
Andri yang sudah mulai mengepak, hanya membawa barang seperlunya saja. Karena Vino sudah memberitahu sebelumnya bahwa semuanya sudah ada di sana.
Dan jikapun nanti ada keperluan lain bisa dibeli langsung di sana.
Andri pun langsung pindah ke rumah Vino setelah semua urusannya sudah selesai.
Sesampainya di rumah Vino Andri langsung diajak berkeliling, setelah menyimpan barang- barangnya di kamar yang sudah disediakan Vino.
Beberapa kendaraan di garasi dan alat fitness lengkap berada di sana. Kamar Andri pun sudah terisi beberapa pakaian baru dan aksesoris lainnya lengkap. Andri pun mulai mengerti apa maksud Vino, untuk membawa barang seperlunya saja karena memang di rumah Vino sudah sangat lengkap.
Vino pun memperlihatkan kamarnya dan semua pakaian dan aksesorisnya juga yang sangat berkelas dan elegan.
Vino mempersilahkan Andri memakainya jika ada yang suka, Andri juga dibebaskan untuk memakai semua fasilitas yang ada di rumahnya.
***
Tian sudah diberitahu Vino bahwa Andri sudah di setujui oleh pimpinan utama perusahaan yaitu Papi Maminya untuk menjadi wakil pimpinan perusahaan Wijaya menggantikan Vino menghandle perusahaan tersebut.
Tian pun sudah tidak akan segan lagi dalam berbicara yang lebih luas tentang pekerjaan dengan Andri ataupun tentang kehidupannya yang sesungguhnya sedangkan Andri sesaat masih hanya tercengang tidak percaya saat mendengar sisi lain Tian yang sangat dewasa dan dingin dari Vino.
Andri yang sudah mengetahui beberapa bisnis yang dipegang Tian langsung flash back kebelakang tentang apa yang sudah terjadi.
Dan Andri langsung faham dengan semua yang sudah terjadi bahkan lebih dari itu pun jelas dapat dilakukan Tian dengan hanya menjentikkan jari jika mau.
Namun karena kepribadian Tian yang sederhana dan tidak mau terlihat orang- orang bahwa dia adalah orang yang berada.
Membuatnya lebih sangat berhati- hati sekali dalam melakukan semua tindakannya, sampai Andri sendiri pun tertipu oleh sikapnya yang manja.
Sehari setelah pindah kerumahnya Vino dan mendengar semua penjelasan yang lebih detile lagi dari Vino, Andri pun hanya mulai mencerna semuanya dengan baik.
Vino yang sangat banyak berharap pada Andri membuatnya merasa diberi beban yang amat besar yang sebelumnya di pikul Vino.
Keesokan harinya Andri sudah mulai masuk ke perusahaan Wijaya dan langsung disambut oleh semua karyawan yang seperti biasa menyapa pimpinan perusahaan tersebut dengan hangat.
Namun pemandangan hari itu terlihat berbeda karena Andri yang juga berjalan bersamaan dengan Vino bak model dengan tubuh maskulin yang memiliki pesona tersendiri.
Membuat sebagian karyawan pun hanya banyak yang melongo melihat pemandangan dua pria tampan impian semua wanita itu.
Andri dan Vino kemudian masuk kedalam lift khusus dan Vino langsung meledak tertawa saat pintu lift telah tertutup.
Andri pun kaget bukan main, dan merasa ada yang aneh.
"Lo tahu gak, gue udah pengen ketawa dari pas masuk lobi." Ucap Vino yang terlihat merah wajahnya karena sangat tertawa.
"Apaan sih lo, emang ada apa?" Ucap Andri merasa heran dan belum mengerti.
"Karyawan gue sampe banyak yang terpesona dan malah gak berkedip. Sedangkan pas gue lihat lo malah sangat tegang dan seperti pengen kabur." Vino meledek seenaknya.
"Yaaa gue kan gugup bro, lagian gue gak perhatiin mereka gue cuma lagi berusaha tenang aja tadi karena otak gue sekarang lagi bercabang kamana-mana." Ucap Andri yang mulai turun dari lift saat pintunya sudah terbuka.
"Oke, oke, oke ... sorry, sorry. Tapi gue agak khawatir juga gimana kalo sampe mereka gak bisa fokus sama kerjaannya karena banyak ngegosipin lo, bisa kacau perusahaan gue." Ucap Vino yang berjalan menuju ruangannya.
Andri hanya menghela napas kasar, dan Nita terlihat langsung mengekor dibelakang Vino dan Andri saat hendak masuk ruangan.
"Oh iya Nit, ini Andri. Kedepannya nanti kamu akan bekerja dengan dia karena saya harus pergi untuk beberapa waktu." Ucap Vino yang sudah menyadari keberadaan Nita.
" Oh, iya. Baik Pak." Ucap Nita paham.
"Oh iya, mulai hari ini buatkan juga minuman untuk Andri di ruangan ini." Ucap Vino pada Nita.
" Baik Pak," Ucap Nita tersenyum.
Kemudian Nita pun menjelaskan agenda harian Vino yang akan dilakukan hari itu. Saat Vino menganggukkan kepalanya tanda paham Nita pun permisi keluar dan kembali ke mejanya.
__ADS_1
Andri yang saat itu sudah membuka Laptopnya hanya fokus tanpa ingin melirik wanita yang sedari tadi memandangnya.
Tak lama kemudian Nita masuk kembali dengan beberapa belanjaan yang langsung dia tata di pantry khusus di ruangan Vino.
Vino yang sedang sibuk dengan Andri tak melirik kegiatan Nita sedikit pun, hingga saat Nita menyajikan kopi, Vino dan Andri langsung menatap Nita bersamaan.
"Nit, ko itu kopinya beda wanginya." Tanya Vino penasaran.
Berbeda dengan Andri yang terkejut karena langsung tahu kopi yang ada didepannya itu, Andri tidak menyangka bahwa Nita ternyata masih ingat dengan kopi kesukaannya.
"Oh, Iya Pak. Ini memang berbeda rasanya." Ucap Nita singkat dan tak mau menjelaskan secara rinci.
Vino pun spontan menyeruput kopi yang dibuat untuk Andri karena tergoda dengan wanginya.
"Nit, buatin satu lagi yah buat Andri. Yang ini buat saya." Ucap Vino tersenyum imut karena merasa suka dengan kopinya.
Nita pun hanya tersenyum dan berlalu kembali ke pantry untuk membuat kopi kembali sedangkan Andri masih acuh dan tak mau peduli pada Nita.
Sehari penuh Andri mengikuti kegiatan Vino dan mempelajari banyak hal sampai beberapa pekerjaan pun dia lanjutkan di rumah.
Andri tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tidak banyak dia memiliki dengan Vino karena sebentar lagi Vino juga harus segera berangkat ke Singapura dan ke Jerman.
Maka dari itu Andri pun memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang dia miliki, hingga keinginannya untuk menghubungi Gina pun dia urungkan.
Hari kedua Andri mulai mengusai pekerjaannya dan serah terima pun langsung Vino dilakukan.
"Vin, apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Andri khawatir.
"Nggak Dri, gue gak banyak waktu lagi dan juga lo cepat banyak menguasai pekerjaan ko. Gue percaya lo bisa, lo tenang aja. Lagian juga gue melakukan ini gak sembarangan mengambil keputusan, karena memang sudah ada perintah langsung dari Direktur Utama." Ucap Vino membuat Andri tenang.
" Tapi kan mereka belum melihat sejauh mana gue menguasai pekerjaan." Ucap Andri cemas.
"Lo percaya aja sama gue, kalo mereka juga sudah tahu apa kegiatan lo, Oke." Ucap Vino sambil menyerahkan beberapa file yang harus diselesaikan pada Andri.
Sepulang Andri dan Vino dari rapat bersama klien Rena terlihat sedang menunggu Vino di ruangannya.
Andri yang hanya see hi sebentar dan langsung kembali fokus pada pekerjaannya, namun berbeda dengan Vino yang langsung meluapkan rindunya yang tertahan membuat Andri sedikit bunyar dari fokusnya dan akhirnya kesal melihat tingkah mereka yang terang- terangan.
"Eh lo pada tega banget bikin gue tersiksa, gue kan bukan obat nyamuk disini. Gue juga normal." Ucap Andri sambil mengetuk-ngetuk meja kaca yang dibawahnya terdapat akuarium kecil yang cantik, membuat mereka menghentikan kegiatannya.
"Apa sih lo Dri, lagian juga kan lo masih mending bisa sering ketemu sama Gina karena jaraknya gak terlalu jauh, la gue harus backstreet karena jarak sama pekerjaan. Jadi udah diem yah jadi penonton aja." Ucap Vino yang tak peduli pada Andri.
Vino pun menarik Rena ke salah satu ruangan khususnya untuk beristirahat jika kecapean, sedangkan Andri dibuat gigit jari karena ditinggal sendiri.
Andri pun sedikit melow karena merindukan Gina yang belum bisa dia hubungi, akhirnya dia alihkan semua fokusnya ke pekerjaan kembali supaya tidak terlalu menyiksa.
30 menit kemudian kedua sejoli baru keluar dari ruangan setelah melepas rasa rindunya, Tak tampak wajah malu ataupun merasa bersalah pada Andri tapi malah seperti tidak terjadi apa-apa, Andri pun berdecih melihatnya.
Tak lama kemudian Andri melakukan pertemuan kembali karena kedatangan beberapa tamu dari cabang yang selalu melakukan rapat rutin setiap jangka waktu tertentu.
Rena pun ikut berada di sana mendampingi Vino, sedangkan Andri di bantu Nita selama rapat berlangsung.
Hari ketiga Andri mulai dilepas dan langsung melakukan semua kegiatannya sendiri tanpa didampingi Vino lagi.
sedangkan Vino sedang fokus pada berkas- berkas yang sedang dia pelajari yang berhubungan dengan perusahaan yang akan dia tangani.
Andri pun membawa pekerjaan sampai harus lembur di rumah lagi karena ingin cepat selesai dan pantang jika tertunda.
Hari ke empat pagi-pagi sekali Andri dibangunkan oleh nada telepon yang sangat keras.
Andri pun meraba nakasnya dan mengambil handphonenya yang terus berbunyi, tanpa melihat si penelpon Andri langsung menerima telepon tersebut dan menyapanya.
"Hallo... "Ucap Andri dengan suara serak karena masih setengah tertidur.
__ADS_1
"De kamu belum bangun?" Ucap Rika dari sebrang.
"Udah mba," jawab Andri asal.( berbohong)
"Kamu gimana kerjanya lancar?" Tanya Rika.
"Lancar mba." Jawab Andri singkat.
"Iya sudah, syukurlah. Kamu di sana jaga kesehatan yah, jangan sampai telat makan." Ucap Rika terdengar terisak.
Andri pun mengernyitkan matanya lalu membangunkan matanya dengan paksa lalu duduk.
"Iya mba, Andri baik-baik aja ko. Mba jangan kawatir, maaf ya kemaren- kemaren Andri gak ngabarin mba. Andri kebetulan sibuk dan masih fokus dengan pekerjaan baru Andri. Tapi Andri janji nanti lagi Andri usahakan menelepon Mba kalo Andri sudah sedikit terbiasa dengan pekerjaan sekarang." Ucap Andri meminta pengertian.
"Iya ,gak papa ko. Mba cuma ngerasa kehilangan kamu aja, kamu juga gak ngabarin ke mba, jadi mba kawatir." Ucap Rika yang mulai berhenti menangis.
"Iya, iya maaf Andri salah. Ya udah Mba tutup dulu teleponnya karena Andri harus siap-siap." Ucap Andri ingin mengakhiri telepon.
"Iya, ya sudah Mba tutup telponnya." Ucap Rika kemudian.
Sambungan telepon pun berakhir, Andri pun langsung bangun dan melakukan aktivitas paginya, Vino yang sudah terdengar bangun juga dari kamarnya, langsung menuju tempat olahraga untuk membugarkan tubuhnya.
Andripun menyusul dari belakang, sekitar 30 menit berlalu Andri dan Vino sudah berhenti dari aktivitasnya.
Sedangkan Rena yang saat itu juga di sana sudah terdengar sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk semua.
Andri dan Vino pun segera kembali ke kamar masing-masing untuk menyegarkan tubuh yang penuh keringat dengan air. Saat selesai mandi Andri langsung teringat Gina dan langsung menghubunginya sebentar melalui video call.
Gina yang masih tertidur dengan lingerie **** membuat Andri tergoda dan semakin dilanda rindu ingin bertemu, Gina yang terlihat masih sayup-sayup ngantuk masih bergelut dengan tempat tidurnya.
Andri yang saat itu terangsang meminta dengan spontan supaya Gina bisa pindah tugas ke Ibu kota agar dekat dengannya.
Gina pun hanya terkekeh malah terus menggoda Andri karena paham maksud Andri.
"Kamu tega sama aku." Tanya Andri
"Ya kan kemaren kamu yang memilih kesana." Jawab Gina sambil terlihat menggoda.
"Kamu tu ya, aku kan kemaren udah bilang Vino lagi butuh bantuan aku. Aku juga gak mungkin gak bantu dia sayang." Ucap Andri menjelaskan kembali
"Iya, iya tahu. Yaaa... ya udah kan kapan-kapan kita bisa ketemu." Ucap Gina acuh.
"Ya kan itu gak tahu kapan, kamu gak tahu aja disini aku menahan godaannya gimana. Mana Vino mesra mulu lagi sama Rena. Kamu gak kasian sama aku yang tersiksa?" Ucap Andri mengeluh memberi kode.
Gina pun menanyakan kenapa Rena disana dan setelah tahu alasannya, Gina malah terkekeh penuh kepuasan.
Panggilan telepon mereka pun berakhir, karena Gina harus bersiap-siap berangkat bekerja juga.
Sedangkan Andri yang masih tersiksa akibat ulah Gina dilanda galau ingin bertemu Gina dan ingin meminta pertanggung jawabannya.
Selama beberapa hari pikirannya selalu hanya ada Gina tapi Andri sadar semua butuh waktu makanya dia sangat terbantu dengan pekerjaan yang menyibukkan dirinya sehingga tubuhnya tidak selalu menegang karena menginginkan sesuatu.
Andri pun keluar dari kamarnya dan bergabung dengan yang lain untuk sarapan. Rena yang tampak gesit sangat membantu mereka mengerjakan segala hal baik itu urusan rumah maupun urusan pekerjaan di kantor membantu Vino.
Pagi ini Vino mengadakan rapat dengan seluruh bagian petinggi, untuk memperkenalkan Andri sebagai pimpinan yang baru di perusahaan Wijaya untuk menggantikannya dalam batas yang tak ditentukan. Andri yang disambut baik oleh semua karyawan merasa lega dan senang.
Setelah selesai Vino juga mengajak bertemu dengan beberapa kolega dan investor penting yang akan bertemu di beberapa tempat.
Kolega pertama tak lain adalah Ayah dari Gina Sanjaya yang sekarang adalah kekasihnya, dan Ayahnya bernama Sony Sanjaya.
Pertemuan pertama dengan Ayah dari kekasih yang dicintai terasa sangat canggung dan gugup untuk Andri.
Ayahnya terlihat ramah sekaligus berwibawa Andri pun berusaha tenang agar menghilangkan gugupnya.
__ADS_1
Pertemuan hari ini akhirnya berakhir dan berjalan lancar, mereka pun langsung kembali ke kantor untuk pulang.