
Pagi hari Tiara bangun seperti biasa dan semua orang melakukan kegiatan yang sama terkecuali satu orang yang mulai berperilaku berbeda.
Pagi hari ini Andri baru pulang saat semua orang sudah dimeja makan, semua merasa aneh.
Lalu Rika pun mulai menginterogasi Andri yang tak pulang semalam setelah terlihat keluar sudah berpakaian rapih dari kamarnya.
"De gak sarapan?" Tanya Rika yang melihat adiknya malah ke mini bar membuat kopi
"Nggak mba, aku udah sarapan tadi." Ujar Andri sambil membuka koran pagi.
"Kamu kemana ko gak pulang semalam?" Tanya Rika terlihat marah sambil memegang kedua pinggangnya.
"Itu mba Andri nemenin Vino ngejagain Tian di rumahnya." Jawab Andri sambil duduk dan menyeruput kopi didepannya mengalihkan pandangannya.
"Emang kenapa lagi sama Tian?" Tanya Rika khawatir lalu seketika langsung hilang wajah marahnya.
"Nggak apa-apa mba, sebenernya Andri disana karena memang selain menjaga Tian yang baru pulih Andri juga baru baikan sama Vino mba, karena kita kelamaan ngobrol sampai lupa waktu jadinya Andri putuskan menginap saja."
Andri langsung menenangkan Rika yang terlihat khawatir mendengar Tian tapi lalu Andri menurunkan sedikit nada suaranya karena malu mengakui perselisihan dengan Vino.
"Huh, Tian kenapa lagi Om?" Tanya Tiara yang barus saja keluar dari kamar mandi dan mendengar Tian disebut-sebut saat melewati mini bar.
"Tian? Tian gak apa-apa ko sehat-sehat aja dia, hari ini dia juga kayaknya tadi mau jemput kamu deh." Tukas Andri gelagapan karena merasa malah runyam kondisinya.
Rika yang melihat Andri kebingungan malah tertawa karena terlihat lucu, seperti anak kecil yang baru kepergok berbuat nakal.
Sedangkan Andri merasa kikuk karena harus berbohong pada kakaknya.
"De, emang kamu berantem sejak kapan? pantesan mba ngerasa gak enak pas pertama kali melihat kalian yang pada acuh satu sama lain. Padahal mba langsung ingat loh wajahnya Vino karena mba kan sering lihat difoto yang kamu pajang di kamar. Berantem ko kalah sama anak kecil sih malu-maluin kalian." Rena tertawa sejadi jadinya sambil mondar-mandir membawa piring kosong.
"Maksudnya mba?" Tanya Andri yang takut salah mendengarkan sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, anak kecil itu kalo ngambek cepet baikannya lah ini kalian malah lama banget berantemnya, gak malu?." Rika sambil mencuci piring yang kotor.
Andri hanya tertawa sambil menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal, dan Rika hanya terkekeh lucu melihat adiknya bersikap seperti itu.
"Oh iya nanti ajak Vino main kesini ya de, dulu katanya pengen main kesini." Ucap Rika yang menghentikan aktivitasnya.
"Dia udah balik ke Ibu Kota mba, lagian dia kan orang sibuk. Gak tahu juga kapan ada waktu luangnya." Jawab Andri sambil berjalan menuju tas yang dia simpan di kursi meja makan.
"Ya sesempatnya dia aja jangan kalo lagi sibuk, gimana sih kamu tu." Ucap Rika sambil memotong sayuran.
"Iya, nanti aku sampein, aku berangkat ya mba." Ucap Tian sambil berjalan.
"Iya, hati-hati di jalannya" Jawab Rika yang melihat adiknya sudah berlalu.
Tak lama Riko pun pamit berangkat kerja lalu disusul Tiara.
Tiara langsung menghampiri Tian saat terlihat sudah ada didepan rumahnya lalu Tian memakaikan helm pada Tiara, Tiara pun segera menaiki motor Tian, dan merekapun berangkat.
Mereka pun bertemu Kia diparkiran saat terlihat boncengan dengan kakak kelasnya.
Kia pun menghampiri Tian dan Tiara untuk barengan menuju kelas.
"Heh sejak kapan ko gak pernah cerita." Tiara menyenggol Kia yang sejak tadi terus tersenyum.
"Sejak kapan-kapan, apaan dih orang itu tetangga gue yeeee...." Jawab Kia santai.
"aaaah boong luu iya kan, iya kan. Ucap Tian menggoda.
"cie..cie.. " Ucap Tian dan Tiara berbarengan meledek Kia.
"Selamat yah akhirnya lo gak jomblo lagi." Ucap Tiara yang ikut berbahagia.
" Deuh kalian berdua yaah kalo udah ngeledek gue aja kompakan. Bodo akh, terserah kalo gak percaya." Kia sambil berjalan terlihat kesal di wajahnya.
Tian dan Tiara terus tertawa menggoda Kia yang ngambek berbeda dengan seseorang yang sedari tadi tidak senang melihat keceriaan Tian dan Tiara membuat emosinya naik dan wajahnya sangat terlihat kesal.
Kia akhirnya cerita yang sedari tadi berhasil digoda Tian dan Tiara namun sayangnya tidak berlangsung lama karena terpotong pembicaraannya saat seseorang siswi menghampiri Tiara dan memberikan bunga mawar dan sebuah kado.
__ADS_1
"Dari siapa?" Tanya Tiara pada siswi yang menghampirinya itu, tapi siswi itu hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum menghindar.
Tian yang sudah terlihat tidak suka langsung mengambil kado segiempat dari tangannya Tiara dan langsung membukanya.
Di dalamnya ternyata cake box rasa coklat Tian pun langsung melihat ke sekeliling menyelidik orang yang mengirimnya, sedangkan Kia mengambil surat yang terselip lalu dibaca bersama Tiara yang berisi kata-kata.
"Semoga kamu suka dan aku harap kamu menikmatinya. Dira."
Kia langsung saling tatap dengan Tiara sedangkan Tian terlihat masih sibuk menyelidik Kia pun seketika memasukan suratnya ke saku roknya.
"Udah lah mungkin penggemar biasa aja, anggap aja rejeki ya nggak. Lo juga gak suka bunga kan Ra sini buat gue aja." Ucap Kia berusaha berekspresi tenang untuk mencairkan suasana sambil mengambil kue dan bunga.
"Awas yah kamu macem-macem dibelakang aku." Tian masih kesal lalu menarik pundak Tiara dan dan membisikkannya ke telinga. Tiara hanya tersenyum cemas sambil mengganggu kan kepalanya.
Mereka pun melanjutkan langkahnya menuju kelas namun saat di depan kelas Tian melihat Dira seperti sedang menunggu.
Tian langsung kesal saat melihat Dira dan langsung berubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dingin, Tian lalu menggenggam tangan Tiara dan membiarkan Dira melihatnya.
Dira pun terlihat kesal dan langsung kembali ke kelasnya dengan hati yang dongkol.
"Mau ngapain lagi tu anak?" Ucap Tian kesal sambil menyimpan tasnya di meja.
"Udahlah palingan juga dia cuma iseng." Celetuk Kia mencoba membuat suasana tenang. Tiara hanya mengangguk kepala tersenyum.
"Awas aja kalo ada apa-apa." Ucap Tian kembali terlihat masih emosi saat melihat Tiara. Tiara hanya terdiam tak mau menanggapi Tian.
Saat jam pertama sudah selesai Tiara ke toilet karena kebelet pipis, tak sengaja Tiara ketemu Dira lagi saat keluar dari toilet.
"Ra tunggu," Sambil menarik tangan Tiara.
"Apa sih?" Tanya Tiara berontak.
"Kamu balikan lagi sama Tian?" Tanya Dira sambil mendekati tubuh Tiara.
"Eh lo jangan macem-macem yaa Ra, lagian siapa juga yang putus sih?" Jawab Tiara menjauh dari Dira berbalik badan.
Dira yang hendak menghentikan Tiara terhenti begitu pun Tiara yang terkejut sampai melotot dan menegang karena Tian ada di depannya.
"Udah ian kita ada kelas, Dira lo mendingan balik deh ke kelas." Ucap Tiara yang langsung memeluk Tian dan mengusir Dira dari sana.
Dira pun pergi dengan muka yang sangat kesal, dan Tian pun tak kalah emosinya wajahnya terlihat kesal hingga Dira berlalu.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana." Ucap Tian lalu masuk ke toilet laki- laki Tiara hanya mengangguk dengan wajah masih sedikit tegang dan menunggu Tian sampai keluar.
Saat Tian keluar tangan Tiara langsung ditarik dan Tiara tidak melakukan perlawanan sama sekali.
Mereka pun kembali ke kelas bersama-sama dan ternyata guru mata pelajaran Kimia yang harus mengajar hari itu absen, lalu Tian pun menarik kembali Tiara untuk menemaninya ke ruangan guru Kimia untuk mengecek tugas diberikan.
Tian pun dan Tiara berjalan sejajar menuju ke ruangan guru Kimia yang jaraknya lumayan jauh karena harus turun satu tangga dan melewati lapangan upacara dan lapangan basket.
Tian yang saat itu sedang berjalan di koridor sekolah menyadari bahwa Dira sedang memperhatikan Tiara dari arah lapangan basket Tian pun langsung menggeser tubuhnya agar menutupi tubuh Tiara dari pandangan Dira, pandangan Dira pun buyar dan langsung bertemu pandang dengan Tian dengan wajah yang kesal.
Mereka pun saling pandang cukup lama hingga Tian yang sengaja merangkul pundak Tiara membuat Dira berdecih dan menyunggingkan senyumnya.
Tiara yang sadar dengan sikap Tian langsung tahu bahwa itu karena Dira. Tiara hanya diam berusaha tenang dan terus berjalan tak ingin membuat Tian salah paham lagi.
Setelah sampai di ruang guru, Tian pun membawa tugas yang sudah disiapkan.
Lalu saat menuju ke kelas Tian tiba-tiba mendorong Tiara sampai mentok saat berada di tangga yang sepi.
"Ada apa sebenarnya diantara kalian?" Tian terus mendekatkan wajahnya pada Tiara.
"Gak ada apa-apa ko, maksud kamu gimana sih?" Tanya balik Tiara karena belum mengerti dan berusaha menahan tubuh Tian agar memiliki jarak.
" Kamu tahu kan kalo aku gak suka kamu deket sama cowok lain, terus tadi apa?" Tanya Tian terlihat emosi dan sedikit berteriak.
"Iya tahu, aku kan gak pernah deket sama siapapun." Ucap Tiara memperjelas sambil memalingkan wajahnya yang sudah sangat dekat beberapa mm dengan Tian.
"Lalu Dira apa? kenapa dia seperti itu sama kamu?Tanya Tian sambil terus mendekati wajah Tiara.
__ADS_1
"Ya aku gak tau.. " ucap Tiara yang berusaha lepas dari tubuh Tian.
" Kamu mau jujur atau aku cari tahu sendiri." Ucap Tian mengancam sambil menarik pinggang Tiara mendekat.
Tiara yang masih bingung dan mencari- cari kesalahan apa yang sudah dia perbuat hanya diam dan menahan agar Tian tak berbuat aneh-aneh.
Dira yang tak sengaja akan melewati tangga juga melihat pertengkaran Tian dan Tiara merasa penuh kemenangan.
Namun Dira menjadi sedikit kesal saat Tian yang sangat berani seperti itu pada Tiara.
Dira pun memilih berbalik badan dan mengambil jalan lain.
Setelah sampai kelas Tian mengirim pesan pada Kia dengan sedikit ancaman sampai akhirnya Kia pun membalas pesan Tian dan menceritakan semuanya.
Tiara yang saat itu baru datang karena ditinggalkan Tian dan lebih memilih mematung di tangga, terlihat wajahnya sangat kesal sampai mengerutkan dahinya dan bibirnya mengerucut.
Kia hanya diam tanpa menanyakan apapun pada Tiara. Tiara pun tak ingin berbicara sedikit pun pada Kia dan memilih diam.
Sampai saat istirahat tiba Tiara yang masih kesal dengan sikap Tian sudah lebih dulu ke kantin seorang diri tanpa mengajak Kia ataupun Tian.
Tian yang melihat sikap Tiara hanya membiarkannya saja karena Tian merasa Tiara butuh sendiri untuk berpikir.
Kia yang merasa tidak enak langsung menyusul Tiara ke kantin. Hanya Kia saat di koridor berbelok ke toilet wanita dulu karena ingin buang air kecil.
Saat sampai di kantin Tiara langsung memesan minuman dingin dan membeli beberapa cemilan pedas, Tiara hanya duduk seorang diri di meja kantin sampai tiba-tiba Dira lagi-lagi mendekati Tiara seperti sengaja membuat suasana semakin panas.
"Lo ngapain lagi sih?" Tanya Tiara kesal pada Dira.
"Gue cuma nemenin lo aja Ra, emang gak boleh? Ucap Dira sambil memberikan minuman dingin pada Tiara.
"Gak usah gue udah pesen makanan" Ucap Tiara menolak.
"Ya gak apa-apa biar keselnya cepet hilang kan lagian juga punya kamu belum ada kan?" Ucap Dira yang melihat pesanan Tiara sedang dibuat.
"Oke gue terima minuman lo, tapi lo jangan ke geeran yah." Ucap Tiara yang merasa ucapan Dira ada benarnya juga.
Tian yang juga menyusul Tiara ke kantin memergoki Tiara sedang duduk bersebelahan sangat dekat dengan Dira dan menerima minuman dari tangan Dira lalu meminumnya.
Tian yang tidak terima langsung menghampiri Tiara dan menggeser Dira lalu mengambil minuman dari tangan Tiara.
"Awas lo ngapain deket-deket cewe gue." Tanya Tian emosi membuat sebagian murid lainnya kaget.
"Ya emang kenapa? dia juga mantan gue." Ucap Dira tak mau kalah meninggikan suaranya.
Tiara yang saat itu juga kaget langsung menarik tangan Tian untuk pindah meja lain agar menjauh dari sana.
Dan Kia yang saat itu baru tiba dan melihat keributan langsung lari kearah Tiara.
"Kenapa Ra?" Ucap Kia sambil menghampiri Tiara dan terlihat Tian dan Dira masih saling beradu pandang karena emosi.
"Loe kemana aja sih, lama banget?" Tanya Tiara kesal.
"Gue tadi ke toilet dulu Ra sorry." Ucap Kia merasa bersalah.
Tian yang masih terlihat kesal langsung meneguk minuman pesanan Tiara yang baru datang.
Tiara yang terkejut hanya berusaha tenang takut Tian terpancing emosinya lagi.
Kia yang melihat kedua sahabatnya itu sedang tegang akhirnya memilih pergi memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Kamu kenapa sih, gak pernah denger mau aku, apa aku harus kasih kamu hukuman disini supaya kamu jera." Ucap Tian mengancam Tiara dengan wajah penuh emosi.
Tiara yang saat itu kaget dan melihat wajah kesal Tian hanya menggelengkan kepalanya sambil melotot mendengar ancaman yang memalukan itu lalu Tiara pun memegang tangan Tian dan tersenyum dengan manis menggoda Tian.
"Cih, gak mempan pake cara lain kalo pengen aku cepet turun emosinya." Ucap Tian memberi kode.
***
Hai semuanya, seneng banget kalo liat view yang terus bertambah.
__ADS_1
Aku tunggu vote dan likenya yah, jangan lupa favoritkan juga novel ini.
I love you all 😘😘😘😘