CINTA SI GADIS TOMBOY

CINTA SI GADIS TOMBOY
Bahagia.


__ADS_3

Merekapun akhirnya bercanda bercerita dan tertawa, seakan akan kesenangan yang mereka miliki itu sangat berarti.


Mama Anton dan Ibu Melisa sangat senang melihat mereka terlihat senang lebih lebih Mama Anton dia menitihkan air mata ketika melihat Feliska tertawa lepas pebuh bahagia.


"Ada yang salahkah Jeng kok menitikkan air mata?". Tanya Ibu Melisa yang memandang seperti ada haru yang sangat dalam dengan tamunya itu.


"Tidak mbak saya sangat bahagia melihat anak saya Feliska tertawa seperti itu, tak pernah rasanya aku melihatnya bahagia seperti itu". Mama Anton sambil mengusap titik air matannya dengan tisu yang sudah ada di atas meja.


"Oh memang kenapa Jeng kok Nona Feliska tak pernah seperti itu?". Tanya Ibu Melisa.


"Ceritanya panjang". Mama Anton berusaha menutupinya.


Mama bahagia nak ketika melihatmu bahagia. karna Mama ingin sekali melihat anak anak Mama bahagia, semoga saja kebahagiaanmu dan Abangmu selalu menyertai kalian anak anak Mama.


"Oh ya Mbak ngomong ngomong Melisa sudah kerja apa masih sekolah?". Tanya Mama Anton


"Hemz ginilo Jeng sebenarnya Melisa itu sudah lulus sekolah, dia bekerja di perusahaan yang bagian pengantar barang tapi saya lupa namanya". Ibu Melisa.


"Oh Kenapa Melisa tidak Lanjut?". Tanya Mama Anton mendetail.

__ADS_1


"Biaya tidak ada Jeng kan kami orang tidak mampu, sebenarnya Melisa dapat Biaya Siswa di fakultas kedokteran tetapi keterbatasan kami jadi Melisa mundur tidak dulu tak lanjut untuk Kuliah". Jawab Ibu Melisa seperti menahan kesedihan.


Ternyata di balik kesuksesan kami masih ada orang orang baik yang masih kekurangan, tetapi dalam kekurangan mereka hidupnya penuh keharmonisan dan kerukunan, terlihat dari pancaran wajah mereka yang selalu bersinar seperti Mentari yang menyinari bumi ini.


Melisa dan kawan kawan mereka asyik mengobrol dan bercerita soal pengalaman mereka masing masing, sehingga mereka tak sadar bahwa Mama Anton dan Ibu Melisa memperhatikan mereka.


"Fel kapan kapan main dong sini lagi". Erik sambil cengengesan.


"Ea dong Feliska bakal sering main main sini, habis kalian asyik". Ungkap Feliska bahagia.


"Lo kamu kesini kita kita ini senneng, lok kita main kerumah kamu bisa bisa kami di usir sama Bapak Scuriti". Erik.


"Eh gini gini mavia tau". Erik.


"Bukan Scuriti yang usir tapi Anton yang galak tu kayak macan beranak, gebetan temen kita yang sono no". Ja'far sambil melirik ke arah Melisa.


Melisa langsung ingin menjewer tu kuping supaya tak selalu meledeknya dengan Anton.


"Awas kamuya." Melisa yang masih mengejar Ja'far.

__ADS_1


Ja'farpun lari mengelili teman temannya untuk menghindari Melisa yang memburunya.


"Wek gak kena". Ledek Ja'far.


"Awas kamu ya." Melisa.


"Gak kena wek wek". Ja'far.


"Wah kalau Melisa dapet calon dia gak selalu jomblo dong, dari zaman sekolah selalu aja Jomblo tak pernah dekat ama seorang kekasih". Ledek Leon, seketika itu ada tangan menjewer kuping Leon.


"Aduh tuan putri Melisa ampun dong". Leon dengan sedikit meringis kesakitan.


"Biarin". Jawab Melisa yang tak melepas tangannya.


"Bisa bisa ni kuping bisa panjang dong, gak ganteng lagi lok dak ganteng bisa bisa cewek gak mau karna kuping seperti kelinci". Leon.


Sementara Feliska dan Erik tertawa melihat ke kocakan Mereka.


Walaupun Mereka umur sudah menginjak mau dewasa tetapi kelakuan mereka kalau sudah bersama selalu bergurau, itulah keasyikan mereka.

__ADS_1


terus bacaya kelanjutannya.


__ADS_2