
Dukung author dengan me-like setiap episodenya yah, silakan tinggalkan jejaknya biar author bisa mampir balik ke karyamu juga👍.
.
...
.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
.
...
.
Tepat pukul 9 malam, Sidd dan Alia sampai dirumahnya. Walaupun terlihat sederhana diluar tapi terlihat mewah didalamnya. Sidd mempunyai bengkel disampingnya, jadi selain kuliah dia juga bekerja sebagai montir dibengkelnya sendiri. Sidd juga mempunyai seorang montir lain yang bekerja bersamanya, bukan montir tapi pelayannya.
"Masuklah..!" ucap Sidd mempersilakan Alia untuk masuk.
Alia masih terlihat canggung, ia berdiri terpaku didepan pintu. Sidd memandangnya heran, karena belum melangkahkan kakinya juga.
Namun tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Tunggu sebentar," ucap lelaki itu. Ia kemudian bergegas masuk dan mengambil sesuatu ke dalam rumahnya.
Tak berapa lama Sidd kembali dengan membawa nampan berisi cairan merah, serta sebuah kendi kecil (ritual penyambutan menantu dirumah suami). Sidd meletakkan semua itu didepan Alia. Gadis itu hanya menatapnya dalam diam.
"Maaf, mungkin hanya ini yang Aku bisa. Kau bisa masuk sekarang" ujar Sidd kemudian.
Alia memandang kendi dan cairan merah itu. Perlahan ia melangkahkan kakinya sambil mendorong pelan kendi yang berisi beras hingga tumpah. Lalu kemudian memasukkan kakinya kedalam nampan cairan merah, Alia melangkah masuk dengan jejak kaki merah dibelakangnya.
"Duduklah, Aku akan persiapkan kamarmu dulu" ujar Sidd sembari beranjak pergi. Alia masih terdiam dan memandang keadaan rumah Sidd yang tertata rapi. Ia pun merasa heran, lelaki seperti Sidarth ternyata mempunyai gaya hidup yang bersih juga, pikirnya.
Tak berapa lama Sidd kembali menghampiri Alia. "Alia, kamarmu sudah siap. Istirahatlah..!" ujar Siddarth menyuruhnya ke kamar.
"Bagaimana denganmu?" tanya Alia menatapnya.
"Kamarku disana" jawab Sidarth sembari menunjukkannya. "Kau jangan khawatir, Aku tidak akan menuntut hak-ku dengan tidur bersama. Pergilah istirahat..!" ucap Sidarth memintanya kembali untuk ke kamar.
Alia mengangguk dan kemudian melangkah pergi ke kamar yang diberikan Sidd.
Malam harinya Sidd tidak dapat tidur, dia masih mencoba untuk menelpon Varun namun lagi-lagi nomornya tidak aktif.
Di kamar, Alia duduk termenung disamping tempat tidurnya. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Masih terbayang olehnya masa kebersamaannya dengan Varun, saat pertama bertemu, pernyataan cinta Varun, semua tentang Varun. Air matanya kembali mengalir, perasaannya campur aduk, antara benci, kesal, marah dan juga cinta.
.
...
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
.
...
.
Keesokan paginya,
Varun mulai tersadar dari pingsannya. Dia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dilihat jam sudah pukul 8 pagi. Perlahan ia bangkit dan duduk berjuntai disisi ranjangnya.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa kepalaku pusing sekali " batin lelaki itu memegang dahinya.
Varun kemudian bergerak menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Manik matanya membulat saat melihat dirinya masih masih memakai sherwani.
"ALIA..," gumamnya tersentak. Dia kembali teringat akan pernikahannya. Tatapannya berubah tajam, raut wajah terlihat murka. Tak berpikir panjang Varun bergegas menemui Ibunya.
"IBU..., IBUUU.., IBUUUU..," teriak Varun memanggil wanita paruh baya itu.
Suara Varun terdengar menggema dengan keras, hingga membuat semua pelayan sampai terkejut mendengarnya.
Ny. Tara tampka sedag menyeruput teh nya waktu diruang tengah. Varun menghampiri dengan tatapan murka.
"IBU JAWAB AKUU..!" bentak Varun dengan lantang.
"IYA..," jawabnya singkat.
Mendengar jawaban Ibunya membuat Varun terhenyak. Tidak menyangka Ibunya akan setega itu menipunya.
"Kenapa Bu ? Kenapa Ibu tega mengkhianatiku seperti ini ?" ujar Varun dengan berlinang air mata. Ia merasa sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan Ibunya.
"Karena Aku sangat membenci gadis itu, dan dia tidak akan pernah menjadi Menantuku" jawab Ny. Tara dengan tegas. Ny. Tara kembali teringat dengan peristiwa pagi itu.
🍁FLASHBACK ON🍁
Varun bergegas ke kamar mandinya untuk membersihkan badan. Ny. Tara tampak meletakkan nampan untuk sarapan Varun. Setelah memastikan Varun masuk ke kamar mandi, diam-diam Ny. Tara memasukkan obat ke dalam gelas susu disebelahnya.
"Maafkan Ibu Varun, Ibu hanya ingin Kau mendapatkan gadis yang lebih baik dari Alia. Gadis itu tidak pantas untukmu" batin Ny. Tara sembari menuangkan cairan ke dalamnya.
Setelah melakukan hal itu, Ny. Tara bergegas pergi sebelum Varun mencurigainya. Tak berapa lama setelah kepergian Ny. Tara, Varun keluar setelah selesai membersihkan badan.
Setelah selesai berpakaian, Varun duduk sebentar menikmati sarapan yang disiapkan Ibunya tadi. Ia memakan roti dan meneguk segelas susu. Namun saat ia bergerak hendak mengambil sepatu, kepalanya terasa pusing dan sangat berat. Tak lama kemudian, ia terkapar tak berdaya.
Sam datang menghampiri Ny. Tara diruang kerjanya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, Tuan Muda sudah tidak sadar" ucap Sam memberitahu keadaan terakhir Varun.
"Bagus, baringkan dia ditempat tidur. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan masalah ini secepatnya" balas Ny. Tara tersenyum licik.
Ny. Tara sengaja bersandiwara seakan-akan tekah merestui hubungan Varun dengan Alia. Padahal sebenarnya, ingin memisahkan keduanya selama-lamanya. Ny. Tara beralibi, bahawa ada sesuatu dimata Sidarth untuk gadis itu. Ia merasa yakin dengan rencananya, lagipula Ibu Parwati adalah wanita yang sangat berpegang teguh pada Tradisi dan Budaya. Dia pasti tidak akan membiarkan reputasi Putrinya hancur.
Sudah ada didalam pikiran Ny. Tara bahwa Ibu Parwati pasti akan meminta Sidarth untuk menikahi putrinya.
🍁FLASHBACK OFF🍁
"Aku bahkan lebih membenci Ibu karena ini" bentak Varun dengan lantang. Mendengar ucapan Varun Ny. Tara pun marah.
Plaaaaaakkk..
Sebuah tamparan melekat dipipi Varun.
"Semoga tamparan itu bisa membuatmu sadar. Apa yang gadis itu berikan padamu, sampai Kau berani berkata seperti itu padaku ? Apa dia bisa memberimu kehidupan seperti ini.. haaah.." hardik Ny. Tara murka.
"Dia memberiku cinta dan kasih sayang yang tidak bisa Ibu berikan" jawab Varun dengan memelas. Mulut Ny. Tara langsung terkatup karenanya. Ia pun terdia sejenak.
Varun pun pergi meninggalkan Ibunya dengan tergesa-gesa.
"Nyonya, apa perlu saya kejar?" tanya Sam asistennya menghampiri.
"Tidak perlu, biarkan saja" jawabnya dan beranjak pergi. Untuk sementara, Ny. Tara membiarkan Varun untuk menyendiri dulu. Walau bagaimana pun, ini semua terjadi karena rencana juga.
Varun meninggalkan rumahnya dalam keadaan marah. Ia melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Kekecewaan dan kekesalan tampak jelas diraut wajahnya saat ini.
Varun melampiskan kemarahannya dengan memukul-mukul stir mobil didepannya. Tak hentinya ia berteriak dan memaki-maki.
"Aaaaaahhhgg.., Kurang ajar, menyebalkan. Kenapa Kau melakukan ini padaku Ibu, Kenapa?" umpat Varun diperjalanan. Airmata kebencian keluar dari pelupuk matanya.
"AKU MEMBENCIMU IBU, AKU SANGAT MEMBENCIMU" teriak Varun histeris didalam mobil yang sedang melaju itu.
.
...
.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
.
...
.
__ADS_1
To be continue