
Hari ini seminggu sudah Tiara ijin dari sekolahnya, karena kecelakaan yang menimpanya dia terpaksa harus menunggu pulih dan rehat dari semua aktifitasnya agar tubuhnya cepat normal kembali.
Pagi ituTiara merasa sedih karena melihat bunga yang selalu dirawatnya setiap hari terlihat layu, Tiara yang saat itu sudah bisa berjalan walau masih terpincang-pincang dia berusaha berjalan ke Taman belakang dengan sangat hati-hati dia memberi sedikit pupuk dan air agar mendapat nutrisi bunganya yang sudah hampir mati itu.
"Sayang kamu lagi apa?" Tanya Ibu Tiara yang baru pulang berbelanja melihat anak kesayangannya sedang berada di taman bunga belakang.
"Ini mah lagi siram bunga, hehe." Tiara tersenyum simpul takut Ibunya marah.
"Mamah tahu kamu suka banget sama bunga, tapi kan kamu masih sakit." Kata Ibu Tiara kawatir.
"Iya mah, ini juga udah ko."Jawab Tiara kembali sambil berusaha berjalan kembali ke dalam rumah.
"Maafin mamah ya karena gak bisa setelaten kamu mengurus bunganya, sekarang malah pada layu deh." Ucap Mamahnya kembali merasa menyesal.
"Iya gak papa ko mah, Tiara sebentar lagi juga baikan nanti bisa berkebun lagi kalo udah sembuh, lagian juga mamah kan juga sibuk banyak pekerjaan, Tiara maklum ko mah gak papa." Jawab Tiara menenangkan Ibunya agar tidak merasa bersalah.
Sore hari Tiara kedatangan Kia dan Tian, Tiara merasa beruntung karena mempunyai sahabat seperti Kia dan Tian, mereka selalu ada disaat Tiara sakit dan Tian selalu membantu Tiara mengejar ketertinggalan dalam pelajaran.
Namun saat ini Tiara sedang memikirkan bagaimana cara mengejar ketinggalan nilainya, ya begitulah Tiara karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya, saat sakit pun Tiara selalu belajar agar saat dia kembali ke sekolah nanti otaknya masih terisi dan tidak begitu ngblank.
Tiara tidak mau sampai prestasinya anjlok gara- gara ijin sakit yang sangat lama.
Jika bukan karena kepedulian Tian mungkin Tiara akan kerepotan mengejar pelajaran yang sudah lewat.
" Hai, kamu lagi apa ?" tiba-tiba terdengar Dira dari belakang saat Tiara di dalam kamar membaca buku sedang duduk di meja belajar.
" Kamu kapan datang?" ko gak ketuk pintu dulu ?"dengan mata melotot dan kaget Tiara sedikit marah karena merasa Dira tidak sopan.
"Barusan, Mamah kamu nyuruh aku langsung kesini, dan karena pintu kamu terbuka jadi aku kira tidak apa-apa kalo aku tidak mengetuknya dulu." Dira yang melihat Tiara saat itu sudah marah hanya berusaha tenang dan tidak membuat Tiara makin benci.
"Baiklah, kita ngobrol diruang tamu aja" Ucap Tiara kemudian.
Tiara yang masih pincang berjalan dengan sigap Dira pun membantu memapah sampai ruang tamu, Tiara pun tidak menolak bantuan Dira karena memang masih merasa sulit jika berjalan sendiri, tiba-tiba Tian dan Kia yang saat itu juga datang dan sudah disambut hangat oleh Ibu Tiara di pintu depan melihat Dira sangat dekat dengan Tiara kaget.
Seketika Tiara melepaskan genggaman dari tangan Dira dan menahan tubuhnya dengan menyender ke dingding karena Tian memandang Tiara dengan tatapan sangat menyeramkan.
Dira yang tau kalo Tian pasti tidak suka melihat kejadian itu memanfaatkan situasi tersebut dengan terus membantu Tiara sampai duduk di kursi.
Tian terlihat sangat emosi dan marah saat melihat tangan yang diletakan Dira dipinggang Tiara karena terlihat sangat intens
Untungnya Kia yang tahu kalo Dira sedang memanfaatkan situasi untuk membuat Tian cemburu.
Segera menenangkan Tian dengan menepuk bahu Tian beberapa kali.
Tian pun mereda walau tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat cemburu melihatnya.
Tiara yang tidak punya pilihan lain lagi selain menerima bantuan Dira hanya berusaha bersikap normal meski wajahnya yang terasa mulai memanas padahal AC saat itu jelas-jelas membuat ruangan sangat dingin.
__ADS_1
Tian dan Kia memang tidak pernah absen mengunjungi rumah Tiara begitu pun Dira yang selalu menemani Tiara dan berusaha mengambil hati Tiara, tapi sayang Tiara selalu menjaga jarak dan lebih memilih untuk tidak banyak berinteraksi dengan Dira.
Hari itu terasa sebuah kemenangan untuk Dira, susana pun sangat panas dan tidak ada yang memulai dalam pembicaraan, sayangnya kesenangan Dira hanya sesaat. Karena Ibu Tiara telah berhasil mencairkan suasana kembali dibantu Kia yang sangat bisa diandalkan.
Akhirnya Tian pun dapat duduk berdua dengan Tiara kali ini bukan di taman belakang tempat favorite Tiara atau di ruang tamu yang selalu menjadi tempat Tiara menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya itu melainkan saat ini kami berada didalam kamarnya Tiara.
Tian merasa mendapat jackpot karena berkat bantuan dari ibu Tiara sebelumnya Tianlah yang membantu Tiara berjalan kembali ke dalam kamar Tiara. Pintu kamar Tiara sengaja dibiarkan terbuka karena Tian tidak mau mendapat pandangan jelek dari Ibu Tiara.
Dan Kia yang sangat memahami situasi dengan sigap mencegah Dira saat hendak mengekori Tian dan Tiara masuk ke kamar untuk belajar. Atau lebih tepatnya untuk mendapatkan waktu berdua agar lebih dekat lagi ,hehehe....
" kamu marah ya." Tanya Tiara dengan suara pelan karena melihat Tian yang masih menekuk bibir sexinya.
"hmmm...." jawab Tian dingin dan ketus.
" Aku kalo gak sakit juga gak mau dibantu kayak tadi, ko.'' Ucap Tiara berusaha menjelaskan. Tiara yang merasa diacuhkan hanya menundukan kepalanya karena merasa bersalah.
"Iya gak papa, aku ngerti ko. Maaf ya aku emosi dan gak mengerti situasi kamu.
Tapi lain kali kalo pun kamu sakit jangan coba- coba lagi bersikap seperti tadi dengan cowok lain yah, kamu bisa mengandalkan aku" Ucap Tian mengancam dengan memukul pelan kening Tiara dengan pensil yang tidak terasa terlalu sakit namun sedikit membuat Tiara kaget karena perlakuan Tian itu.
Tiara yang merasa berdebar dadanya memberanikan diri melihat wajah Tian yang saat itu sedang memandang Tiara dengan tersenyum penuh pesona dari jarak dekat, Tiara langsung merasa canggung dan kaku.
"deg..." satu kali lagi Tiara merasa dentuman jantungnya seakan mau loncat saat Tian memegang tangan Tiara yang sudah dingin tidak karuan. Wajah Tiara yang sudah panas semakin terasa panas dan ingin sekali menutupinya karena malu.
Jelas terasa sentuhan lembut tangan Tian yang mengelus punggung tangan Tiara, Tangan Tian sangat hangat dan sangat besar dibanding tangan Tiara yang kecil.
Tiara merasa nyaman dan senang secara bersama tapi juga heran karena sebelum-sebelumnya Tian tidak pernah seberani ini.
"Mam,, maksud kam..mu termasuk Ayah dan om Andri?"Tanya Tiara balik dengan terbata-bata.
"Emmm ... sebenarnya dulu awal sebelum aku tahu kalo Pak Andri itu adalah om kamu, iya aku gak suka, apalagi aku selalu melihat kamu diantar jemput setiap hari sama Pak Andri. Aku sangat marah tapi juga gak bisa berbuat apa apa, aku kayak orang bodoh tau gak, aku sangat tidak suka melihat kamu seperti itu dengan pak Andri tapi sekarang nggak marah lagi setelah tau ternyata pak Andri adalah om dari ibu kamu apalagi Papah kamu, beliau lebih berhak atas kamu dari laki-laki manapun di dunia ini"Ucap Tian dengan penjelasan panjang lebar sambil menarik tangan Tiara supaya dapat menyentuh pipinya, Tian seketika menutup matanya dan merasakan kelembutan tangan Tiara.
"Emang kamu nyangka om Andri itu siapa aku dulu?" Tanya Tiara kembali yang menikmati wajah tampan Tian dan mulai mengelus kulit lembut wajah Tian.
" Orang yang mau dijodohin sama kamu." sambil membuka mata dan meletakan tangan Tiara dengan hati-hati Tian kembali menggenggang tangan Tiara dengan lembut.
Tiara yang mendengar penjelasan Tian hanya tertawa.
"Emang kamu gak pernah nanya ke Kia?" Tanya Tiara lagi sambil tertawa dan membuat Tian malah seperti menikmati ekspresi Tiara yang terlihat imut dengan menekuk wajahnya dan tersenyum.
"Nggak." Jawab Tian yang masih memandang Tiara
"kenapa?" Tanya Tiara yang juga masih menikmati wajah Tian yang membuat meleleh para wanita.
" Waktu itu, aku gak berani bilang kalo aku suka sama kamu. Jadi aku cuma ngintilin Kia aja supaya bisa dapet informasi banyak tentang kamu." Ucap Tian penuh penjelasan dan pengakuan.
"Oh, begitu." Jawab Tiara singkat sambil mengangguk - anggukan kepalanya dan tersenyum kecil karena pengakuan Tian yang spontan.
__ADS_1
"Iya, jadi mulai sekarang kamu mau kan kalo aku minta untuk jaga jarak dengan Dira dan dengan cowok lain juga?" Ucap Tian penuh permintaan dan penegasan.
"Aku mau, asal kamu jangan terlalu protektif aja" Jawab Tiara singkat. Tiara tidak ingin mengajukan pertanyaan lebih lanjut lagi seperti menanyakan kapan kamu mulai suka atau apapun itu, Tiara merasa pertanyaan itu tidak perlu diajukan karena sudah tau jawabannya.
Tian pun melepaskan tangan Tiara dan memulai membantu Tiara menyalin materi dan menjelaskan beberapa hal tentang pelajaran yang telah berlangsung hari ini.
Tak lama kemudian ibu Tiara masuk membawa cemilan dan minuman dingin.
Ibu Tiara kemudian meminta supaya Tian dan Tiara langsung ke meja makan jika sudah selesai belajarnya.
Keesokan paginya Bu Rena sebagai wali kelas menjenguk Tiara ditemani Kia dan Tian yang datang sebagai Ketua kelas dan Sekretaris kelas sebagai perwakilan dari teman sekelas untuk melihat kondisi Tiara.
"Ting.. tong..ting..tong.. Assalamualaikum.." Terdengar suara seorang perempuan dari pintu depan, tak lama ibu Tiara membukakan pintu sembari menjawab salam dari dalam.
"Eh,,, ada tamu. Silahkan masuk." Ucap ibu Tiara menyambut hangat dan mempersilahkan duduk setelah didalam ruang keluarga.
Tak lama kemudian ibu Tiara datang dengan membawa minuman dingin dan beberapa cemilan kecil, dan buah-buahan yang dibawa oleh bu Rena, lalu kemudian duduk tidak jauh dari Tiara.
"Silahkan di minum, mohon maaf seadanya." Kata ibu Tiara basa-basi.
" Terimakasih mba, aduh jadi ngerepotin." Jawab bu Rena spontan, sontak Kia dan Tiara saling tapan memberi kode.
"ih, gak ngerepotin ko, silahkan diminum ." Ucap Ibu Tiara basa-basi lagi.
"Tiara bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Bu Rena lembut sambil tersenyum.
"Alhamdulillah sudah agak baikan Bu,," Jawab Tiara yang terlihat masih lesu namun berusaha tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya.
"Syukurlah, semoga cepat sembuh dan cepat masuk lagi sekolah yah, nanti untuk ketertinggalan pelajaran Kia dan Tian tolong bantu Tiara nyah" Tutur Bu Rena kembali menyemangati sambil memberi instruksi Tian dan Kia.
"Iya bu,,," Jawab Tian dan Kia hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.
Tak lama bu Rena, Kia dan Tian pamit untuk kembali ke sekolah.
"Mah, ko Tiara liat mamah akrab banget sama bu Rena, Om Andri juga kayak akrab banget. Emang Mamah sama om Andri kenal sama bu Rena?" Tanya Tiara penuh penasaran.
"hmm emmm, bu Rena itu adalah adik kelas sekaligus teman dekat om Andri dulu saat duduk di SMA. Bu Rena juga sering main ke rumah oma(Nenek dari ibu Tiara)dulu." Ucap ibu Tiara menjelaskan.
" Maksudnya bu Rena itu pacarnya om Andri semasa SMA mah?" Tanya Tiara balik penuh penegasan. Mata Tiara sontak langsung membulat saat mendengarnya.
"Ya, apalah itu namanya,," Jawab ibu Tiara sambil tersenyum sambil mengangkat bahunya, seperti memberi kode pada Tiara bahwa anggapan Tiara tidak salah.
****
Hai, semuanya mohon maaf sekali karena episode ini agak lama saya uploadnya.
Semoga pembaca yang setia terus bertambah dan ditunggu komentar sarannya serta votenya yaaa...
__ADS_1
Supaya kedepannya saya bisa lebih baik lagi dan lebih semangat lagi membuat kelanjutan ceritanya
I Love You All...😘😘😘