CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
SALAH PAHAM 1


__ADS_3

Pagi ini aku berangkat seperti biasa dengan om Andri guru yang paling ganteng di sekolah xx, yang juga di idolakan para siswi lainnya sampe terkadang aku kerap kali sering menerima banyak pandangan sinis dan cibiran negatif dari para siswi mebuatku risih dan tak nyaman. Namun karena aku tahu kalo mereka hanya salah paham aku hanya bisa menerimanya.


"Om, Tiara mau nanya boleh gak?" Ucapku pada Om Andri.


"Boleh, mau tanya apa?Asal jangan nanya kenapa om ganteng aja" Sahut om Andri sambil ketawa yang super duper imut.


"Idih, geer aja si om. Siapa juga yang mau nanya itu, Tapi iya sih om emang ganteng Tiara aja kesemsem, kalo bukan adiknya mama udah Tiara goda godain deh om," Ucapku cengengesan gombalin Om Andri.


"Na tu kan kamu juga ngakuin, siapa dulu doooong," Ucap om Nadri menyombongkan diri sambil memainkan alisnya turun naik.


"Ih, sumpah om lucu banget sih. Om jangan pernah senyum- senyum kayak tadi lagi sama orang lain yah atau sampe goda- godain, jangan sampe deh, cukup sama Tiara aja ya om." Ucapku sambil ketawa karena merasa tingkah om Andri yang lucu kayak ABG.


"Emang , kenapa? Kan senyum itu ibadah."Tanya balik om Andri padaku yang sudah PD nya tingkat dewa.


" Iya jangan aja, takutnya banyak yang gak sadarkan diri saking terpesonanya sama omku yang ganteng ini." Ucapku receh sambil ketawa menggoda om Andri.


" Ah, kamu bisa aja. Iya jangan sampai pingsan dong nanti om juga yang repot, kalo sama orang asing om juga gak berani becandainlah, cukup senyum sewajarnya aja.


Jadi kamu mau nanya apa nih, tadi katanya mau nanya ." Ucap om Andri menjelaskan, aku yang hanya manggut- manggut hanya merasa tenang setelah mendengarnya.


"Oh, iya. Om itu kemaren- kemaren kenapa gak pernah bilang kalo mau jadi guru di sekolah xx ke Tiara, padahal kan sebelumnya om suka anter jemput Tiara ke sekolah?" Tanyaku dengan suara pelan, karena takut mengganggu om Andri menyetir.


" Kan Tiara gak pernah nanya ." Sahut Om Andri santai.


"Ih ko om gitu sih, la kan Tiara gak tau kalo om mau kerja disini, mama dulu cuma bilang kalo om itu mau tinggal disini untuk sementara waktu, dan gak bilang mau kerja tuh." Ucap Tiara sambil cemberut karena kesal tidak diberitahu sebelumnya.


" Iya, maaf deh om yang salah. Om minta maaf yah. Tiara mau maafinkan om kan? Udah jangan ngambek dong nanti cantiknya ilang lo, lain kali kalo ada apa- apa om kasih tau Tiara deh." Ucap om Andri memohon.


" Janji yah, ya udah deh aku gak ngambek lagi, aku maafin om deh kali ini " sahutku senang. sambil mengucap dalam hati " siapa juga gak mau maafin kalo udah digombalin gini" Ucap Tiara sambil cengengesan.


" Nah gitu dong kan kalo gak ngambek om seneng liatnya." Ucap om Andri gombal.


"Bisa aja om Andri gombalnya," Ucap Tiasa tersipu malu.


Tiba-tiba om Andri menepikan mobil ke pinggir jalan aku melihat seseorang yang sedang berdiri seperti sedang menunggu seseorang.


Om Andri langsung turun mendekat, ternyata wanita itu adalah Bu Rena wali kelasku di X/A.


" Kamu sedang apa?" Ucap om Andri terdengar pelan.


" Aku lagi nunggu ojeg mas, motor yang biasa aku pake lagi mogok." Ucap Bu Rena menjelaskan. Aku hanya melihat om Andri mengangguk pelan saat mendengar penjelasan Bu Rena, walau bagiku masih terasa aneh karena panggilan yang mereka pakai sangat santai seperti teman.


" Ya udah kalo gitu kamu ikut bareng mas." Tegas om Andri, aku yang melihat itu hanya merasa heran karena om Andri tidak seperti biasanya.


" Tapi, mas . Tiara gimana nanti kalo nanya- nanya?" Ucap bu Rena pelan. Aku yang mendengar itu semakin penasan sebenarnya ada apa diantara mereka.

__ADS_1


" Udah gak papa, nanti biar aku yang jelasin ke Tiara." Ucap om Andri kembali sambil membukakan pintu belakang untuk bu Rena.


" Pagi bu." Ucapku basa basi, saat bu Rena masuk dan duduk di mobil.


" Eh, iya. Pagi Tiara." Ucap bu Rena membalas sapaanku.


Selama perjalanan suasana sangat hening tanpa ada yang memulai pembicaraan satu pun. Lalu om Andri memutar musik dan kebetulan lagu Kesempurnaan Cinta dari Rizky Febian yang terpilih.


Kau dan aku tercipta oleh waktu


Hanya untuk saling mencintai


Mungkin kita ditakdirkan bersama


merajut kasih menjalin cinta


Berada dipelukanmu


mengajarkanku apa artinya


Kenyamanan kesempurnaan cinta


Berdua bersamamu


Kenyamanan kesempurnaan cinta


Tak pernah terbayangkan olehku


Bila kau tinggalkan aku


Hancurlah hatiku


Musnah harapanku sayang


Suasana mendadak canggung, ku liat dari kaca spion bu Rena hanya memangdang ke arah jendela dan tak pernah sekalipun melihat ke depan, om Andri pun berubah menjadi pendiam dan hanya fokus menyetir akupun mulai tak nyaman dan lebih memilih bermain game di Handphoneku dan mengabaikan mereka. Om Andri yang menyadari aku tidak nyaman, melihatku dan memembelai kepala dengan lembut sambil tersenyum.


Sesampainya di parkiran sekolah aku langsung pamit pada om Andri dan bu Rena, untuk menghampiri Kia yang saat itu ku lihat baru datang ke parkiran.


" Kia,," Panggil ku dengan lantang.


Kia pun mencari sumber suara dan melihatku kemudian melambaikan tangan.


"Awwww..brukk " Aku kaget sejadi-jadinya sampai terjatuh saat berlari menghampiri Kia.


Kendaraan motor berukuran cukup besar yang dari berasal dari arah gerbang menuju parkiran tiba-tiba kehilangan keseimbangannya saat berpapasan denganku yang akhirnya membuat kami jatuh karena tabrakan yang cukup membuatku kesakitan

__ADS_1


"Maaf, maaf. kamu gak papa kan ?" Tanya si


pengendara menghampiriku yang belum sempat membuka helm fullfacenya dan mengabaikan motornya tergeletak, aku tidak bisa mengenali wajahnya namun merasa akrab dengan suaranya, Om Andri, Tian Dan Kia serta bu Rena dan beberapa siswa langsung menghampiriku.


"Iya ,gak papa, gak papa." Sambil berdiri di bantu Kia, aku merasa nyeri dan perih pada tubuhku.


" Darah Ra," Kia yang takut pada darah melihat darah segar di tanganku keluar, brukk..Kia langsung pingsan tak sadarkan diri, kemudian dengan cepat sebagian siswa langsung membantu menolong Kia dan mengangkatnya untuk dibawa ke UKS.


"DuKkk.." Tiba-tiba Tian mendorong laki- laki yang masih memakai helm fullface itu sampai terjatuh, saat membantuku berdiri karena sempoyongan terlepas dari genggaman Kia yang terjatuh pingsan, aku melihat wajah Tian sangat marah, tangannya mengepal dan seluruh ototnya terlihat dengan jelas. Om Andri yang melihat kejadian itu langsung menahan Tian takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


" Loe buta yah, gak liat orang segede itu jalan." ( sambil menunjuk kearahku) Tian yang sedang emosi ditahan om Andri sekuat tenaga.


" Gue minta maaf, gue tahu gue salah, gue minta maaf, gue bakalan tanggung jawab, sorry, sorry." Ucap si pebabrak sambil membuka helmnya dan mendekatiku menatapku sayu, sungguh aku sangat kaget karena yang menabrakku barusan adalah orang yang aku kenal.


Aku hanya langsung berpaling tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan meminta tolong pada Tian untuk mengantarku ke UKS, Emosiku yang berkecambuk dan rasa perih yang sangat saat diberi Alkohol pada lukaku aku gunakan sebagai alasanku menangis sejadi-jadinya, Tian yang melihatku menangis hanya menatapku dan menghapus air mataku dengan jarinya yang lembut, aku langsung tertunduk dan spontan Tian memelukku dan berusaha menenangkanku.


" Apakah sesakit itu?" Ucap Tian menghawatirkanku sambil duduk dikursi mendekatiku dan melihat kondisi tanganku yang penuh perban.


" Tidak,," jawabku memberi alasan palsu, sambil memberinya sedikit senyum untuk menyakinkannya karena malu jika harus mengakui yang sebenarnya.


"Lalu kenapa kamu menangis?" Tanya Tian kembali sambil menatap mataku dengan matanya yang indah. Aku langsung menunduh malu dan menggeleng kepala.


"Aku hanya kecewa karena mungkin beberapa hari kedepan tidak dapat masuk sekolah,dengan kondisiku sekarang." ( dan menemuimu) bisikku dalam hati ,mencoba memberi alasan meyakinkan. sambil mengangkat kedua tanganku yang terpasang perban.


"Tenang aja, aku bakalan jadi kaki dan tanganmu selama kamu sakit, sampai kamu sembuh." Tian membelai rambutku sambil tersenyum dan menatapku intens. Aku yang mendapat perlakuan itu sangat gugup dan merasa jantungku dag dig dug membuat wajahku merah seperti kepiting rebus dan tanpa sadar kami pun bertatapan sangat lama.


"Makasih ya, udah bantuin aku." Ucapku pada Tian.


" Iya, sama- sama. Jangan pernah sungkan jika perlu apa-apa kamu bisa minta tolong sama aku." Sambil memberiku segelai air minum.


" Gadis pintar." Ucap Tian sambil membelai rambutku lagi dengan lembut Tian dan menatapku sampai aku terpesona dengan perlakuannya.


" Heh ,yang bener aja dong loe pada nganggap gue obat nyamuk apa?" Ucap Kia yang saat itu ada di samping dan baru terbangun dari pingsannya.


"Ra, gimana keadaan loe sekarang? Pasti sakit ya, maafin gue ya yang malah ngerepotin orang lain padahal loe lagi butuh bantuan." ucap Kia yang berusaha bangun untuk duduk dari tempat tidurnya.


" Iya gapapa, gue ngerti ko lagian juga udah tahu takut darah pake sok sok an mau bantuin gue, dan lagian juga tadi untung ada Tian, pas loe pingsan tadi Tian yang sigap bantu gue."


"hehehe, iya sorry deh, gue tadi gak kepikiran darah cuma kepikiran lo doang takut loe kenapa- napa Ra," Ucap Kia yang cengengesan menghawatirkan Tiara.


" Iya paham-paham, makasih ya loe udah hawatirin gue, tapi lain kali jangan jadi pahlawan kesiangan lagi kalo malah mau nambah repot kayak tadi." Ucap Tiara mengingatkan.


Tak lama om Andri datang menjemputku untuk pulang, om Andri membawaku ala bride style membuatku merasa tak enak pada Tian.


Ku lihat wajah Tian kesal dan aku hanya bisa melihatnya tanpa mengucapkan satu kalimat pun.

__ADS_1


__ADS_2