
Lalu Tiara kembali melihat handphonenya dan mencari kontak Tian kemudian menelponnya.
Tapi sayangnya Tian tidak merespon panggilan dari Tiara, Tiara pun mengirim pesan dan setelah beberapa menit tidak terlihat tanda dibaca atau aktif dalam aplikasi.
Tiara pun mencoba menghubungi Tian kembali tapi hasilnya masih nihil.
Keesokan harinya Tiara sangat gelisah karena tidak seperti biasanya Tian tidak berkunjung, tidak ada kabar atau mengacuhkan pesan chattnya.
Belasan pesan dan telpon dari Tiara tidak ada respon sama sekali.
Kemudian Tiara meminta ijin pergi pada Mamahnya ke rumah Tian dengan Kia.
Mamahnya yang juga merasa Tian tidak seperti biasanya merasa heran lalu mengijinkan Tiara pergi kemudian.
Tanpa pikir lagi Tiara langsung mengambil tas kecil dan jaket lalu menelpon Kia saat dalam perjalanan.
"Ya, Hallo Ra. Kenapa Ra? Terdengar suara Kia dari Handphonenya yang tak lama kemudian tersambung.
"Ki, gue sekarang lagi mau ke rumah loe . Loe dimana sekarang? Tiara bertanya dengan suara tersenggal karena berlari kecil menuju pangkalan ojeg.
" Gue lagi di luar Ra, ya gimana dong." Jawab Kia merasa bersalah.
" Yah, gimana dong? Tiara malah terhenti seketika dan bertanya balik karena bingung lalu mengacak rambutnya asal.
"Loe lagi dimana emang, ya udah gak papa, gue minta alamat rumah Tian aja deh." Tiara bertanya dan berjalan kembali menuju pangkalan ojeg.
" Gue lagi nganter Mak gue, gak bakalan bentaran doang ini mah lagi di pasar soalnya. Nanti gue kirim via chatt ya alamatnya ." Kia yang juga sedang kerepotan dengan belanjaan Mamahnya merasa bersalah karena harus menolak kunjungan Tiara kerumahnya.
" Ya udah gak papa, gue tunggu ya sekarang." Tiara pun lantas mengakhiri panggilan telponnya saat sampai dipangkalan ojeg.
"Mang, aterin ke alamat ini yah!" Ucap Tiara sambil menunjukan handphonenya setelah mendapatkan alamat dari Kia.
"Hayu nenk , 20 Ribu nya Nenk." Ucap tukang ojeg melakukan nego harga dengan Tiara
"oke Mang." Tiara yang sedang terburu-buru langsung menyetujui permintaan tukang ojeg.
Setibanya di rumah Tian yang tidak terlalu sulit dicari, Tiara langsung mengecek kembali rumah dengan alamat yang dikirim Kia, Rumah Tian membuatnya sedikit sulit menelan ludah di tenggorokannya yang terasa kering karena terlalu lama menganga.
"Ting tong, ting tong.. " Tiara menekan bell dari gerbang
Tidak lama keluar seorang ibu paruh baya menghampiri Tiara.
"Mau ketemu sama siapa neng?" Ucap seorang ibu sambil membuka gerbangnya.
"Tian Bu, apa benar ini rumahnya Tian yang sekolah di Sekolah Xx ? Tanya Tiara memastikan.
"Oh iya betul, neng temannya Mas Tian?" Tanya Ibu itu kemudian.
"Oh, iya Bu. Apa Tiannya ada di rumah?Tanya Tiara kemudian.
Tiara merasa lega karena tidak salah alamat menemukan rumah Tian yang jauh lebih besar dari rumahnya dengan taman halaman depan sangat luas dan asri.
"Ada neng, mari silahkan masuk." Ucap Bibi(pembantu) Tian itu.
kemudian Tiara langsung masuk ke halaman yang luas berjalan menuju pintu rumah yang cukup tinggi, Tiara sangat takjub dengan isi rumahnya sampai tidak bisa berkata-kata.
Tiara malah merasa minder takut-takut salah rumah, Tiara bimbang dengan kenyataan dan fakta yang dia lihat karena belum yakin.
"Neng, silahkan duduk dulu, saya kedalam dulu panggil Mas Tiannya. Neng mau minum apa?" Tanya bibi Enah.
"Air putih aja bu." Jawab Tiara singkat
Tiara mulai ragu dan merasa tidak nyaman ingin segera bertemu tuan rumahnya untuk memastikan.
Tidak lama Bi Enah datang dengan minuman dan beberapa makanan kecil.
"Neng ini silahkan diminum dulu, bibi kedalam dulu." Ucap Bi Enah pamit
"Iya silahkan Bu." Ucap Tiara sambil mengambil minumannya lagu meneguknya hingga tandas karena saking tegangnya.
__ADS_1
Tak lama bi Enah kembali dan mengajak Tiara ke lantai atas, Tiara yang sangat gugup hanya mengekori Bi Enah sampai berhenti di satu pintu yang cukup besar untuk ukuran kamar.
"Neng silahkan masuk ke dalam, Mas Tiannya ada di dalam sudah nunggu." Ucap Bi Enah yang kemudian berlalu kearah tangga kembali kebawah.
"Terimakasih Bu." Tiara menganggukan kepalanya dengan wajah sudah pucat.
Tiara melihat Bi Enah sudah kebawah tapi belum berani membuka pintu yang ada didepannya. Tiara pun memberanikan diri mengetuk pintu untuk mendapatkan respon.
"Masuk,,," terdengar suara seseorang dari dalam.
Tiarapun menekan knok pintu dan mendorongnya terlihat seseorang sedang duduk memakai piyama garis-garis kecil hitam dan berusaha duduk.
Terlihat senyum dari wajahnya yang sangat pucat dan tidak bertenaga. Tiara pun langsung mendekat dan duduk dipinggir kasur.
" Kamu dari kapan sakit? " Tiara tidak sampai hati melihat Tian yang sakit kawatir.
" Pas kita pulang kemarin, aku juga gak nyangka ternyata aku demam aku baru tahunya pas sore habis bangun tidur." Ucap Tian yang meraih tangan Tiara dan berusaha menarik Tiara supaya mendekat. Tiara pun menurut dan mendekatkan tubuhnya.
"Kamu kawatir yah, aku cuma demam ko bentar lagi juga sembuh, maaf yah udah bikin kamu cemas. Aku juga baru lihat handphone aku ternyata disilent jadi gak keangkat deh ,maaf yah," Tian berusaha terlihat ceria padahal tubuhnya sangat lesu. Tiara pun munurut mengangguk.
"Kamu udah makan? Udah makan obat?" Tiara langsung mengecek kegiatan Tian kawatir.
"Udah tadi pagi, kamu sama siapa kesini?" Tanya Tian yang tak mau melepaskan tangan Tiara.
" Aku diantar ojeg tadi," Jawab Tiara kemudian.
" ehmm ,,, gitu. Sini." Tian menjentik-jentikan telunjuknya dari bawah ke atas meminta Tiara lebih mendekat.
" ... ... ...." Tanpa ingin bertanya atau merasa heran Tiara hanya menurut mendekatkan wajahnya.
Cup...
Bibir Tian yang kering mendarat di bibir Tiara yang lembut, Tiara pun terkejut hingga terbelalak kedua bola matanya membulat kemudian spontan mundur menegakkan tubuhnya.
"Kamu gak tau malu yah, nanti kalo ada yang lihat gimana?" Ucap Tiara dengan suara pelan karena kawatir dengan kenakalan Tian barusan, Tian hanya tersenyum lucu melihat tingkah Tiara yang gugup.
" Gak, disini gak ada orang ko. Itu hukuman buat kamu karena ingkar janji. Kamu tenang aja disini aman ko." Sembari menyentuh tangan Tiara kembali dengan pelan karena takut ada penolakan.
"Terus kenapa pake cium-cium segala orang lagi sakit malah menggunakan kesempatan dalam kesempitan." Tiara heran dengan kelakuan Tian yang selalu spontan.
"Kamu lupa ya, kamu kan janji gak bakalan deket-deket sama cowo lain. Terus tadi pas kamu kesini itu apa namanya terus pasti tadi kamu pegangan ke pinggang cowok itu mana jaraknya deket banget lagi itu tadi tubuh kamu kamu gak tempelin juga ka.." Ucap Tian tiba-tiba terhenti karena sekarang malah Tiara yang spontan mendaratkan bibirnya untuk menghentikan ucapan Tian yang nyerocos terus.
Tian yang merasa mendapat respon langsung menyentuk leher jenjang Tiara dan menariknya kembali, Tiara yang tahu apa yang akan terjadi hanya menutup mata dan menikmati semua sentuhan dari Tian.
Tian pun menyentuh bibir Tiara dengan lembut dan menikmati respon yang diberikan dari bibir Tiara yang membuat Tian semakin terus melakukannya.
Setelah cukup lama dan puas mereka pun menghentikan aktifitasnya dan mengakkan kembali tubuhnya dengan benar.
Tian yang terlihat belum puas memberi kode pada Tiara tapi Tiara menolaknya, Tian pun menarik tubuh Tiara mendekat sampai Tiara terkaget dan bertemu pandang kembali sesaat lalu Tian melakukannya lagi dengan memainkan lidahnya cukup lama.
Tiara berusaha berhenti karena hampir kehabisan nafas dan akhirnya Tian mau menarik dirinya.
"Hukuman kamu kali ini gak ada ampun yah? Ucap Tiara seraya menatap mata Tian yang indah.
"Aku gak suka kamu deket sam cowok lain, ngebayanginnya aja bikin aku emosi." Tian menjawab seraya memegang kedua tangan Tiara yang lembut.
"Terus aku harus gimana dong? Tanya Tiara merasa bingung.
" Ya udah hari ini kamu jangan pulang aja, nginep aja disini." Tian menggoda Tiara sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ya gak bisa dong, nanti apa kata Om sama Tanteu." Tiara berusaha tenang dengan menyentuh pipi Tian dan mengelusnya pelan.
"Ya udah oke kamu boleh pulang gak papa, nanti biar Pak Dirman yang nganter, jangan pake ojeg lagi." Tian mengancam dengan tegas seraya memegang dagu Tiara yang mungil. Tiara hanya tersenyum mengangguk.
"Oh iya, Om dan Tanteu kemana? Ko rumah kamu sepi banget." Tiara mulai penasaran dengan keadaan rumah Tian yang sangat sunyi.
"Ada, lagi di tempat kerjanya mereka memang jarang di rumah aku sering kesepian seperti ini." Tian menjawab dengan wajah yang selalu tersenyum membuat Tiara tidak percaya mendengarnya.
"Dirumah sebesar ini kamu sama siapa aja?"Tanya Tiara lagi seraya melihat sekeliling kamar Tian yang dua kali lipat besarnya dari kamarnya.
__ADS_1
"Ada bi Enah dan Pak Dirman yang nemenin aku." Jawab Tian sambil membelai rambut Tiara lembut.
Tiara yang makin merasa kasian pada Tian hanya memegang tangan Tian dengan ekspresi senyum manisnya.
" Kamu sekarang kan punya aku ,Mamah, Papah ,Om Andri , Kak Tika dan Kia. Kita semua selalu ada buat kamu jadi kamu gak bakalan kesepian lagi." Tiara berusaha menghibur
"Iya, makasih ya." jawab Tian yang sangat senang mendengarnya.
Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut Tiara yang mencium aroma wangi dari arah dapur, Tian yang melihat ekspresi Tiara hanya tersenyum karena sangat imut.
''Kita ke bawah yu," Ajak Tian yang turun dari kasurnya dan memakai sandalnya kemudian berdiri sambil memegang tangan Tiara.
Tiara yang malu hanya tersenyum menganggukan kepalanya dan mengikuti arah kaki Tian.
Sampai di meja makan Tiara langsung diberbelok karena melihat satu area yang membuatnya terpesona.
Tian yang sudah duduk di meja makan hanya tersenyum melihat Tiara yang berjalan mendekati area kolam renang di rumahnya.
Tiara yang sadar sedang diperhatikan langsung berbalik badan tak mau lama-lama terlihat seperti orang bodoh.
Tiara pun menuju dapur tempat bi Enah sedang memasak dan menawarkan diri untuk membantu.
Bi Enah yang tidak enak menolak dengan halus dan meminta Tiara kembali menemani Tian di meja makan saja, Tiara pun menuruti dan berbalik badan berjalan menuju tempat meja makan dan duduk dengan Tian.
"Kamu bisa kapan aja kesini, kamu bisa berenang sesuka hati kamu sampai puas. Nanti ajak Mamah aja biar Papah gak curiga?" Ucap Tian sambil mengelus tangan Tiara, Tiara hanya tersenyum karena merasa senang.
Bi Enah yang sudah beres memasak langsung menata makanan dimeja makan.
" Bi, ko cuma dua? Tanya Tian merasa heran.
"Nanti bibi sama Pak Dirman menyusul saja Mas." Ucap Bi Enah yang merasa tidak enak dengan adanya Tiara.
" Gak, gak, gak Bibi sama Pak Dirman sekalian aja makannya kan biasanya juga kita makan bareng ." Ucap Tian kemudian
"Baik Mas, kalo gitu bibi permisi dulu mau panggil Pak Dirman dulu." Ucap Bi Enah lalu berjalan mencari Pak Dirman yang sedang memotong rumput di taman.
Tak lama mereka kembali lagi dan duduk bersama.
"Oh iya Pak, nanti tolong anter pulang Tiara ya Pak, anternya pake mobil aja." Pinta Tian yang tak mau mendengar Tiara boncengan lagi.
"Iya, baik Mas nanti saya siapkan mobilnya." Jawab Pak Dirman yang sudah mulai makan memasukan nasi ke mulutnya.
" Pak , maaf ya jadi ngerepotin." Ucap Tiara yang merasa tidak enak.
"Gak pa pa neng, lagian juga udah mau malem. mending dianterin dari pada pake kendaraan umum dari sini ke pangkalan ojeg atau ke jalan raya di depan lumayan jauh neng." Ucap Pak Dirman menjelaskan kondisi area tersebut.
"Oh, gitu ya Pak. Iya deh." Jawab Tiara yang mulai hawatir dan mau ikut saran Tian saja.
Tian yang melihat Tiara ketakutan malah senang karena sebenarnya jikapun mau bisa memakai aplikasi untuk meminta ojeg atau supir datang.
" Nah, gitu dong nurut jadi anak baik." Ucap Tian sambil mengacak rambut Tiara lembut.
Pak Dirman dan Bi Enah merasa senang melihat kecerian dari wajah Tian berkat kehadiran Tiara yang biasanya selalu lebih banyak menekuk wajahnya.
Selesai makan Tian mengajak ke ruang keluarga untuk nonton TV, sedangkan bi Enah dan Pak Dirman lebih memilih langsung ke area belakang untuk beristirahat.
"Kamu gak mau langsung tidur aja dikamar, kan lagi sakit. Badan kamu aja masih panas loh." Tiara melihat wajah Tian yang masih terlihat lesu dan merasa tubuhnya belum stabil suhu tubuhnya.
"Gak pa pa, aku udah mulai baikan ko. Atau kita menghabiskan waktunya dikamar aja yu." Ucap Tian nakal sambil membisikan ke telinga Tiara nakal.
" Ih pasti ada maunya, gak ah disini aja." Ucap Tiara jengah dengan kelakuan jahil Tian, Tian hanya tersenyum memandang Tiara.
"Oh iya aku mau tanya, Nama kamu bukannya Tiara Aprilia Hapsara kan? Tapi ko ulang tahun dibulan Maret?." Tanya Tian penasaran
"Oh itu, karena dulu aku diprediksi dokter akan dilahirkan bulan April awal tapi ternyata aku malah lahir lebih cepat di bulan Maret akhir, jadinya gitu deh." Ucap Tiara menjelaskan secara singkat.
"Hmmm mm " Tian hanya mengangguk.
*****
__ADS_1
Hai reader jangan lupa vote, like dan favorite ya, untuk pendatang baru saya ucapkan selamat datang semoga kalian suka.
Happy reader all 😘😘😘😘