
"Kau ketemu dimana gadis ini?." Tanya Kakek lansung di depan Davina.
"Ketemu dimana?, memang nya aku barang?." Gumam Davina kesal.
"Dia pacar ku kek. aku ke rumah nya dan tidak sabar membawanya kesini, jadi dia tidak sempat Menganti pakaian.",Ucap Fatur.
Mendengar hal itu, Davina pun baru menyadari kalau 0enampilan nya sangat memalukan, ia baru sadar ia hanya mengunakan pakaian tidur. merasa wajar pertanyaan kakek menanyakan ia ketemu dimana.
"Astaga Davina, kau benar benar memalukan, ini semua gara-gara pria sialan ini, dia bahkan tidak mengingatkan ku untuk mengganti pakaian ." Gumam nya.
Melihat kakek Fatur yang tampak tegas dan tanpa ekpresi, membuat Davina rasa ngeri bukan hanya pada Fatur, tapi juga pada Kakek nya. bagai pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohon nya. itu menggambarkan sikap Fatur dan Kakek yang sama-sama tampak dingin.
Fatur dan Davina lalu duduk bersebelahan menghadap ke arah Kakek. Davina tampak canggung karena bukan hanya sang kakek yang asing bagi Davina, begitu pun hal nya dengan Fatur. laki-laki yang baru 1 hari ini ia kenal, kini duduk dan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri.
"Siapa nama mu?." Tanya kakek, menatap Davina.
"Aku rasa aku sudah menyebutkan nama ku tadi, tapi dia mengacuhkan ku, Astaga Davina, kau harus bersabar, bagaimana pun dia adalah orang tua yang harus kau hormatin."Batin nya.
"Davina Kek." Jawab nya dengan sopan.
__ADS_1
"Siapa nama orang tua mu?, dan apa pekerjaan mereka?." Tanya Kakek lagi.
Davina melihat Fatur, Fatur mengangguk kecil kepala nya, seolah membebaskan Davina untuk menjawab apa ada nya.
"Ayah saya bernama Winto dan Ibu saya Bernama Asna, Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan bernama X." Tutur Davina dengan ragu, terlebih saat memperkenalkan ayah nya yang kini seorang pidana.
"Berapa umur mu?." Tanya kakek lagi.
"25 Tahun."Balas Davina.
Davina di perhadapkan dengan situasi seperti sedang di interview kerja, membuat wanita itu merasa sangat gugup, terlebih sang kakek tidak menunjukkan sikap ramah atau senyuman yang barang kali bisa membuat Davina sedikit lebih tenang.
"Kek, Kami siap kapan saja akan menikah." Ucap Fatur.
"Aku tak mengerti maksud kakek."
"Ajak dia menginap beberapa hari, sebelum nanti kita melamarnya."Ucap Kakek.
"Apa?, menginap disini?, apa kah secepat ini?." Davina mulai gelisah memikirkan hal ini.
__ADS_1
"Bagaimana nak?." Tanya Kakek.
"Em, Maaf kek, saya rasa, Ibu saya tidak akan mengizinkan saya menginap di rumah laki-laki. walau pun itu calon suami saya."Balas Davina.
"Begitu kah?." Davina mengangguk kecil dan Ragu.
"Baiklah kalau begitu, pembicaraan kita sampai disini, kakek harus istirahat."Ucap Kakek.
Fatur mengangguk dan membantu kakek nya untuk masuk ke dalam kamar, Sementara Davina tampak merasa serba salah, apa penolakan nya tadi itu akan tetap mendapatkan restu sang kakek?, Atau ia tidak jadi di sewa untuk menjadi istri Fatur.
"Kakek hanya mengetes dia saja, apa kah dia wanita yang mudah untuk di ajak menginap di rumah laki-laki, untuk sementara dia bagus."Kata sang Kakek pada Fatur yang mendorong kursi roda kakek ke kamar.
"Apa kakek setuju aku menikah dengan nya?." Tanya Fatur.
"Dia adalah pilihan mu, siapa pun itu, yang menurut kamu baik."Ucap Kakek.
Fatur tersenyum mendengar ucapan kakek nya.
•••
__ADS_1
Hi, Terima kasih ya masih terus membaca sampai disini, Jangan lupa di like dan Vote nya ya, biar Aku tambah semangat buat lanjutin cerita ini, dan tinggalkan komentar kalian, agar Author tahu pendapat kalian tentang cerita ini.
Follow Ig Shanti_san18.