CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
PENGGANTI VINO


__ADS_3

Tian yang baru sampai parkiran dan turun dari motornya tiba-tiba mendapat telepon dari Vino.


"Ya hallo Om." sapa Tian pagi itu.


"Ya hallo Tian, dimana kamu sekarang?" Tanya Vino memastikan situasi Tian.


"Aku baru sampai parkiran sekolah Om, ada apa?" Tanya Tian yang sudah tahu maksud Vino telepon karena pasti masalah kerjaan kalo tiba-tiba mendadak menelepon begini.


"Baguslah, Om perlu bicara sebentar sama kamu. Om harus pergi ke luar negeri untuk mengecek perusahan disana membantu Ibumu, rencananya sekitar 6 bulan sampai 1 tahun atau lebih om akan berada disana. Om rencananya akan meminta bantuan Andri untuk menghandle pekerjaan Om disini, bagaimana menurutmu?" Vino menanyakan pendapat Tian.


"Kalo Tian gak masalah Om, dan juga Om lebih mengenal Om Andri di dibanding Tian, Tian percaya Om saja dan ikut apa yang menurut Om benar, tapi apa Mami dan Papi sudah tahu Om?" Tian memastikan sambil melihat Tiara sedang ngobrol dengan Kia.


"Belum, Om baru bicara sama kamu saja. Om rencananya baru akan merekomendasikan pada Mami Papimu saat mendengar pendapatmu." ucap Andri yang saat ini baru akan berangkat ke tempat kerjanya.


"Baiklah, saya tunggu kabar baiknya Om," Ucap Tian menghampiri Tiara.


"Pasti, segera setelah ada keputusan Om pasti mengabarimu." Vino pun langsung masuk kedalam mobil sportnya yang ada di garasi.


Sambungan telepon pun terputus, Vinopun mensetting teleponnya menjadi mode silent karena tidak ingin terganggu selama perjalanannya.


Setelah sampai di dalam kantornya Vino yang saat itu disambut hangat semua karyawan menyapa balik karyawannya dengan ramah.


Beberapa orang sering kali mencuri-curi pandangan pada laki-laki yang tampannya sebelas dua belas dengan temannya Andri.


Saat Vino sudah sampai diruangannya segelas kopi buatan langsung sekretarisnya sudah tersedia dengan beberapa berkas yang sudah tertumpuk.


Napas kasar terdengar beberapa kali terdengar saat Vino membuka handphonenya untuk menghubungi Andri dengan otak yang sedang bercabang memikirkan banyak hal.


Andri yang saat itu sedang olahraga pagi karena tidak ada kelas mengajar hari itu, langsung menghentikan kegiatannya saat handphonenya berbunyi.


Andri pun menghampiri nakas dan mengambil handphonenya, Andri langsung mengernyitkan matanya saat Vino yang muncul di layar teleponnya dan tak butuh lama Andri langsung mengangkat teleponnya itu.


"Hallo Dri, lo lagi apa sekarang?" Vino langsung menyapa terlebih dahulu saat sambungan telepon tersambung.


" Gue lagi jogging kenapa bro, lo nggak lagi ada masalah kan?" Andri langsung menebak maksud Vino yang tidak akan mungkin menelepon Andri di jam kerjanya kalo tidak ada masalah.


" Lo tahu aja gue lagi butuh bantuan." Vino terdengar tertawa sambil mengagaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Nah kan bener, gue emang gak salah duga soalnya udah feeling pasti lo lagi punya masalah." Ucap Andri sambil melanjutkan aktifitas olahraganya kembali.


"Segitunya banget gue dimata lo bro." Vino merasa sedikit senang karena Andri sudah tahu bahwa dia sedang dalam masalah.


"Ya gimana lagi, lo kan emang gak bakalan mungkin cuma iseng nelpon gue di jam-jam segini lagi, kayak kurang kerjaan aja. Kalo gak ada apa-apa terus apa?" Ucap Andri yang mulai ngos-ngosan.


"Iya lo emang the best man, makanya gue gak mau kehilangan lo karena lo selalu paling paham kehidupan gue. Jadi gue mau minta tolong sesuatu karena cuma lo doang orang yang gue percaya." Vino mulai merasa semua akan berjalan lancar.


"Apa yang bisa gue bantu?" Andri mulai menawarkan dirinya.


"Masalahnya gue gak bisa ngomong secara detailnya lewat telepon, kita harus ketemu dan gue minta lo datang kesini segera." Ucap Vino yang mulai lega sambil membuka berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.


" Oke deh hari ini gue OTW ( on the way) kesana." Andri langsung menghentikan olahraganya dan berjalan menuju kursi untuk beristirahat sebentar


" Baguslah kalo gitu, gue harap gue gak mengganggu waktu lo." Ucap Vino senang.


"Santai aja, lagian gue juga lagi libur, Gina juga lagi balik ke rumah orang tuanya, jadi gue gak ada kegiatan juga." Ucap Andri menjelaskan.


"Syukurlah kalo timingnya pas. Lo bisa langsung datang kesini atau ke rumah gue juga bisa, nanti gue kirim alamatnya." Ucap Vino sambil menghentakan tubuhnya kebelakang kursi singgasana kebanggaannya.


"Oke bro." Ucap Andri sambil mengusap keringat yang terus bercucuran.

__ADS_1


" Oke deh gue tunggu, nanti kabari aja kalo lo dah dateng."Vino ingin memastikan lagi.


"Sip." Ucap Andri.


Sambungan telepon mereka pun terputus, Andri yang saat itu langsung mengabari Rika akan berangkat ke kota Ss untuk menemui Vino hanya berpesan "hati-hati dijalannya".


Andri pun langsung bersiap-siap sambil bertukar pesan dengan Gina.


Tak lama Andri pun pamit berangkat pada Rika yang sedang sibuk membereskan rumah.


***


Andri yang saat itu sudah sampai di Kota Ss memutuskan untuk langsung menuju alamat kantor yang diberikan Vino saja.


Selain karena masih jam kerja kantor Vino, Andri juga tidak mau mengganggu waktu Vino.


Beberapa karyawan Vino tersenyum mencuri-curi pandang pada Andri, tatkala Andri masuk ke dalam loby, Andri yang terlihat sangat tampan memakai pakaian semi formal membuat pesonanya bak pinang dibelah dua dengan Vino karena ketampanan Andri yang juga tidak kalah saing membuat terpesona mata-mata disekitar.


" Hallo selamat siang Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang Receptionist menawarkan bantuan.


"Hallo selamat siang. Saya Andri temannya Pak Vino saya mau bertemu dengan Pak Vino hari ini. Apa Pak Vinonya ada di kantor?" Tanya Andri memastikan.


"Oh iya Pak, ada. Kebetulan Pak Vino sudah menunggu bapak diruangannya. Mari saya antar" Ucap seorang receptionis


Andri pun diantar melalui lift karyawan menuju ruangan kantor Vino yang berada di lantai paling atas gedung tersebut.


Setelah sampai di meja sekretaris Vino, Andri sedikit terkejut mendapati Nita yang sedang berdiri menyambutnya sedangkan Nita terlihat tersenyum penuh pesona tanpa merasa bersalah menyambut Andri.


Nita adalah wanita yang dulu dia cintai Andri sebelum Gina. Namun entah apa salah Andri Nita pergi dan lebih memilih laki-laki lain, Andri pun dulu ditinggalkan Nita tanpa sebab padahal Andri lagi cinta-cintanya.


Andri pun tak menyangka saat ini sedang bertatapan langsung dengan wanita yang membuat dia hampir gila dulu.


"Hai Dri, apa kabar?" Sapa Nita tersenyum setelah melihat Receptionist kembali ke bawah


"Aku juga baik," Ucap Nita sambil memainkan rambutnya yang pajang terurai berwarna kecoklatan.


" Jadi kamu kerja sama Vino?" Andri langsung mengalihkan pandangannya.


"Iya, aku kerja sama Pak Vino, gak nyangka yah kita bisa ketemu lagi." Ucap Nita mulai lanjut basa-basinya caper.


"Iya, jadi dimana ruangan Vino?" Ucap Andri yang tak mau berlama-lama dengan Nita yang mulai terlihat kecentilan.


" Oh iya, Pak Vino ada di sana ruangannya tapi sekarang masih ada tamu di dalam." Nita mulai merasa Andri sedang menghindar darinya.


"Oh gitu, iya baiklah." Ucap Andri singkat.


Tak lama tamu Vino keluar dan Andri pun langsung masuk.


"Hai Vin," Sapa Andri mengagetkan Vino yang hendak duduk di kursi kebanggaannya.


"Hei, ko gak ada yang ngasih tahu dulu gue lo udah dateng, wah gak bener sekretaris gue nih." Ucap Vino asal.


"Iya tadi dia malah ngajak ngobrol gue, kayaknya terpesona deh sama gue sampe lupa ngabarin lo." Ucap Andri tertawa kegeeran.


Tak lama Nita mengetuk pintu dan masuk membawa buku agendanya.


"Pak Maaf mau minum apa?" Tanya Nita menawarkan minum pada Andri.


"Oh iya Nit, sekarang jam saya kosong kan?" Tanya Vino yang masih berdiri.

__ADS_1


"Iya Pak betul, sekarang harusnya bapak makan siang Pak." Ucap Nita sekilas melirik Andri.


"Oke, pas kalo gitu kamu gak usah buatin dia minuman, kita mau keluar makan dulu." Ucap Vino ramah.


" Oh begitu, baik Pak." Jawab Nita sambil membantu menahan pintu yang ditarik Vino.


"Eh lo belum ngisi bensin kan?" Ucap Vino nyeplos sambil keluar dari ruangannya diikuti Andri. Nita yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahinya.


" Belum, gue dari rumah langsung kesini." Ucap Andri yang langsung paham maksud Vino.


" Oke, pas kalo gitu." Ucap Vino sambil berjalan menuju lift khusus untuknya.


Nita yang masih belum paham hanya bertanya-tanya dalam hati, "Ni bos gue sehat kan? apa hubungannya makanan sama ngisi bensin mobil. Apa gue tawarin buat cek up ke dokter Dodi aja gitu yah." Gumam Nita dalam hati.


Vino dan Andri pun berlalu dari area kantor menuju salah satu Cafe langganan Vino.


"Jadi lo perlu bantuan apa Vin? Ucap Andri sambil memasukan makanannya kedalam mulut.


"Gue butuh lo gantiin gue di perusahaan sekarang Dri, gua harus pergi segera untuk menghandle masalah perusahaan yang ada di luar dan gue gak gak punya banyak waktu buat nyari atau menyeleksi orang kantor. Selain gue gak percaya mereka lebih banyak penjilat daripada orang mau berusaha sendiri. Makanya gue mohon lo mau bantuin gue."


Vino terlihat putus asa dan sangat banyak masalah.


" Tapi gue gak yakin Vin, soalnya gue udah lama gak berkecimpung dilingkungan kantor gini." Andri merasa sedikit tidak percaya diri.


"Itu bukan masalah nanti juga lo terbiasa yang penting gue tahu kemampuan dan skill lo, gue tunggu kabar baik lo gue kasih waktu seminggu dari sekarang." Ucap Vino yang seenak jidat.


"Gila lo cepet amat, gue belum tentu juga langsung ter "Acc " (Accepted/ Accedere) surat resignnya dari tempat kerja gue sekarang." Ucap Andri mengerutkan dahinya.


"Masalah itu gue udah atur, gue udah minta tolong Rena buat handle masalah loh, besok udah ada yang mau gantiin lo disekolah. Cepet kan, pokoknya gue kasih waktu lo seminggu gak lebih gak kurang soalnya gue gak punya banyak waktu. Lo bisa gunain waktu lo buat perpisahan atau buat serah terima dengan orang baru pengganti lo dan buat pindahan ke rumah gue. Oh iya, di rumah gue juga gak ada orang kalo lo butuh orang buat nemenin lo atau bersih-bersih nanti lo cari sendiri orang buat disana." Ucap Vino langsung memperjelas situasi.


"Bentar- bentar lo emang kebangetan, parah lo. Lo sejak kapan ngerencanain ini sama Rena? Tanya Andri sambil menyeruput minumannya.


"Beberapa hari yang lalu." Jawab Vino singkat sambil membawa makanan kedalam mulutnya.


"Wah, gila lo berdua jangan- jangan lo udah ngirim surat resign gue lagi ?" Andri mulai curiga.


"Emang Udah, Udah pokonya lo jangan pikirin itu lo tinggal beresin sisanya yang udah gue kerjain, dan lo juga nanti tenang aja untuk semua fasilitas salary dan lain-lain udah gue urus atau apa perlu gue bikin surat tertulis perjanjian buat semua yang nanti bisa lo gunakan." Vino sambil mengambil pulpen dan mengambil Tissue di meja bersiap menulis.


"Wah, gila lo berdua gue tiba-tiba kenyang tau gak. Gue gak biasa Vin hidup mewah kayak lo gue juga gak sefashionable lo." Ucap Andri beralasan.


"Lo banyak kawatir banget sih bro, kan ada Gina gue bisa nyuruh dia buat ngebimbing lo biar terbiasa." Ucap Vino santai.


"Oke deh, gue coba cerna dulu omongan lo nanti besok gue kabari lagi gimana- gimananya." Ucap Andri berusaha mengerti.


"Oke, nanti gue tunggu kabar dari lo." Ucap Vino senang.


Andri hanya menggelengkan kepalanya karena masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya, hari itu Andri pun pulang setelah beberapa hal di jelaskan oleh Vino baik itu tentang perusahaan ataupun tentang Tian, Vino juga menitipkan Tian pada Andri.


Andri terkejut karena Tian yang dia tahu adalah anak manja bukan apa yang dia tahu sekarang kalo Tian ternyata memiliki beban yang amat sangat berat selain kurang kasih sayang, dia juga harus berurusan dengan beberapa bisnis milik keluarganya di usianya yang masih muda.


"Benar kata mba Rika, anak itu penuh kejutan" gumamnya dalam hati lalu terlihat senyum dari bibirnya merasa kasihan.


Keesokan harinya Andri langsung menemui Rena dan mengecek kebenarannya, dan lagi-lagi Andri mendapat kejutan karena ternyata Rena pun akan resign karena Vino sedang membutuhkannya.


Andri merasa dibuat spot jantung oleh kedua orang tersebut. Andri berusaha menarik napas kasar agar otaknya cepat mencerna dengan baik hingga jantungnya tak terkejut karena saat ini Andri sulit mencerna semuanya.


Guru yang dikatakan Vino pun benar adanya begitupun dengan surat resignnya, Andri pun mulai melakukan perpisahan dengan para muridnya. Banyak sekali ekspresi sedih dan kehilangan yang Andri dapat hingga sesaat Andri merasa tak tega meninggalkan mereka.


Andri juga langsung membicarakan dengan Rika dan Riko saat sudah sampai di rumah, tapi tidak dengan kebenaran tentang Tian, Andri merasa bukan saatnya sekarang karena masih terlalu dini.

__ADS_1


Andri pun langsung memberi tahu Gina, hingga sesaat Gina terdengar menangis karena tidak ingin jauh dari Andri.


Andri hanya berusaha meminta pengertian Gina dan akhirnya Gina pun mau mengerti, Andri merasa tenang dan lega.


__ADS_2