
Jelang malam, Davina baru saja selesai mandi dan duduk di kursi di depan meja rias nya, Mengeringkan rambutnya dengan handuk, hingga tidak menyadari pintu utama yang memang ia biarkan terbuka seseorang masuk ke kamar nya.
Ia terkejut saat seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya, Davina segera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang, saat ia menoleh kedua mata Davina membulat seakan hendak lepas dari tempat nya.
Keterkejutan yang membawa kebahagiaan bagi Davina. "Papa." Davina dengan penuh semangat beranjak dari kursi dan memeluk ayah nya.
Bu Asna yang juga ada disana, berdiri di ambang pintu tersenyum penuh haru melihat pemandangan di depan nya. kedua orang yang ia sayangi saling berpelukan karena begitu merindukan Sosok suami dan Ayah yang sudah berpisah beberapa Minggu, dan itu terasa begitu lama sekali untuk mereka.
"Apa kabar sayang."
"Aku baik Pa, Aku merindukan Papa."Ucap Pak Winto.
"Baik Pa, Aku kangen sama Papa."
"Papa juga sayang."
"Papa sehat kan?." Tanya Davina tanpa mampu lagi membendung air mata nya, yang mendadak begitu deras.
"Ayo kita keluar nak, kita harus mengucapkan terima kasih pada Sekertaris Tuan Fatur, dia yang mengantar Papa Pulang." Ucap Pak Winto.
"Dia ada disini??" Tanya Davina.
Davina pun berjalan bersama Ayah dan Ibu nya berjalan keluar dari kamar, dan menuju ke ruang tamu di mama Sekertaris Lucas tengah duduk.
"Sekertaris Lucas, terima kasih sudah membebaskan ayah ku."Ucap Davina.
__ADS_1
Lucas memandangi Davina dan mengangguk.
"Nona, Tugas saya sudah selesai, saya pamit pulang dulu." Ucap Sekertaris Lucas.
"Terima kasih tuan atas bantuan nya, titip salam saya pada Tuan Fatur."Ucap Pak Winto.
"Iya, sekali lagi terima kasih."Sambung Bu Asna.
Sekertaris Lucas mengangguk mengiyakan semua ucapan mereka, lalu berjalan pergi dari sana.
"Ayo kita makan di luar, Papa sudah tidak sabar makan bersama kalian."Ajak Pak Winto.
"Aku ganti baju dulu ya Pa. Papa juga mandi lah dulu."Kata Davina. Pak Winto mengiyakan.
Davina tidak menyangka akan secepat itu Fatur menepati janji nya, ia bahkan baru mengatakan nya tadi pagi, tapi menjelang malam, ayah nya sudah kembali kepelukan nya.
Di tengah termenung Davina, Ponsel nya berbunyi dan terdengar samar di telinga nya, ia pun segera masuk ke kamar untuk melihat siapa yang menghubungi nya.
"No siapa ini??" Batin Davina.
"Iya."
"Aku sudah menepati janji ku kan?, aku percaya kau hari ini pasti sangat senang."Ucap Fatur.
Mendengar suara laki-laki itu, Davina melihat ponsel nya lagi, tak tahu dari mana Fatur bisa tahu nomor nya.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana nomor ku?." Tanya Davina.
"Aku sudah katakan, mudah saja untuk ku mendapatkan info tentang mu."Ucap Fatur.
"Iya, iya, aku percaya, sebelum nya terima kasih sudah membebaskan ayah ku."Ucap Davina.
"Ucapan terima kasih aja tidak cukup Nona, kau masih memiliki janji yang harus kau tepati juga, jangan pernah coba-coba berfikir untuk melarikan diri, karena itu akan percuma saja."Ucap Fatur.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukan nya."Ucap Davina.
"Anak yang pintar."
"Huh, anak yang pintar, dia mengatakan seolah aku ini anak kecil."Batin Davina, memutar bola mata malas mendengar ucapan Fatur.
"Besok siang bersiap lah, aku akan menjemput mu." Ucap Fatur.
"Kita mau kemana?." Tanya Davina. Namun sambungan telefon telah di putus oleh Fatur.
"Astaga, apa dia tidak tahu tata Krama, dia bahkan tidak mengatakan apa pun sebelum ia menutup telefon nya, Tuan Fatur, anda sangat menyebalkan."Batin Davina. terus menggerutu kesal karena Fatur yang mematikan telefon seenak nya.
•••
Hi, Terima kasih ya masih terus membaca sampai disini, Jangan lupa di like dan Vote nya ya, biar Aku tambah semangat buat lanjutin cerita ini, dan tinggalkan komentar kalian, agar Author tahu pendapat kalian tentang cerita ini.
Follow Ig Shanti_san18.
__ADS_1