
Davina menuruni anak tangga, untuk menuju ke meja makan, Terlihat dari atas ayah nya hanya duduk sendirian, mata nya pun sontak lansung mencari sosok ibu nya yang tidak terlihat.
"Pa, dimana Mama??" Tanya Davina saat ia tak menemukan ada Ibu nya, bahkan Bibi yang bekerja di rumah mereka juga tidak terlihat.
"Mama kan sedang keluar membeli bahan untuk makan malam kita besok dengan keluarga Fatur."Balas Pak Winto yang membuat Davina tentu saja terkejut.
"Makan malam?." Davina mengulangi perkataan ayah nya tidak mengerti.
"Apa Fatur tidak memberi tahu kamu?, Fatur akan datang bersama Kakek nya untuk sesi perkenalan keluarga Davina."Ujar Pak Winto.
Davin yang masih binggung pun menarik kursi dan duduk di samping ayah nya.
Fatur mau pun Lucas tidak mengatakan apa pun pada nya, tentu saja Davina jadi binggung, tapi Davina tidak ingin memusingkan nya.
ia lalu menatap ayah nya, rasa penasaran tentang Fatur pun melintas di pikiran nya, Seperti nya ayah nya bisa menjawab apa yang ingin ia tahu dan tanya kan.
"Pa, Davina boleh tanya sesuatu ga?." Davina mengambil roti dan mengoleskan selai.
"Tanya saja selagi Papa bisa menjawab." Balas Pak Winto yang sudah menyiapkan kuping nya untuk mendengar apa yang ingin di tanya putri nya.
"Keluarga Fatur, memang nya sekaya Apa Pa?." Tanya Davina.
"Keluarga Fatur adalah oleh terkaya nomor 3 di kota ini, Sebelum nya bukan Fatur yang memegang perusahaan ayah nya, bahkan sekarang ia masih belum sepenuh nya sebagai penerus perusahaan itu." Ujar Pak Winto menjelaskan dengan pelan dan mudah di mengerti Davina.
__ADS_1
Mendengar keluarga Fatur adalah orang terkaya nomor 3, Davina menelan Saliva nya. Davina lansung teringat tujuan Fatur menikahi nya untuk mewarisi perusahaan itu.
"Memang nya Ayah nya Fatur kemana Pa?." Tanya Davina lagi semakin penasaran.
"Sudah meninggal akibat kecelakaan bersama Istri nya nak."
"Papa dengar-dengar kalau Perusahaan itu sedang goyang karena kehilangan pemimpin. Mungkin Fatur akan mengantikan nya, atau mungkin adik-adik ayah nya Fatur." Balas Pak Winto semakin semangat memberitahu Putri nya.
"Bukan nya biasa seperti itu ya Pa, Warisan biasa akan turun ke anak atau adik." balas Davina.
"Iya, itu sudah pasti nak, tapi Papa tidak tahu pasti siapa yang akan meneruskan perusahaan itu. Papa berharap Fatur bisa mendapatkan hak Ayah nya, bagaimana pun perusahaan itu bisa sehebat sekarang karena kerja keras ayah Fatur." lanjut Pak Winto.
"Apa Fatur tidak pernah menceritakan hal ini pada kamu?." Tanya Pak Winto menatap putri nya. Davina mengelengkan kepala nya.
"Iya Pa." Jawab Davina.
Lagi-lagi nasehat yang sama di berikan ayah nya pada Davina, yang khawatir Putri nya akan dalam masalah kalau tidak berhati-hati.
Di tengah obrolan mereka, ponsel Davina berdering, ia melihat itu telefon dari sahabat nya Jesi.
"Iya Jes."
"Vin, kau dimana, aku sudah di kampus menunggu mu."
__ADS_1
"Kau awal sesekali sudah disana?." Davina melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Iya, cepat lah kau datang, aku menunggu mu."
"Iya iya, baik lah." setelah memutus panggilan telefon, Davina pun segera berpamitan dengan ayah nya.
"Mau kemana?."
"Ke Kampus Pa. Davina tidak masuk kampus beberapa hari ini, jadi nya di suruh datang."
"Ya sudah hati-hati ya."
Davina mengangguk lalu berjalan keluar setelah berpamitan. namun hal yang tidak dia ingin kan, Ia melihat Alan sudah berdiri di luar pagar, berdiri di samping mobil menunggu nya.
Davina dengan kesal, ia pun menghampiri Alan.
•••
Jangan Lupa Tekan ❤️ untuk mendukung Author ya.
Hi, Terima kasih ya masih terus membaca sampai disini, Jangan lupa di like dan Vote nya ya, biar Aku tambah semangat buat lanjutin cerita ini, dan tinggalkan komentar kalian, agar Author tahu pendapat kalian tentang cerita ini.
Follow Ig Shanti_san18.
__ADS_1