
6 bulan kemudian
Alia sekarang tinggal bersama mertuanya dirumah besar. Kandungannya telah memasuki usia 8 bulan. Bibi sedang membersihkan foto ibu mertuanya yang sudah diberi karangan bunga sebagai tanda beliau telah meninggal dunia, lalu mengambil foto Siddarth juga, saat hendak menggantung dan memberi karangan bunga, seseorang merebut lingkaran bunga itu.
" bibi.., apa yang kau lakukan., aku sudah bilang jangan taruh ini, Sidd masih hidup ". ucap Alia, lalu membuang rangkaian bunga itu.
" haayyyeeee.. " . ujar bibi memegang kedua pipinya.
" kakak ipar., kenapa kau masih berpikir kalau kak Sidd masih hidup, bukan hanya kau yang berduka., tapi kami juga.,kau bersikap seperti ini memberi kami beban., apa kau sadar? ". Sahut Ananya kesal dengan sikap Alia.
" Ananya aku bicara yang sebenarnya, Sidd masih hidup, kau tahu kan kalau kita belum menemukan mayatnya, itu artinya dia masih hidup".
" yaa.. ya.., kalau dia masih hidup dimana..dimana dia, kalau dia selamat kenapa dia tidak pulang, mungkin saja wanita itu telah menguburnya atau apa ".
" Ananyaaa ". hardik ibu melihat perdebatan mereka. Ananya terdiam dan langsung pergi dengan kesal saat melihat bibinya. Ibu mendekati Alia dan membawanya ke kamar.
" ibu..apa kau juga berpikir yang sama denganku? " tanya Alia menatap ibu mertuanya. Ibu Sumitra perlahan membelai pucuk kepala menantunya itu.
" sayang..ibu percaya padamu, ibu percaya pada Tuhan.,kalau memang Sidd ditakdirkan masih bersama kita, dia pasti kembali.., tapi ini sudah 6 bulan berlalu, kau harus memikirkan anakmu, dia akan lahir ke dunia ini.,". ucap ibu menasehatinya. Alia mengelus perutnya yang buncit. " apa kau sudah memikirkan nama untuk anakmu? ". tanya ibu sambil tersenyum. Alia menggeleng. " pikirkan lah masa depanmu dan anaknya Sidd, ibu mohon ". ucap ibu Sumitra lagi memelas.
" iyaa bu., maafkan aku ". jawab Alia memeluknya.
" terima kasih sayang..". Lalu ibu berdiri dan beranjak meninggalkan Alia.
Alia berdiri dan menuju kamar Ananya. Terlihat Ananya sedang duduk ditepi bibir ranjang dengan wajah kesal. Alia masuk dan menghampiri nya.
" Ananya ". sapanya memegang bahunya. Ananya masih kesal. " tolong maafkan aku ". ucap Alia memohon. Ananya yang tak bisa marah terlalu lama pada kakak iparnya itu langsung memeluk Alia. Mereka kembali saling tersenyum.
" aku juga minta maaf karena marah-marah padamu ". jawab Ananya.
" tidak apa-apa., oh iya kau bosa temani aku besok ". tanya Alia.
" kemana? "
" aku ingin membeli perlengkapan bayiku ini ".
" baiklah., hehee. ". jawab Ananya senang.
Varun sekarang tinggal bersama Shradda dan juga ibu mertuanya, Ny. Bindu yang duduk dikursi roda karena mengalami stroke. Mereka tinggal dirumah sederhana dipinggir kota. Ayah mertuanya menjalani masa hukuman dipenjara. Sedang ibunya, Ny. Tara tinggal sendiri, masih belum berhasil membujuk Varun untuk tinggal bersamanya lagi. Sekarang Varun bekerja sebagai montir, dia juga membuka bengkel seperti Siddarth dulu.
Keesokan harinya, Alia dan Ananya minta izin untuk berbelanja perlengkapan bayi pada ibu mertuanya. Mereka diantar oleh Kabir kepusat perbelanjaan. Sesampai disana suasana di mall tampak ramai. Ananya langsung menggandeng Alia ke tempat khusus perlengkapan bayi. Alia melihat-lihat baju-baju bayi,semua tampa cantik dan bagus.
" kakak ipar.. lihat ini, bagus tidak? " tanya Ananya memperlihatkan baju bayi perempuan bewarna pink.
" baju perempuan., memang kau tahu darimana dia perempuan hihihii.. " ucap Alia dan menimpukkan baju itu ke kepala Ananya, sambil berjalan perlahan mencari ke arah lain.
" tapi aku suka perempuan " jawabnya. Alia berkeliling melihat-lihat. Ananya juga sibuk mencari ke arah berlawanan. Saat mengambil salah satu pakaian bayi, seseorang tak sengaja menabrak Alia hingga menjatuhkan salah satu pakaian yang ia pilih tadi. Dia hendak mengambilnya, tapi tertahan karena kesusahan membungkuk, saat tangannya hampir sampai seorang laki-laki membantunya mengambilkan. Alia lega.
" terima kasih ". ucap Alia menoleh pada laki-laki itu. Saat melihatnya Alia tak berkedip saking terkejutnya. Berpenampilan seperti preman, kaos dan celana sobek dibagian lutut, serta ikat kepala pada rambutnya yang berponi, kumis dan brewok juga menambah kesan dia terlihat anak geng bermotor. Alia tercengang melihatnya. Sosok yang sangat dia kenal dan dekat dengannya. Bibirnya kelu.
" sama-sama ". jawabnya, lalu pergi meninggalkan Alia yang masih terpaku.
" Sidd.. ". bisiknya pelan. Lalu mencoba mengejarnya. " Siiiidddd.. Siiiidddd ". teriaknya memanggil. Laki-laki itu menoleh, Alia berdiri dihadapannya menitikkan airmata, sambil menyentuh bahu, terus menggenggam tangannya, dia langsung memeluknya erat sambil menangis terharu bahagia. " Sidd.. kau masih hidup. ". Lalu memeluknya. " aku mohon jangan tinggalkan aku lagi hiks.. hiks.. hiks ". ucapnya menangis dipelukannya. Laki-laki itu merasa kebingungan, tak membalasnya.Tiba-tiba seseorang memisahkan mereka dengan kasar. Alia terkejut melihatnya.
" heiii.. siapa kau.,kenapa kau memeluknya". Tanya seorang wanita yang langsung merangkulnya. " Abhi siapa dia "? tanyanya. Laki-laki itu mengangkat bahunya.
" Abhi ? ". tanya Alia dengan wajah kebingungan.
" ya.. Abhi., Abhimanyu, kau siapa "?. tanya wanita itu agak judes.
" Zoya.. sudahlah., mungkin dia mengira aku orang yang dia kenal., ". jawab Abhi. Alia masih kebingungan, karena wajahnya sangat mirip dengan Siddarth suaminya.
" tidak.. kau pasti Siddarth kan? " lalu menggenggam tangannya.
" heiii.. siapa kau ini ?" lalu melepaskan kembali genggaman tangan Alia. " dia Abhi, kekasihku., kau tidak dengar juga ., ". Lalu Zoya langsung menggandeng tangan Laki-laki itu dan pergi meninggalkan Alia. Alia masih penasaran.
__ADS_1
tidak mungkin..,kenapa wajahnya mereka terlihat sama..
Hati Alia terus berkata-kata dalam hatinya.
" kakak ipar, apa yang kau lakukan disini? " tanya Ananya menghampiri mengejutkannya.
" Ananyaa.. aa-aku., tta-tadii.. "
" kakak ipar kau menangis, ada apa., kau sakit? " Ananya mulai khawatir. Alia terdiam dan melihat kembali laki-laki yang mirip suaminya tadi yang telah hilang dikerumunan. Dengan perasaan sedih Alia melangkah pergi meninggalkan pusat perbelanjaan, hatinya menjadi tidak tenang untuk berbelanja. Ananya mengikutinya dengan heran.
Sesampai dirumah Alia langsung masuk ke kamar. Bibi jadi heran melihat ekspresi wajahnya, karena berjalan terburu-buru ke kamarnya.
" Ananya.. ada apa dengan kakak iparmu? ". Melihat Ananya berjalan dibelakangnya.
" aku tidak tahu ibu ". jawabnya singkat.
" kalian tidak jadi membeli perlengkapan bayinya "? bibi heran mereka tak membawa barang apapun. Ananya mengangkat bahunya, lalu pergi meninggalkan ibunya.
Dikamar Alia mengambil foto suaminya, lalu membayangkan laki-laki yang bertemu dengannya tadi. Hanya penampilannya yang berbeda tapi wajah mereka terlihat sama. Alia masih berpikir kalau itu adalah Siddarth, suaminya.
" Sidd.. apa itu kau., kalau benar kenapa kau tak mengenaliku.,aku selalu berdoa kau masih hidup., aku berharap saat melahirkan anak kita nanti kau ada disisiku.," ucap Alia mulai menangis, kemudian dia memeluk foto Sidd ke dadanya, dan berharap dapat bertemu laki-laki itu lagi.
Disisi lain
Abhi dan Zoya menaiki bajai menuju daerah terpinggir dikota M. Mereka tinggal diperkampungan padat penduduk. Zoya adalah seorang gadis tomboi yang jutek abis. Dia tinggal bersama kakak laki-lakinya, Nikhil. Seorang preman yang ditakuti didaerah itu. Abhi adalah kekasihnya, mereka berencana akan menikah bulan depan. Abhi utang budi dengan Nikhil, karena telah banyak membantunya, untuk membalas jasanya, Abhi bersedia menikah dengan adiknya. Zoya yang memang telah jatuh hati pada pria itu dengan senang hati menerimanya.
" kalian sudah sampai ?" tany Nikhil melihat mereka telah duduk diteras.
" ya kak.,huufft.. panas sekali " ,jawab Zoya sambil mengipaskan tangannya ke wajahnya. Abhi duduk terdiam, sepertinya memikirkan wanita yang sedang hamil yang bertemu dengannya tadi.
" Abhi.. kau melamun? " sapa Nikhil. Zoya memandangnya.
" Abhi.., ada apa., kau masih memikirkan wanita tadi., " tanya Zoya mulai cemburu.
" bukan siapa -siapa ". jawab Abhi cepat.
" kakak.. dia memeluk Abhi dan terus memanggilnya dengaaann.. siapa tadi yaa..hmm.. Siddarth., yaah ". ujar Zoya. " aku rasa dia sudah gila ". tukasnya lagi, lalu beranjak pergi.
" eeii.. ada apa ?" tanya Nikhil lagi, melihat Abhi masih termenung. " oh iya kita ada misi baru.., ini.., ". ucapnya lagi dan memberikan sebuah amplop.
" apa ini "? tanya Abhi penasaran, lalu membukanya. Sebuah foto laki-laki paruh baya.
" aku dengar dia adalah pria kaya raya, dia mempunyai dokumen yang penting yang harus kita rebut ".
" dokumen apa? " tanya Abhi lagi.
" dokumen tanah perkampungan ini, jika kita merebutnya Tn. Chedi akan membayar kita dua kali lipat ".
" kenapa dia tidak membelinya saja "
" karena dia tidak mau menjualnya, Tn. Chedi ingin membangun pabrik disini, dan kita akan pindah dari sini dengan upah yang sangat besar ". Abhi manggut-manggut. " kaulah yang aku tugaskan untuk kesana, ini alamatnya.,jika kau dalam kesulitan.. habisi saja ". tambah Nikhil lagi menepuk bahunya, lalu berdiri mengambil senjata dilaci. " ini.. gunakan saat diperlukan ". ujarnya. Abhi menyelipkan senjata itu dipinggangnya.
Pada malam harinya, Abhi tidur dikamar belakang. Dalam mimpinya Abhi melihat sesosok wanita berlari meminta pertolongan, wanita itu tak berdaya saat beberapa orang mengepungnya. Wajahnya tidak terlihat jelas. Seorang penjahat menarik selendang saree nya. Wanita itu terjatuh dan berteriak. Abhi terbangun dari tidurnya. Wajahnya berkeringat. Nafas terasa kencang. Lalu dia meminum segelas air yang terletak disampingnya. Pikirannya kembali tak tenang. Hampir setiap malam Abhi bermimpi wanita itu, tapi tak tahu siapa dia.
Esok harinya
Zoya menemui Abhi yang sedang berada digudang, Abhi sedang melap-lap senjata yg diberikan Nikhil. Sambil mengarahkan dan mencoba membidikkan. Tiba-tiba Zoya dengan senyuman manisnya sudah berada tepat dihadapannya dengan senjata mengarah padanya. Abhi kemudian menurunkan senjatanya, dan menyimpannya lagi.
" kau sedang apa., " tanya Zoya.
" tidak ada.., ada apa? "
" kau ada acara malam ini, ayo kita keluar ".
Zoya mengikuti setiap langkah Abhi.
__ADS_1
" yaahh..,aku ada pekerjaan..besok saja ya. " jawab Abhi membuat Zoya cemberut, Abhi terus saja melakukan pekerjaannya, dengan perasaan kesal dia pun pergi.
Dirumah keluarga Malhotra. Ayah dan ibu sedang pergi ke hajatan sepupunya. Alia tidak bisa ikut karena merasa agak tidak enak badan. Ibu meminta Ananya untuk menjaga kakak iparnya itu. Paman sedang bertugas keluar kota. Sedangkan bibi sedang menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Beberapa pelayan ditugaskan ibu Sumitra untuk berjaga dirumah, jikalau menantunya dalam kesulitan.
Ananya menemui Alia didapur , dia sedang membuat ayam mentega.
" kakak ipar..apa yang sedang kau lakukan, sini.. biar aku saja.. ".
" Ananya.. sudahlah.., ini sudah hampir selesai ". jawab Alia bersikeras. Alia mematikan kompor. " aku sedang ingin makan ayam hehee ". ujar Alia tersenyum.
" kenapa kau tak bilang padaku, aku bisa membuatkannya untukmu, kalau bibi tahu aku pasti dimarahi ".
" tidak., aku ingin makan masakan ku sendiri kali ini ". Alia memindahkan masakannya, Ananya membantunya membawakn ke meja makan, lalu menyiapkannya untuk Alia.
" duduklah., aku akan melayanimu" ucap Ananya mempersilakan Alia.
" kau ini seperti orang lain saja " jawab Alia, kemudian duduk. Ananya duduk disampingnya, sambil memperhatikan kakak iparnya makan dengan lahap.
" kakak ipar ",ucapnya tersenyum.
" hhmmm.. " jawab Alia, dan menggigit ayamnya.
" apa kau keberatan aku keluar sebentar nanti malam? "
" kemana? " tanya Alia.
" kakak.. nanti malam aku ada acara reuni alumni teman kuliah ku dulu, tapi kalau kau keberatan aku pergi.. aku tidak akan pergi ".
Alia menatap Ananya. Ananya jadi deg-degan.
" pergilah., jangan khawatirkan aku " jawab Alia.
" tapi kalau bibi menelpon, bagaimana? " tanya Ananya cemberut.
" kau jangan khawatir, ibu tidak akan menelpon, "
" terima kasih kakak, aku janji akan kembali lebih cepat ". jawab Ananya tersenyum senang.
Malam harinya Alia tinggal sendiri, walau ada beberapa pelayan yang berjaga. Ananya pergi sejak pukul 8 tadi, Alia terbangun dari tidurnya dan melihat jam, sekarang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Alia bangkit dari ranjang dan menuju kamar Ananya, ternyata Ananya belum juga kembali. Alia kembali berjalan ke kamarnya. Tapi saat melintasi kamar mertuanya, dia melihat bayangan seseorang. Pintu kamarnya terbuka sedikit.
Dengan langkah perlahan, Alia membuka pintu, kamarnya tampak gelap, hanya cahaya langit malam yang masuk melalui jendela. Suara derik pintu jendela terkena angin yang terbuka membuat jantung Alia berdegup kencang. Dengan rasa was-was Alia mencoba melangkah perlahan dan menutup jendelanya kembali. Saat hendak berbalik seseorang membekap mulutnya dan menodongkan senjata ke wajahnya. Alia hendak berteriak tapi mulutnya tertutup rapat, rasa takut mengguncang tubuhnya. Matanya terbelalak saat melihat samar-samar wajah orang itu, wajah yang ia kenal.
Laki-laki itu mendorong tubuh Alia hingga tersendat ke dinding. Tangan Alia perlahan membelai wajahnya dengan lembut, lalu airmatanya keluar menetesi jemari lelaki itu. dia terkejut dan merasa aneh, perlahan melepaskan bekapannya tadi. Lalu melihat wajah cantik yang pernah ia temui waktu itu, walaupun bertemu sekali tapi ingatannya tak pernah salah.
" Siiddd.. " , bisik Alia pelan. Lelaki itu memundurkan langkahnya sambil menodongkan senjatanya. Alia perlahan mendekatinya. " kau kembali.., Siiidd.. ini aku Alia.." ,ucap Alia menangis. Tak kuasa menahan perasaan Alia langsung memeluknya. Abhi ingin sekali melepas pelukannya, tapi entah kenapa dia merasa nyaman dipelukan Alia. Tak berapa lama Abhi melepaskan pelukan Alia, lalu melangkah mundur dan meninggalkan kamar itu.
" Siiddd.. tunggu., kau mau kemana, jangan tinggalkan aku lagi., " kejar Alia histeris. Abhi terus berlari, suasana tampak gelap hanya beberapa cahaya lampu yang menyala. Dia terhenti saat melihat sebuah foto berukuran besar dengan karangan bunga bergantung disana, gambar yang begitu mirip dengannya. Disampingnya ada foto wanita tua yang dirasanya telah meninggal juga. Dia terdiam sejenak.
" Siiidddd... tungguuu., aaaaakhhh ". Alia terjerembab dan kesakitan. Abhi yang mendengarnya terkejut, dia ingin menolong tapi keburu beberapa pelayan datang saat mendengar teriakan Alia. Dia pun melarikan diri dari tempat itu dengan cepat. Semua pelayan panik, dan cepat-cepat membantu membawa Alia ke kamar. Seorang pelayan langsung menelpon majikannya dan juga dokter.
Keesokan harinya, kondisi Alia masih dalam pantauan dokter. Ibu merasa kecewa pada Ananya yang meninggalkan Alia seorang diri dirumah. Ananya merasa menyesal. Untung saja kandungannya baik-baik saja. Beberapa petugas polisi telah menyisiri setiap sudut rumah, karena Tn. Alokh melihat ada kejanggalan pada keadaan rumahnya. Polisi menyimpulkan seseorang dengan sengaja masuk dan mencoba merampok ke dalam rumah. Polisi juga menemukan senjata yang tertinggal oleh Abhi, sewaktu Alia memeluknya. Abhi yang hanyut terbawa perasaan jadi tak sengaja melempar senjata itu ke atas ranjang.
Ibu menemani Alia dikamar, Alia terlihat lesu ingatannnya masih kembali mengingat Abhi. Ibu memotong dan mengupas buah apel, lalu memberikannya pada Alia. Dia tak langsung mengambilnya.
" Alia..kau masih memikirkan kejadian kemarin, nak.. Tuhan masih melindungimu., ibu bersyukur kau baik-baik saja, ibu berharap pelakunya segera ditangkap ".
Alia menoleh pada ibu mertuanya, lalu mengenggam tangannya.
" tidak ibu., aku berharap dia kembali, aku ingin bertemu dengannya lagi ". jawab Alia. Ibu Sumitra tak habis pikir kenapa menantunya itu berkata demikian.
" apaa.,dia itu penjahat., Alia apa kau sadar dengan yang kau katakan haah.., "
Alia mulai menangis lagi.
" ibu dia Sidd bu., Sidd.. ". lirihnya.
Ibu Sumitra berdiri hendak pergi karena tak tahan berdebat dengan menantunya, tapi keburu Alia merangkul pinggangnya.
__ADS_1
" ibu percayalah padaku..dia Siddarth suamiku huu.. huu.. huu ". tangis Alia lagi. Ibu Sumitra jadi kasihan juga, perlahan menyentuh puncak kepalanya, lalu melepaskan pelukan Alia, dan pergi meninggalkannya. Alia masih menangis tersedu.