CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
MENJENGUK


__ADS_3

Saat Tiara melihat jam sudah pukul 16.30 sore, Tiara pamit tapi ditahan Tian.


"Pamitnya yang betul dong." Jahil Tian mulai lagi.


"Apa? Oh kamu minta kiss." Tiara pun mengecup pipi Tian tapi masih salah. Tian menggelengkan kepala.


"Apa dong?" Tiara berusaha mencari akal dan menemukan hal yang mungkin disukai Tian.


"Sayang, aku pamit pulang dulu yah ke rumah orang tua aku, kamu cepet sembuh tidur yang betul jangan begadang dan jangan sampai gak makan. Nanti besok aku kesini lagi." Ucap Tiara yang masih digenggam tangan Tian penuh penegasan kemudian mengecup Bibir Tian.


"Oke kamu boleh pulang, tapi nanti setelah sampai rumah kamu harus kabari aku."Ucap Tian yang kemudian mengecup bibir Tiara dengan lembut.


"Eh dasar mesum ni anak, tapi gak papa deh toh aku juga suka ,he.." gumam Tiara dalam hati, Tiara hanya tersenyum dengan kelakuan Tian yang seperti anak kecil.


Tian pun meminta Pak Dirman menyiapkan mobil untuk mengantarkan Tiara dan membeli beberapa Vitamin dari apotek 24 jam.


Tiara pun berangkat dan tak lama sampai di halaman rumahnya. Pak Dirmanpun langsung memarkirkan mobilnya.


"Pak tunggu sebentar, ini no telpon saya, nanti kalo ada apa-apa sama Tian tolong segera kabari saya ke no ini ya Pak." Tiara memberikan kertas berisi nonya.


"Iya baik mba, kalo begitu saya kembali sekarang ya mba." Pak Dirman pamit.


"Oh iya Pak, makasih ya Pak udah nganterin sampai rumah." Tiara lalu mundur beberapa langkah.


" Iya mba , sama- sama." Pak Dirman pun berlalu malajukan mobilnya hingga siluet nya hilang.


"Wah baik sekali nona ini, sudah baik ,cantik dan tinggi lagi. Semoga dengan adanya nona ini Mas Tian makin ceria sekarang." Gumam Pak Dirman dalam perjalanan pulangnya


Tiara pun langsung menghubungi Tian saat hendak masuk kedalam rumahnya, tak lama telpon pun tersambung.


"Iya sayang, kamu dimana?" Ucap tian dari sebrang yang terdengar serak.


Tiara yang kaget lalu mengecek nomor yang dia tekan tadi, takut salah pencet tapi ternyata tidak.


"Ih sejak kapan kamu sayang-sayang gini?" Tanya Tiara merasa geli.


"Sejak Tadi. Kan kamu yang panggil sayang duluan ke aku." Jawab Tian yang mulai jail lagi.


"... ... ..." Tiara hanya terdiam dan mengingat-ngingat karena merasa tidak pernah melakukannya.


Lalu Tiara pun tersadar dengan ucapannya pada Tian saat pamit tadi, Tiara hanya menepuk jidat sendiri karena merasa konyol.


"Yaaank, yaank ko diem." Tanya Tian yang merasa heran.


"Iya, ya kenapa ? Eh iya kamu lagi apa sekarang?" Tiara berusaha mengubah topik.


"Aku lagi nunggu telpon dari kamu?" Jawab Tian gombal dengan suara masih serak.


Tiara hanya terkekeh geli mendengar Tian yang gombal abis garingnya gak krenyes.


"Ya udah kan aku udah ditelpon nih, sekarang kamu cepet istirahat yah, besok aku jenguk kamu lagi kesana. Besok mau dibawain apa?" Tanya Tiara


" Aku lagi pengen kamu bawa kamu kamu kamu kamu, jangan sampai lecet dan rusak yah, bisa kan? Jawab Tian yang masih bisa becanda.


"Heuheuheuuu kamu tu ya aku nanya serius, becanda mulu, kamu besok mau dibawain apa? lagi pengen makan apa? Nanti aku beliin." Tanya Tiara yang terkekeh dengan lelucon Tian yang aneh itu.


" Kamu gak usah beli apa-apa aku cukup kamu aja yang kesini itu udah cukup ko." Jawab Tian yang masih gombal.


"Oke deh, ya udah kalo gitu kamu cepat tidur gih, biar cepet sembuh, ya udah aku tutup yah telponnya." Ucap Tiara perhatian.


" Oke, ya udah dah." Ucap Tian yang sudah terdengar lemas.


"Dah," Tiarapun menutup telpon Tian


"Ra kamu udah pulang, ko Mamah tadi kayak denger suara mobil. Eh iya, itu Tian. jadi gimana tadi jadi kerumah Tiannya?Tian kabarnya gimana dia baik-baik aja kan?" Tanya mamahnya penasaran yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya Mah udah, tadi aku dianter supir Tian Mah, aku juga udah ketemu rumahnya Tian tapi aku kerumahnya sendiri mah soalnya Kia lagi nemenin Mamahnya ke pasar. Tapi tadi ketemu cepet ko rumahnya soalnya aku dianterin ojeg kesana dibantu nyari alamatnya lagi Mah. Tian ternyata lagi sakit Mah, sakitnya dari kemaren sore pas pulang dari Bali itu ternyata Tian deman gitu Mah." Tiara menjelaskan sambil berjalan ke kamarnya lalu duduk di kursi belajarnya.

__ADS_1


"Oh gitu, Ya ampun kasian sekali itu anak, semoga cepet sembuh yah." Ucap Mamah Tiara kawatir lalu duduk di pinggir kasur Tiara.


"Iya Mah, Aminnn. Oh iya Mah Tian dirumahnya ternyata sendirian cuma ditemenin sama bibi dan supirnya gitu Mah. Mamah sama Papahnya lagi gak ada di rumah." Tiara memberitahu kondisi Tian sambil menghampiri Mamahnya.


"Pantesan dia beda." Ucap Rika sendu.


"Maksudnya beda gimana Mah." Tiara memeluk pundak mamahnya hangat itu.


"Mamah sering ngerasa kalo Tian itu seperti kurang kasih sayang gitu," Ucap Rika


"Contohnya seperti apa Mah?" Tiara belum paham maksud Ibunya.


"Contohnya ke kamu aja di suka manja bukan hanya itu, ke Mamah, ke Papah atau kalo dia ada di antara kita dia itu seperti orang yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga". Ucap Rika lagi menjelaskan.


"Ko Tiara gak pernah lihat ya Mah, mungkin karena Tiara kurang peka kali yah." Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya mungkin juga, makanya mulai sekarang kamu harus lebih perhatian lagi sama dia, jangan mau terus dimanja terus, belajar lebih peka karena mungkin saja dia lebih butuh kita manja, kita perhatiin. Mamah juga selalu melihat wajahnya sendu banget. Makanya kenapa Mamah suka marahi kamu kalo ngejahilin dia, soalnya dia kayak gitu mungkin karena gak bisa dapet kasih sayang yang banyak dari orang tuanya." Ucap Rika yang sudah mempunyai firasat sejak lama.


" Oh gitu ya Mah, ya deh kedepannya aku gak bakalan jahilin Tian Lagi, tadi juga Tian sempet bilang kalo Mama Papanya itu lagi kerja dan dia selalu kesepian gitu dirumahnya, Tiara ko malah kasian yah Mah." Ucap Tiara yang memeluk erat Mamahnya.


"Ehm.. kasian , makanya mulai sekarang jangan jahil lagi, berusaha lebih lembut dan mengerti dia. Eh iya, kamu udah makan?" Tanya Rika sambil menepuk tangan Tiara pelan yang melingkar dilehernya.


"Udah Mah, tadi aku udah makan di rumah Tian," Jawab Tiara sambil melihat Rika dari samping.


"Oh, ya udah syukurlah. Besok kamu kesana lagi kan?" Tanya Rika lagi.


"Ehmm,, kayaknya sih kesana lagi Mah. Emang kenapa Mah?" Jawab Tiara penasaran.


"Nanti Mamah titip makanan buat Tian, kali aja dia bisa cepet sembuh." Ucap Rika sambil berdiri berjalan sampai pintu kamar Tiara.


"Oke mah nanti Tiara bawain." Ucap Tiara yang saat itu berdiri juga.


Setelah Mamah Tiara keluar dari kamarnya Tiara kembali membuka kontak dan mengirim pesan pada Kia


Tiara : pink


Tiara : Gak ko lancar. Lo lagi apa sekarang?


Kia : Gua lagi nyantei aja, kenapa?


Tiara : Bagus deh, gue besok mau kerumah Tian lagi, lo temenin gue yah. Bisa kan?


Kia : Bentar gue tanya nyokap dulu. Maklum kalo libur gue agak susah keluar.


Tiara : Oke. Bilang aja besok Lo mau jenguk temen yang sakit.


Kia : Emang si Tian sakit?


Tiara : Iya, dia sakit Ki.


Kia : Oke


Beberapa menit kemudian.


Kia : Ra....


Tiara : Ya, gimana Ki. Besok Oke kan?


Kia : Bisa Ra, tapi gue gak bisa lama. Jam 3 sore gue udah harus dirumah.


Tiara : Oke sip, tapi besok berangkatnya pagian yah jam 7 dari rumah ya, soalnya nyokap mau nitip makanan buat Tian.


Kia : Oke.


------------------------------------------------------------------------


Keesokan harinya Tiara kerumah Tian sekitar jam 7.30 pagi, Saat sampai dirumah Tian mereka langsung dipersilahkan masuk ke kamar Tian oleh Bi Enah.

__ADS_1


Lalu Tiara memberikan makanan yang dititip mamahnya ke Bi Enah untuk ditata di piring dan di bawa ke kamar Tian.


Tiara pun langsung menuju kamar Tian yang sudah tidak ragu mengetuk pintu dan saat Tian memberi tanda "masuk" Tiara pun membuka pintu kamar Tian.


"Hai.." Sapa Tiara yang berjalan mendekati tempat tidur Tian.


"Hai.." Sapa Tian yang sedang duduk dengan Laptop di pangkuannya.


" Kamu lagi apa?" Tanya Tiara penasaran dengan hal yang dilakukan Tian dengan Laptopnya.


Lalu Tiara menyentuh dahi Tian dan lehernya ingin memastikan suhu tubuhnya. Tiara merasa ada yang aneh karena panas suhu tubuh Tian tidak berubah, tapi Tian terlihat sedikit terkejut kemudian dengan perlahan dia menutup Laptopnya dan meletakan Laptopnya ke pinggir supaya tidak terlihat Tiara.


"Kamu masih panas?" Ucap Tiara dengan wajah gelisah.


"Aku udah enakan ko "yang" bentar lagi juga sembuh." Ucap Tian yang sangat pucat tapi tidak ingin membuat khawatir Tiara


Lalu memegang tangan Tiara dan menggoda supaya tidak menegang situasinya, tapi Kia yang melihat itu malah terkekeh geli dan tertawa sangat lebar saat mendengar kata "Yang" yang membuatnya hanya menganga.


"Ra, kayaknya dia udah beneran enakan deh buktinya udah bisa becanda gitu lihat." Ucap Kia yang malah merasa bahan topik yang lucu.


Tapi Tiara masih terlihat cemberut dan tak merasa lucu sama sekali. Tiara pun permisi ke bawah untuk menelepon Mamahnya lalu Kia mengikutinya dari belakang.


Saat sampai di bawah tangga Bi Enah yang hendak membawa makanan yang dibawa Tiara ke atas ditahan Tiara. Bi Enah pun menyerahkan makanan itu pada Tiara.


Tiara duduk di kursi meja makan dan mulai mengacak nomor kontak di telponnya lalu menekan panggilan untuk Ibunya.


"Mah" Ucap Tiara hampir menangis. Setelah sambungan telepon tersambung.


"Iya Ra, kenapa sayang? ada apa dengan Tian?"Tanya Mamahnya yang khawatir karena mendengar suara anaknya gemetaran.


"Mah, kondisi Tian kayaknya gak baik deh Mah. Kalo misalnya kita bawa dia ke Rumah Sakit gimana Mah, bisa gak Mah?" Tanya Tiara meminta pendapat. Kia yang didekatnya langsung memeluk Tiara untuk menenangkan.


"Memang kenapa dengan Tian Ra, coba kamu tenang dulu jangan tegang jelasin ke Mamah dengan tenang." Ucap Mamahnya menenangkan.


"Hari ini dia masih panas kondisinya malah terlihat lebih parah dari kemarin Mah, dia sangat pucat tapi dia gak mau membuatku khawatir. Malah terus-terusan becanda." Tiara menjelaskan terdengar sedikit kesal karena kelakuan keras kepala Tian.


"Mah, Mamah bisa kesini gak? Lihat dulu kondisi Tian, dan bujuk dia buat di rawat di Rumah Sakit." Pinta Tiara pada Mamahnya.


"Ya udah sebentar lagi Mamah kesana sama Papah. Kamu kirim alamatnya ke handphone Mamah yah, sekarang kamu coba bujuk Tian untuk makan dan minum obat dulu supaya dia bisa istirahat yah." Mamah Tiara memberi solusi agar Tiara sambil mulai beres-beres untuk berangkat ke rumah Tian


Tiara pun mengakhiri sambungan telepon dengan Ibunya kemudian mengirim alamat rumah Tian pada Ibunya, Tiara pun mematuhi Ibunya dan berusaha tenang.


"Mba, Maaf sebelumnya karena bibi lancang mendengar pembicaraan mba barusan." Ucap Bi Enah yang mendekati Tiara lalu menundukan kepalanya.


"Iya ,gak papa ko bi." Ucap Tiara sambil menyeka air matanya yang sudah membuat wajahnya sembab dan memerah seperti kepiting rebus.


"Mba, sebenarnya bibi sangat khawatir pada Mas Tian, sejak datang dari Bali Mas Tian sudah pucat dan langsung demam panas, bibi berusaha mengompres mas Tian tapi panasnya gak turun juga, Mas Tian juga gak pernah mau dibawa ke Rumah Sakit karena gak mau ngerepotin kita Mba. Jadi bibi sangat senang jika mba Tiara bisa membujuk Mas Tian ke rumah sakit. Disini Bapak sama Ibu tidak pernah ada di rumah mba, yang selalu datang cuma pamannya Mas Tian, itu juga gak tentu mba. Kalo sampai ada apa-apa sama Mas Tian Bapak dan Ibu hanya mengandalkan kita disini Mba. " Ucap Bi Enah yang langsung menangis tersedu-sedu.


"Iya bi, Tiara usahain. Semoga Mamah dapat membujuk Tian dan membantu kita nanti." Ucap Tiara yang mulai cemas kemudian menghampiri Bi Enah dan memeluknya.


"Iya mba." Ucap Bi Enah yang mulai mereda tangisannya.


"Bi Tiara ke atas dulu yah, mau kasih makan dulu ke Tian. Oh iya Bi, Tian udah minum obat?" Tanya Tiara seraya


"Iya Mba, Mas Tian gak pernah mau minum obat Mba." Jawab Bibi yang terus mengeluarkan air mata.


"Ya Alloh, berarti dari kemaren dia bohong sama aku, pantesan gak turun panasnya, mungkin aja dia juga gak istirahat makanya sekarang makin parah gitu." Tiara tak habis pikir dengan Tian yang sangat keras kepala gumamnya dalam hati.


Kia langsung memeluk Tiara supaya tidak tegang kembali.


"Sabar Ra, kita mending ke atas lagi yu, nanti om sama tanteu kan kesini. Semoga mereka dapat membujuk Tian,yah? Kia berusaha menenangkan Tiara dan Tiara hanya menganggukan kepalanya.


Tiara dan Kia pun melepas pelukannya dan munuju kamar Tian membawa makanan dan air minum di nampan.


*****


Hai All, jangan lupa like, vote dan favoritekan novel ini yaa..😄😄😄

__ADS_1


Happy reading guys..😘😘😘😘


__ADS_2