CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
THE SECRET BOS AND MANAGER


__ADS_3

Setelah kepergian Vino ke luar negeri untuk membantu kakaknya yaitu Ibu dari Tian, Tian semakin merasa kesepian dan kehilangan karena hanya pamannya Vino yang selalu perhatian dan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan Tian selama ini.


Dan sekarang Vino juga malah meninggalkannya karena urusan bisnis, Tian hanya menghibur dirinya dengan selalu banyak menghabiskan waktu dengan Tiara dan keluarganya yang selalu hangat menerima kedatangannya dan juga mencari beberapa kegiatan sehingga membuatnya sibuk.


Hari itu Tian langsung pulang kerumah setelah mengantarkan Tiara dari sekolah.


"Aku langsung pulang yah, nanti malam aku telpon." Ucap Tian pada Tiara saat sampai di rumahnya.


" Iya, hati- hati ya dijalannya". Ucap Tiara sambil melambaikan tangannya.


" Oke..." ucap Tian berlalu.


Tiara pun langsung masuk ke dalam rumahnya.


" Ko Tian gak mampir?" Tanya Ibunya yang sedang sibuk menggeser perabotan berbenah rumah.


"Iya, gak Mah. Hari ini Tian lagi ada bimbingan belajar di rumahnya." Ucap Tiara yang langsung menuju ke kamarnya.


"Oh gitu." Ucap Rika singkat sambil menganggukan kepalanya dan melihat anaknya yang langsung berlalu.


" Jangan lama- lama di kamar ya, langsung ke bawah bantu Mamah sini." Ucap Rika sedikit berteriak.


"Iya Mah," jawab Tiara yang juga berteriak.


Tian pun tidak akan kembali lagi ke rumah Tiara siang itu karena harus bertemu guru pembimbingnya. ( Menurut yang Tiara tahu)


Malam harinya Tian menepati janjinya akan menghubungi Tiara.


"Hai, kamu lagi apa?" Ucap Tian yang sudah memakai piyama menuju ke tempat tidurnya.


" Aku lagi baca- baca buku aja, kamu sendiri lagi apa?" Ucap Tiara jujur dan penasaran dengan kegiatan Tian.


"Aku lagi duduk aja sambil telponan sama kamu." Ucap Tian manja.


"Minggu ini kita jalan- jalan yu?" Ajak Tian yang butuh refreshing.


"Boleh, kemana?" Tanya Tiara senang.


"Ke Bogor." Ucap Tian singkat.


" Ngapain? Jauh amat." Tanya Tiara heran.


" Ya kan namanya juga jalan- jalan." Ucap Tian beralasan.


"Iya tapi itu gak kejauhan?" Tanya Tiara menyelidik


" Kan weekend ini kita libur 2 hari." Ucap Tian mengingatkan.


" Lantas?" Ucap Tiara singkat dan mulai berpindah tempat ke tempat tidurnya.


" Ya kita bermalam disana?" Ucap Tian nakal.


" Gak mau, ngapain. Lagian juga Mamah sama Papah pasti gak bakalan ngijinin." Ucap Tiara pesimis.


" Masa? Tapi kalo mereka ngijinin kamu mau kan?" Ucap Tian memastikan.


" Mau, tapi ke Bogornya kemana dulu?" Tanya Tiara ingin tahu.


" Ya kemana aja kan namanya juga jalan-jalan. Kamu bebas mau kemana aja juga atau jangan- jangan kamu lagi pengen ke tempat lain?" Tanya Tian cemas.


"Nggak sih, aku gak kepikiran pengen kemana- mana. Aku juga gak begitu tahu tempat- tempat pariwisata di kota Bogor. Aku cuma tahunya disana Kota Hujan aja, hehee...." Ucap Tiara polos


" Ya udah nanti kamu ikut apa kata aku aja ya, untuk urusan ijin sama Om dan Tanteu aku udah ijin ko sebelum nelpon kamu." Ucap Tian memberi info.


" Terus.....?" Tanya Tiara penasaran.


"Ya... mereka ngijinin. Jadi kamu tinggal siap- siap aja duduk cantik dan patuh pada pangeranmu( Tian)." Ucap Tian sombong sambil tertawa.


" Iya, baik Pangeranku." Ucap Tiar penuh kegirangan.


"Terimakasih putriku." ucap Tian merayu.


"Ya udah ya, aku tutup telponnya." Ucap Tian kembali.

__ADS_1


"Baik pangeranku, selamat tidur dan semoga kita bertemu dalam mimpi." Ucap Tiara manja.


"Selamat tidur juga, i love you." Ucap Tian.


"Love You Too." Ucap Tiara kegirangan.


Mereka pun tidur dan mengukir mimpinya masing-masing.


Tiara yang tahu semua kegiatan Tian karena memang Tian sejak awal sudah memberi tahu Tiara kegiatan rutinitasnya selama Seminggu full apa saja.


Membuatnya merasa tenang dan lega karena Tiara bukan termasuk cewek yang over curigaan atau kecentilan cari informasi sana sini.


Dia lebih percaya pada apa yang dikatakan Tian dan tidak pernah nenanyakan hal- hal lainnya.


Walau sebenarnya yang benar adalah hari itu Tian akan bertemu dengan karyawannya yaitu Managernya dari Cafe Vanilla yang bernama Pak Edi.


Pak Edi adalah orang kepercayaan Tian yang membantu Tian menghandle beberapa Cafe di beberapa tempat.


Pak Edi yang usianya tidak jauh dengan Omnya, sangat mengerti apa yang Tian mau dan tidak pernah membantahnya.


Pak Edi selalu berpakaian santai dan modis jika datang ke rumah Tian, lengkap dengan tas jingjing atau ransel yang selalu dibawanya.


Membuat orang- orang yang melihatnya pun tidak seperti bawahan yang akan mengunjungi bosnya.


Tapi lebih terlihat seperti Mahasiswa atau om-om ganteng yang super kece.


Tian memang sengaja mensetting sedemikian rupa agar semuanya tidak terlalu kentara oleh orang-orang yang ada di sekitar rumah bahkan oleh orang rumahnya sekalipun.


Pertemuannya pun selalu dilakukan di ruangan yang dibuat seperti ruang belajar yang dipenuhi banyak buku dengan rak yang ditata rapi.


Padahal jika diteliti dengan benar, sebenarnya ruangan itu adalah ruangan kerja Tian yang penuh berkas- berkas, dokumen penting dan buku- buku yang berhubungan dengan bisnisnya.


Awal mulanya semua terjadi karena Tian diperintah langsung oleh Ibunya yang sangat dingin dan angkuh untuk belajar memegang bisnis yang langsung meminta dibimbing langsung oleh Vino.


Walau sempat di tentang Vino karena ide gila kakaknya itu tidak waras namun akhirnya Vino pun hanya menurut dan melakukan keinginan kakaknya itu.


Vino bukan menentang karena harus membimbing Tian walau memang sebenarnya dia tidak kekurangan pekerjaan tapi justru malah sedang banyak sekali pekerjaan.


Tapi karena wataknya yang sangat keras dan pintar bersilat lidah juga pintar dalam membuat orang tak dapat berbicara lagi.


Akhirnya Vino pun mengalah dan lebih memikirkan keselamatan Tian karena takut Tian stress atau mengalami gangguan mental karena didikan yang salah dari orang tuanya.


Vino pun mulai membimbing Tian secara perlahan-lahan walau keinginan Kakaknya sangat berbeda yang ingin serba cepat dan kilat.


Vino pun membuat perjanjian dengan orangtuanya Tian untuk berjaga-jaga kemungkinan di masa depan.


Vino melakukan itu karena sangat sayang pada Tian dan tidak ingin Tian menjadi alat bagi orangtuanya.


Vino meminta 70% saham maupun kekayaan Kakaknya itu dialihkan atas nama Tian dan semuanya akan menjadi hak milik Tian jika sudah menginjak usia 21 Tahun.


Serta semua urusan bimbingan yang dia minta(ibu Tian) akan sesuai cara Vino bukan sesuai keinginan kakaknya yang selalu terburu- buru dan sangat kasar.


Orang tua Tian pun mengabulkannya setelah sebulan lamanya Vino menunggu, Vino pun lega dan tenang karena setidaknya Tian memiliki jaminan yang pasti.


Orang tuanya hanya menganggap bahwa permintaan Vino tidak merugikan mereka sama sekali karena semuanya memang untuk anaknya kelak nanti.


Vino melakukan itu setelah mengetahui sisi lain Tian yang sangat membuatnya bangga karna ternyata IQ dan EQ Tian yang diluar ekspektasinya, namun Vino tidak ingin kakaknya tahu kemudian menggunakan anaknya untuk menjadi sumber uangnya.


Tian dan orangtuanya yang tidak baik hubungannya membuat Vino selalu ingin menjadi sosok yang setidaknya membuat Tian mau berbagi rasa sedihnya atau bisa menjadi penengah diantara mereka.


Namun selama ini Tian tidak pernah mau meluapkan amarahnya dan mengungkapkan rasa sedihnya pada Vino.


Hingga Vino melihat kecerian Tian yang terus memberi warna diwajahnya dikarenakan satu wanita yang bernama Tiara, yang juga mendapat kehangatan dari keluarga Tiara yang sangat ramah dan baik.


Vino telah melihat diri Tian yang telah lama hilang, semenjak kehadiran mereka dan tentu saja Vino tidak ingin melihat Tian seperti sebelumnya, sangat dingin dan selalu menutip dirinya.


Vino yakin bahwa semua itu terjadi karena Tian sangat kehilangan kasih sayang dari orang tuanya selama ini sampai membuatnya menjadi pribadi yang seperti itu.


Dan sekarang dia mendapatkan kehangatan dari keluarga Tiara walau secara tidak langsung karena dia hanya orang luar yang hanya mengenal anaknya.


Tapi setidaknya sekarang Tian tidak sedingin dulu yang banyak tersenyum pada Vino juga, perubahan yang diberi Tiara dan keluarganya amat sangat besar dan berarti.


Maka dari itu Vino akan selalu menjadi orang yang paling depan membela Tian jikapun itu harus berhadapan dengan orang tuanya yang hanya memikirkan uang.

__ADS_1


Tian yang cepat belajar dan cepat menguasai apa yang harus dia lakukan, membuat Vino cepat melepasnya, Vino pun membantu Tian dengan menciptakan suasana yang Tian inginkan.


Yaitu mulai dari desain Cafe yang sesuai keinginannya dan beberapa Manager yang langsung menghandle dan mengerti keinginan Tian dan juga mau bekerja secara rahasia dari publik.


Vino pun membuat savety khusus untuk Tian dengan merekrut beberapa bodyguard yang menjadi koki, security dan menjadi karyawan di beberapa mall miliknya dan di perumahan yang dekat dengan rumah Tian juga yang menyamar sebagai warga sana.


Mereka hanya dipekerjaan sebagai bodyguard secret yang terus melapor hanya pada Vino untuk memantau Tian sampai usianya 21 Tahun nanti tanpa diketahui Tian.


Sama halnya dengan Pak Edi ( Manager rahasia ) dan beberapa Manager lainnya yang masuk keluar rumah Tian yang memang rutin hampir Seminggu sekali memberikan berkas pada Tian entah itu sebuah dokumen yang harus ditandatangani atau hanya sebuah laporan mengenai Cafenya dan Mall nya.


Walaupun mereka juga setiap hari memberikan report harian melalui email entah itu hasil penjualan harian atau data lainnya.


Tapi untuk menjaga agar semuanya berjalan dengan rapih Tian pun membuat siasat tersebut untuk mengelabui orang- orang.


Selain Pak Edi Tian juga memiliki beberapa Manager lain yang sama kegiatannya dengan Pak Edi.


Mereka melakukan pekerjaannya juga yang mau mengerti keinginan bos ciliknya yang berbeda dari orang kebanyakan.


Hampir 1 Tahun semua berjalan dengan lancar berkat kepintaran Tian dan Kecerdasannya dalam menghadapi setiap masalah.


Mereka yang awalnya pesimis bekerja dengan Tian akhirnya sekarang lebih manut dan mempercayai Tian sepenuhnya.


Vino pun semakin yakin pada Tian setiap pendapat berbagai laporan dari semua orang-orangnya yang mulai dari melaporkan kegiatan Tian sampai melaporkan kemajuan Tian dalam menjalankan bisnisnya.


Tian juga sering kali berkunjung ke lapangan untuk mengecek langsung dengan cara menyamar menjadi konsumen.


Atau sengaja mengajak Tiara agar tidak terlalu kentara, Tiara secara tidak langsung sangat berkontribusi banyak dalam penyamarannya.


Tapi juga sebenarnya Tian lebih seperti orang yang sedang menyelam sambil minum air, berpacaran sekaligus menjalankan pekerjaannya.


Tak jarang Tian mendapati kenakalan-kenakalan dari karyawannya yang kadang terlihat malas atau berleha-leha saat melayani para custumernya.


Tian juga memiliki cara lain dengan mengecek semua CCTV yang memantau kegiatan langsung karyawannya.


Saat itu lah Tian bertindak tegas dengan memecat secara tidak langsung melalui Managernya jika mendapati kejanggalan.


Tian yang tak pernah mau tampil di depan karyawannya di kenal sebagai boss devil dan dingin, kadang juga sebagian menyebutnya boss hiden atau bos yang tersembunyi.


Ketegasan dan tidak mau setengah- setengah dalam bertindak, membuat sebagian para Manager lebih berhati - hati menghadapi Tian dalam berbicara maupun bersikap.


Hingga pernah suatu hari salah satu Cafenya mendapat suplai barang yang berkualitas rendah karena kesalahan Managernya yang mengurangi anggaran belanja dan mengalihkan suplai barang dari tempat lain.


Tian pun langsung meminta Pak Edi mengecek ke lapangan sedangkan Tian berdalih mengajak Tiara dan Kia untuk berjalan- jalan agar tidak tercurigai.


Sesampainya di lokasi Tian tidak menemukan barang- barang berkualitas rendah yang disuplai.


Malah Tian pun sempat bertanya kepada petani langsung seperti anak sekolah yang sedang mempunyai tugas dari sekolah untuk mengumpulkan materi.


Tian mulai menanyakan dari mulai penanaman hingga panen dan pengiriman barang, hasil panen dan siapa saja yang menjadi penyuplai di daerahnya.


Saat Tian mendapatkan cukup banyak Informasi Tian pun langsung mengabari Pak Edi supaya mengecek langsung siapa saja penyulpai yang memberi barang pada Cafenya.


Pak Edi pun langsung bergegas dan melaksanakan perintah dari Tian. Sedangkan Tian yang tak bisa bergerak banyak karena masih harus menemani Tiara dan Kia hanya menunggu kabar dari Pak Edi.


Setelah sampai rumah Tian pun mendapat kabar langsung dari Pak Edi mengenai masalahnya, dan setelah mengetahui bahwa kesalahan ada pada Manager itu sendiri.


Tian pun langsung mengcut Manager tersebut tanpa gajih terbayarkan karena untuk mengganti uang yang sudah dia makan sebelumnya.


Dari sanalah salah satu kejadian yang membuat Tian menerima banyak julukan itu dari para karyawannya.


Namun Tian tidak mau mengambil pusing semua itu karena setiap kejadian selalu ada konskwensinya.


Jadi selain belajar, bermain, dan berpacaran dengan Tiara kegiatan setiap hari Tian melebihi batas normal usianya.


***


Hai semua, terimakasih bagi para reader yang masih tetap setia menunggu setiap episodenya.


Semoga saya tidak mengecewakan karena masih banyak tipo-tipo


Ditunggu like dan Votenya supaya Thor semakin semangat dengan banyak partisipasi kalian.


Happy reader, i love you all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2