CINTA TAK BERBALAS

CINTA TAK BERBALAS
BAYANGAN DAN KENYATAAN


__ADS_3

Pakaian lengkap, parfume sandal dan sabun semua ada di dalamnya, karena sudah tidak nyaman Vino pun langsung permisi untuk membersihkan diri yang kebetulan memang ada toilet didalam ruangan, Rika pun mempersilahkan dan permisi keluar sebentar pada Tian dengan alasan mau menelepon Riko suaminya.


-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-


Andri yang pagi itu pulang sangat pagi langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Saat akan berangkat ke sekolah Andri menyerahkan paper bag pada kakaknya yang akan berkunjung ke Rumah Sakit.


Andri menitipkan pakaian ganti dan beberapa peralatan lainnya untuk Vino.


"De" Sapa Rika yang saat itu sedang di dapur


"Hmmm... iya mba, kenapa?" Jawab Andri yang duduk di mini bar sambil menyeruput kopi kesukaannya.


"Vino itu bukannya teman kamu yang ada difoto kamarmu yah?" Tanya Rika dengan suara lembut sambil mencuci piring yang kotor.


"Iya Kak, Dia adalah temanku saat kuliah dulu, kenapa mba?." Jawab Andri sambil membaca koran berita pagi hari.


"Oh, emmh nggak-nggak papa" Ucap Rika yang sudah beres dari pekerjaannya.


Sebenarnya Rika merasa ada yang tidak beres diantara mereka, sejak bertemu kemaren mereka seperti orang asing tapi jelas sekali di foto yang ada di kamar adiknya itu Vino seperti orang yang sangat dekat.


Rika mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak dan memilih diam karena mungkin hanya perasaannya saja kemaren mereka begitu gumamnya dalam hati.


Tiara yang masih suram dan tidak bersemangat sangat membuat Ayah Ibunya khawatir, namun Tiara yang sangat pintar menyembunyikan rasa sedihnya itu selalu berusaha terlihat ceria di depan orang tuanya.


Selama perjalanan menuju ke sekolah Tiara tidak terlihat ceria, Andri yang tidak mau membuka pembicaraan hanya diam karena Andri pun saat ini sedang memikirkan Vino dan Tian.


Andri tak habis pikir bahwa mereka ternyata adalah keponakan dan omnya.


"Ra, nanti sore kamu mau jenguk Tian kan?" Tanya Andri saat tiba diparkiran sekolah.


Tiara hanya mengangguk sambil melihat Andri sekilas.


"Oke, nanti kita bareng aja kesananya yah?" Ucap Andri sambil mengambil tas kerjanya yang ada dibelakang.


"Iya, Om." Ucap Tiara yang juga akan keluar dari mobil.


Tiara yang hari ini menggantikan tugas Tian sebagai ketua kelas banyak melakukan berbagai hal mulai dari bulak balik ke kantor sekolah sampai membawa para murid yang sakit ke UKS.


Membuatnya sedikit kembali bersemangat karena banyak kegiatan, Tidak halnya dengan Dira yang melihat Tiara seperti itu Dira menyangka bahwa Tiara sudah putus dari Tian atau sedang ada masalah gumamnya dalam hal hati.


Dira pun memanfaatkan situasi dan mulai mendekati Tiara dan terus menempel sampai pulang sekolah. Tiara yang sangat risih dengan tingkah Dira dan berusaha menghindar tapi Tiara gagal.


"Ra, kita pulang bareng yah?" Ucap Dira yang sudah menunggu Tiara di depan pintu kelasnya.


"Gak bisa, gue pulang bareng Om Andri Ra," ucap Tiara yang berjalan cepat menghindari Dira.


"Tunggu dong jangan cepet-cepet jalannya." Ucap Dira yang menarik tangan Tiara supaya tidak menjauh darinya.


"Ih, apa sih Ra." Tanya Tiara kesal.


"Ra..." Panggil Kia dari belakang yang membuat keduanya berbalik.


Kia yang melihat kekompakan mereka merasa lucu hingga senyum yang tertahan karena melihat wajah Tiara yang kesal.


"Sorry Dir, maksud gue tadi ke Tiara." Kia menjelaskan kesalah pahamannya.


"Oh, iya gak papa ko Ki." Ucap Dira yang tidak ambil pusing dan belum melepaskan genggamannya.


Tiara berusaha melepaskan tangannya dari Dira yang memegang erat tapi nihil.

__ADS_1


"Eh sedang apa kalian?" Tanya Rena yang kebetulan melihat Tiara dari jauh berdebat dengan Dira.


Dira pun melepaskan Tangan Tiara dan mulai salah tingkah.


"Eh, ibu siang bu, pulang bu?" Tanya Dira sambil tersenyum.


Kia yang langsung mengaitkan tangannya ke lengan Tiara mulai berjarak dengan Dira karena sedikit ditarik Kia.


"Iya siang Dira," Jawab Rena yang membalas senyuman Dira


"Eh iya Ra, om Andri udah nunggu diparkiran kita bareng aja yu kesana," Ucap Rena yang mengayunkan tangannya sambil tersenyum memberi kode.


Tiara pun langsung meraih tangan Rena dan mengerti maksud Rena kemudian mereka pun berlalu.


"Duluan ya Dira." Ucap Rena sambil berjalan.


"Oh, iya Bu." Ucap Dira yang masih berdiri di tempat.


" Bu, Makasih yah." Ucap Tiara yang berjalan sejajar dengan Rena sambil tersenyum.


"Iya, sama- sama." Jawab Rena yang membalas senyuman Tiara.


Kemudian mereka pun beriringan berjalan sampai parkiran, saat melihat Andri yang sudah menunggu Rena, Tiara, dan Kia langsung masuk ke dalam mobil.


"Om Kia mau ikut jenguk Tian jadi sekalian aja gak apa-apa kan Om?" Tanya Tiara yang meminta persetujuan Andri.


"Iya , gak apa-apa." Ucap Andri yang mulai melajukan mobilnya keluar area sekolah.


Selama di diperjalanan mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah tempat makan untuk makan siang. Andri pun meminta 1 porsi makanan untuk dibungkus yang akan dia berikan untuk Vino.


Sesampainya di parkiran Rumah Sakit, Andri seperti melihat siluet Gina sekilas saat mereka melewati parkiran tapi Andri langsung menepisnya, karena Tidak mungkin seorang Gina ada disini secara dia memiliki koneksi bagus untuk bisa ditempatkan di Rumah Sakit yang lebih bagus yang berada di Ibu Kota gumamnya dalam hati.


Sedangkan Tian sedang duduk dengan Handphonenya yang sedari bermain games.


Andri yang melihat Vino seperti kelelahan langsung menghampirinya sedangkan Rena lebih memilih duduk di kursi yang lebih dekat dengan ranjang Tian yang ada Tiara dan Kia disitu.


"Kamu gimana kabarnya sekarang?" Ucap Tiara pada Tian yang terlihat lebih ceria


"Aku udah baik ko, kata dokter besok sudah boleh pulang jika memungkinkan." Jawab Tian menjelaskan, Kia dan Rena hanya mengangguk senyum.


"Lo udah makan ?" Tanya Andri sambil menghampiri kemudian duduk didekat Vino.


"Belum," Ucap Vino melihat Andri sekilas lalu fokus kembali pada Laptopnya sambil tersenyum, Andri yang juga melihatnya hanya ikut tersenyum.


Andri yang melihat Vino sudah mengirimkan sebuah berkas lalu menutup Laptopnya kemudian mulai fokus padanya.


"Ini buat gue?" Tanya Vino yang mulai keroncongan saat merasa tidak enak karena Andri terus memperdulikannya.


"Ehmmm, silahkan dimakan atau terkecuali lo mau keluar nyari makanan silahkan. Mungpung ada kita disini yang jagain Tian."Ucap Andri menawarkan dan mengekspresikan dengan tangan yang mengarah ke pintu.


"Gak lah, males gak ada temen juga mending yang ada aja sama aja." Ucap Vino yang langsung membuka beberapa wadah sampai terlihat senyumannya tersimpul karena senang melihat makanan kesukaannya ada didepan mata.


"Makasih ya." Ucap Vino terlihat senang.


"hmmmm... (Andri hanya berdehem dan mengangguk kecil)


Vino pun langsung melahap makanannya dan perutnya sedikit bahagian karena sudah dari tadi meminta diisi.


Lalu Andri berdiri menuju kulkas yang terisi makanan dan beberapa buah-buahan juga minuman didalamnya.


Andri pun mengambil beberapa minuman dan memberikannya pada Rena, Rena pun mengambil dan meminumnya yang sedari tadi sangat kehausan.

__ADS_1


"Kalian kalo mau juga ambil aja yah." Ucap Andri pada Tiara dan Kia.


"Iya, Om.'' Ucap Tiara yang mengangguk dan Kia langsung menuju kulkas tanpa basa-basi mengambil minuman untuknya dan untuk Tiara.


"Makasih ya," Ucap Tiara dan Kia hanya mengangguk.


"Oh iya, gue mau ngenalin lo sama calon istri gue." Ucap Andri pada Vino yang sudah mulai makan.


" Oh iya, selamat ya... siapa dia?" Tanya Vino yang masih mengunyah makanannya.


"Tuh di sana orangnya,, " Tunjuk Andri dengan kode matanya yang melirik ke arah Rena. Dan Rena pun langsung melihat kearah Andri.


Seketika Vino tersedak dan batuk karena terasa sakit di bagian tenggorokannya.


Begitupun hatinya yang merasa seketika tersambar petir sampai tak bisa melihat Rena karena kaget.


Vino pun langsung meneguk minuman bekas Andri yang sudah terbuka daripada minumannya yang masih tersegel rapih.


Vino hanya menunduk kesakitan, perutnya tiba-tiba kenyang dan saat itu juga langsung keluar untuk mencari udara.


" Kamu sih, ngasih tahu orang ko gak lihat situasi, kasian tahu gih lihat sana ." Ucap Rena menghampiri Andri dan menepuk paha Andri membuat Andri tersenyum.


Andri pun keluar melihat Vino yang sedang Duduk di kursi dekat Taman, sambil meneguk beberapa kali air dengan mata dan wajah yang masih merah karena terbatuk-batuk.


"Lo gak papa kan?" Tanya Andri yang menghampiri Vino dan menepuk punggung Vino beberapa kali.


" Hah, lumayan sakit tenggorokan gue bro," ucap Vino yang tersenyum melihat Andri.


Andri Pun tersenyum sinis balik lalu mereka pun tertawa.


"Lo kenapa sampai tersedak sih?" Tanya Andri sambil menurunkan tangannya dari punggung Vino.


"Ya gue kaget lah, denger lo mau nikah tapi gue seneng juga karena lo mau ngasih tau gue, makasih ya,,,, nanti gue pasti dateng." Ucap Vino menyembunyikan rasa sakit di dadanya.


"Yaa setidaknya gue gak kayak lo gak ngabarin gue tentang pertunangan dulu malah lo gak ngabarin gue udah nikah atau belum." Sindir Andri pada Vino sambil meliriknya.


"Iya, sorry bro. Gue juga saat itu cuma bisa nurut apa kata bokap gue, gue juga gak tau kalo dia adalah Gina, kita baru ketemu pas acara dan gue juga gak tau awalnya itu adalah acara tunangan gue, kita dijebak. Gue tahunya dulu itu acara pertunangan kolega. Dan bokap minta gue dateng karena mau ngenalin gue ke koleganya, tapi ternyata gue dijebak dan gue gak bisa apa-apa saat itu cuma bisa nurut." Ucap Vino penuh penjelasan.


"Iya, gak apa-apa semuanya kan sudah berlalu lagian juga gue udah move on dan sekarang udah ada Rena yang bakalan jadi teman disisa umur gue." Jawab Andri yang mengkhianati hatinya.


"Tapi jujur aja sebenernya gue sampai saat ini belum nikah Dri, dan pertunangan kita juga udah berakhir 2 tahun yang lalu. Kita sama-sama jujur karena memiliki orang kita cintai, kita juga sepakat menentang dan mencari cara agar orang tua kita menggagalkan rencana mereka. Tapi sayang sepertinya perjuangan kami untuk mendapatkan kebahagian kami tidak akan tercapai Dri." Ucap Vino yang terlihat sedih dan tak mau melihat Andri sedikit pun.


Dan Rena yang mengekori Andri sedari tadi ada didekat mereka menguping semua penjelasan Vino dan sekarang sedang menangis tertahan karena merasa sakit mendengarnya.


Begitu pun Gina yang rencananya akan mengajak makan Vino bersama malah mendapati Andri sedang mengobrol dengan Vino yang seketika lalu manarik tubuhnya karena kaget agar tak terlihat dan mulai menguping pembicaraan mereka dari arah berlawanan dan saat ini sedang menangis tertahan karena mendengar Andri akan menikah.


"Gue gak tau Vin, semenjak kejadian itu gue kecewa karena lo dan Gina ternyata bukan orang biasa seperti gue. Gue cuma minder dan sedikit takut bergaul dengan orang-orang seperti kalian. Dan gue juga belum pernah ketemu Gina sampai saat ini, dari dulu gue cuma pasrah dan mendoakan yang terbaik buat kalian dan ternyata doa gue malah dipertemukan dengan Rena, gue saat ini hanya menjalani yang harus dijalani dan bukan berusaha lari dari masa lalu." Ucap Andri yang juga tak mau melirik Vino yang sama-sama bersandar ke dinding.


" Gue juga akan mendoakan yang terbaik buat lo dan semoga lo bahagia Dri. Gue juga gak mau menutupi kenyataan yang kedepannya membuat lo kecewa yang kedua kalinya sama gue, untuk masalah kekayaan gue bukan menutupinya dari loe Dri tapi gue hanya gak mau lo berubah karena status orang tua gue yang berkecukupan, gue tulus ingin berteman sama lo Dri, gue gak mau kehilangan lo lagi karena cuma lo satu-satunya orang yang mau menerima gue apa adanya. Dan loe juga harus tahu kalo Gina ada disini, dia bekerja di Rumah Sakit ini Dri gue juga baru ketemu dia lagi pas tadi pagi dia datang untuk mengecek kondisi kesehatan Tian Dri." Ucap Vino sambil memandang dan menepuk bahu sahabatnya itu.


Andri pun terlihat terkejut saat mendengar ucapan Vino bahwa Gina bekerja di Rumah Sakit ini. Andri merasa senang campur bingung karena apa yang dia lihat tadi bukanlah kesalahan dari penglihatannya.


" Lo gak bohong kan Vin, dia di bagian apa Vin?" Seketika air mata yang tertahan di wajah Andri mengalir karena terharu dan senyum senang mendengar penjelasan Vino.


"Gue gak bohong Dri, gueee gue gak tau dia di bagian apa? Tapi yang pasti dia adalah seorang dokter Dri dan gak bakalan susah mencari dia di bagian informasi." Ucap Vino yang tersenyum melihat kebahagian di mata sahabatnya itu.


****"


Hai Reader jumpa lagi kita, jangan lupa vote, like dan favorite kan Novel ini yah.. supaya thor tambah semangat bikin nyaaaa


Happy reading all...😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2