
Hingga terlihat senyuman bahagia yang tersungging dari bibir Tian, mereka pun sangat senang dengan service yang memuaskan dari pelayanan Cafe Vanilla sampai mendapatkan free dessert yang tak terduga.
Saat melakukan pembayaran Managernya kembali menghubungi Tian, dan Tian langsung menginformasikan untuk memproses pembayaran secara normal.
Managernya langsung memproses pembayaran mereka dan membagi tagihannya pada 3 kartu kredit dari pemilik Riko, Andri dan Jerry karena semuanya memaksa ingin membayar tagihan makanannya.
Manager itu pun kembali mendapat banyak pujian atas pelayanannya. Managernya merasa senang dan dia juga mendapat ekspresi kepuasan dari wajah pemilik Cafe saat mereka bertemu pandang.
Sepulangnya dari tempat itu Semuanya langsung pulang kerumah masing-masing terkecuali Jerry yang menginap di rumah Tika dan baru pulang keesokan harinya bersama Tika.
***
Sore itu Tiara dan Tian disibukan oleh kegiatan ekstrakulikuler yang mereka ikuti hingga saat Dira masuk Tian menjadi berubah sinis dan penuh kekesalan.
Latihan pun menjadi panas, karena semula permainan yang tak serius menjadi panas saat kehadiran Dira sampai beberapa orang melihat keanehan pada mereka berdua karena seperti sedang melakukan pertandingan sesungguhnya.
" Ko ada Dia?" Tanya Tiara saat menghampiri Tian yang baru selesai membereskan semua barang-barangnya.
Dira tampak tersenyum sinis penuh arti negatif saat bertemu pandang pada Tian dan Tiara.
"Dia baru masuk hari ini " ucap Tian kesal sambil mengambil minuman dari Tiara yang sengaja dibeli dari kantin saat hendak menemui Tian.
Tiara tampak hanya terdiam kaku cemas dengan Tian yang selalu sensitif pada Dira begitu pun sebaliknya.
Saat menuju ke parkiran Tian menelpon pamannya Vino untuk mengirim beberapa alat olahraga kerumahnya.
Tian bermaksud ingin menambah waktu olahraganya seoptimal mungkin untuk menambah tenaganya supaya bisa lebih baik lagi saat bertemu dan harus berhadapan dengan Dira.
Vino pun langsung memerintahkan sekretarisnya untuk mengurus keperluan dari Tian.
Tian dan Tiara pun berlalu dari area sekolah menuju tempat favorite mereka di sebuah tempat makan.
Terlihat seseorang memandang sinis dari sudut ruangan yang sudah lebih dulu tiba dengan beberapa orang dari anak-anak basket.
Tian yang lebih memilih menjauh agar berjarak dengan Dira akhirnya harus terpaksa bergabung saat salah seorang dari meja tempat mereka duduk memanggil Tian dan memintanya bergabung.
Tian pun terpaksa bergabung walaupun hatinya enggan ingin menolak benar saja dia mendapat suasana tak nyaman karena Dira banyak menyombongkan diri dan menyindirnya.
Tian yang sudah geram tampak dari wajahnya yang memerah menggertakan giginya hingga otot-otot rahangnya terlihat membuat Tiara sangat cemas bukan main hingga harus berusaha membuat Tian setenang mungkin.
Semua orang yang tidak tahu suasana sebenarnya terlihat senang dengan traktiran Dira yang sangat royal sampai beberapa diantaranya cepat terlihat akrab untuk menjilat pada Dira.
Tian yang tampak sangat berusaha menahan emosi hanya fokus pada Tiara dan makanannya, walau sesekali Dira terus mengganggu dan membuat nyinyiran seperti anak kecil.
Tiara dan Tian pun memutuskan pamit duluan saat makanannya setengah habis, namun Dira lagi-lagi seperti tak kehabisan akal selalu mencari cara supaya Tiara berada di sana dan satu meja dengannya.
Walau saat itu dia bukanlah orang special untuk Tiara tapi dengan adanya Tiara di sana yang hanya berjarak bersebrangan saja itu sudah cukup.
Karena suasana itu tentu saja tidak mudah terjadi dengan watak dan kepribadian Tiara yang keras siapapun akan selalu dia benci jika sudah tidak suka.
Oleh karena itu Dira sangat cemburu dan kesal pada Tian yang tak terpancing dengan semua yang dia lakukan.
Hingga akhirnya Tiara memasang badan dan berbicara tegas pada Dira hingga Dira pun terdiam dan membiarkan Tiara pergi dengan Tian.
Tian pun akhirnya memperlihatkan senyum devilnya pada Dira yang diskak matt langsung Tiara, Tian pun mengantarkan Tiara ke rumahnya dan langsung pamit pulang untuk membersihkan tubuhnya supaya bisa cepat kembali ke rumah Tiara.
Hingga saat Tian kembali ke rumah Tiara lagi pada malam hari, Dira sudah terlihat duduk di ruang tamu dengan membawa sebuah buket bunga dan beberapa makanan.
Tian yang sudah tak canggung dengan rumah Tiara hanya mengacuhkan Dira dan terus masuk kedalam rumah Tiara.
Sedangkan Dira sedikit kesal karena ternyata Tian sudah melangkah lebih jauh sampai sebebas itu di rumah Tiara.
Rika yang melihat kedatangan Tian yang langsung menghampirinya di dapur dan langsung memiringkan kepalanya hingga menyender di bahu Rika juga merangkul kan tangannya ke tangan Rika yang sedang sibuk membuat kopi untuk Andri yang saat itu sedang duduk didepannya (mini bar)dengan wajah kecut dan lesu Tian hanya diam tak berkata.
"Heh anak manja, kamu lagi ngapain? kamu gak lihat calon mertuamu lagi buatin kopi buat om, sana - sana ganggu aja." Ucap Andri menggoda Tian yang cemberut terlihat kesal. Tapi Tian tetap diam tidak merespon dan tak mau berbicara.
"Kenapa sih ni anak, lagi genjatan senjata atau gimana sih manyun mulu." Ucap Andri yang tidak mendapat respon dari Tian.
__ADS_1
"kamu kenapa? lagi marahan lagi sama Tiara?" Tanya Rika lembut sambil membelai rambut Tian yang tak mau melepaskannya.
"Nggak Tante, Tian lagi kesel sama orang yang di depan. Dia ko ada di sini sih?" Ucap Tian yang terus cemberut.
"Cie ada yang cemburu." Ucap Andri menggoda.
"Nggak, siapa juga yang cemburu." jawab Tian gengsi.
" Lah itu apa, muka ditekuk gitu kayak sayur yang rebus." Andri meledek Tian.
" Tapi kan masih tetap ganteng." Tian membela.
"Akh dasar anak ABG gitu aja cemburu, gak mau ngaku lagi, lagian juga yang pacaran kan kalian dia cuma pendatang ngapain kamu kesel." Ucap Andri sambil menyeruput kopinya yang panas menasehati Tian.
"Iya, ngapain kamu cemberut, toh kan Tiara juga sukanya sama kamu lagian juga Tiara gak mau menemui dia, Tiara dari tadi ada di kamarnya ko." Ucap Rika sambil menepuk tangan Tian yang mengait terus padanya.
Seketika wajahnya berubah ceria dan langsung menuju kamar Tiara untuk mengecek.
Sedangkan Andri dan Rika hanya menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan Tian yang harus banyak dimaklumi.
Riko pun tak kalah heran melihat kelakuan Tian yang seperti anak kecil saat baru keluar dari kamarnya.
"Kenapa tu anak Mah?" Tanya Riko pada istrinya.
"Itu cemburu sama yang didepan." Ucap Rika yang sedang menyajikan makanan yang di bawa Dira.
"Emang ada siapa di depan Mah?" Tanya Riko ingin tahu.
"Dira Pah, Papah temuin yah dari tadi Tiara gak mau terus sekarang kan ada Tian juga, gak bakalan bagus Pah nanti suasananya." Rika mencoba memberi gambaran situasi.
"Iya deh," Ucap Riko sambil berjalan menuju ruang tamu langsung mengambil keputusan.
Riko pun menemani Dira di depan sampai berbincang segala hal, sedangkan Tian yang langsung ke kamar Tiara melihat Tiara sedang belajar di meja belajarnya.
"Kamu kenapa." Ucap Tiara kaget karena Tian tiba-tiba memeluk dan mencium pipi dan bibir Tiara beberapa kali saat masuk ke kamarnya.
"Eh lepas, kamu gak takut nanti kita disemprot Mamah peluk-pelukan gini." Tiara cemas.
"Nggak, biarin aja mereka marah." Tian tetap memeluk intens Tiara membuat Tiara gugup.
"Tiara pun memilih pasrah ketimbang harus berontak dan menghabiskan tenaganya karena akan sia-sia.
Tian pun akhirnya melepaskan pelukannya dan tidur di kasur Tiara sambil mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya seperti anak kecil.
Tiara yang jengah dengan kelakuan Tian menarik tangan Tian supaya keluar namun yang terjadi malah tubuh Tiara tertarik Tian dan akhirnya Tiara berada tepat di atas tubuhnya Tian yang langsung dengan cepat dipeluk Tian hingga Tiara terkunci dan sulit bergerak.
"Lepas ian, kamu gila yaah." Ucap Tiara melotot kesal.
"Kiss dulu." Pinta Tian manja.
"mnnncuah... " Tiara pun menuruti permintaan Tian tapi Tian mengingkari janjinya.
"Lepas dong, kan udah aku kasih." Ucap Tiara geram.
"Ah, gak mau." Tian malah memiringkan Tiara hingga terlentang dan memeluknya dengan mengunci tubuh Tiara oleh tangan dan kakinya.
"Gila ni bocah, udah bosan hidup kali yaa.. atau kenapa sih ko jadi nekad gini, sebenernya dia belum minum obat atau kenapa, perasaan tadi siang normal-normal aja ko sekarang jadi begini." Tiara sangat jengah dan hanya memutar bola matanya tanpa bisa berkutik.
"ian." Panggil Tiara.
"Hmmm... Tian hanya berdehem dan sekarang malah meletakan wajahnya diantara pundak dan leher Tiara
"Aku geli ian." Ucap Tiara terangsang.
"Baguslah." Jawab Tian yang tetap masih acuh.
"Kamu gak takut kalo nanti kita ketauan Mamah sama Papah lagi kayak gini?" Tanya Tiara cemas, wajah Tiara sudah memerah karena hembusan napas Tian dan bibirnya yang sangat intens pada pundak Tiara.
__ADS_1
"Nggak." Jawab Tian singkat.
Tiara pun pasrah dan memilih diam hingga beberapa menit kemudian terdengar napas yang beraturan lalu Tiara pun memastikannya kembali.
"Ian, kamu tidur?" Tanya Tiara mengecek.
Setelah tak mendapat jawaban dari Tian, Tiara pun mulai mengangkat tangan dan Kaki Tian secara perlahan, hingga akhirnya bisa terlepas dan Tiara pun merasa lega.
"Huh pegel juga, ko bisa sih sampai ketiduran." gumam Tiara dalam hati.
" Kamu pasti lelah banget karena kegiatan hari ini, sampai tumbang kayak gini." Ucap Tiara berbisik pelan sambil memperhatikan wajah Tian yang terlihat sangat tampan dan tenang.
Tiara memperhatikan satu persatu semua bentuk wajah Tian yang nampak nyaris sempurna kemudian Tiara mendaratkan bibirnya di kening Tian lembut.
"Selamat malam, semoga kamu mimpi indah." Ucap Tiara sambil menyelimuti tubuh Tian.
Tiara pun keluar dan terduduk asal di kursi ruang keluarga lalu tertidur dipangkuan Ibunya.
"Kemana Tian Ra ko gak keluar dari kamar mu?" Tanya Rika heran.
" Tidur Mah." Jawab Tiara santai.
"Tidur?" Tanya Rika memastikan pendengarannya. Tiara hanya mengangguk sambil memasukan keripik singkong yang ada didepannya.
"Ko bisa?" Tanya Rika terkekeh lucu.
"Gak tahu, mungkin karena kecapean soalnya kan hari ini dia habis Basket Mah.'' Tiara mencoba menjelaskan.
"Ehmm pantesan, ya udah biarin aja dia tidur nanti kamu tidur di kamar kak Tika aja." Ucap Rika yang terus membuka majalah.
"Iya Mah." Jawab Tiara singkat.
Andri dan Riko yang saat itu asyik menonton pertandingan bola sampai malam membuat Tian terbangun karena berisik.
"Huaaaahhh.... Malam Om." Sapa Tian yang belum tersadar penuh sambil tergeletak kembali di kursi yang dilebarkan Rika sebelumnya.
"Eh ian, kamu kebangun." Tanya Riko yang melihat Tian tergeletak kembali.
"Iya Om, maaf ya Om aku ketiduran di kamar Tiara." Ucap Tian merasa tidak enak sambil bangun dan terduduk.
"Iya, gak apa-apa. Udah sana tidur lagi biar besok gak ngantuk.'' Ucap Riko sambil menunjuk ke arah kamar Tiara.
"Heheheee aku laper Om, tadi belum makan aku minta makan ya om." Ucap Tian cengengesan malu.
"Iya udah sana, ambil aja di dapur kayaknya tadi udah disediain juga sama Tante." Ucap Riko membuat Tian langsung mengecek ke arah meja.
Saat Tian mendapati makanan sudah tersaji Tian pun langsung melahap makanan yang ada di depannya tanpa basa-basi.
"Tu anak lagi sahur apa gimana ." Ucap Andri terkekeh melihat sekilas anak manja yang sekarang dia sayangi itu.
Lalu setelah selesai makan dia pamit kembali pada Riko dan Andri untuk tidur di kamar Tiara.
Tian yang awalnya tidak menyadari keharuman yang ada di ruangan Tiara sebelumnya karena tiba-tiba lelah dan terlelap.
Namun kali ini dia sangat menikmati aroma wangi ruangan kamar Tiara yang sangat membuatnya nyaman dan tenang.
Tian pun terlelap kembali sampai pagi hingga Tiara membangunkannya sekitar jam 5 pagi, Tian pun bangun dan langsung menyadarkan diri supaya hilang rasa kantuknya.
Tak lama Tian membersihkan diri dan ikut sarapan pagi lalu pulang untuk mengganti pakaiannya.
Tian pun sudah muncul kembali sekitar pukul 6.30 pagi menjemput Tiara lalu mereka pun berangkat bersama-sama ke sekolah.
***
Thornya pengen dapat support dong dari temen-temen biar makin semangat.
Ditunggu lo vote dan likenya
__ADS_1
Happy reading all 😘😘😘