
Hai readers, baru mampir yahπ..yuks like, rate n vote dulu biar authornya semangat teyuss.. udah baca tinggalkan komen dibawah yahπ
.
...
.
ππππππππ
.
...
.
Siang itu dikediaman Alia.
Sebuah Limosin memasuki kawasan perumahan yang padat penduduk itu. Tak hanya memiliki gang yang sempit, jalan-jalan dikawasan itu juga tampak becek karena genangan air limbah.
Sambil menutupi hidungnya dengan tisue, Ny. Tara keluar dari mobil sembari diikuti oleh beberapa pengawal-pengawalnya. Beberapa tetangga dan orang yang berlalu lalang disekitaran itu terlihat heran. Karena tidak biasanya kawasan mereka didatangi oleh orang-orang elit seperti itu.
Ibu Parwati yang saat itu tengah menyiram beberapa tanaman hias di potnya berhenti sejenak. Ia bertanya-tanya didalam hati, kenapa orang-orang kaya itu tampak berjalan ke arahnya. Ny. Tara menghentikan langkahnya tepat dihadapan Ibu Parwati.
"Salam Nyonya," ucap Ibu Parwati tersenyum ramah. Ia masih terlihat bingung dan mencoba mengingat kembali didalam memorinya, siapa wanita itu.
Ny. Tara tidak menggubris salam dari Ibu Parwati. Ia malah memandang sinis dan menunggingkan senyuman kecut disudut bibirnya. Ny. Tara merasa jijik saat melihat penampilan lusuh dan kampungan dari wanita yang akan menjadi mertua dari putranya. Ia berpikir, apa putranya tidak salah memilih wanita yang akan menjadi pasangan seumur hidupnya?
Cukup lama Ny. Tara menatap tajam Ibu Parwati. Tatapannya buyar saat mendengar sapaan dari Alia, yang melihat kedatangannya.
"Salam Bibi," sapa gadis itu. Alia tampak sedikit terkejut melihat kedatangan dari Ny. Tara yang mendadak.
Ny. Tara masih diam tanpa membalas salam dari Ibu dan Anak itu.
"Bibi mari silakan duduk," tambah Alia mengarahkan ke tempat duduk yang ada diteras rumahnya yang tak cukup luas itu.
Ny. Tara mengangkat tangannya memberi tanda menolak. Alia terhening dengan sikap wanita itu. Ibu Parwati melihat perubahan ekspresi pada wajah putrinya, ia pun menghampiri dan berdiri disamping gadis itu.
__ADS_1
"Alia.., siapa ini?" tanya Ibu Parwati.
"Ibu.., kk-kenalkan Ibunya Varun" jawab Alia terbata. Ia masih tampak takut karena tatapannya Ny. Tara yang ingin menerkamnya.
"Ibunya Varun ?" tanya Ibu Parwati sumringah. Ia masih terperangah dengan kedatangan Ibu dari kekasih putrinya. Alia mengangguk pelan. "Nyonya.., ayo mari masuk..," ujar Ibu Parwati sambil tersenyum.
"Tidak perlu" tepis Ny. Tara mendongakkan kepalanya. Senyuman Ibu Parwati memudar saat mendengar tolakan itu. "Aku kemari bukan untuk beramah tamah dengan kalian. Huuhh.. Siapa yang sudi memasuki kawasan kumuh seperti ini?"
Perasaan Ibu Parwati terhenyak seketika. Ia sangat tidak menyangka jika Ibu dari kekasih putrinya itu akan berkata sedemikian menyakitkan. Terbesit dihatinya, benarkah dia Ibu dari Varun?
Ny. Tara mengalihkan pandangannya kepada Alia yang terpaku.
"Sepertinya kau mengabaikan peringatanku waktu itu, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjauhi Varun, bukan ?" ujar Ny. Tara menatapnya tajam.
Alia tampak menunduk.
"Peringatan kecilku tidak membuatmu takut rupanya." Ny. Tara meneruskan perkataannya sambil tersenyum licik. Alia sedikit terkejut mendengarnya. Peringatan apa yang dimaksudkannya. Ny. Tara membalikkan badannya, namun masih meluapkan emosinya.
"Untung saja saat itu kau bersama Siddarth. Jika tidak, nasibmu pasti tidak seberuntung ini" sahutnya.
Alia pun kaget mendengarnya.
"Aku bisa melakukan yang lebih dari itu padamu atau pada Ibumu juga" cetus Ny. Tara memberi peringatan keras kepada Alia.
Wajah Alia semakin pucat mendengar ancaman wanita paruh baya itu.
"Nyonya maaf sebelumnya, sebenarnya ada masalah apa ini? Kenapa Anda berkata seperti itu kepada Alia?" tanya Ibu Parwati kebingungan.
Ny. Tara menghela nafas panjang. "Aku telah memberikan peringatakan kecil kepada putrimu, tapi sepertinya dia terlalu berani untuk melawanku" pungkas Ny. Tara.
"Peringatan kecil ?" ujar Ibu Parwati mengerutkan dahi, lalu memandangi Alia yang berada disampingnya.
"Aku meminta kepada putrimu untuk menjauhi Varun, tapi dia mengabaikannya. Dan aku minta padamu untuk menasehatinya, jangan pernah berharap untuk hidup bersama Varun" ucap Ny. Tara mengarahkan telunjuknya dihadapan wajah Ibu Parwati.
Ibu Parwati terlihat shock mendengar pernyataan Ny. Tara.
"Jika putrimu masih berani berhubungan dengan Varun, aku pastikan kau akan kehilangan dia untuk selama-lamanya" ucap Ny. Tara mengancam keselamatan Alia.
__ADS_1
Ancaman itu membuat Ibu Parwati merinding mendengarnya. Tampak sekeliling terlihat para tetangga dan orang-orang sekitar saling berbisik satu sama lain. Suara Ny. Tara yang begitu keras terdengar menarik perhatian mereka hingga berkerumun untuk menyaksikannya. Setelah memberikan peringatan keras kepada Alia dan Ibunys, Ny. Tara beranjak pergi meninggalkan kediaman padat penduduk itu.
Ibu Parwati terlihat menundukkan kepalanya, masih diliputi perasaan shock ia pun menghapus airmata yang menggumpal disudut matanya. Ibu Parwati kemudian beranjak masuk ke dalam rumahnya tanpa memperhatikan wajah-wajah penasaran yang menatap ke arah mereka. Alia pun bergegas menyusul langkah Ibunya.
Tampak dipojok sofa lusuh itu, Ibu Parwati menekuk wajahnya yang masih basah karena airmatanya. Alia mendekati Ibunya dan merangkul tubuh tua renta itu.
"Ibu..," ucap Alia. Ibu Parwati masih tampak shock, ia hanya diam tak menjawab. "Maafkan aku Ibu," tambah Alia lagi. Suara gadis itu terdengar serak dan berat. Ia pun ikut menangis di pundak Ibunya.
"Alia..," rangkul Ibu Parwati.
Penghinaan itu begitu menyakiti hati wanita paruh baya itu. Ia pun baru mengetahui sikap murung putrinya sekembali dari kediaman Varun beberapa waktu lalu. Alia yang pulang dengan wajah cemberut dan menahan kesal langsung masuk ke kamarnya waktu itu.
Ibu Parwati berpikir, kalau putrinya sedang bermasalah dengan Varun. Hingga ia tidak terlalu banyak bertanya saat itu.
"Alia, kau menyembunyikan kesedihanmu dari Ibu. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya selama ini ?"
Alia menunduk sedih. "Ini hanya masalah kecil Ibu, aku tidak ingin membebani pikiran Ibu dengan masalahku" jawab Alia sembari menghapus airmatanya.
"Tapi ini sudah keterlaluan, dia sudah berusaha untuk membunuhmu waktu itu" pungkas Ibu Parwati kesal.
Alia terdiam sejenak. Tindakan Ny. Tara memang sangat keterlaluan dengan mengirim para berandalan itu untuk menyerangnya. Ia hanya berpikir, andai saja saat itu ia tidak bersama dengan Sidarth mungkin saja orang-orang suruhan Ny. Tara berhasil mencelakainya.
"Mulai hari ini, kau jangan pernah berhubungan lagi dengan Varun" ujar Ibu Parwati disela-sela keheningan Alia. Ibu Parwati benar-benar takut, kalau sampai Ibunya Varun sampai menyakiti Alia. Saat ini, ia hanya memikirkan keselamatan putrinya saja.
Alia sedikit tersentak mendengar peringatan Ibunya. Namun saat ini, ia hanya bisa diam. Tidak ingin berdebat dulu dengan Ibunya, lantaran Ibu Parwati masih sedikit terguncang.
.
...
.
πππππππππ
.
...
__ADS_1
.
To be continueβπ