
Tiara yang tahu maksud Tian namun memilih tetap diam tanpa melakukan apapun. Kia yang melihat dari arah jauh merasa kasian pada Tiara yang pasti sedang tersiksa oleh Tian.
"Kamu mau terus diemin aku gitu." Ucap Tian memandang sinis Tiara.
Tiara yang belum berani memandang Tian hanya terus memainkan sedotan minumannya sambil menarik ulur lalu meminumnya.
Tian yang kesal dengan tingkah Tiara lalu mengambil minumannya dan mereka pun bertemu pandang namun Tiara cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tian yang sekarang ada di depan Tiara merasa cara ini itu tidak berhasil pada Tiara yang tak mau sadar lalu Tian mulai berdiri dan pindah tempat duduk ke pojokan.
Tiara pun ditarik Tian dengan sedikit memaksa karena Tiara sedikit memberontak.
Mereka pun duduk di pojokan membuat perasaan Tiara tidak enak, apalagi saat Tian langsung merubah posisi duduknya menghadap Tiara.
Kia yang merasa mulai tidak beres lebih memilih duduk tempat lain dan menjauh dari mereka berdua.
Tian yang tahu Kia tidak akan kembali ke meja mereka mulai menarik Tiara lebih dekat membuat Tiara sedikit kaget karena tubuhnya bergeser sangat ringan.
Tian yang sekarang sedang menghadap langsung pada Tiara membuat hatinya gugup dan canggung.
"Kamu kenapa sih?" Tiara mulai melirik cari aman.
"Aku baik-baik saja, kapan kamu mau jujur? Tian langsung skak matt Tiara tanpa basa-basi.
"Gini ya, aku ngerasa gak pernah berbohong sama kamu. Jadi aku harus jujur apa?"
Ujar Tiara yang masih bingung maksud Tian.
"Kamu kenapa sih gak peka banget maksud aku." Tian mengerutkan dahinya jengkel.
"Sumpah ian, aku bingung maksud kamu yang apa?" Tiara mulai emosi karena penuntutan dari Tian.
Tian tidak habis pikir dengan Tiara yang tidak terbuka.
Lalu kemudian Tian mengeluarkan handphonenya dan membuka kontak telepon untuk mencari no telepon Rika Mamahnya Tiara.
"Hallo Tanteu," ucap Tian setelah terdengar sambungan teleponnya sudah terhubung. Tian terlihat hangat seperti tidak terjadi apa-apa.
"Iya ian, kenapa sayang?" Jawab Rika dari sebrang.
" Tan, hari ini aku mau ajak Tiara ke rumahku boleh gak?" Tanya Tian lembut yang juga sontak membuat Tiara berpaling yang sedari tadi mengacuhkan Tian.
" Kamu mau ngapain?" Ucap Tiara berbisik. Tangan Tian seketika itu juga langsung menutup mulut Tiara segera supaya tidak terdengar Rika sampai sebagian tubuh Tiara menyender ke tubuh Tian yang tegap.
"Boleh, emang kalian ada acara apa?" Tanya Rika mencari tahu alasannya.
" Oh gak ada acara apa-apa sih Tante, cuma Tian perlu Tiara buat bantuin ngejar pelajaran kemaren aja Tan." Tian beralasan, Tiara mencoba berbicara namun gagal.
"Oh gitu, iya boleh-boleh gak apa-apa asal jangan malem aja pulangnya yah." Ucap Rika mengingatkan.
" Iya, Tanteu pasti."
Tian pun mengakhiri sambungan teleponnya. Lalu membuka bekapan pada mulut Tiara yang sedari tadi tidak diam.
Tiara pun memilih pasrah karena Tian pasti akan berbuat lebih nekad jika dia terus memberontak.
Seketika tubuhnya merasa akan terjadi hal yang tidak enak sepulang sekolah nanti, sedangkan Tiara masih kukuh dengan posisi duduknya yang menyamping tanpa ingin melirik Tian sedikit pun.
Tian yang mulai tak tahan dengan sikap Tiara yang tak mau lunak akhirnya berusaha meredakan emosinya kemudian membelai rambut Tiara lembut lalu memandangnya datar dengan menekuk dahinya yang ditopang tangannya ke meja.
Tiara pun mulai risih dan akhirnya saat Tian memegang tangan Tiara, Tiara mulai meliriknya.
"Kamu keras kepala banget yah, gak mau jujur lagi, hukuman kamu akan double dan tanpa ampun. Hari ini kita ke rumahku dan kamu gak bisa nolak. kalo nggak kamu bakalan lihat akibatnya bakalan terjadi yang lebih ekstrim nanti." Ancam Tian membuat takut Tiara.
__ADS_1
Tiara pun hanya melirik Tian dan memandang penuh kecemasan hingga saat Mang Ade menyodorkan Mie ayam dan es jeruk Tian pun mulai duduk dengan benar.
"Makan dong Ra, apa perlu aku suapin." Ucap Tian yang melihat Tiara hanya memutar-mutar mienya saja.
Tiara yang masih tidak bersuara, akhirnya menuruti Tian dan memakan Mie Ayam yang ada di depannya.
Saat jam istirahat sudah habis semua murid pun masuk kembali ke dalam kelas dengan bermacam-macam ciri khas mereka. Mulai dari saling jahil, berlari, saling tertawa dan lain sebagainya.
Begitu pun Tian dan Tiara namun mereka lebih memilih jalan santai sambil bergandengan tangan.
Saat di dalam kelas Tian melihat ada bunga mawar merah lagi dimeja Tiara.
Lantas Tian pun menghampiri meja Tiara dan mengambil dengan kasar bunga tersebut.
"Kalian ada yang tahu gak siapa yang naro bunga disini?" Tian sedikit berteriak supaya semua yang ada dikelas mendengarnya.
Tapi sayangnya tidak ada satupun jawaban yang mengetahui pengirimnya. Tian jadi geram dan kemudian munculah ide gilanya supaya dia lebih bisa leluasa pada Tiara.
Tian pun meminta semuanya merubah posisi duduk menjadi berpasangan dengan alasan agar tidak borring.
Tiara yang tak mau membuat Tian tambah emosi hanya diam duduk dan tak berkomentar apapun.
Kia yang saat itu baru datang langsung menghampiri Tiara yang tertunduk lesu.
"Ra , ada apa?" Tanya Kia penasaran.
"Tadi kayaknya Dira ngirim lagi bunga Ki, Tian marah dan sekarang minta anak-anak duduk berpasangan." Ucap Tiara sedikit berbisik karena takut Tian mendengarnya.
"Hhhhaaaa,,, bagus dong." Sambut Kia girang.
"Bencana ki, bukan bagus." Jawab Tiara membenarkan.
"Ih, bodo amat gue pokoknya seneng soalnya udah lama pengen deket sama temen sebangku Tian." Jawab Kia nyeplos.
Tian merasa ada yang aneh kemudian menghampiri mereka berdua.
"Heh, kalian kenapa?" Tanya Tian ketus.Tiara dan Kia seketika terdiam dan menggelengkan kepala. Tian pun kembali ke aktivitasnya.
" Oh iya, Ra. tadi pagi si Tian nanyain masalah kejadian kemaren-kemaren. Sorry gue terpaksa jujur. Tadinya gue boong ke Tian tapi gara - gara kelakuan si Dira jadinya gue juga kena semprot. Dan gue juga takut Ra soalnya gue diancem sama Tian. Dia menakutkan banget kalo udah marah ternyata." Ucap Kia menjelaskan penuh hati-hati dengan suara pelan.
"Pantesan, hari ini tu dia minta penjelasan mulu. Gue udah bingung banget ngelesnya karena pasti dia bakalan marah besar kalo gue jujur. Gue cuma banyak diem karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan aja Ki. Huh, gue pasrah dek Ki karena ntar pulang nih pasti gue dapet yang aneh - aneh lagi." Tiara terlihat lemas saat mendengar penjelasan Kia.
"Si Dira juga sih banyak tingkah amat tu anak. Bukannya kemaren- kemaren dia adem- adem aja yah, kenapa sekarang bikin ulah sih." Gerutu Kia
"Gak tau lah Ki, gue no comment" Ucap Tiara sambil mengangkat bahunya malas.
"Apa yang gak tahu?" Ucap Tian yang tiba nyamber kayak petir.
"Itu, tugas Matematika kita? Kia minta tolong aku buat ngajarin dia nanti pulang sekolah." Ucap Tiara mencari jalan keluar.
"Gak bisa, dia mau bantu gue ngejar materi yang udah tertinggal kemaren." Jawab Tian sinis melihat Kia.
"Iya, tau. Euh nyebelin banget sih lo ian, gak bisa juga gak apa-apa ko, biasa aja dong santai. Besok lagi juga masih bisa ." Ucap Kia yang langsung menyambung.
Tiara ditarik Tian untuk ikut duduk semeja dengannya, lalu Kia pun langsung duduk di tempat Tian sebelumnya.
Tian senang karena akhirnya bisa terus dekat dengan Tiara, tapi Tiara terkadang membuat Tian sebal jika sikapnya sudah membangkang.
Saat jam pulang pun tiba, Tian membuktikan kata-katanya, sampai Tiara hanya pasrah mengikutinya.
Tian membawa Tiara ke rumahnya dengan wajahnya yang santai Tian menarik lembut tangan Tiara masuk ke dalam rumah.
Tian langsung membawa Tiara ke kamarnya lalu meninggalkan Tiara keluar lagi tanpa ucapan sepatah kata pun.
__ADS_1
Tak lama Tian kembali dan terlihat membawa buah- buahan, cemilan dan minuman dingin yang di bantu Bi Enah.
Tiara pun langsung membantu menata semuanya di meja dan Tian malah pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Lalu tak lama kemudian dia juga meminta Tiara mengganti pakaiannya dengan pakaian Tian.
"Aku pakai ini saja, lagian juga ini masih bersih." Tiara berusaha menolak secara halus.
"Mau ganti sendiri atau aku bantu." Ancam Tian sadis.
"Oke, oke aku ganti sendiri." Tiara terpaksa menurut karena ketakutan.
"Ni anak kenapa sih hobinya maksa mulu kesel juga lama-lama" gumam Tiara dalam hati sambil berjalan menuju kamar mandi.
Tian yang juga mengikuti dari belakang membuat kaget Tiara saat didalam kamar mandi.
"Kamu mau ngapain." Ucap Tiara ketakutan karena tubuhnya terbuka dan hanya memakai tank top saja.
"Mau memberi kamu pelajaran biar paham dan peka." Jawab Tian yang mulai menarik pinggang Tiara secara paksa.
"Bentar- bentar aku ngaku aku salah aku minta maaf, oke. Sebenernya pas kamu kemaren sakit Dira coba deketin aku lagi tapi aku tolak ko, bener." Tiara berusaha menjelaskan agar Tian mau melepaskannya.
"Oh gitu, terus apa lagi?" Tian terus memancing kejujuran Tiara.
"Terus Kue dan bunga itu dari Dira juga." Ucap Tiara bersuara pelan.
"Oh gitu, terus ada lagi gak?" Tanya Tian tidak puas.
"Pas di kantin itu juga salah paham aja, aku gak maksud semeja sama Dira, intinya aku gak pernah ngasih harapan apa pun ke Dira." Tiara yang sudah mulai risi dengan jarak Tian mulai tidak nyaman karena terus mendorongnya sampai mentok ke dinding.
"Ya udah aku terima semua alasan kamu tapi karena kamu sudah berbohong dan kamu gak mau jujur juga kamu harus tetep terima hukumannya." Ucap Tian mulai nakal.
Tian pun langsung mencium bibir mungil Tiara kembali yang sedari tadi ditutupi Tiara. Tapi karena Tian membuka paksa akhirnya Tiara pun pasrah karena kalah besar tenaganya.
Setelah menerima ciuman Tian yang sedikit kasar diawal lambat laun Tian mulai lembut dan menikmati dengan sesekali memasukan lidahnya ke dalam mulut Tiara.
Tian yang sudah memastikan pintu kamar yang terkunci dan tidak akan ada yang mengganggu.
Membuat Tian sesekali mulai turun mencumbu leher dan pundak Tiara.Tian pun mulai nakal dengan meraba bagian tertentu Tiara, Tiara yang mulai merasa aneh lalu menghentikan ciumannya dan berusaha melepaskan tangan Tian.
"Jangan ian, lepas." Ucap Tiara bersuara pelan.
Tian yang menghiraukan permintaan Tiara kembali mencumbu Tiara lagi kemudian mulai nakal bergerilya kedalam pakaian Tiara.
Tiara yang kalah tenaga dengan Tian akhirnya membiarkan Tian melakukannya, Tian pun mulai merasa ada keinginan yang lebih hingga menurunkan tank top Tiara dan mencumbui bagian sensitif Tiara yang membuat Tiara merasakan suatu kenikmatan pada seluruh tubuhnya.
Serasa ada petir yang menyambar di seluruh aliran darahnya membuat tubuhnya menggeliat kenikmatan.
Tian yang mendapatkan respon dari Tiara membuatnya merasa leluasa melakukannya hingga beberapa tanda kepemilikan ada di sana.
Tian pun kembali mencumbu Tiara dan menghentikan keinginan yang lebih karena dia tidak ingin terjadi hal yang tidak baik di kemudian hari.
***
Mohon maaf kalo masih banyak typo-typo
Diusahakan pembaca diatas usia yang seharusnya.
Ditunggu vote, like dan favorite nya yaah ..
Happy reading all 😘😘😘😘
Terimakasih..
__ADS_1