CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
PERTEMUAN


__ADS_3

Gina yang saat itu masih ada dan mendengarnya juga hanya syok dan tak mau sampai Andri menemukannya, dia pun langsung mencari cara lari dari area itu tapi karena terburu buru dia tertimpa sial karena menabrak perawat lain yang berlawan arah dengannya.


"Aduh maaf-maaf sus kamu gak apa-apa kan? Tanya Gina yang menabrak seorang suster yang sedang membawa beberapa beberapa peralatan yang dia dorong.


"Gak apa-apa Dok, maaf Dok saya yang salah Dokter gak apa-apa kan? Tanya balik suster yang memang baik-baik saja itu.


Tabrakan yang cukup keras pada bagian pinggul dan kakinya yang sedikit terkilir karena memakai highheels membuat jadi perhatian sebagian orang yang disekitar itu termasuk Andri dan Vino membuat Gina sedikit meringis kesakitan, Gina yang langsung memastikan Andri dan Vino tidak mendengarnya ternyata malah bertemu pandang dengan Andri membuat dia langsung berbalik arah dan berlari kecil menahan sakit akibat benturan tadi dan berusaha menjauh dari situ.


Andri yang langsung berlari mengejar Gina dan menarik Gina ke pelukannya tanpa melihat orang disekitarnya.


Andri langsung melihat wajah Gina lekat-lekat dan menariknya ke parkiran dan Gina yang saat itu kalah cepat hanya reflek langsung terdiam dan menahan tangis yang sudah tak tahan menahan bendungan air mata di pelupuknya.


Andri pun menyeka air matanya dan menarik Gina untuk mengikutinya sambil terpincang-pincang berjalan Gina hanya menurut tanpa perlawanan, sampai parkiran Gina juga hanya menurut saat Andri memintanya masuk.


Tak lama Andri masuk dan langsung memeluk Gina yang saat itu Gina pun menginginkannya, mereka hanya menangis tanpa berkata-kata sampai tak lama Andri melepas pelukannya dan melihat wajah Gina yang sudah sembab dan memerah akibat tangisannya Andri pun menyeka semua air mata yang membasahi pipi Gina.


Begitu pun Gina yang saat itu melihat wajah laki-laki yang sangat dirindukannya berada didepannya dengan penuh kelembutan Gina menghapus air mata Andri penuh kasih sayang.


Andri yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan pertemuannya dengan Gina langsung melajukan mobilnya sampai disebuah taman merekapun turun dan Andri memapah Gina yang masih kesakitan sampai duduk di sebuah kursi.


"Sakit" Tanya Andri sambil memegang tumit Gina yang terlihat sudah agak membengkak karena terkilir.


"Aaaauuwww,, sakit Dri." Ucap Gina yang kaget dan merasa sakit karena Andri menyentuh kaki yang pas pada lukanya.


Mereka pun bertemu pandang dan mulai tertawa.


"Kenapa juga tadi kamu lari, kan jadinya begini." Ucap Andri yang masih duduk jongkok dihadapan Gina dan mengurut bagian yang sakit pada kakinya.


"Ehmm aku cuma, emmm akuuuu..." Ucapan Gina terbata-bata merasa malu dan sedikit gengsi jika harus bilang semua kejujurannya.


"Kamu tadi menguping kan? Aku tau karena dari tempat kamu berlari tadi pasti kamu sudah mendengar semua pembicaraan ku dan Vino." Ucap Andri yang masih memandang Gina, dan Gina hanya mengangguk dan enggan mengucapkannya dengan lisan.


"Apa yang kamu denger tadi memang benar, aku gak bohong kalo aku memang sedang punya rencana akan menikah saat ini." Ucap Andri yang mulai tertunduk menahan air matanya jatuh kembali.


"Iya aku tau ko, gak apa-apa, mungkin ini jalan kita, aku ikhlas ko. Yang terpenting kamu bahagia." Ucap Gina yang mulai meneteskan kembali air matanya sambil menyentuh kedua pipi Andri supaya melihatnya.


Andri pun langsung menyeka kembali air mata yang terus menerus mengalir di wajah Gina.


"Maaf." Hanya kata itu yang mewakili hati Andri saat ini.


"Ini semua bukan salah kamu, aku juga gak bisa berbuat banyak dulu. Aku juga merasa bersalah sama kamu." Ucap Gina yang menunduk kembali menitikkan air matanya.


"Gak-gak kamu gak salah ko aku udah tau kalo dulu kamu hanya dijebak dan hanya tidak punya pilihan lain, aku udah denger semuanya dari Vino." Ucap Andri sambil memegang tangan Gina.

__ADS_1


Gina yang bingung dengan situasi sekarang hanya dapat menangis dan Andri pun hanya bisa memeluknya untuk menenangkan Gina.


-_-_-_-_-_-_-__-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-


Disisi lain Vino hanya melihat kepergian Andri yang mengejar Gina dan memeluknya, Vino pun memutuskan kembali ke dalam dan saat melihat Rena sedang bersandar pada tembok sambil menahan tangisnya Rena langsung berpaling dan menyeka wajahnya lalu berniat pergi dari Vino.


Sayangnya Vino langsung menarik Rena dan mendekapnya dalam pelukan.


"Tolong jangan menolak, dan biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat, Aku kangen banget sama kamu ." Ucap Vino sambil mengecup pundak Rena yang sesaat memberontak dan hendak pergi tapi akhirnya terdiam karena kalah tenaga dengan Vino yang lebih besar tenaganya.


"Aku juga kangen banget sama kamu Vin." Ucap Rena yang menangis dan membalas pelukan Vino.


Beberapa saat mereka berpelukan dan Vino membelai lembut rambut Rena yang hitam dan panjang.


"Kamu masih wangi seperti dulu." Ucap Vino menikmati aroma dari tubuh Rena.


"Aku juga rindu aroma tubuhmu" gumam Rena dalam hati.


Vino pun melepaskan pelukannya dan menarik Rena duduk di tempat tadi dia duduk dengan Andri


"Apa kamu tadi mendengar semua pembicaraanku?" Tanya Vino yang tak mau melepas genggaman tangannya dan memandang Rena. Rena hanya mengangguk dan menggigit kedua bibirnya.


"Apa kita masih bisa bersama?" Ucap Vino menunduk memandang kedua tangan yang sangat dia rindukan.


"Aku gak tau, kami sudah menyampaikan niat kami pada kedua belah pihak Vin, aku gak bisa memberikanmu harapan apa-apa." Ucap Rena yang menyentuh pipi Vino lembut, Vino pun langsung memandang kedua bola mata Rena yang sayu dan sembab karena banyak menangis.


" Aku hanya bisa berharap pada takdir, semua sudah terlambat." Ucap Rena yang tidak bisa memberikan harapan.


"Biar aku yang bicara pada Andri." Ucap Vino menjanjikan.


" Aku gak tahu harus bilang apa sekarang, aku bingung, aku takut Vin," Ucap Rena jujur.


"Aku tahu, yang terpenting kamu tahu kalo aku masih berharap pada kamu Ren, dan aku tahu kamu masih memiliki hati dan perasaan yang sama dengan ku." Ucap Vino sambil memandang dan menyentuh pipi Rena lembut.


"Baiklah, kita coba sama-sama aku juga akan berusaha jujur pada Andri nanti." Ucap Rena kemudian sambil tersenyum, kemudian Vino pun mengangguk dan memeluk Rena kedekapannya.


"*"*"*"*"*"*"*"*"*^•^•^•^•^•^•^•^•^


Didalam ruangan Tiara dan Tian yang asyik bermanja-manjaan, dan Tiara sedang berusaha menjelaskan beberapa pelajaran pada Tian yang sudah dibahasnya hari ini walaupum sebenarnya tanpa itu Tian sudah mengetauinya.


Karena selama ini Tian memiliki guru bimbel yang selalu datang ke rumahnya dan memberikan pelajaran yang tertinggal dan yang belum dipelajari di sekolah.


Tapi Tian menikmati dan dengan sabar mendengarkan dan memperhatikan Tiara walau sesekali Tian hanya sibuk menggoda Tiara.

__ADS_1


sedangkan Kia asyik dengan makanan dan minuman yang ada di kulkas sambil bermain game di handphone nya di kursi tamu.


"Heh kalian pecinta pelajaran, emang gak bisa lihat sikon. Kan nanti juga bisa kali, ini tu kan Rumah Sakit guys." Ucap Kia yang mulai bosan karena hanya menjadi kambing conge mereka berdua.


"Heh jomblo biasa aja dong, lagian juga bukannya bantuin malah mengganggu." Ucap Tiara yang tak mau kalah dari Kia.


"Heheheeee.... sorry deh abisnya gue borring tahu,," Ucap Kia yang cengengesan sambil mendekati Tiara dan Tian.


"Ya udah sana lo nyari udara aja keluar siapa tahu aja dapet Dokter ganteng disini kan lumayan." Ucap Tiara becanda sambil tertawa. Tian hanya membelai rambut Tiara lembut sambil ikut tersenyum mendengar percakapan mereka.


Akhirnya Kia pun keluar dan memutuskan untuk berjalan-jalan dan saat tak jauh dari ruangan Tian Kia melihat Vino dan Rena saling berpelukan dan juga melihat Andri sedang menggandeng seorang wanita yang mengenakan pakaian Dokter dari arah jauh yang menuju ke arah mereka.


Kia pun memutuskan kembali ke ruangan Tian dan berlari dengan cepat.


"Heh, lo kenapa lagi sih? Ini tu Rumah Sakit bukan lapangan upacara." Ucapa Tiara yang melihat wajah Kia seperti kaget melihat sesuatu dan wajahnya sedikit merah juga nafasnya tak teratur ngos-ngosan karena kecapean.


"Gak apa-apa, gak apa-apa, gue haus Ra ." Ucap Kia yang gugup harus bilang apa dan menghampiri kulkas untuk mengambil minuman yang dingin agar gugupnya berkurang.


Diluar Gina yang tahu akan dibawa kemana langsung berusaha melepaskan tangan Andri, karena merasa tidak enak jika nanti dilihat oleh calon istrinya.


Sedangkan Vino dan Rena yang sudah melepaskan pelukannya tapi masih duduk berdekatan sambil berpegangan tangan.


Lalu saat Andri melihat Vino dan Rena, Vino dan Rena langsung terkejut dan berdiri sambil melepaskan genggaman mereka.


Gina pun yang melihat Rena hanya tertunduk malu dan pasrah dengan apa yang akan terjadi sambil mengekori Andri dari belakang.


Saat mereka sudah sangat dekat mereka mulai gugup dan semuanya tidak ada yang berani memulai pembicaraan.


Lalu Vino pun memberanikan diri memulai pembicaraan.


"Dri, gue mau mengakui satu hal lagi sama lo, sebenernya Rena adalah pacar gue yang gue bilang tadi, dia juga ninggalin gue saat gue tunangan sama Gina, dan gue baru ketemu dia lagi saat kemaren itu. Gue gak tahu harus mulai dari mana bilang ke lo Dri, tapi jika pun boleh gue mau minta ijin untuk tidak meneruskan pernikahan kalian. Gue tahu gue lancang tapi cuma Rena orang yang gue cintai Dri, gue terima jika lo mau benci lagi sama gue karena gue baru jujur sekarang." Ucap Andri sambil memegang tangan Rena kembali dan menatap Andri secara langsung.


"Gue tahu, dari gestur tubuh dan dari kalian seperti ini semua sudah menjawab semuanya, gue cuma sangat kecewa sama lo yang gak mau berusaha jujur sama gue dari kemaren ataupun dari tadi pagi. Tapi gue salut karena lo mau memberanikan diri untuk ngomong langsung minta ijin ke gue, karena sejujurnya gue juga mau jujur sama kalian berdua, terutama kamu Ren( mereka langsung bertemu mata) kalo aku sebenarnya masih sayang sama Gina, Aku gak tau harus bilang gimana sama kamu, aku tahu aku adalah laki-laki berengsek yang tidak memegang janji aku dan kedua keluarga kita juga sudah tahu hubungan kita kamu boleh benci aku semau kamu Ren, aku juga tidak pantas mendapatkan maaf kamu." Ucap Andri pada Vino dan Rena yang membuat keduanya terkejut sambil terus menggenggam tangan Gina.


"Aku juga jujur sama kamu Mas, aku minta maaf karena aku masih cinta sama Vino Mas, aku juga mau minta maaf karena mengkhianati kamu Mas. Aku juga bukan wanita baik-baik yang pantas kamu maafkan mas. Aku juga bingung dengan kondisi kita yang baru saja memberitahu kedua keluarga kita harus bagaimana. " Ucap Rena dengan kejujurannya sambil tertunduk malu.


Akhirnya Andri dan Rena pun mengakhiri hubungan mereka dengan memeluk pasangan mereka dan tertawa bersama dan semuanya sepakat akan menjalani hubungan mereka kembali.


Lalu mereka juga sepakat akan meminta maaf pada kedua keluarga mereka dengan membatalkan acara pernikahan mereka dan memperkenalkan pasangan mereka masing-masing.


****


Hai Reader yang baru saja bergabung selamat datang dan semoga kalian menikmati Novel ini.

__ADS_1


Saya tunggu Vote, like dan jangan lupa favoritekan Novel ini yaaah...


Happy Reading all 😘😘😘😘


__ADS_2