
Pagi -pagi sekali setelah sarapan mereka diantar Andri omnya Tiara ke Bandara. Tiara yang memakai sepatu dan jaket couple dengan Tian membuat Tian menebar senyum sepanjng perjalanan.
Begitupum Tiara yang merasa beruntung mendapat kejutan bertubi-tubi karena terpancar jelas kebahagian di wajahnya.
Sesampainya di tempat tujuan Tian mengajak Tiara dan Kia ke rumah tanteunya yang berada di Bali untuk menginap, karena kebetulan lagi kosong hanya ada pengurus rumah saat Tian, Tiara dan Kia sampai.
Tanteu dan om Tian memang sedang berada diluar negeri untuk mengurus bisnisnya.
Tian yang memang sudah sering berkunjung sudah dikenal pengurus rumah saat kedatangannya.
Perjalanan yang melelahkan yang menghabiskan waktu berjam-jam tidak membuat Tiara dan Kia kelelahan karena mereka sudah banyak beristirahat dalam perjalanan.
Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang sangat singkat dan berharga. Mereka pun langsung bersiap-siap dan mengajak Tian langsung pergi keluar untuk berjalan-jalan.
Tian pun tidak ingin mengecewakan Tiara dan Kia yang sudah datang jauh-jauh ke Bali, walau tubuhnya ingin menolak karena merasa kelelahan selama perjalanan.
Mereka langsung pergi diantar supir Tantenya mengunjungi beberapa tempat seperti tempat angkringan, tempat jualana segala macam oleh-oleh dan lain sebagainya.
Setelah merasa kelelahan merekapun langsung pulang untuk beristirahat melepaskan penat. Mobil tampak hening karena sebagian para penumpangnya sudah pergi ke alam mimipi.
Tiara yang sudah tidur terlelap saat duduk bersama Tian di bangku belakang beberapa kali seperti terbentur pada kaca mobil.
Betul saja, Tian yang selalu siaga setiap saat sangat singap langsung menarik kepala Tiara pelan ke pundaknya Tian pun kemudian ikut menutup matanya yang sedari pagi sudah kelelahan. Dan Kia yang duduk didepan pun sudah terlelap jauh ke alam mimpinya.
Pagi hari Kia bangun lebih awal dan ikut bibi ikut ke pasar, Kia yang sangat antusias banyak membeli beberapa jajanan dan makanan khas Bali.
Tiara yang berada di rumah, baru terbangun dari tidurnya dan mendapati tempat tidurnya tanpa Kia, tanpa ingin mencari tahu Kia kemana, Tiara tak mau ambil pusing dan langsung menuju ke area kolam renang yang sudah direncanakannya saat datang kerumah itu dan melihat ada kolam renang.
Tian tak lama terbangun karena suara berisik percikan air dari kolam renang, lalu Tian pun memastikan dan melihat ke area kolam renang, dilihatnya Tiara sedang berenang dengan menampakan beberapa bagian tubuhnya yang mulus dan putih.
Tian yang saat itu berada di balkon kemudian beranjak menghampiri Tiara ke bawah sambil membawa segelas jus jeruk dingin dari dapur.
Saat Tiara sadar kalo Tian sedang memandanginya Tiara langsung berhenti dan dan menuju kepinggir kolam.
" Gak dingin?" Ucap Tian perhatian.
"Dingin, he.. heehe... tapi seru. Kamu kebangun gara- gara aku ya?" Tanya Tiara kemudian merasa tidak enak.
"Emmm,, kamu membantuku terbangun. Kalo gak, mungkin aku malah kebablasan sampe siang." Ucap Tian menyindir sambil memandang Tiara yang sedang sibuk memakai handuk di kepalanya.
"Kekkk kkk,,, ko aku berasa lagi disamaan sama jam yah." Ucap Tiara yang terkekeh geli mendengar candaan Tian. Tian pun ikut tertawa ringan.
"Kamu keliatan lihey renangnya dan pintar mengatur napasnya tadi aku perhatiin." Tanya Tian penasaan.
"Ehmm.mmm nggak juga ko biasa aja." Jawab Tiara menyangkal kemudian sambil tersenyum kecil.
" Aku tau ko yang handal dan amatiran, karena aku aja yang suka renang gak bisa kayak kamu tadi, masih amatiran. " Ucap Tian kemudian menjelaskan dan membalas senyuman Tiara.
" Sebenernya mungkin karena aku udah dari kecil seneng renang, jadi gitu deh bisa dengan sendirinya." Ucap Tiara kemudian menjelaskan secara singkat.
"Oh gitu, pantesan. Terus kenapa gak jadi Atlet aja?" Tanya Tian lagi ingin.
" Papah gak ngijinin aku ."Jawab Taira kemudian singkat .
"Kenapa?" Tanya Tian yang mulai makin penasaran.
"Gara- garanya Papah trauma gitu, dulu adiknya yang perempuan meninggal saat masih sangat kecil, adik Papah kehabisan nafas saat sedang latihan berenang, adik Papah juga seneng banget sama renang malah mau ikut jadi atlet propesional waktu itu, cuma katanya punya asma atau penyakit paru-paru gitu deh, terus karena latihannya berlebihan tubuhnya kecapean dan akhirnya sesak nafasnya kambuh saat sedang latihan berlangsung." Ucap Tiara menjelaskan.
__ADS_1
" Oh gitu, pasti Papah kamu terpukul banget waktu itu, apalagi pas lihat anaknya yang sama suka renang juga kayak adeknya, kalo aku jadi dia, aku juga gak bakalan mau melihat orang yang aku sayangi pergi lagi karena hal yang sama," Ucap Tian kemudian menjadi sendu.
"Iya, aku tau. Awalnya aku marah karena gak tau tapi pas Mamah ngasih tau aku alasannya aku langsung minta maaf sama Papah karena merasa jadi anak egois."Ucap Tiara sambil minum jus jeruk dingin yang dibawa Tian.
" eh, iya kalo ka Tika gimana tu. Atau cuma kamu aja yang suka sama renang?" Tanya Tian lagi sambil duduk menghadap Tiara sambil mengepal tangannya ke depan dan memandangi Tiara yang asik minum karena kehausan.
"Kata Mamah sih sebenernya Papah juga pinter berenang gitu malah dulu sempet jadi atlet propesional. Tapi sejak kejadian itu Papah jadi gak mau lagi nerusin, kak Tika juga sama suka renang dan kita biasanya kita suka ngumpet ngumpet keluar tanpa sepengetahuan Papah he." Ucap Tiara malu mengatakan kejujuran tentang kenakalannya
"Wow, sampe segitunya ternyata kamu." Tian tersenyum karena tingkah lucu dan cerita nakal Tiara.
"Mulai sekarang selama ada aku kamu bisa bebas berenang kapan aja."Ucap Tian menyombongkan diri. Tiara hanya tertawa melihat Tingkah Tian.
Karena Tian tidak pernah merasakan apa yang dialami Tiara yang diperhatikan dan di sayangi sampai sebegitunya oleh kedua orang tuanya.
Tian merasa sedikit iri pada Tiara. Tian lebih terlihat seperti anak mboknya dibanding anak ibu dan Ayahnya, dari kecil Tian selalu hanya sama mboknya dan sangat jarang bertemu dengan Ayah ibunya kalo bukan hanya kebetulan.
Orang tua yang selalu ada mengurus, mengasuh dan menjadi tempat keluh kesah Tian hanya mboknya dan supir yang ada di rumah.
sampai akhirnya Tian bertemu keluarga Tiara yang merangkul dan penuh kehangatan, Tian merasa seperti hidup kembali dan selalu ingin jadi bagian dari mereka.
Dibanding orang tuanya yang tak tau sekarang dimana dan hanya mengurusi bisnisnya, sampai Tian meminta pindah ke kampung halaman mboknyapun mereka ijinin karena mungkin tidak ingin repot dan pusing mengurusi anaknya.
Yah, reader Tian sebenarnya anak kota yang kurang kasih sayang, semenjak harapan satu-satu kelurganya yaitu kakek dan neneknya meninggal Tian pun memilih pindah ke kampung halaman mboknya.
Mboknya suatu hari harus pulang dan kemungkinan tidak dapat kembali lagi karena Ibunya yang sakit.
Tian hanya menggunakan alasan pada orang tuanya ingin selalu dekat dengan mbonya namun ternyata orang tuanya hanya butuh satu hari saja memikirkan keinginan Tian, tanpa ragu mereka langsung menyetujui dan membuatkanku sebuah rumah yang tak terlalu besar dibanding rumah orang tuaku di kota S.
Tian mulai pindak sejak umur 14 tahun dan sampai sekarang hanya mboknya keluarga yang dia miliki disini.
Setidaknya saat Tian bersama mboknya Tian tidak kesepian dan dapat membantu kebutuhan ekonomi untuk keluarganya, mbok Enah adalah seorang istri yang ditinggalkan suaminya karena tidak dapat memberikan keturunan. Semenjak itulah mbok Enah selalu bersama Tian sampai sekarang.
"Kruyuk,,, kruyuukk..."Terdengar dari arah perut Tiara memberi kode ingin diisi makanan.
"Haha..hahaaa..Imutnyaa. Ayo kita kedalam buat sarapan lagian kamu sepagi ini udah berenang ." Ucap Tian sambil.mencubit kedua pipi Tiara yang memasang wajah datang menahan lapar.
"He.he.heee " Tiara hanya tersenyum memaksa.Tiara pun mengekori Tian masuk kedalam.
Tak lama Kia dan bibi pulang, belanjaan langsung ditata bibi dikulkas dan makanan yang sudah dibeli Kia ditata dipiring lengkap dengan susu hangat buatan bibi sudah tertata Kia di meja.
Tak lama Tiara datang disusul Tian dari belakang kemudian duduk bersamaan di meja untuk sarapan.
"ini banyak banget Ki." Ucap Tiara.
" Gue bingung tadi pas beli, jadinya malah ngeborong deh." Jawab Kia membela.
Tiara dengan lahap menyantap makanan yang terbilang baru baginya.
Tian sangat menikmati ekspresi Tiara yang lucu seperti host makanan yang suka mengeluarkan banyak suara emmmmhhh sambil mata melotot
Setelah sarapan mereka bergegas menuju pantai, bermain pasir dan sesekali bermain ombak.
Pantai nan indah dan eksotik membuat Tiara dan Kia langsung berlari mendekati lautan dan memanjakan diri dengan air laut , saling bercanda berlari kejar mengejar, bermain pasir dan berjemur.
Tian yang masih tertinggal dibelakang hanya mengekori dan berjalan dengan hati-hati karena membawa banyak barang yang dibekal Tiara dan Kia.
Tian yang sudah terbiasa suasana pantai tidak terlalu antusias hanya bersantai diatas kain tipis yang dia gelar diatas pasir untuk dia duduki, kemudian Tian mengeluarkan beberapa makanan dan minuman untuk disantapnya.
__ADS_1
Tian hanya melihat dari jauh kesenangan yang sedang dinikmati Tiara dan Kia, Tiara sangat terlihat cantik saat tertawa lepas dan penuh dengan keceriaan.
Tian merasa senang melihatnya dan tak mau melewatkan setiap moment indah itu. Tian langsung mengabadikan moment itu dengan mencuri gambar dengan kameranya yang sengaja dibawanya.
Saat Tiara dan Kia mulai terasa lelah merekapun tidur begitu saja diatas pasir, sebagian tubuhnya diterpa ombak hingga meningalkan jejak saat mereka mendekati Tian karena sudah mulai haus dan kelelahan.
Saat hari menjelang sore, Kia yang hanya obat nyamuk lebih memilih bermain air lagi mencari kesenangan sendiri.
Saat sudah merasa puas dan kelelahan Kia pun berjemur sampai tertidur.
Tian dan Tiara sedang jalan-jalan berdua menyusuri pantai meninggalkannya Kia sendiri tempatnya sekarang.
"Kamu seneng gak?" Tanya Tian berjalan menggandeng tangan Tiara.
"Seneng, makasih ya. Udah ngajakin kesini dan ngasih hadiah juga." Ucap Tiara tersenyum penuh kebahagian.
Tiara yang saat itu memakai selendang dipinggangnya bunga ditambah putih yang diselipkan di telinganya semakin terlihat cantik dimata Tian.
Disaat Matahari yang mulai terbenam Tian mulai mengutarakan isi hatinya selama ini.
"Iya, sama-sama. Ra kamu tahu kan kalo aku sayang banget sama kamu, mulai hari ini aku pengen kamu jadi pacar aku. Aku minta maaf kalo sebelumnya aku seperti gak memberi kejelasan status pada hubungan kita, aku cuma pengen kalo kita meresmikan hubungan kita dihari istimewa kamu, aku juga pengen lihat dulu untuk memastikan, bahwa hati kamu juga merespon apa yang aku rasakan." Tian mengatakan dengan penuh ketulusan sambil memegang kedua tangan Tiara sambil memandang kecantikan Tiara yang sangat alami tanpa make up.
Tiara yang tertegun mendengar semua kata-kata Tian hanya menampakan wajah haru yang berbinar-binar penuh kebahagiaan.
Disuasana yang sangat romantis dan penuh dengan ketulusan dari Tian. Tiara merasa menjadi wanita paling beruntung didunia.
Tian yang penuh kejutan dan sangat romantis membuat Tiara kehabisan kata-kata sampai menangis karena saking bahagianya.
Tiara langsung teringat akan ucapan Kia yang pernah mengatakan bahwa aku harus percaya pada Tian kalo Tian itu sayang banget sama aku dan Tian hanya menunggu moment yang pas ini, isak Tiara makin terdengar.
"Ko, kamu nangis. Jangan nangis dong." Ucap Tian yang langsung memeluk Tiara.
Tiara yang masih bingung harus berkata apa hanya tambah sesegukan saat Tian memeluknya.
"Aduh ko jadi nangis sih, cup..cup..cup.. udah ya gapapa ko gak usah bilang apa-apa, aku anggap kamu mungkin butuh waktu." Ucap Tian berusaha meredakan Tangisan Tiara dengan memberi candaan.
Tiara pun mulai berhenti, dan mendorong tubuh Tian karena candaannya itu.
"Bukan gitu, aku juga sayang ko sama kamu.
Awalnya aku juga bingung harus mengartikan sikap kamu tu gimana, dibilang teman bukan pacar juga bukan. Tapi akhirnya aku mulai sadar kalo sikap kamu memang sudah melebihi teman waktu itu aku udah gak peduli lagi kamu mau memastikan hubungan kita atau mau menjalani saja tanpa ada kata-kata kejelasana, karena aku juga sama udah mulai nyaman tapi belum berani bilang aja." Ucap Tiara sambil masih seseguhan meredakan tangisnya dan berusaha menghilangkan air mata yang dari tadi membuat wajahnya terlihat sembab sekarang.
Tian yang merasa sangat senang saat mengetahui isi hati Tiara hanya tersenyum memeluk Tiara dan mengecup kening Tiara sekilas
"Cup..cup...cup.. iya iya iya ayo kita pulang." Ucap Tian sambil tertawa dan mengajak Tiara berjalan kembali untuk menemui Kia.
"Makasi ya,," Ucap Tian kemudian.
Tiara hanya mengangguk dan merletakkan kepalanya di dada Tian. Merekapun tergelam dengan suasana pantai yang makin memanjakan mata saat malam.
Malam hari mereka kembali mengunjungi beberapa tempat yang sebelumnya belum mereka kunjungi sambil membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang esok hari.
*****
Hai para reader semua jangan lupa vote, like dan jadikan favorite ya novel ini.
Selamat datang juga buat reader baru,,
__ADS_1
Ditunggu komen dan sarannya lo 😊😊😊
Happy reading all 😘😘😘😘