
Tian merasa beruntung selain mendapatkan restu dari keluarga Tiara, Tian juga merasa nyaman karena kehangatan keluarga Tiara.
Tian berkunjung ke rumah Tiara setelah sebelumnya meminta Kia mengajak Tiara sepulang sekolah untuk keluar bersenang-senang dan mengajak pulang Tiara setelah Tian pulang dari rumah Tiara.
Sore hari Tian menuju rumah Tiara lagi setelah menunggu waktu kedatangan ayah Tiara pulang untuk menemui Ibu atau Ayahnya.
Kedatangan Tian selalu disambut hangat keluarga Tiara, begitupun dengan Tian yang sudah tidak sungkan berada di rumah Tiara.
Ibu Tiara sedikit heran dengan Tian yang datang kerumahnya padahal Tiara sedang sedang tidak ada di rumah, "apa mungkin mereka bertengkar" gumamnya dalam hati, karena Tian selalu datang jika Tiara ada.
Tanpa berlama- lama saat semua sedang berkumpul Tian mulai bicara dan menyampaikan maksudnya kedatangannya untuk meminta ijin mengajak Tiara ke pulau Bali setelah ulang tahunnya nanti bersama Kia juga selama 3-4 hari.
Tian memang sudah menyiapkan kejutan untuk Tiara di hari ulang tahunnya nanti dibantu Kia dan keluarga Tiara juga menyiapkan kejutan untuk Tiara.
Ayah Tiara merasa tidak apa-apa karena saat itu adalah hari libur juga setelah selesai ujian, setidaknya dengan Tian mengajak liburan penat Tiara pun akan hilang setelah stress beberapa hari.
Ternyata ayah Tiara merespon dengan baik, Tian merasa lega karena rencananya akan berjalan lancar.
3 Minggu sebelum ulang tahun, Tiara lebih fokus pada ujian yang akan datang beberapa hari lagi, ketimbang memikirkan perayaan ulang tahunnya.
Tian pun tidak ingin mengganggu Tiara dan lebih menemani Tiara belajar, Kia yang sudah tau watak Tiara sudah tidak aneh lagi.
" Ra ke kantin yu," ajak Kia yang diminta Tian via chatt karena kelaperan, namun Tiara tidak mau beranjak dan membuat Tian memilih diam ditempat.
" Loe duluan deh, gue nyusul." jawab Tiara dengan nada malas tanpa melirik Kia sekalipun.
" Ra, ini tu udah siang loe dari istirahat gak makan tau gak?" bujuk Kia lagi, berusaha.
"Gue lagi tanggung Ki." Ucap Tiara mulai kesal dan tetap fokus memandang bukunya.
" Ya udah deh, gue ke kantin yah." ucap Kia sambil berjalan menjauh, Tian yang juga merasa lapar hanya bisa mengirim pesan pada Kia untuk membawa makanan ke kelas.
Sepulang dari kantin Kia membeli banyak makanan dan beberapa minuman, yang tentu saja menggunakan uang Tian yang diberikan sebelum Kia ke kantin.
Melihat Tiara yang tidak mau juga makan Tian pun mulai khawatir, ia pun mulai menggoda Tiara yang tak mau berhenti melatih otaknya itu, sesekali Tian menyuapi Tiara hingga Tiara pun berhenti karena tidak enak oleh Tian.
"Kamu kalo mau gini terus bakalan sakit, belajar tu bagus boleh-boleh aja tapi tahu waktu." Ucap Tian mengingatkan.
" Maaf yah, kamu kesel yah karna aku jadi nyebelin." Ucap Tiara lirih karena merasa bersalah sambil mengerucutkan mulutnya.
"Sedikit." Ucap Tian ketus.
"Tuh dengerin Ra." Tukas Kia menambahkan
Kemudian mereka pun tertawa bersamaan dan menghentikan kegiatan yang membuat suasana tidak nyaman.
Akhir-akhir ini Tiara memang lebih cue-x dan dan memilih bermain dengan buku-bukunya.
Tian tidak merasa keberatan sama sekali selagi Tiara dibatas wajar.
__ADS_1
Di rumah pun tidak banyak yang berubah karena sikap Tiara yang fokus pada buku dan lebih banyak diam dikamar, Tian pun lebih memilih menghabiskan waktu berinteraksi dengan ibu Tiara atau Andri omnya Tiara.
Tian memang lebih suka menghabiskan waktu di rumahnya Tiara yang penuh kehangatan ketimbang dirumahnya yang sepi hanya ditemani bi Enah (pembantunya) dan Pak Dirman (supir dari Ayah Tian)saja.
Hari yang ditunggu pun tiba, ujian sekolah pun lancar dilalui. Sekarang tiba saatnya memberi kejutan demi kejutan untuk Tiara
Tengah malam dirumah Tiara semua orang sudah berkumpul untuk memberi kejutan, lengkap dengan Topi kerucut dan beberapa orang standbye dengan balon yang siap dipecahkan dan berbagai macam terompet.
Tiara yang benar-benar melupakan hari jadinya karena ujian sekolah yang dilaluinya, membuat dia tertidur pulas ditemani boneka pemberian Tian yang selalu dipeluknya karena hampir setara besarnya.
"Totet.. totet.. surprise ucap semua orang berbarengan meniup terompet dan memecahkan balon yang berisi pernak pernik kertas berkilauan membuat kamar Tiara seketika berantakan.
Tiara yang langsung terbangun kaget karena terkejut seketika itu juga langsung menarik selimut menutupi tubuhnya karena malu.
Semua orang pun mendekati Tiara sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan Tian langsung menyodorkan kue menghampiri Tiara dengan hati-hati.
Tiara pun kemudian menurunkan selimut dari tubuhnya secara perlahan.
Senang campur haru terlihat jelas di wajahnya, Tiara segera meniup lilin yang ada dihadapannya.
Tiara pun mengucapkan terimakasih pada semuanya, lalu ibu ayahnya dan kakaknya mendekati Tiara untuk mencium dan memeluk secara bersamaan, Tian yang saat itu tepat didepan Tiara hanya melihat penuh haru kehangatan yang jauh berbeda di keluarganya.
Ibu Tiara yang melihat ekspresi Tian merasa iba lalu langsung menarik tangan Tian untuk ikut berpelukan, rasa senang yang tak terhingga membuat Tian terharu.
Tian kemudian memberikan hadiah pada Tiara berupa sepatu sneakers impian Tiara dan jaket couple ternama.
Tiara sampai menganga kegirangan karena sepatu yang sudah 1 tahun ini dia inginkan akhirnya ada di depan dia.
Ibu Tiara langsung memeluk Tian sekilas dan mengucapkan terimakasih karena sudah datang dan membuat hari-hari di kehidupan Tiara berarti.
Tian hanya terdiam dan memberi senyum simpul sebagai jawaban, Tian menganggap hadiahnya tidak seberapa, dibanding sikap hangat keluarga Tiara padanya, Tian merasa senang karena ibu Tiara seperti ibunya yang hilang, tidak pernah membedakan Tiara dan Tian.
Disambung pemberian dari Andri, Kia, Ayah dan Ibu Tiara dan Tika. Tak berlanjut lama semuanya bubar karena Ayah Tiara meminta semua untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Tian yang tidur dengan Andri langsung mengekorinya sampai kamar dan Kia yang tidur dengan Tiara, sepanjang malam malah membuka kado sambil bercanda gurau sampai lupa waktu.
"Ra habis ini kita nyiapin baju lo yah." Sahut Kia membantu.
"Nyiapin buat apa Ki?" Jawab Tiara asal sambil tersenyum yang terus singgah diwajahnya.
"Gue mau ngajakin lo liburan, mau ikut gak?" Ucap Kia menggoda Tiara.
"Kemana?" sahut Tiara ingin tahu.
"Baliiiiii..." ucap Kia datang sambil memperagakan tarian Bali dan tersenyum riang gembira.
" Mau, mau... loe gak becanda kan ngajaknya" Seketika Tiara terlihat senang campur khawatir takut kena prank Kia.
"Bener, cius Ra. Gue ngggak bohong." Ucap Kia menyakinkan.
__ADS_1
Setelah Tiara melihat koper yang dibawa Kia Tiara sedikit yakin pada Kia.
"Oh, jadi. Lo bawa koper karena emang mau kesana?Gue emang agak aneh dari tadi soalnya biasanya juga kalo lo nginep di rumah gue gak pernah bawa koper tuh." Tanya Tiara penasaran.
"Jadi, kapan kita berangkatnya?" Ucap Tiara penuh kegirangan.
" Besok." Ucap Kia langsung.
"Hah, besok. Mana bisa besok. Ko Loe ngajak gue mendadak Gini, Gue kan belum ijin sama Papah dan Mamah. Lo tau sendiri kan nyokap bokap gue khawatiran sama anak- anaknya, gak bakalan mungkin besok langsung diijinin." Ucap Tiara yang nyerocos tanpa titik koma, sambil menyatukan alisnya cemberut mengerucutkan bibirnya yang mungil karena kecewa campur kesal.
Kia yang melihatnya malah tersenyum karena lucu.
"Tenang aja, loe gak usah khawatirin itu, gak perlu panik juga karena Tian udah handle semuanya. Loe cuma tinggal nurut, nikmati perjalanan, duduk santai dan cepet beresin baju- baju yang mau dibawa, soalnya sekarang udah malem Ra, gue juga pengen tidur dulu, okeh. Masalah ijin sama om tanteu, tiket atau apalah yang nanti buat ke sana semuanya udah diurus sama Tian." Jawab Kia penuh penjelasan dengan santai sambil tersenyum menenangkan.
Tiara menuruti Kia, dan segera mencari semua barang-barang yang akan dibawanya. Setelah selesai Tiara dan Kia pun bersiap - siap tidur.
"Drrrrttt,,, drrrrrrtttt,,," Bunyi telepon Tiara membangunkannya kembali
"Hallo Ra." Suara Dira dari sebrang
"Iya kenapa ?" Jawab Tiara menjawab sambil menahan kantuk.
"Maaf ya, aku ganggu malem-malem, aku cuma mau bilang selamat ulang tahun. Maaf gak bisa datang langsung ngucapin." Ucap Dira dengan suara pelan dan lembut.
"Iya ,gak papa. Makasih untuk ucapannya." Ucap Tiara dengan cepat dan dingin.
"Aku rencananya mau ngajak keluar besok." Usaha Dira PDKT lagi.
" Gak, bisa. Aku udah ada janji sama orang lain mau pergi." Tukas Tiara penuh penolakan.
"Ya udah yah, aku tutup telponnya. Aku masih ngantuk." Ucap Tiara beralasan
"Tut.." telepon diakhiri secara sepihak oleh Tiara.
Dira merasa sangat rapuh, tapi ingin tetap maju mendekati Tiara lagi.
Di sisi lain Tiara merespon datar dan tidak mau menanggapi Dira lagi.
Keesokan paginya semua bangun seperti biasa, semua bergantian ke kamar mandi, karena kamar mandi di rumah Tiara hanya ada satu.
Tiara lalu menghampiri Tian yang terlihat lucu sedang duduk setengah tidur di ruang tamu, memeluk handuk menghadap ke TV yang menyala, Tian sedang menunggu giliran masuk ke kamar mandi kemudian Tiara mendekatinya dan memperhatikannya dari jarak dekat, lalu menjahilinya.
Tian yang menyadari hal itu malah menikmati dan bermanja-manja minta di elus rambutnya sampai akhirnya mendarat dipangkuan Tiara dan tertidur.
Ibu Tiara yang sudah sibuk di dapur sejak pagi hanya memperhatikannya dan sesekali melotot ke Tiara karena terlihat menjahili Tian.
Namun karena Tiara yang agak keras kepala malah tersenyum kegirangan karena merasa lucu dengan kelakuan Tian dan meneruskan kejahilannya sampai Tian tertidur dipangkuannya.
Ibu Tiara hanya memaklumi sikap Tian yang seperti anak kecil itu karena terlihat seperti kurang kasih sayang dari orang tuanya, sesekali pada ibu Tiara pun Tian suka manja jika sedang saling jahil dengan anaknya Tiara.
__ADS_1
Sikap dan perilaku mereka lebih terlihat seperti adik kakak yang saling menyayangi daripada ABG ababil yang saling jatuh hati, Ibu Tiara kadang merasa mendapat tambahan anak yang entah dari mana asalnya.