
Makasih yang udah nyimak ceritaku sejauh ini. Dukung selalu yah dengan jejak dan like disetiap episodenyaπ.
.
...
.
πππππππππ
.
...
.
Setelah kepergian Varun, Alia menyeka airmatanya. Ia pun bergegas untuk membantu Sidarth.
"Sidd..," ucap Alia mencoba membantunya.
"Alia, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri" jawab Sidarth sembari mencoba berdiri sendiri.
Sidarth melangkah pelan menuju sofa. Alia bergegas untuk mengambilkan air untuk membersihkan luka-luka Sidarth.
Alia kembali dengan cawan dan waslap untuk mengobati memar pada wajah Sidarth. Sidarth memperhatikan wajah gadis itu. Masih belum hilang bekas airmata yang membasahi pipinya tadi.
"Alia, Aa-aku akan mengobatinya sendiri" ujar Sidd merasa segan. Ia mengambil waslap ditangan Alia. "Kau pergilah mandi atau mengganti pakaian dulu, biar Aku sendiri saja" sambung Sidarth lagi sembari mengompres wajahnya sendiri.
"Baiklah, Aku pergi dulu" jawab Alia sembari pergi menuju kamarnya. "Hmm.., Sidd..," ucap Alia kembali berbalik pada lelaki itu.
"Yah..,"
"Aa-aaku.., Aa-aku tidak membawa pakaian kemari. Jadi.. Aa-aku..," ucap Alia terlihat bingung. Ia meremas jemarinya yang berkeringat. Sidd mulai mengerti maksud hati Alia. Ia pun berdiri dan beranjak perlahan menuju kamarnya.
Tak berapa lama ia kembali menghampiri Alia. "Pakailah ini..!" ucap Sidd memberikan Jaket putih yang tidak terlalu teban bahannya kepada Alia.
"Uu-uuntuk pakaian dalam, Aa-aaku tidak punya. Nanti saja Aku mengantarmu untuk membelinya" ucap Sidarth agak canggung.
Tanpa menyahut, Alia beranjak pergi dengan membawa pakaian Sidarth.
.
...
.
ππππππππππ
.
...
.
Di jalan
Varun menghentikan mobilnya ditepi jurang. Ia tampak frustasi dengan takdir yang mempermainkan dirinya. Ia pun keluar dari mobil, lalu terduduk lesu sembari menatap hamparan pegunungan dan perbukitan didepannya.
"Aaaaakkkkkhhhh.., aaaaakkkkhhhhhh.." teriak Varun sekuat tenaganya melepaskan beban yang menyesakkan dadanya.
"Keenaaappaaa., kenaaapaa Tuhaann..?" jeritnya lagi.
Airmata Varun mulai menganak sungai. Ia menagis sejadinya. "Huawaaπ..huhuhua" tangisnya pilu.
__ADS_1
"Semua orang pengkhianat. Kenapa mereka tega sekali padaku ? APA SALAHKU ?" tambahnya lagi sambil menangis dan tertawa pula.
"Hahaa..πππAliaa. Aku sangat mencintaimu" ucapnya perlahan.
Cukup lama Varun terduduk ditepi jurang itu, lalu perlahan ia bangkit dan menyeka air matanya.
"Aku akan mendapatkanmu kembali. Kau hanya milikku Alia" ucap Varun dengan tatapan tajam.
Varun menaiki mobilnya kembali dan melaju dengan kencang.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Di Rumah Sidarth
Sidarth selesai membersihkan badannya, ia juga telah memberi obat pada setiap luka-lukanya. Lelaki itu keluar hendak menemui Kabir, pelayan yang bekerja bersamanya.
Namun pandangan Sidarth beralih saat melihat Alia keluar dari kamar dengan memakai jaket putih miliknya.
(Penampakannya kira-kira seperti ini π)
Sidarth sedikit tertegun. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dengan cepat saat Alia berjalan ke arahnya.
"Sidd..," ucap Alia mendekatinya.
"Hemm..,"
"Aku akan ke rumah Ibu saja untuk menjemput pakaianku" ujar Alia menatapnya.
"Sebaiknya jangan dulu. Mengingat pernikahan Kita baru kemarin, apa kata orang disana nanti. Aku tidak mau kalau sampai Ibumu menjadi bahan pembicaraan mereka" jawab Sidarth menjelaskan.
Alia terdiam sejenak. Ia terlihat bingung, bagaimana untuk mengatakanya kepada Sidarth.
"Tapi kondisimu sedang tidak baik" pungkas Alia mengkhwatirkannya.
"Aku baik-baik saja. Tunggu disini, Aku akan segera kembali" sahut Sidarth. Lelaki itu beranjak keluar mencari Kabir. Saat Sidarth hampir mencapai pintu, orang dicari nongol sendirinya.
"Kabir..," tegur Sidarth.
Kabir adalah orang kepercayaan Ibunya Sidd. Ia ditugaskan oleh Ny. Malhotra untuk membantu dan menjaga Sidarth.
"Tuan..," jawab Kabir berhenti didepannya.
"Kau dari mana saja, apa semalam Kau tidak melihatku pulang?"
Kabir memperhatikan wajah Tuannya dengan seksama. "Tuan, kenapa dengan wajah Anda?" tanya Kabir sedikit khawatir.
"Bukan apa-apa."
"Apa tadi karena Tn. Varun ? Kenapa tadi dia datang dengan marah-marah Tuan?" tanyanya lagi.
"Kau ini seperti Ibuku saja" jawab Sidd.
"Jadi itu benar?" tanya Kabir lagi dan lagi.
"Sudah sana, Kau siapkan mobil" perintah Sidarth.
Tak langsung pergi, Kabir malah tampak celingak celinguk memperhatikan ke dalam rumah. Ia menangkap sesosok sedang duduk di sofa tamu.
"Apa yang Kau lihat?" tanya Sidd heran.
"Gadis itu siapa?" tanya Kabir heran karena baru pertama kali melihatnya. Sidd pun tak menjawabnya. "Tuan..?" tanya Kabir lagi.
__ADS_1
"Sudah Kau siapkan saja sana" bisik Sidarth mendorong pelan tubuh Kabir. Tak lama kemudian Alia pun menghampiri mereka. Kabir pun terdiam.
"Sidd, apa sudah selesai?" tanya Alia menghampirinya. Kabir kembali berbalik, ia menatap Alia sepenuhnya. Pandangannya membulat saat melihat Alia memakai pakaian milik majikanmya itu.
"Iya, Aku mengambil mobil dulu" jawab Sidart sembari meninggalkan Alia. Kabir menyusulnya cepat.
"Tuan, katakan padaku. Apa yang dilakukan gadis itu dirumah? Dan kenapa dia memakai pakaianmu?" tanya Kabir.
"Kau ini masih bertanya hal itu?" celetuk Sidarth. Kabir malah semakin mendekati Sidd dan memasang wajah serius.
"Dia.., dia adalah Istriku" jawab Sidd agak ragu mengatakannya. Benarkah Alia telah menjadi Istrinya, pikirnya.
"Aa-apa..?" Kabir membelalakkan kedua bola matanya. "Kk-kkau bilang apa tadi Tuan? Katakan sekali lagi..!!" ujar Kabir masih tak mempercayainya.
Sidarth tak menggubris pertanyaan Kabir lagi. Ia bergegas masuk ke dalamnya.
"Tapi.., kapan Kau menikah Tuan?" tanya Kabir ke samping pintu mobilnya. "Waaoooww.. Ini luar biasa. Nyonya besar pasti bahagia mendengarnya kalau itu benar" ujar Kabir sumringah.
"Heiii, jangan katakan apapun pada mereka, Kau mengerti ?" sahut Sidd menunjukkan jarinya ke hadapan wajah Kabir.
"Kk-kkenapa Tuan? Bb-bbukankah ini kabar yang sangat menyenangkan?"
"Aku tidak ingin mereka tahu. Jadi Aku minta padamu untuk tidak mengatakan apapun. Kalau Kau sampai mengabarkan kepada mereka, maka Kau harus pergi kembali pada mereka. Kau paham " ujar Sidd tersenyum mengancamnya.
"Bb-baiklah Tuan," jawab Kabir terbata-bata.
"Bagus, sementara Aku pergi Kau jaga rumah sampai Aku kembali" ujar Sidarth mulai menstarter mobilnya.
Sidarth bergerak menghampiri Alia yang sedang menunggunya didepan teras.
"Sidd, Kau yakin dengan keadaanmu seperti ini?" tanya Alia memperhatikannya. Masih tampak memar-memar diwajah lelaki itu.
"Iya, ayo..!" ucap Sidd
Walau masih diliputi perasaan canggung, Alia terpaksa menuruti perkataan lelaki itu. Ia kemudian membuka pintu mobil dan duduk disampingnya.
Sidarth memperhatikan Alia yang sudah duduk dengan nyaman. Sidd menatap Alia hingga membuat gadis itu sedikit gugup.
"Aa-ada apa?" tanya Alia memperhatikan ruat wajah Sidarth.
Perlahan Sidarth mendekatinya, membuat hati Alia mendesir kencang.
"Aa-aapa yang..,"
Belum sempat Alia untuk bertanya, Sidarth meraih sabuk pengaman dan mengaitkannya. Kedua mata Alia membulat, ia sempat berpikir Sidarth akan melakukan sesuatu padanya. Sidarth kembali duduk dan mulai menekan pedal gas.
Alia menghembuskan nafasnya perlahan.
.
...
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
To be continue
__ADS_1