
Kebahagiaan membuncah yang di rasa wanita cantik yang berada di meja makan saat ini. seperti mimpi saat memikirkan bahwa anak nakal yang selama ini berada jauh darinya tidak akan lama lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya.
" Aku tidak meyangka kau bahkan sudah memikirkan hal ini Ken." Ungkap Serena meneteskan air mata karna bahagia.
" Jangan menangis Serena. aku tidak bisa melihat air mata yang mengalir dari matamu hatiku sakit melihatnya." Tatap Ken sendu kedua tangannya menghapus air bening yang mengalir itu.
" Ini air mata kebahagiaan Ken. bukan kesedihan dan semua kebahagiaan yang aku rasakan ini ada karna dirimu." Isak Serena dia menghambur memeluk badan kekar yang di depannya.
Dengan perasaan bahagia Ken mengeratkan pelukan itu. mengusap punggung lembut Serena.
" Katakan Serena pernikahan seperti apa yang kau inginkan .? Tanya Kenan.
Mendengar pertanyaan dari Kenan pun dengan perlahan Serena melepaskan pelukan itu dan menatap wajah tampan Kenan.
" Tentu saja ingin pernikahan yang istimewa. kau tau aku selalu memimpikan pernikahan yang sangat meriah. aku ingin menjadi Putri satu hari yang menjadi pusat perhatian para tamu dan mempelai priaku." Serena berbinar
" Tapi...itu dulu sekarang aku hanya mengiginkan sesuatu yang sederhana namun tidak dapat terlupakan." Sambung Serena menunduk dengan nada lirih.
Ken yang mendengarnya pun menyeritkan dahinya.
" Mengapa seperti itu ?" Tanya Kenan
" Semua tidak seperti dulu lagi Ken dan aku sudah tidak menginginkannya lagi.aku hanya ingin pernikahan sederhana tanpa di ketahui publik sekalipun.aku hanya ingin ada Mama Clara, Papa Pitter, Teman terdekat dan anak nakal itu saja." Jawab Serena tersenyum pahit.
Semenjak Serena mulai mengetahui kehidupan pahit masa lalunya dia sudah benar-benar berbeda dari sebelumnya.bukan dendam yang di rasakannya hanya saja terlalu kecewa, terlalu sakit bahkan untuk mengingatnya saja dia tidak akan mampu.
" Baiklah Nona jika itu yang kau inginkan. aku tidak akan keberatan." Ken tau jika Serena masih sangat terluka saat ini. dan pernikahan sederhana pun Ken sama sekali tidak keberatan.
Kenan mengenggam erat tangan Serena seakan mengatakan jika ada dirinya yang akan membuatnya bahagia. selama ada dia Serena tidak perlu mencemaskan apapun lagi.
***
Kini Seorang pria tengah berada di ruang kerja miliknya. pria itu sedang duduk di kursi kebesarannya kedua bola matanya menatap tajam seseorang yang berdiri di depannya. jangan tanya bagaimana exspresi wajah orang yang tengah di tatap tajam itu. jantungnya berdetak kencang, keringat mengalir dari pelipisnya, pandangannya menunduk meratapi nasib buruknya.
__ADS_1
" Jack apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan ." Tanya seorang pria pada seseorang yang di tatapnya itu yang tak lain adalah Asistennya.
" I itu Tuan " Asisten itu pun menjawab dengan terbata.
" Kau berani mengabaikan perintahku " Marahnya menatap tajam wajah Jack.
" Tidak Tuan " Jawab Jack dengan cepat
" Lalu ?" Tanya pria itu menaikan salah satu alisnya pandangannya masih setajam silet.
" Be begini tuan "Jack pun masih sangat ragu untuk memberitau tuannya itu.
" Tanyakan saja semuanya pada mama Marvin. mama akan dengan senang hati menjawabnya." Teriak seseorang dari balik pintu menimpali obrolan Tuan dan Asistenny itu.
Deg---
Mendengar suara melingking membuat jantung mereka berdua berdetak. mereka sangat tau siapa pemilik suara itu.
" Apa lagi yang diinginkan Mama ?" Tanya Marvin dalam hati. dia sangat tau setiap kedatangan mamanya pasti ada yang diinginkannya kan.
Marvin memeluk sang mama mencium kedua pipinya dan menuntunnya menuju sofa empuk di ruangan itu.
" Bagaimana keadaanmu Sayang ?" Tanya Nyonya Anita sedikit lembut. melihat putra kesayangannya menghampiri dan mencium pipinya.
Emosi yang sejak tadi membuncah pun kini mulai mereda. bagaimana pun apapun yang di lakukan Marvin dia tetap putra kesayangannya dan dia sendiri adalah ibunya. dia selalu menginginkan putra tunggalnya itu menuruti semua keinginannya tanpa ada penolakan.
" Seperti yang mama lihat. putra tampanmu ini sudah sembuh total ma." Jawab Marvin membangakan diri.
Semenjak di hajar habis-habisan oleh Kenan. bukan hanya wajah tampan Marvin saya yang babak belur tapi seluruh badannya serasa remuk bahkan untuk bergerak saja kesulitan.itu sebabnya Marvin melakukan perawatan untuk kesembuhan tubuhnya kembali.
Selama penyembuhan yang di lakukan Marvin tak lupa dia meminta Jack untuk tetap mengawasi Serena. bagaimana pun setelah kejadian kemarin tidak membuat Marvin jera bahkan membuatnya semakin gila untuk mendapatkan Serena. namun rencananya itu di ketahui Nyonya Anita tentu saja dengan sengaja Nyonya Anita menghentikan Asisten penakut itu kan.
Hanya dengan sedikit ancaman saja sudah membuat Asisten itu ketakutan. dan berpaling kesetiaan, menurut Jack justru Ancaman Nyonya Anita lebih mengerikan di banding ancaman tuan mudanya itu. walaupun sebenarnya sama-sama mengerikannya .sunguh buruk nasib mu Jack pikirnya.
__ADS_1
" Menikahlah dengan Monica." Tanpa basa-basi Nyonya Anita mengutarakan Keinginanya.
" Ma.. berapa kali Marvin katakan kalau aku tidak.."
Mengetahui penolakan Putranya Nyonya Anita tidak membiarkan Marvin menyelesaikan ucapannya.
" Mama tidak menerima penolakan Marvin." Tegas Nyonya Anita.
" Menurutmu siapa lagi yang lebih pantas menjadi menantu Mama kalau bukan gadis manis itu ? Marvin kau sudah tidak muda lagi walaupun kau masih sangat tampan tapi sudah seharusnya kau menikah." Jelas Nyonya Anita memandang Putranya yang saat ini sedang kesal itu.
" Aku masih belum mau menikah. kalaupun aku menikah tentu bukan dengan Monica ma jangan memaksaku." Gerutu Marvin dalam hatinya mengumpat.dia terlalu malas jika membahas pernikahan dengan mamanya.
" Haha lalu dengan siapa kau akan menikah Marvin ? apakah dengan gadis kasar itu ?" Tanya Nyonya Anita tertawa dengan nada mengejek.
" Ma namanya Se.."
" Jangan membantah Marvin. disini mama tidak menanyakan keputusanmu tapi mama memberitaumu dan kau harus menuruti mama." Titah mutlak Nyonya Anita.
" Jika kau masih menolaknya maka kau akan menyesal Marvin. menurutmu apa yang tidak bisa mama lakukan untuk membuat gadis kasar itu hidup dalam kesulitan ." Ancam Nyonya Anita.
Seperti biasa jika keinginannya tidak terpenuhi maka senjata yang di gunakannya adalah sebuah ancaman.
"Mama mengancamku ?" Marvin menatap Nyonya Anita dan hanya keseriusan yang Marvin lihat. maka bisa di pastikan jika ancaman itu bukan ancaman biasa.
" Hufh baiklah. Mama bisa melakukannya sesuka mama. Mama bisa mengaturnya ." Marvin menghela nafas pasrah. tidak ada gunanya baginya jika terus menolak.
Dia tau jika Mamanya juga sangat keras kepala dan benci penolakan sama seperti dirinya.buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya kan.
" Anak pintar. Mama tau Marvin kau tidak akan menolaknya. baiklah urusan mama sudah selesai mama akan kembali dan memberi kabar bahagia ini pada Tante Herra dan Monica pasti mereka sangat bahagia." Nyonya Anita sangat Gembira tanpa pikir panjang bangkit dari sofa dan keluar dari ruangan itu dengan wajah cerah.
Pranggg
Setelah di pastikan mamanya benar-benar keluar Marvin meraih dan melempar Vas bunga yang di depanya.
__ADS_1
" Shit.." Marah Marvin menjambak kasar rambutnya.
TBC