
"Mama.."Gumam Serena,sudah lama sekali dia tidak melihatnya.
Menurut Serena bukan hanya terlihat cantik,tapi mamanya juga terlihat lebih anggun dan sederhana di dalam penampilannya.Serena menatap kedua matanya,tiba-tiba hatinya merasa berbeda.Entah mengapa ? dia sendiri juga tidak mengetahuinya.
"Se Serena." Saira terbata menatap putri pertamanya itu,putri yang selama ini di rindukannya.Kedua matanya berkaca-kaca.
Tangan halusnya membelai wajah cantik putrinya,sudah sangat lama Saira menanti dimana hari untuk menyentuh putrinya kembali.Saira menarik Serena ke dalam pelukannya,Saira tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.Pertemuan tidak di sengaja ini,membuatnya lupa akan identitasnya sendiri.
Serena menyeritkan keningnya,dia tidak menyangka pertemuannya dengan mamanya akan seintim ini.Serena menganggap jika yang di pelukannya ini adalah mamanya Saila,bukan Saira Ibu kandungnya.Dan Saira sendiri masih mengira,jika putrinya menganggapnya sebagai dirinya sendiri bukan sebagai kembarannya.
"Ma...Apa Mama sendirian ? dimana Helena ?" Tanya Serena,berusaha melepaskan dirinya dari pelukan wanita yang selama ini di anggapnya Ibu.
Deg---
"Helena...?"Cicit Saira,mimik wajahnya berubah seketika.Dia baru menyadari jika putrinya menganggapnya sebagai Saila bukan dirinya sendiri.Terdapat kekecewaan di dalam hatinya,
"Ma..."Panggil Serena menyadarkan lamunan Saira.
"Ah tidak...Mama akan segera kembali,jaga dirimu sayang."Pamit Saira mencari alasan.
Saira terburu-buru meninggalkan Serena yang masih mematung,Saira menyadari jika di hati putrinya namanya tidak akan pernah ada.Putrinya tidak akan pernah mengenalnya sebagai Saira,wanita malang itu meninggalkan mall dengan meneteskan air matanya.
"Kau sudah melihatnya Ma...?" Suara Sella mengagaetkan Saira,langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Se Sella." Saira tertegun,melihat putri keduanya.Dia tidak mengira Sella akan mengikutinya sampai sejauh ini.
"Lupakan dia Ma..Dan aku tidan akan memberitaukannya pada Papa." Ucap Sella sinis.
Kecemburuan jelas terlihat di kedua mata Sella,dia sangat tidak menyukai saat Ibu yang di cintainya berbagi kasih sayang dengan mantan anaknya.Sella masih menganggap jika hanya dia lah putri satu-satu Ibunya,dan tidak akan ada putrinya yang lain.
"Jika Mama terus berusaha menemuinya,maka Papa akan melakukan sesuatu untuknya Ma..Ingat itu." Ancam Sella,dengan perlahan melangkah meninggalkan Ibunya.
"Sella benar,dia bukan lagi putriku." Gumam Saira mencoba melupakan semuanya.
***
"Dimana Dinda ? bukankah dia akan menungguku disini." Serena celingak-celinguk mencari dimana sahabatnya berada.
"Aduh..." Ringis Serena,perutnya terasa sakit sekali.
"Serena...Kau baik-baik saja ?" Panik Dinda,dia baru saja kembali dari toilet.Dinda sangat panik melihat sahabatnya itu kesakitan,bagaimana jika terjadi sesuatu dengan sahabatnya ?.
Bayangan kemarahan suami dari sahabatnya itu terlintas di kepalanya."Ayo kita ke rumah sakit." Ajak Dinda,tidak ingin hal buruk terjadi karna dirinya.Pasalnya dia lah yang mengajak sahabatnya itu berbelanja.
"Aku baik-baik saja,tidak perlu membawaku kemana pun."Serena meyakinkan Dinda,tidak ingin membuat sahabatnya itu panik.
Serena tersenyum lembut menatap mimik kepanikan Dinda,senyum di wajah Serena terlihat palsu.Dia masih merasakan sakit di perutnya,Serena ingin segera pulang dan meminum obat yang di berikan suaminya.Karna terlalu bersemangat untuk pergi,dengan ceroboh membuat wanita itu melupakan obatnya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Ajak Serena.
Dinda hanya mengangguk,mengiyakan.Dia mengandeng sahabatnya menuju mobil miliknya,belum sampai di parkiran.Sesosok pria tampan,gagah dan menawan muncul di depannya.Para wanita bebisik,mengagumi ketampanan Kenan,mereka berusaha mencuri perhatian pria tampan dengan aura yang luar biasa itu.Namun sayangnya Kenan tidak menghiraukannya,dia tetap berjalan ke depan dengan acuh.pandangannya mencari-cari sosok istri tercintanya.
"Sayang...Kau disini." Kedua mata Serena membulat tak percaya,bagaimana suaminya bisa mengetahui jika dirinya kabur dari rumah.
"Ya Tuhan Serena,apa dia akan memarahiku karna mengajakmu pergi." Bisik Dinda ketakutan.
Serena melirik Dinda,menyipitkan kedua matanya.Apakah suaminya menakutkan ? mengapa sahabatnya ini sangat ketakutan saat melihat Kenan disini pikir Serena,dia mengelengkan kepalanya dan menatap kembali suaminya.
"Kau pulanglah,aku akan pulang bersama suamiku."Bisik Serena,setelah menatap mimik mata suaminya.Dia menyadari jika bisa saja suaminya akan marah kan,dan dia tidak akan membiarkan Kenan memarahi Dinda untuk masalah ini.
"Baiklah." Pasrah Dinda,sebelum pergi wanita itu menyempatkan diri menyapa Kenan dengan senyuman yang sangat canggung.
"Apakah sudah bersenang-senangnya." Suara bariton Kenan,terdengar setelah kepergian Dinda.
"Dia sedang marah,aku harus merayunya." Batin Serena.
"Ah sayang.."Serena mengalihkan pertanyaan suaminya,wanita itu setelah memanggil nama suaminya dia menghambur ke tubuh kekar suaminya.
Dengan tidak tau malunya Serena menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenan,Serena sama sekali tidak memperdulikan tatapan tajam para wanita yang ada di sekelilingnya.Saat ini dia ingin berusaha,meluluhkan kemarahan dari suami tampannya itu.
"Kau tau dimana kesalahanmu Sayang.." Tanya lembut Kenan,dia sebenarnya tidak marah karna kepergian istrinya.Kenan hanya ingin mengoda istri cantiknya ini,dia ingin tau seberapa jauh Serena akan mengodanya di depan umum seperti ini.
__ADS_1
TBC