CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
SALAH PAHAM 2


__ADS_3

Sebelum pulang om Andri ingin membawaku ke RS terdekat tapi aku menolak, karena aku sangat benci RS dan selalu tidak nyaman berasa di RS, aku beralasan bahwa lukaku tidak parah. Kami pun sepakat memutuskan untuk pulang kerumah tanpa memberi tahu orang rumah sebelumnya bahwa aku terluka dan mengalami kecelakaan.


Sesampainya di rumah aku langsung masuk dibantu om Andri dengan membawaku ala bride style, untuk kedua kalinya aku merasakan otot-otot kekar pamanku yang menjadi impian setiap wanita.( hehehee) gumamku dalam hati merasa senang mendapat kesempatan ini.


Aku langsung dibawa menuju kamarku dan kami sepakat akan memberitahu pada orang rumah bahwan ini hanya murni kecelakaan yang tidak disengaja, supaya mereka tidak terlalu hawatir ataupun memperpanjang masalah.


Entah bagaimana jadinya jika ayahku mengetahui kebenarannya bahwa anak yang sangat disayanginya tertabrak karena kelalaian si pengendara. Aku takut akan terjadi hal yang diluar dugaan seperti saat kak Tika dilecehkan pemuda sekitar komplek tahun lalu, Ayah saat itu murka marah besar sampai memberi peringatan keras pada pemuda tersebut dan keluarganya, sampai mereka pindah rumah seminggu kemudian, semenjak saat itu tidak ada lagi yang berani menggoda atau melecehkanku.


Yah, begitulah Ayahku saking sayangnya. Ayahku bisa sangat tegas dan bisa sebuas Srigala jika anaknya atau keluarga terancam atau dilecehkan, Ayahku juga selalu mengambil langkah dengan cepat tanpa memandang bulu.


Maka dari itu aku dan om Andri sepakat menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi walaupun itu belum pasti karena si penabrak bukanlah orang asing bagi keluarga kami.


Sore hari aku sedang berada di ruang keluarga sambil menonton TV bersama ibuku, om Andri hanya banyak melakukan aktifitasnya didalam kamar.


"Tok..tok..tok..Assalamualaikum." Terdengar suara seseorang dari balik pintu depan.


"Waalaikumsalam," Jawab kami yang mendengarnya, Ibuku langsung berdiri meninggalkanku sendiri melangkah menuju pintu depan.


"Sore tanteu, apa kabar? Ucap seseorang pada ibuku sangat sopan.


"Eh, ada nak Dira, Alhamdulillah kabar baik, nak Dira apa kabar? ko udah lama gak pernah main ke sini lagi?" Tanya Ibuku hangat sambil mempersilahkannya masuk.


"Alhamdulillah saya juga kabar baik, kebetulan belakang ini sedang sedikit sibuk Tanteu, jadi belum sempat lagi main kesini." Ucap Dira yang sekarang sudah berada di ruang tamu memberikan alasan, sontak aku kaget karena Dira datang ke rumahku.


"Sayang ada nak Dira nih?" Ucap mamahku sambil tersenyum, aku hanya diam tanpa ekspresi. Karena jujur saja tidak sedikit pun mengharap dia datang.


"Nak Dira duduk dulu yah, Tanteu kebelakang dulu bikinin minum." Ucap ibuku mempersilahkan Dira dengan sopan.


" Oh, iya tanteu. Oh iya, ini ada sedikit makanan Tanteu." Ucap Dira sambil memberikan parcel buah ke mamahku.


"Ih ko repot- repot sih, makasih ya. Wah ini buahnya kesukaan Tiara semua nih." Ucap mamah receh sambil melirikku yang acuh dan memilih menonton TV. Karena mama tak mendapatkan jawaban apapun dariku mamapun langsung ke dapur untuk membuat minuman.


"Gimana keadaanmu sekarang?" Ucap Dira padaku.


".. .. ... ...." aku hanya diam tanpa berekspresi apapun.


"Maaf yah, gara- gara aku kamu terluka," Ucap Dira sendu sambil menatapku.


"Emmm, iya gak papa." Jawabku singkat. Tiara yang masih mengacuhkan Dira membuat suasana tidak nyaman dan kikuk, tak lama handphone Tiara berbunyi.

__ADS_1


"Drrrrrttt..drrrrrttttt.." Suara handphone Tiara bergetar. Ternyata ada chatt masuk dari no tak dikenal yang berbunyi.


"Hai Ra, ini aku Tian. Aku minta no kamu dari Kia, kamu gak marah kan kalo aku save no kamu di handphoneku? Karena intruksi dari Kia sebelumnya mengatakan bahwa aku akan mendapatkan no handphone kamu setelah Kia mendapatkan ijin langsung dari kamu. Jadi harusnya kamu gak marah yaaa...


Hari ini aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, aku ingin memastikan keadaanmu, aku akan lebih senang jika kamu memintaku langsung untuk membeli sesuatu yang sedang kamu butuhkan sekarang, entah itu makanan ataupun apapun." Itulah isi chatt pertama dari Tian yang membuat Tiara tersenyum setelah beberapa waktu lalu Tiara hanya memasang wajah kecut karena kehadiran Dira.


"Anjay ini gak salah ni, ini beneran isi chatt Tian, hahahaa udah kayak naskah aja, panjang amat Tian ngomong lewat satu kali chattnya." Gumam Tiara dalam hati walau tak dapat dipungkiri bahwa saat ini hatinya berbunga-bunga oleh isi chatt Tian.


"Iya gapapa, save aja aku ijinin ko. Aku lagi gak butuh apapun atau pengen makan apapun. Tapi aku akan menerima apapun yang kamu kasih, aku hanya tidak suka bunga ataupun benda apapun yang hanya bersifat sementara." Tiara membalas chatt dengan senyum bahagia seperti lupa bahwa sekarang Dira sedang memandangnya tanpa henti.


" oke, kalo gitu aku akan tanya Kia makanan favorite kamu, atau apa pun kesukaanmu, jangan lupa save juga no handphoneku karena sepertinya aku akan sering menghubungimu nanti." Balas Tian kembali membuat senyumTiara terukir dengan manis.


Tiara yang saat itu sangat asyik dengan dunianya sendiri membuat Dira terheran-heran dengan perubahan Tiara yang tadinya sangat muram saat kedatangannya tapi tiba-tiba menjadi ceria setelah mendapat chatt dari seseorang, Dira sangat penasaran pada isi chatt yang membuat Tiara sampai tersenyum sebahagia itu, Dira hanya yakin bahwa Tiara sedang mempunyai gebetan tapi Dira tidak akan menyerah jika pun itu benar.


Karena ini adalah kesempatan Dira untuk mendapatkan kembali hati Tiara, siapapun orangnya Dira akan bersaing dengannya secara sportif.


Cukup sekali saja Dira melakukan kesalahan dimasa lalu, meninggalkan Tiara karena hasutan orang lain dan itu adalah tindakan terbodoh Dira. Dira menyesal dan ingin memperbaiki kesalahan yang lalu karena masih menyayangi Tiara.


Namun Dira tidak tahu bahwa saat ini Tiara memang sudah berpaling pada Tian sejak mereka bertemu, sakit yang dulu diberikan Dira membuat Tiara tak ingin melihat Dira lagi. Seharusnya dulu Dira tidak meningalkan Tiara tanpa alasan bahkan hubungan pun telah di gantung Dira dengan kejam.


Tiara yang saat itu bingung dengan sikap Dira yang tidak memberi kejelasan merasa sakit hati yang teramat.


"Nak Dira, silahkan di minum ini kuenya kesukaan nak Dira loe, silahkan dinikmati ya. Tanteu tinggal dulu ke belakang." Ucap mama


sambil menyajikannya di atas meja.


Dira yang sudah akrab dengan keluargaku sudah tak sungkan lagi untuk berinteraksi.


"Wah, ini kuenya buatan tanteu yah?" Ucap Dira sambil mencicipi kue kering yang di sajikan.


"Wah, hebat nak Dira. Masih tau aja kue buatan Tanteu." kata ibu Tiara dari arah dapur yang terdengar senang.


"Pasti dong tant, rasa kue tanteu kan beda dari yang lain. Dira selalu kangen dengan kue tanteu yang khas ini." Ucap Dira menjilat kata-kata sambil melirikku dengan mengedipkan satu matanya. aku yang melihatnya hanya berdecih dan lebih memilih fokus lagi melihat layar televisi.


"Ah, masa sih. Apa perlu Tanteu bungkusin buat di bawa pulang ." Ucap mamaku kembali dengan suara penuh kesenangan.


"Boleh tanteu, mamah pasti seneng banget dikasih oleh- oleh kue buatan Tanteu." Ucap Dira sambil menekuk wajahnya melihatku tanpa berkedip.


" Ting tong, ting tong." Suara bell berbunyi. Mama yang sedang kerepotan di dapur meminta Dira membukakan pintu depan.

__ADS_1


"Dira? Loe ngapain disini". Ucap seseorang dari luar.


Tak lama terlihat muncul Kia dan Tian ke arah ruangan tamu dengan membawa jingjingan batagor favorite Tiara dan boneka teddy bear yang dipeluk Tian cukup besar. Seketika wajah Tiara ceria tidak seperti sebelumnya selalu ketus dan muram.


Tiara sangat bahagia saat Tian membuktikan maksud isi chatt yang dikirim sebelumnya, yaitu dengan memberinya boneka teddy bear kesukaannya, dan membawa batagor makanan kesukaannya yang tentu saja karena Tiara tahu bahwa jaraknya yang sangat jauh dan tempatnya berlawanan arah dengan arah menuju kerumahnya, begitupun dengan antrian yang sangat panjang karena saking populernya batagor yang disukai Tiara, Tiara sendiri saat membelinya harus memesan beberapa jam sebelumnya atau mengantri dengan lama agar bisa makan batagor ini, senyum bahagia memenuhi wajah Tiara yang terlihat lebih manis dan cantik, Tiara sangat menghargai semua pemberian Tian.


"Makasih ya." Ucap Tiara yang merangkai senyum ceria penuh banyak arti saat menerima boneka beruang besar dari Tian.


"Iya, sama- sama, semoga cepat sembuh yah" Kata Tian sambil menatap Tiara, Tian merasa senang karena Tiara terlihat menyukai pemberiannya. Kemudian Tianpun duduk diseberang Dira yang tak jauh dari Tiara dan Kia.


"Ra, gimana keadaan loe sekarang? Pasti sakit banget ya?" Tanya Kia sendu menatapku penuh kekawatiran sambil duduk mendekati Tiara.


"Banget, gue berasa linu semua badan Ki." Jawabku pelan karena merasa kesakitan.


" Oh iya , ko kalian bisa barengan kesini? Tanyaku sambil melihat Tian dan Kia basa-basi.


"Tian yang ngajakin geu nengokin bareng eloe Ra, dia kawatir banget sama loe dari sejak tadi pagi tau gak? Seharian ini pokoknya dia ngeselin banget deh, ngintiliiiin gue mulu, bikin risih. Sampe pulang sekolah pun gue diintilin dengan dalih mau nganterin pulang ke rumah, mana diburu-buru terus lagi, nelponin mulu gue lagi ganti baju juga, terus belom lagi mesti nganter kerumah dia buat ganti baju dulu, nah terus gue kira mau langsung kesini kan, eh ternyata gue masih harus nyari ini itu yang memakan waktu berjam-jam pula tau gak Ra, ih kesel banget sumpah Ra, mana gue laper kan, tapi dia mah anteng aja gak nraktir makan sama sekali atau ya paling gak minumanlaah gitu, pokoknya hari ini gua kesel banget sama ni anak." Sambil nunjuk Tian,Tian yang saat itu sedang di cecar sama Kia malah senyum tanpa merasa bersalah, Tiara pun tak kalah senyum bahagianya saat mendengarkan penjelasan Kia, yang terlihat muram disini hanya Dira karena merasa tak dianggap ada.


Ucapan Kia membuat Dira semakin yakin bahwa diantara Tiara dan Tian pasti ada apa-apa. Penjelasan Kia secara detail membuktikan bahwa Tian sedang masa pendekatan pada Tiara.


Tak lama terdengar suara pintu depan terbuka, Ternyata ayah Tiara dan kakaknya Tika pulang bersamaan lebih awal karena menghawatirkan anak dan adik kesayangannya itu saat dikabari ibu Tiara siang tadi bahwa Tiara tertimpa musibah.


Tika yang biasanya pulang seminggu sekali hari itu Tika memilih untuk ijin pulang lebih awal dan langsung meminta ayahnya menjemput di tempat kerjanya karena ingin ikut pulang ke rumah.


Wajah ayah Tiara dan kakaknya Tika sangat tegang karena begitu kawatir saat memasuki rumahnya, Tika yang langsung menangis saat melihat adiknya penuh luka dan Ayahnya sangat rapuh mendapati anak kesayangannya tergeletak di kursi dengan tubuh penuh perban, namun Tiara yang sangat pintar menyembunyikan rasa sakitnya hanya tersenyum ceria agar terlihat baik-baik saja.


"Sayang ke Rumah Sakit ya, ayah kawatir." Ucap Ayah Tiara dengan suara lirih seperti akan menangis membujuk.


"Tiara gak papa ko Pah, ini lukanya juga cepet sembuh ko." Ucap Tiara berdalih memberi pembelaan, walau jujur saja sebenarnya saat ini Tiara sedang merasakan sakit yang teramat.


" Baiklah, kalo begitu Papah panggil paman Beno saja kesini yah?" Ucap Ayah Tiara kembali meminta dengan lembut, karena tau anaknya itu sangat membenci RS Ayah Tiara tak mau terlalu memaksanya dan lebih memilih jalan lain sekalipun jika rawat inap harus terjadi di rumahnya.


Akhirnya Tiara pun mengalah dan mengiyakan permintaan Ayahnya itu. Ayah Tiarapun langsung menelpon adiknya itu yang kebetulan Dokter Ortopedi atau lebih tepatnya Dokter Spesialis Bedah Ortopedi.


Ibu Tiara yang saat itu sedang kerepotan memasak ini itu untuk makan malam sangat tertolong dengan bantuan Kia dan Tika yang datang ke dapur, tak lama kemudian makanan pun sudah siap di meja makan, kemudian Ayah Tiarapun meminta semua orang untuk datang ke meja makan terkecuali Tiara yang belum memungkinkan untuk bergabung duduk di meja makan.


Tiara pun ditemani kakaknya Tika dan Kia makan di ruang keluarga, namun menu makan malam Tiara lebih memilih makan batagor yang dibawa Kia dan Tian dibanding memilih masakan Ibunya seperti Kia dak kakaknya Tika.


Suasana di meja makan yang penuh kehangatan dan kekeluargaan, membuat semua orang merasa nyaman selama menyantap hidangan, dan obrolan topik konyol dan kocak membuat tercipta senda gurau dan tawa yang terdengar dari ruang keluarga melengkapi keakraban tercipta, malam itu Dokter Beno pun tiba dan langsung memeriksa keadaan Tiara, syukurnya luka yang didapat Tiara tidak terlalu parah, Tiara hanya dianjurkan istirahat dan diberi obat supaya luka luar dan luka dalam akibat benturan dapat segera pulih dengan cepat. keakraban yang terjadi tiba-tiba menjadi sepi saat sebagian orang harus pulang.

__ADS_1


__ADS_2