang dekat dengan papah dan kantor mas Fawas"
Syila pun pindah ke Jakarta sebuah pilihan terbaik untuknya,sesekali ia akan datang ke Belanda menengok makan ibu dan keluarga yang lain di sana.
Nindi akan senang sekali Syila akan tinggal dekat dengannya,apa lagi ia sedang mengandung buah hati yang akan memanggilnya oma nanti,
"aku akan menyayangi cucu dari mba Dian nanti,seperti aku menyayangi Syila waktu kecil,"lamunan Nindi membuat ia tersenyum sendiri membayangkan hadirnya sebuah cucu dalam hidupnya.
"Nin kenapa kamu tersenyum sendiri,"
"aku membayangkan akan menimang cucu dari Syila,betapa bahagianya aku mas."
Doni memeluk Nindi dan mencium keningnya.
"tak terasa kita semakin menua ya Nin berbagai cobaan yang datang silih berganti membuat kita semakin kuat,"
"aku tak pernah menyangka akan bersama mu dan menemani hari tua mu nanti mas"
__ADS_1
Nindi menitiskan air mata bahagia yang penuh haru,makin hari kehidupan mereka makin harmonis saling mengisi satu sama lain,yang masih Nindi khawatirkan hanya Hafis, aku ingin Hafis lulus dengan nilai baik agar bisa menggantikan tugas ayahnya nanti.