
Tian pun mengantar Tiara ke rumah Kia setelah mengantarkan Deni ke rumahnya, mereka pun tidak sampai mampir ke rumah Deni karena Tian sangat lelah ingin segera sampai ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan Tiara berusaha menemani Tian supaya tetap terjaga.
Sampai saat mereka dirumahnya Kia, mereka langsung masuk ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya.
" Hallo Tanteu, apa kabar?" Sapa Tiara ramah sambil mencium pipi kanan dan kirinya. Tian pun menyapa Mamah Kia dan bersalaman.
" Baik, Tiara apa kabar ?" Sapa Mamah Kia ramah pada Tiara.
"Tiara juga baik Tanteu." Jawab Tiara sopan.
"Gimana liburannya?" Tanya Mamah Kia penasaran.
"Lancar Tanteu." Jawab Tiara singkat sambil tersenyum.
"Oh iya syukurlah, oh iya makasih yah oleh-olehnya, banyak banget kalian belinya." ucap Mamah Tiara merasa senang.
" Oh itu, itu dari Tian Tanteu kita cuma nemenin doang." Ucap Tiara merasa malu.
Tian terlihat kaget celingak celinguk karena merasa disebut namanya.
"Oh gitu, makasih ya nak Tian oleh-olehnya, lain kali jangan bawa banyak- banyak Tanteu jadi gak enak." Ucap Mamah Tian basa-basi pada Tian sambil tersipu malu.
"Oh iya Tanteu sama-sama, nggak ko Tanteu kalo Tanteu senang saya juga senang." Ucap Tian canggung.
"Eh iya kata Kia kamu mau bicara sama Tanteu. Ada apa yah?" Tanya Mamah Kia ke Tiara yang mulai terlihat cemas.
"Oh iya, gini Tanteu semalam Mamah kan telpon Tiara katanya lagi mau ke rumah Oma karena sakit, terus rencananya Tiara mau ijin sama Tanteu mau minta Kia nemenin Tiara dulu dirumah selama Mamah dan Papah disana. Gitu Tanteu, boleh nggak?" Ucap Tiara memohon.
Tak lama Kia datang dengan membawa minuman, Tian langsung meneguk saat dipersilahkan oleh Kia dan Mamahnya karena merasa haus.
"Oh gitu, emang Mamah disana berapa lama?" Tanya Mamah Kia ingin tahu.
"Katanya sekitar 1 Minggu atau lebih Tanteu, soalnya Oma lagi sakit juga jadi kata Mamah belum pasti kapan kepulangannya." Ucap Tiara menjelaskan.
" Oh gitu, ya udah nggak apa-apa. Tapi mungkin Kia harus bawa banyak perbekalan yah nak yaa...? Emang kamu nggak apa-apa?" Tanya Mamahnya pada Kia.
"Iya Mah, Nggak apa-apa ko. Lagian kasian juga Tiara kalo harus sendirian kan. Anggap saja Kia lagi belajar mandiri selama seminggu di rumah Tiara." Ucap Kia sambil tersenyum senang menganggukan kepalanya.
Mereka pun berangkat ke rumah Tiara setelah membawa perbekalan Kia dan mendapatkan ijin dari Mamah Kia.
Sesampainya di halaman rumah, Tiara sangat kaget karena melihat ada seseorang yang sedang tertidur seperti sudah lama menunggu di teras.
Tian pun melihatnya dan merasa heran dengan apa yang orang itu lakukan, tapi Kia hanya tertawa meledek bahwa orang itu adalah tukang asuransi yang sedang rehat sejenak.
" Lo ngaco ah Ki, emang rumah gue penampungan peristirahatan tukang asuransi." Ucap Tiara jengkel. Kia hanya membalasnya dengan tertawa.
"Kamu lagi menunggu seseorang?" Tanya Tian waspada.
"Nggak, mungkin itu tamu Ibu kali." Ucap Tiara beralasan.
"Baiklah, ayo kita lihat." Ucap Tian menghela nafas kasar dan terlihat khawatir.
Tiara dan Kia pun khawatir lalu saling tatap takut terjadi sesuatu jadi langsung mencegah Tian untuk melihatnya.
"E e eh, bentar gini aja. Kamu mending bawa barang-barang aja. Urusan orang itu biar aku dan Kia yang mengeceknya."Ucap Tiara yang saling kode dengan Kia dan langsung membuka pintu.
"Tapi gimana kalo itu orang jahat, kamu gegabah banget sih." Ucap Tian emosi.
"Aduh Tian lo jangan lebay dong mana ada orang jahat gayanya urakan gitu, lagian ini kan rumah Tiara, mungkin aja itu beneran tamu Ibunya yang nggak lo kenal." Ucap Kia mencoba memberi alasan yang masuk akal takut Tian malah emosi.
"Ya udah, tapi nanti kalo dia orang jahat kalian langsung lari yah." Ucap Tian mencoba memberi masukan.
__ADS_1
" Ampun deh nih pangeran satu, khawatirnya super banget." Ucap Kia menggerutu.
"Hussst ...." Ucap Tiara melotot ke Kia memberi kode
"Hehehe ... ." Jawab Kia merasa bersalah.
Sedangkan Tiara terlihat tetap tenang tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan dan membelai wajah Tian dengan lembut supaya Tian tidak terlalu khawatir.
Mereka pun berlalu kearah teras rumah, sedangkan Tian menurut langsung membuka bagasi mobil untuk membawa barang-barang.
"Andreas.... " Ucap Kia saat melihat orang yang tertidur pulas wajahnya ditutupi tupluk bagian matanya.
Tiara pun menggoyang-goyang tubuh laki-laki yang tertidur pulas berambut gondrong itu yang tertidur sangat pulas.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya tubuhnya menggeliat dan melihat Tiara dan Kia di depannya.
"Kak Rara." Ucap laki-laki yang bernama Andreas itu sambil membetulkan posisi duduknya lalu memeluk Tiara tanpa canggung.
Tian yang melihat Tiara dipeluk laki-laki asing baginya dan terlihat Tiara diam saja tidak ada penolakan.
Membuat spontan menlemparkan barang-barang yang dibawanya asal dan menghampiri laki-laki lalu menghempaskan tangannya karena merangkul tubuh Tiara gelendotan seenaknya.
Sontak saja Tiara dan Kia terkejut dengan apa yang dilakukan Tian begitupun Andreas.
"Heh, lo siapa berani-beraninya meluk ke cewek gue gak sopan?" Ucap Tian emosi.
Kia yang takut hanya diam sedangkan Tiara langsung berdiri menjadi penengah diantara Tian dan Andreas.
"Eh seharusnya gue yang tanya lo siapa cuma orang asing berani gak sopan kayak gitu sama gue." Ucap Andreas yang kaget dan tak mau disalahkan.
"Dia pacar gue, jelas gue marahlah lihat cowok asing gelendotan ke cewe gue." Ucap Tian yang sedang ditahan dipeluk Tiara supaya tak sampai mendekat ke Andreas.
"Oh lo cowoknya, emang cewek lo gak pernah cerita soal gue." Ucap Andreas memanas-manasi Tian yang emosi.
"Ade, ko kamu ngomong gitu sih." Ucap Tiara yang kaget dengan pernyataan sepupunya itu.
Sedangkan di sisi lain Tiara juga tidak mau Tian sampai marah dan ujung-ujungnya nanti kena semprot Mamahnya.
"Maksud lo apa?
Ucap Tian melotot emosi melihat Andreas malah terlihat tersenyum nyinyir dan tak mendengar apa yang dikatakan Tiara.
"Maksudnya apa? Apa kamu selingkuh selama ini?" Ucap Tian geram langsung bertanya pada Tiara dengan wajah penuh urat tegang membuat Tiara malah ketakutan.
"Aduh, ko jadi runyam gini." Gumam Tiara kesal sambil menggigit bibirnya.
"Nggak, dia cuma becanda. Kamu tenang dulu aku jelasin dulu ke kamu tapi kamunya tenang dulu."Ucap Tiara yang berusaha tenang karena melihat Tian yang emosi.
Tian pun mulai berusaha meredakan emosinya tanpa mau melihat Andreas sedangkan Andreas sedang ditahan Kia yang berusaha memanas-manasi Tian.
"Ya udah kamu jelasin ke aku siapa dia?" Ucap Tian yang sudah mulai mereda.
"Dia cuma sepupu aku, dia anak Om Beno yang dulu ngobatin aku itu lo. Maaf yah aku gak pernah ngasih tahu soal Andreas soalnya aku kira gak bakalan kayak gini." Ucap Tiara merasa bersalah.
"Iya, nggak apa-apa tapi lain kali kamu mending ngasih tahu aku sebelum ada kejadian salah paham kayak gini lagi." Ucap Tian memberi pengertian.
"Iya, oke. Maaf yah untuk yang sekarang ini salah aku dan Andreas juga suka jail orangnya, jadi aku harap kamu ngerti." Ucap Tiara sambil mengajak Tian duduk bersama Kia dan Andreas.
Andreas juga sudah terlihat ceria dan menghentikan kejailannya, Kia yang disampingnya hanya menggeleng kepala sangat jengkel karena Andreas yang selalu jail dan membuat keributan pada siapa pun yang dekat dengan Tiara.
"Lo parah banget sih, jail mulu dari dulu." Ucap Kia heran., Andreas hanya cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, de jail banget sih kamu. Nakal banget, gak sopan." Ucap Tiara gemas sambil mencubit pipi Andreas.
__ADS_1
"He,,,, ya maaf. Abisan dia duluan yang bikin aku kaget ya udah aku kerjain aja sekalian." Ucap Andreas tak mau disalahkan.
"Lagian juga ngapain kamu disini?" Ucap Tiara heran.
"Aku besok mau ke sekolah Kakak gitu, nah berhubung Ayah dan Ibu juga lagi gak dirumah jadi aku langsung di drop Ayah tadi kesini biar besok gak kerepotan." Ucap Andreas menjelaskan.
"Emang Om sama Tanteu kemana?" Tanya Tiara ingin tahu.
"Ke rumah Oma." Jawab Andreas singkat.
Tiara pun baru ngeh dengan Omanya yang sedang sakit. Lalu Tiara menggerutu didalam hatinya karena tidak ada yang mengabarinya siapapun sebelum anak manja adik sepupunya itu datang.
"Oh,,,, eh iya kamu minta maaf dulu sama Tian sekalian kenalan. Biar gak salah paham lagi nanti." Ucap Tiara gemas dengan kelakuan adik sepupunya itu.
"He,, iya. Maafin gue yah. Gue gak maksud bikin salah paham antara lo sama kakak sepupu gue." Ucap Andreas sambil menyodorkan tangan kanannya.
"Oke, kali ini gue maafin. Tapi gue gak suka yah lo gelendotan kayak tadi." Ucap Tian mengultimatum sambil menerima salam tangan dari tangan Andreas itu.
"Oke, gue gak bakalan lagi kayak tadi kalo ada lo. Tapi kalo dibelakang lo gue gak janji yaaa dan sorry nih soalnya gue juga kan udah lebih dulu kenal sama kak Rara sebelum lo. Jadi lo gak bisa ngelarang-ngelarang gue buat gak manja sama kakak gue sendiri." Ucap Andreas Bandel.
"De, iya aja kenapa sih. Bandel banget." Ucap Tiara gemas. Tian terlihat tak terima dengan jawaban Andreas yang semena-mena pada Tiara.
"Sorry yah, dia emang kayak gitu. Aku harap kamu maklum yah." Ucap Tiara meminta pengertian Tian.
"Gak bisa, aku gak suka." Ucap Tian tegas.
Tiara pun bingung menghadapi kedua bocah yang sama-sama anak tunggal itu.
Di satu sisi, Tiara bingung karena Tian adalah pacarnya yang sangat manja karena kekurangan kasih sayang dari keluarganya dan Tiara juga diamati Mamahnya supaya lebih menjaga perasaan Tian.
Dan di sisi lain Andreas juga adalah sepupunya yang sudah sedari kecil bermain bersama dan tumbuh bersama-sama, Andreas sejak kecil tidak pernah lepas dari Tiara sampai usia mereka remaja dan harus berpisah karena orang tua Andreas yang harus pindah dinas diluar kota.
Tiara juga pernah membuat Andreas sampai sakit karena marah pada Andreas yang terus menempel dan membuatnya jengkel hingga akhirnya Tiara berjanji pada Papahnya tidak akan pernah marah lagi jika Andreas bermanja-manja padanya.
"Ah ya udahlah terserah kalian kalo mau ribut terus aku cape mau masuk, bodo amat mau jotos-jotosan juga palingan nanti kalian kena tegur Mamah." Ucap Tiara sambil berdiri dan meninggalkan Tian, Kia dan Andreas yang masih duduk.
Tiara pun mencari kunci pintu dan membukanya lalu diikuti Andreas dan Kia dari belakang.
Sedangkan Tian masih diam ditempat menahan emosinya sampai mereda, tak lama Tiara pun kembali menghampiri Tian dan memberinya minuman.
Tian masih terlihat jengkel, wajahnya kusut seperti kertas yang diremas.
"Jangan marah lama-lama dong, kamu jelek tahu kalo lagi cemberut gitu." Ucap Tiara merayu.
"Lagian kamu kenapa sih, gak mau berpihak sama aku, malah minta pengertianku. Aku kan pacar kamu, harusnya kamu minta pengertian dia lah daripada aku." Ucap Tian kecewa.
"Iya, maaf-maaf. Soalnya kita dari kecil udah barengan, aku juga pernah janji gak bakalan marah dan melarang dia manja-manja sama aku, soalnya Andreas pernah sakit karena aku marah padanya dulu." Ucap Tiara memberi penjelasan.
"Ko kamu bisa sih buat janji konyol kayak gitu, pokoknya aku gak suka dan kamu harus janji gak bakalan kayak tadi lagi." Ucap Tian kesal.
Tiara hanya diam gak bisa menjawab kata-kata Tian lagi.
"Terus kenapa dia manggil kamu Rara?" Tanya Tian ingin tahu.
"Oh, itu panggilan nama kecil aku aja gak ada alasan lain ko." Ucap Tian ingin meredakan hati Tian yang emosi.
"Ya udah, aku juga mau manggil kamu Rara mulai sekarang." Ucap Tian cemburu.
"Iya, boleh. Silahkan" Ucap Tiara sambil berusaha tersenyum manis menutupi kejengkelan ulah Andreas pada Tian.
Tiara juga merasa sedikit ilpil pada Tian yang sebegitu cemburunya seperti anak kecil.
"Gue gak habis fikir, nama aja bikin dia cemberut gitu. Huh, ya sudahlah yaaah suka-suka kamu, yang pasti masih beruntung karena Mamah gak ada disini." Gumam Tiara jengah dengan kelakuan Tian.
__ADS_1
Tiara hanya membayangkan apa yang akan terjadi jika Ibunya ada dirumah dan melihat Andreas dan Tian yang berantem kayak gini.
Pasti akan rame banget dan mendapat ceramah panjang tak berujung.