
Halohaπsemangat yah buat yang selalu nyimak. Tekan tombol like dulu yuks, terus jejak di kolom komentar yahβ.
.
...
.
ππππππππππ
.
...
.
Di Kediaman Sidarth,
Setelah beberapa bulan pernikahan Alia, Ibu Parwati tampak berkunjung ke Rumah Menantunya itu.
"Kakak Ipar, ada yang ingin bertemu" ucap Kabir menghampiri Alia yang saat itu sedang berada didapur. Alia bergegas keluar untuk menemui tamu itu.
"IBUUU..," ucap Alia terperangah. Ia pun memeluk Ibunya seketika. "Aku sangat merindukan Ibu.." ujar Alia dipelukannya.
"Ibu juga sangat merindukanmu Sayang,"
"Ayo masuk Ibu," ajak Alia membawa Ibu Parwati masuk ke dalam. "Aku akan buatkan minuman untuk Ibu, tunggu sebentar ya..," ucap Alia beranjak menuju dapur. Ibu Parwati tampak bahagia melihat keceriaan di wajah Alia. Sepertinya ia sangat nyaman tinggal bersama Sidarth.
Tapi ia juga menyadari bagaimana awal dari pernikahan itu. Mungkin saja Sidarth merasa tertekan atau terjebak dengan permintaanya waktu memintanya menikahi Alia.
"Ibu, minumlah.." ucap Alia membuyarkan lamunan Ibunya.
Ibu Parwati kemudian meneguk minuman teh yang telah dibuatkan oleh Putrinya.
"Ibu senang Kau tampak ceria, Ibu yakin Kau bahagia disini" ucap Ibunya menatap. Alia mengangguk sembari tersenyum. "Oh ya.., dimana Sidarth. Ibu tidak melihatnya" tanya Ibu Parwati memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan pandangannya.
"Dia sedang keluar Bu. Tadi dia bilang mau membeli suku cadang mobil" jawab Alia.
"Ooh.., dia Anak yang mandiri. Punya usaha sendiri seperti ini, Ibu senang" sahut Ibu Parwati lagi.
"Hmm.., oh ya Ibu kemari pasti ada sesuatu. Ada apa?" tanya Alia merasa penasaran.
Ibu Parwati meletakkan gelas tehnya. "Ya, Ibu ingin membicarakan sesuatu dengan kalian berdua tapi sebaiknya kita menunggu Sidarth dulu" jawab Ibu Parwati menahan niatnya dulu.
"Baiklah, Aku akan kembali ke dapur dulu. Hari ini Aku memasak ayam mentega untuk Sidarth" ucap Alia sumringah.
"Benarkah?"
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Siang itu, Sidarth hanya beralasan kepada Alia untuk membeli suku cadang mobil. Tapi sebenarnya ia mendatangi kantor Khanna Industries.
Pagi itu Ny. Tara menelponnya untuk membicarakan sesuatu yang penting. Semula Sidd menolak, namun setelah Ny. Tara mengatakan menyangkut kehidupan Alia ia oun bersedia.
Sesampai disana Sidarth ternyata sudah ditunggu oleh Ny. Tara.
"Silakan duduk Tn. Siddarth Malhotra" sapa Ny. Tara tersenyum sambil duduk di kursi Presdir.
Sidd pun duduk di kursi dihadapan Ny. Tara.
"Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Aku benar-benar tidak menyangka Kau yang akan menikahi gadis itu" tambahnya lagi.
"Alia, namanya Alia" sahut Sidarth kurang menyukai nada bicara Ny. Tara.
"Wahhh.. Wahhh.. Aku menyukai gayamu" ucap Ny. Tara sembari bertepuk tangan. "Kau tampaknya memang mencintainya diam-diam bukan?" ujar Ny. Tara.
Sidd memandang Ny. Tara dengan tatapan tidak suka.
"Tidak perlu menatapku seperti itu, Aku bisa melihatnya dari matamu Tn. Siddarth" pungkas Ny. Tara.
Sidarth merasa kurang nyaman dengan topik pembicaraan Ny. Tara yang menyudutkan perasaannya.
"Apa yang Kau inginkan?" tanya Sidd dengan kesal.
"Bagus, akhirnya Kau bertanya" ucap Ny. Tara tersenyum tipis. Sidarth terdiam sejenak.
"Aku hanya ingin kau mendengarkan kata-kataku ini dengan baik. Aku tahu Kau sudah menikah dengan gadis itu, dan Aku hanya memintamu untuk tetap mempertahankan pernikahanmu itu" ujar Ny. Tara dengan datar.
__ADS_1
Sidarth belum bisa mencerna arah perkataan Ny. Tara. Ia mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Maksudnya..?" ucap Sidarth.
Ny. Tara kemudian bangkit dari duduknya, lalu melangkah perlahan mendekati Sidarth.
"Maksudku adalah jangan pernah menceraikan gadis itu. Jika Kau sampai menceraikannya, maka jangan salahkan Aku jika sewaktu-waktu Aku menghabisi gadis itu" ucap Ny. Tara dengan lantang.
Seketika Sidarth terkesiap mendengar ancaman Ny. Tara.
"Kau pasti tahu bagaimana diriku Tn. Siddarth. Aku sudah muak dengan gadis itu, kesabaranku telah habis. Jika Kau masih menginginkan gadis itu tetap hidup, maka tetaplah bersamanya" tambah Ny. Tara lagi.
Sidarth berdiri dan menatap Ny. Tara tajam. "Aku hanya bingung, hatimu entah terbuat dari apa Bibi. Demi keegoisanmu Kau tega menghancurkan kebahagiaan Putramu sendiri" ucap Sidd dengan kesal.
"Aku tidak peduli apa yang Kau katakan. Aku hanya ingin Varun melupakannya. Jika gadis itu masih sendiri, maka Putraku akan terus mengejarnya. Jadi, Kau harus camkan itu baik-baik Sidd, Jangan pernah menceraikannya sampai Varun menikah dengan gadis pilihanku" ucap Ny. Tara dengan tegas.
Sidd pun melangkah pergi karena merasa kesal dengan ancaman Ny. Tara.
.
...
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
Diperjalanan Sidarth kembali teringat dengan ancaman Ny. Tara. Sesampai dirumah Sidd langsung melangkah ke bengkelnya. Ia membaringkan badan dan menutup kedua manik matanya dengan sisi lengannya.
"Tuan, Anda disini" ucap Kabir tak sengaja melihatnya.
"Memangnya kenapa?" jawab Sidd jutek.
"Mertua Anda datang kemari, sekarang dia ada didalam bersama Kakak Ipar" ucap Kabir memberi tahu. Sidd terlonjak, ia pun terbangun dan beranjak pergi ke dalam rumah.
Sesampai didalam Sidd mendapati Ibu Parwati sedang bercengkerama dengan Alia.
Sidd menghampiri Ibu Parwati dan memberi salam kepadanya. "Salam Ibu, sudah lama datang?" sapa Sidarth menyentuh kakinya.
"Yah, lumayan" jawab iIbu Parwati sebari mengusap kepalanya.
"Sidd, Kau dari mana saja ? Kenapa lama sekali, apa k2au sudah mendapatkan barang yang Kau butuhkan?" tanya Alia.
Sidd mengangguk perlahan.
"Oh ya Sidd, Ibu kemari ingin mengatakan sesuatu kepada Kita" tambah Alia lagi.
"Ayo duduklah..!" ujar Ibu Parwati. Sidarth dan Alia duduk berdampingan.
"Sidd, Ibu kemari ingin membicarakan masalah pernikahan kalian" ucap ibu Parwati mengawali pembicaraan. "Ibu tahu Kau menikahi Alia karena desakan Ibu. Waktu itu Ibu tidak bisa berpikir dengan jernih. Ibu bahkan tidak bertanya terlebih dahulu, Kau sudah mempunyai Kekasih atau tidak" ucap Ibu Parwati menghentikan sejenak perkataannya.
"Ibu tidak ingin menghancurkan hidupmu dalam pernikahan ini" ucap Ibu Parwati meneruskan kata-katanya.
"Ibu, Aku tidak mengerti" jawab Sidd.
"Maksud Ibu.., maaf bukan Maksud Ibu menyinggung perasaanmu. Tapi Ibu hanya merasa tidak enak, Kau terjebak dalam pernikahan ini. Ibu hanya ingin tahu perasaanmu saat ini, jika Kau tidak ingin melanjutkan pernikahan ini Ibu akan membawa Alia pergi dari kota ini Sidd" ucap Ibu Parwati menatapnya.
Sidd pun menatap Ibu Parwati, kemudian menatap Alia disampingnya.
"Ibu hanya tidak ingin karena pernikahan ini menghalangimu untuk menikah dengan wanita yang Kau cintai" ucap Ibu Parwati menambahkan lagi. "Ibu sangat berterima kasih, Kau sudah membantu Kami sejauh ini."
Sidd memandang Alia kembali dan masih belum menjawab apapun. Saat ini dia pun dilema. Jika dia menceraikan Alia maka orang-orang Ny. Tara akan mengejarnya. Nyawa Alia akan dalam bahaya.
Tapi jika pernikahannya dilanjutkan Alia pun tak mencintainya. Sidd pun bingung harus melakukan apa, tak mungkin bagi Sidd untuk memaksa Alia terus bersamanya.
"Sidd, ada apa ? Sepertinya ada mengganggu pikiranmu ?" tegur ibu Parwati membubarkan lamunannya.
"Iya, hhmmm.. tidak.., Aku hanya sedang berpikir saja Bu," jawab Sidd.
"Jadi bagaimana menurutmu? Ibu tidak akan memaksamu untuk melanjutkan atau pun menyuruhmu berpisah secepatnya" ucap Ibu Parwati.
"Aa-aaku masih belum memikirkan hal itu. Aku rasa terlalu cepat untuk membicarakan itu sekarang, Kita tunggu saja waktu yang tepat" jawab Sidd mengalihkan pandangannya.
"Baiklah kalau Kau ingin seperti itu" ucap Ibu Parwati sembari memperhatikan jam ditangannya. "Sudah sore, Ibu pulang dulu" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Ibu tidak menginap disini saja" ucap Alia menahan Ibunya.
"Tidak usah, lain kali saja."
"Aku akan mengantar Ibu pulang" sahut Sidd.
"Tidak usah, terima kasih" tolak Ibu Parwati lagi.
"Ibu biarkan Sidd mengantar Ibu" sahut Alia pula.
"Kalau begitu Aku akan menyuruh Kabir saja untuk mengantar Ibu, kali ini jangan menolaknya" ucap Sidd memaksa.
Ibu Parwati terpaksa menuruti perkataan Menantunya itu. Sidd kemudian memanggil Kabir dan menyuruhnya untuk mengantar Ibu Parwati pulang.
Sidd memandangi Alia yang masih tersenyum melihat kepergian Ibunya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi. Sidd kembali ke bengkelnya untuk bekerja. Alia pun menyusulnya dibelakang.
"Sidd, tunggu..!!" ucap Alia terus mengikuti langkah Sidarth.
"Ada apa..?" tanya Sidd sambil membuka kemejanya dan mengikatkan ke pinggangnya. Lalu ia mulai kembali memeriksa mesin mobil.
"Sidd, Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa Kau menyembunyikan sesuatu dariku ?" tanya Alia mendekatinya.
"Tidak, Kenapa?" tanya Sidd balik.
"Aku bisa melihatnya dari wajahmu. Kau pasti memikirkan sesuatu, katakan padaku apa yang sedang Kau pikirkan" ujar Alia mendesaknya.
"Tidak ada," jawab Sidd singkat. Saat ini ia sedang tidak mood untuk diajak bicara. Namun hal itu membuat Alia semakin penasaran.
Saat lelaki itu hendak mengambil kunci, Alia dengan celat memintas langkah Sidarth. Alia berdiri dan menghalangi Sidd.
Sidd menghindar dengan melangkah ke kanan, namun Alia juga bergerak ke kanan. Sidd ke kiri Alia pun ke kiri. Sidd menghela nafasnya dan terpaksa mendorong pelan Alia dengan tubuhnya.
"Aaakhhhh..." jerit Alia yang jatuh ke tumpukan ban. Sebagian pantatnya terbenam, hingga menyulitkannya untuk bangun.
"Sidd bantu Aku.." ucap Alia kewalahan.
Sidd melihatnya pun geleng-geleng kepala. Alia masih berusaha untuk keluar tapi bagian pinggulnya terlalu dalam masuk ke dalam tumpukan ban itu.
"Kenapa Kau tidak membantuku ?" ucap Alia dengan raut kesal, Sidd masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
"Siapa suruh menghalangiku" jawab Sidd saat akan mengambil oli.
"SIIIDDD.., cepat bantu Aku. Aku lelah" cetus Alia jengkel.
Sidd kemudian melangkah ke arah Alia, namun genangan oli membuatnya tergelincir hingga jatuh terjerembab di atas Alia.
Alia terkesiap saat Sidd begitu dekat dengan wajahnya. Sidd pun tak berkedip saat menatap kedua mata Alia yang hanya beberapa inci darinya. Andai didalam mata itu ada cinta untuknya sudah pasti dia bahagia dengan pernikahan ini.
Cukup lama mereka saking bertatapan begitu, tanpa mereka sadari Kabir telah berada disana.
"Waahhh... Waahhh.. Luar biasa. Melihat kemesraan kalian, Aku juga ingin menikah rasanya heheee.," sapa Kabir yang membuat mereka kaget dan salah tingkah.
Sidd pun bangkit dan membantu Alia. Alia pun pura-pura merapikan dirinya. Sidd juga mengalihkan pandangannya pura-pura tidak tahu. Kabir terus tertawa menggoda mereka. Dengan muka merah padam Alia pun melangkah pergi.
"Hentikan tawamu!!" hardik Sidd.
Kabir pun dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawanya. Setelah itu Sidd pun beranjak pergi.
"Hahahahaaππ"
Kabir kembali membuka mulut dan tertawa lepas.
.
...
.
ππππππππππ
.
...
.
To be continueβ
__ADS_1