
Tiara sangat sakit hati saat mendengar kenyataan bahwa kehidupan Tian sampai semenyedihkan itu, Tiara sangat menyesal karena kurang peka seperti kata Ibunya.
Air mata Tiara tidak berhenti mengalir saat berjalan menuju kamar Tian dan Kia yang merasa bersalah sebelumnya hanya bisa mengekori Tiara dari belakang.
Saat sampai di kamar Tian, Tian terlihat tidur tidak tenang dan terus mengigau tidak jelas, tubuhnya berkeringat dingin dan wajahnya pucat membuat Tiara panik dan buru-buru mencari wadah dan handuk yang ada di kamar mandi Tian.
Seketika Tiara merasa takjub dengan lemari yang tertata handuk dengan berbagai ukuran lengkap, wewangian dan peralatan mandi kelas atas yang sangat lengkap membuat hatinya yang berdebar kencang dan sesak sesaat berhenti karena semua hal baru yang sangat membuat dia terkejut.
Tiara pun langsung kembali ke tempat tidur dan mengompres Tian, sampai beberapa saat kemudian mulutnya berhenti mengigau dan keringatnya sudah berkurang.
Mata Tian pun terlihat terbuka dan merasakan kepalanya tebal wajahnya sekarang sedikit berwarna.
Tian melihat Tiara dan Kia wajahnya sembab karena bekas menangis sedari pagi.
Tian pun berusaha bangun sambil melepaskan handuk di dahinya.
"Kamu makan dulu yah?" Ucap Tiara merayu.
Tian hanya menganggukan kepalanya lesu sambil tersenyum.
"Ini masakan Tanteu yah?" Tanya Tian merasa berbeda. Tiara yang cengeng tak bisa menahan air matanya lagi-lagi hanya mengijinkan air matanya berjalan turun ke pipinya.
"Iya, gimana kamu suka?" Tanya Tiara bercucuran air mata. Tian hanya mengedipkan matanya karena terlalu malas untuk bicara.
"Ya udah, sekarang kamu makan yang banyak biar cepet sembuh, nanti kamu minum obat yah?" Ucap Tiara yang kawatir sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.
Tian hanya diam dan tiba-tiba telepon Tiara berbunyi.
"Iya halo Mah, kenapa Mah?" Tanya Tiara kawatir.
"Mamah udah sampe di rumah Tian tapi ko Mamah takut salah alamat yah." Ucap Rika yang merasa ragu dengan alamat yang Tiara berikan.
Tiarapun yang sudah berhenti menyuapi Tian lalu berdiri dan menuju jendela kaca besar yang dapat melihat ke gerbang utama.
"Mah, ini bener ko rumahnya coba Mamah tekan aja bellnya deh." Ucap Tiara yang sudah melihat Mamanya didepan gerbang.
"Iya udah kalo gitu" Rika pun menurut dan menutup telponnya.
"Aku ke bawah dulu yah." Ucap Tiara pada Tian. Tian hanya tersenyum mengedipkan matanya lagi sambil menyenderkan tubuhnya ke ranjang.
Tak lama Ibu dan Ayah Tiara masuk ke kamar Tian, Ibu Tiara yang mantan perawat langsung tahu kalo kondisi Tian harus segera di bawa ke Rumah Sakit setelah melihat Tian yang sangat pucat saat menyentuh kening dan leher Tian yang suhu tubuhnya sangat panas tanpa basa basi Rika mengeluarkan termometer dan hasilnya benar saja diluar dugaan angkanya mencapai 39.5° .
Rika langsung menatap suaminya dan Riko hanya merespon dengan anggukan kepalanya.
"Sayang, gimana keadaanmu sekarang?" Tanya Rika memeriksa sambil memegang tangan Tian.
"Udah agak mendingan Tanteu, besok juga sembuh ko." Jawab Tian berbohong karena sebenarnya saat ini badannya sangat lesu dan panas. Sambil melihat Mamah dan Papah Tiara yang tersenyum.
"Sayang kita ke Rumah sakit yah?" Bujuk Rika lagi.
"Gak usah Tanteu, Tian baik-baik aja ko ini kan cuma demam biasa." Jawab Tian yang tidak mau membuat semua orang kawatir.
"Sayang, kamu tahu kan kalo Tanteu, Om, Tiara, Kia sayang sama kamu, Tanteu sudah menganggap kamu seperti anak Tanteu sendiri. Apa kamu tega membuat Tanteu kawatir melihat mu sakit seperti ini?" Ucap Rika yang berusaha membujuk Tian sambil menyentuh pipi Tian.
Tian pun akhirnya menganggukan kepalanya lalu seketika Rika mencium kening Tian dan seketika Tian terlihat berlinang air mata menangis tersedu-sedu tanpa mengucapkan kata-kata Rika langsung memeluknya dan melihat Riko suaminya yang sedang memeluk Tiara yang sedang menangis juga.
__ADS_1
Mereka pun membagi-bagi tugas untuk menyiapkan apa saja yang harus dibawa. Setelah selesai semua orang langsung berangkat hanya tertinggal Bi Enah dan Pak Dirman di rumah.
Bi Enah langsung mengabari Vino paman Tian yang ada di Ibu kota tentang keadaan Tian. Vino sedikit marah karena tidak dikabari sebelumnya.
Tapi karena tau bahwa Bi Enah sudah sangat berjasa pada keluarganya Vino menahan emosinya dan mengurungkan untuk marah pada Bi Enah hanya mengiyakan dan berterimakasih lalu menutup telponnya setelah mendengar semua penjelasan Bi Enah.
Vino tak bisa berbuat banyak dikeluarganya yang sangat egois selain karena dia belum mempunyai hak kuasa besar dalam usahanya dia juga hanya kacung yang berstatus saudara yang bisa melindungi dan menyayangi keponakannya itu dengan cara yang menurut dia benar.
Setelah sampai di parkiran Rumah Sakit , Papah Mamahnya Tiara langsung masuk rumah sakit untuk mendaftar, tak selang lama Tian langsung dibawa masuk untuk pemeriksaan lebih lanjut, Tian pun langsung segera dibawa ke salah satu ruangan dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui diagnosa Dokter.
Setelah keputusan Dokter mengatakan bahwa Tian harus dirawat, Tian pun langsung masuk ke ruangan rawat inap untuk kelas 1.
Setelah beberapa jam Tian diinfus wajah Tian mulai memberikan warnanya walau bibirnya masih putih pucat. senyumnya terlihat tersimpul.
Karena hari menjelang sore Kia yang ikut ke Rumah Sakit harus pamit dan Tiara pun juga diminta Rika Mamahnya untuk ikut Kia pulang sekalian karena harus mengambil beberapa barang.
"Aku senang kamu mulai membaik, aku pulang dulu nanti malem aku kesini lagi." Tiara pamit pada Tian sambil tersenyum dan Tian pun sebaliknya.
Sore hari Vino datang ke Rumah Sakit yang diinfo Bi Enah pagi tadi, Rena dan Andri pun langsung datang ke Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Rika, Andri berangkat dari rumah orang tuanya yang di luar kota dan menjemput Tiara dulu.
Saat di lorong mereka berpapasan dengan wajah kaget dan ekspresi bermacam-macam diantara ketiganya mereka hanya terus berjalan seperti orang asing begitupun Tiara yang belum mengetahui bahwa Vino adalah Paman dari Tian.
Saat mereka mengarah ke ruangan yang sama mereka mulai saling menatap satu sama lain dan Tiara yang mulai heran hanya terus berjalan tanpa sepatah katapun.
Tiara langsung masuk dan memberi senyum terbaiknya lalu menuju ke ranjang Tian dan duduk di kursi.
Yang lain jangan ditanya, hmmm...
setelah masuknya Tiara, Vino dan Andri sedikit beradu lontar kata-kata dan tujuan dari mereka adalah Rena.
Di episode selanjutnya aku jelasin ya.. kenapa mereka kayak gitu, sekarang kita ke Tian dulu.
Tak lama ketiga orang dewasa yang seperti anak-anak itu masuk dan didalam mereka tidak menampakan kemarahan yang sebelumnya terjadi, mereka lebih seperti seorang aktor yang bisa merubah-rubah ekspresi.
Mereka langsung menuju ke arah Tian yang sekarang sedang terbaring di infus dan lemah. Paman Tian yang langsung duduk di kursi yang diberikan Tiara langsung melihat Tian tanpa kata-kata hanya terlihat wajah yang sedih dan merasa bersalah.
Dan Andri justru lebih terlihat ceria dan tak mau terlihat sebaliknya.
"Hai, jagoan jadi apa kata dokter?Tanya Tian sambil melipat tangannya yang diletakan dipinggir ranjang tempat Tian tidur.
Terlihat berbeda sekali dengan Vino yang diseberangnya yang lebih menekuk wajahnya dan terlihat sendu.
"Aku juga belum tahu Pak, soalnya baru pemeriksaan awal." Jawab Tian tersenyum lemas.
"Ehmm iya, kamu kayaknya cuma butuh istirahat dan refreshing supaya tidak terlalu stress, bisa jadi kan.Atau apa mungkin pelajaran yang membuatmu stress?" Sindir Andri melirik sekilas Vino lalu melihat Tian dan memperlihatkan semua giginya dengan tawa yang mempesona.
Tian hanya tersenyum lebar membalas kalimat Andri yang dianggapnya seperti guyonan. Kemudian Tian melirik Vino yang sedari tadi hanya diam.
"Paman, aku gak papa ko. ini cuma demam aja, sebentar lagi juga baikan." Ucap Tian sambil memegang tangan Vino yang sedari tadi hanya menutupi sebagian wajahnya.
Wajah Andri terlihat sedikit kaget mendengar panggilan yang diberikan Tian, begitu pun Rena.
"Iya, Paman tahu. Kamu kan kuat, cepet sembuh. Maafin paman yah?" Jawab Vino yang terdengar sendu.
"Ini bukan salah paman ko. Aku gak papa ko Paman." Ucap Tian terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
"Paman akan berusaha lebih baik lagi, supaya kita bisa hidup bersama." Ucap Vino sambil menyeka air mata di wajah Tian.
Andri dan Rena hanya pergi perlahan dan memberi privasi untuk Vino dan Tian.
Begitu juga dengan Papah Mamah Tiara dan Tiara yang juga ikut keluar
Beberapa saat kemudian perawat datang untuk mengganti infus, dan menyuntikan obat tidur dan beberapa obat lainnya untuk Tian.
Lalu setelah perawat keluar, Vino pun ikut keluar untuk mendapatkan informasi tentang keadaan Tian.
"Sus, kira-kira keponakan saya sakit apa ya?" Tanya Vino yang menghentikan langkah Perawat tadi setelah berada di luar ruangan.
"Untuk saat ini pasien hanya diusahakan untuk istirahat secara total dan jangan membuatnya stress Pak." Jawab perawat itu.
"Oh begitu, baiklah. Terimakasih sus." Ucap Vino, lalu perawat pun berlalu.
Saat Vino masuk kedalam Tian sudah terlihat tidur karena obat yang diberikan suster tadi. Kemudian Vino duduk disalah satu kursi kosong.
Andri yang melihat Vino terduduk lemas kemudian mendekatinya dan memberikannya minuman dingin.
Mereka pun duduk bersama dan tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Sampai saat Rena datang dan mengajak Andri makan.
"Lo gak laper?" Tanya Andri pada Vino berbalik badan mengajaknya bergabung.
"Iya, gue lapar." Vino pun berdiri dan ikut dengan yang lain kesalah satu tempat makan terdekat.
Setelah sampai parkiran, semuanya langsung masuk dan mencari meja kosong dan memesan makanan.
"Pak, Bu sebelumnya saya mau minta maaf karena tadi belum sempat menyapa saat saya datang." Ucap Vino
"Iya gak papa kami maklum, tidak papa." Ucap Rika hangat
"Saya juga mau berterimakasih karena sudah membujuk Tian untuk ke Rumah Sakit dan membuat hari-hari Tian terisi karena kehangatan dari keluarga Ibu dan Bapak." Ucap Vino
"Sama-sama, kita tidak merasa memberikan apapun pada Tian, justru Tian yang sangat banyak memberi keceriaan pada keluarga kami." Jawab Riko
"Yang pasti walaupun saya belum mengenal Ibu dan Bapak tapi dengan melihat Tian di Rumah Sakit dan beberapa informasi dari Bi Enah, saya percaya bahwa Bapak dan Ibu sudah memberikan kehangatan pada keponakan saya, Tian adalah anak tunggal dari kakak saya, yaitu Papahnya Tian tapi mereka sangat sibuk dan hampir tidak pernah tahu keadaan Tian. Sedangkan Tian pada saya sekalipun dia tidak pernah mau mendengar untuk dibawa ke Rumah Sakit jika sakit, kami juga tidak tinggal bersama karena sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal di Ibu Kota. Jadi saya sangat menghargai sekali jika Bapak dan Ibu mau mengerti akan kondisi Tian." Ucap Vino sendu
"Tentu saja, kami sudah menyayangi Tian sejak lama selain dia baik dia juga membawa pengaruh positif pada anak kami. Kami pikir tidak ada salahnya membiarkan mereka saling melengkapi. Dan kita sebagai orang tua dan orang yang lebih dewasa dari mereka hanya cukup mengawasi dari jarak yang aman." Ucap Riko
"Iya, syukurlah kalo memang begitu keadaannya, saya senang mendengarnya. Untuk selanjutnya jika perlu apapun tolong kabari saya ." Ucap Vino
Tidak lama kemudian makanan pun datang dan mereka pun segera menyantap makanan masing-masing supaya segera kembali ke Rumah Sakit.
Tiara yang menunggu sendirian di Rumah Sakit sampai tertidur karena kelelahan pulang pergi seharian.
Tak lama Vino dan Andri datang dan meminta Tiara pulang untuk beristirahat di rumah. Awalnya Tiara menolak dan memilih disana, tapi kemudian Andri berkata.
"Ra, kamu sayang kan sama Tian, begitu juga semuanya. Paman juga gak mau sampai kamu sakit, nanti kalo kamu juga sakit lalu Tian kepikiran gimana? kasihan loh, Tian kan gak boleh stress dulu sekarang. Besok kan kamu bisa kesini lagi dan usahakan besok ceria lagi yah, supaya Tian juga gak kepikiran dan biar cepet sembuh. oke." Andri membujuk Tiara lembut sambil membelai rambutnya karena kepalanya tersender di bahu Andri.
"Iya Om, Ya udah kalo gitu Tiara pamit pulang ya Om. Nanti kalo ada apa-apa kabari Tiara yah? Ucap Tiara yang memeluk Andri dan membenarkan semua yang Andri katakan. Andri pun mengangguk pelan dan mengecup kening keponakannya itu lembut.
Tiara pun pamit pada Andri dan Vino kemudian mendekati Tian yang saat itu sudah tertidur pulas.
"Aku pulang dulu yah, besok aku kesini lagi. Kamu cepat sembuh yah." Bisik Tiara pelan ke telinga Tian.
__ADS_1
Tiara pun menuju parkiran mobil dan pulang dengan Mamah Papahnya dan Rena.