
Para dokterpun Memeriksa keadaan Anton, sementara Melisa dan Leon menunggu di ruang tunggu, Pak Menejerpun menghubungi keluarga Anton.
Tak berapa lama keluarga Anton datang, mereka cemas akan keadaan Anton, Mamanya Anton menangis melihat keberadaan Anton.
Mereka sangat sayayng kepada Anton, mereka sepertinya baik tak seperti Anton. Tetapi berbeda dengan Anton yang sombong dan angkuh.
Tak berapa lamapun dokter yang menangani keadaan Anton keluar.
"Bagaimana Dok keadaan anak anak saya?" Tanya Mama Anton kuatir.
Dokter cuman bisa sedikit geleng geleng, memberi kode bahwa Anton tak baik baik saja.
"Keadaannya kritis, sementara Anton membutuhkan donor darah, karna persediaan darah golongan AB sudah habis." Dokter.
Sementara golongan Darah Anton itu cocok sama dengan golongan darah mamanya, tetapi sayangnya Mama Anton tak boleh untuk melakukan donor darah karna kesehatannya yang tak bisa untuk melakukan donor darah.
Keluarga Anton sangat khawatir terlebih tak ada stok darah untuk di rumah sakit.
Feliska, yang terlihat santai santai saja tak menunjukkan khawatir sekalipun, sementara Mama dan Ayah Melisa terus saja mondar mandir kesana kemari, terlebih Mama Feliska yang menunjukkan ke khawatiran yang amat dalam.
Sementara Melisa melihat kedua orang tua Anton yang khawatir tumbuh di hatinya rasa belas kasihan.
Mereka begitu menyayangi dia tetapi dia tak tau bagaimana kedua orang tuanya menyayangi.
__ADS_1
"Mel." Feliska heran ketika melihat adanya Melisa begitu juga Melisa.
"Iya Fel." Melisa melihat kearah Feliska yang menyapanya.
Sementara Leon memandang Feliska takjup.
"Kamu kenapa ada disini Mel?" Tanya Feliska.
"Aku tadi nolong orang." Jawab Melisa jujur.
"Ohh, apakah orang yang di dalam yang kamu tolong?" tanya Feliska.
"Ea." Melisa.
Sungguh mulia hatinya padahal orang yang di tolongnya adalah orang yang jahat terhadapnya.
Abang dan adiknya ternyata sifatnya yang berbalik. Adiknya sifatnya lembut sementara Abangnya sifatnya lain dari adiknya.
"Ohh." Melisa sedikit terdiam.
"Maafkan Abangku kamu begitu baik terhadapnya sementara dia tak begitu baik." Feliska merasa bersalah.
Melisapun memaafkannya, karna dia walaupun keras kepala tetapi dia memaafkan.
__ADS_1
" Ea aku maafkan." Melisa.
Feliskapun memegang tangan Melisa, sementara Melisa tersenyum manis terhadap temannya itu, merekapun berpelukan menunjuk betapa pentingnya kasih sayang.
Sementara itu Anton keadaannya semakin drop Feliska yang terlihat biasa aja kini dia juga khawatir, terlebih lagi orang tua Feliska yang bingung harus mau bagaima.
Ya Allah selamatkanlah anakku ku ingin pulihkanlah anakku dari penyakitnya, dan angkatlah penyakitnya dari dalam diri anakku.
Ibu Feliska menangis tersedu sedu, tangisannya memenuhi ruangan rumah sakit.
"Kita harus mencari kemana untuk Anton." Ibu Feliska sambil menangis.
Sementara Ayah Feliska masih terdiam, seperti diam tak berdaya, seakan akan tak berarti.
Sementara Leon dia tak ada rasa iba atau kasihan, bahkan rasa Iba terhadap Antok gak ada sama sekali, baginya adalah acuh tak acuh tak ada gunanya harus kasihan terhadapnya.
"Itu temen mu Mel?" tanya Feliska.
Leonpun langsung melihat kearah Feliska, dia baru sadar bahwa ada wanita cantik yang menanyakannya.
"Iya ni temen aku Fel kenalin." Melisa.
Leon dan Feliska kenalan mereka berjabat tangan saling menyebut nama masing masing.
__ADS_1
Orang tua Anton masih panik untuk mencari pendonor buat Anton.
^^^Ayo gaes baca terus bagaimana dengan kindisi Anton, semoga senang, dan jangan lupa dukungan kalian adalah harapan para autor.^^^