
Makasih sudah mampir🙏silakan tinggalkan like dan votenya untuk dukung author. Tulis komennya dibawah yah buat jejak ✌.
.
...
.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
.
...
.
"Pernikahan akan tetap dilaksanakan dalam Minggu Ini, Bu" sahut seseorang dari arah pintu.
"Varun..," bisik Ibu Parwati pelan.
Varun melangkah masuk bersama dengan Sidarth, lalu duduk disamping Ibu Parwati.
"Salam Pendeta," sapa Varun dan juga Sidarth.
"Varun, Kau kemari. Ada apa Nak,?"
"Yah, Aku mengantar Sidd dan memintanya untuk membantu Ibu dalam menyiapkan persiapan pernikahannya" jawab Varun tersenyum.
"Tapi Nak, Pendeta bilang kalau pernikahannya belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat. Nanti bisa berdampak buruk pada kehidupan kalian" ujar Ibu Parwati menjelaskan kembali ulasan Pendeta tadi.
"Ibu, kehidupan ini sudah ada yang mengatur. Bahagia atau tidak itu tergantung dari kami berdua. Kami saling mencintai, hal buruk apa yang akan mengancam kami. Kehidupan seseorang tidak dapat dilihat hanya dari ramalan seperti ini" pungkas Varun yang tidak mempercayai perkataan Pendeta.
"Tapi Nak,"
"Ibu.., percayalah padaku" potong Varun meyakinkan.
Ibu Parwati terdiam sejenak.
"Pendeta, usahakan pernikahannya dilaksanakan Minggu ini. Lakukan semuanya dengan cermat" pinta Varun.
"Baiklah..," balas Pendeta yang hanya bisa menarik nafas dalam.
"Oh ya Ibu, Aku akan segera memberitahu Ibuku. Dia pasti ikut senang karena pernikahannya dipercepat" ucap Varun.
"Yah, mudah-mudahan saja" tanggap Ibu Parwati yang masih terlihat khawatir.
Selang beberapa menit, Varun pamit untuk pulang. Dikediamannya juga tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya. Sidarth tinggal sementara waktu dirumah Alia untuk membantunya. Sebenarnya Sidd agak enggan melakukan hal itu, semula ia hanya akan datang dihari pernikahan mereka saja. Namun karena terus didesak Varun, ia pun terpaksa menurutinya.
Alia baru kembali saat sore, ia bahkan tidak tahu kalau Varun datang ke rumahnya siang itu. Ia hanya mendapati Sidd yang tengah berbaring dibalai-balai belakang rumahnya.
"Sidd, apa yang Kau lakukan disini?"
Sidd bangun seketika, dan melihat Alia berdiri didepannya. "Sedang membantumu menyiapkan pernikahan" jawabnya.
"Membantuku, lalu kenapa Kau hanya berbaring saja. Itu namanya bukan membantu" pungkas Alia berkacak pinggang.
"Baiklah Ny. Varun Khanna, apa yang harus kukerjakan?" tanya Sidarth sembari berdiri.
Alia menatap Sidd dalam. "Haahaa.." Ia pun tertawa lebar saat mendengar kata Ny. Varun Khanna.
"Kenapa tertawa, ada yang lucu?"
"Tentu saja ada, Kau memanggilku dengan nama Ny. Varun Khanna, hahaha.. itu terdengar lucu ditelingaku" ucap Alia kembali tertawa lebar.
"Heehh.., lalu apa Aku harus memanggilmu dengan nama Ny. Sidarth Malhotra?" tanya Sidd dengan wajah sewot.
"Aaemm..," Alia menghentikan tawanya seketika. "Ya sudah, Aku ke kamar dulu. Kau bantu-bantu Ibu sana !" ucap Alia sembari meninggalkan Sidd.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang hari pernikahan,
Dikediaman Alia sudah tampak persiapan dilakukan oleh Sidarth. Diantaranya mulai dari pemasangan tenda, mandap, dekorasi, Pendeta, dan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan.
Sidd sedang sibuk mengatur beberapa pelayan, tak berapa lama kemudian muncul Alia dengan saree kesukaannya. Ia dan beberapa gadis berkumpul untuk menghias tangan Alia dengan henna.
Dari jauh Sidd terpesona melihat Alia, namun didalam hati dia bahagia Alia akan menikah dengan sahabatnya, Varun. Ia yakin Varun akan membahagiakan gadis itu. Sidd kemudian berlalu pergi dan kembali pada pekerjaannya.
"Sidd, Kau sudah makan nak ? Dari tadi Ibu perhatikan Kau bekerja terus" ucap Ibu Parwati menghampirinya.
Sidd pun menatap Ibu Parwati yang saat itu mengatakan kata Ibu kepadanya.
Ibu Parwati pun tersenyum. "Ada apa ? Apa Kau tidak ingin memanggilku Ibu juga?" sahut Ibu Parwati seraya membelai pipi pemuda itu dengan lembut. Sidd tersenyum kecil, ia merasa terharu dengan perlakuan Ibu Parwati padanya.
"Ayo.., kemarilah..!" ajak Ibu Parwati.
Ibu Parwati membawa Sidd duduk diatas balai-balainya. Wanita paruh baya itu pun mengambil makanan yang dibawanya.
"Ayo, makanlah ! Jangan menolaknya atau Aku akan marah padamu" ancam Ibu Parwati tersenyum.
Sidd kemudian membuka mulutnya dan memakan makanan dari tangan Ibu Parwati.
"Kau telah bekerja keras untuk pernikahan Alia, Aku sangat berterima kasih padamu" ujar Ibu Parwati kembali tersenyum.
"Jangan sungkan Bu, Aku sangat senang melakukannya" jawab Sidd sembari memakan makanannya lagi.
"Oh iya, apa Keluargamu akan datang kemari nanti saat pernikahan Alia ?" tanya Ibu Parwati kemudian.
Sidd terdiam sejenak. "Tidak Bu," jawabnya kemudian.
"Kenapa ? Kau tidak memberitahu mereka ?" tanya Ibu Parwati lagi menatapnya.
"Saat ini Aku tinggal sendiri. Nanti setelah pernikahan Alia, Aku akan pulang menemui mereka sebentar" jawab Sidd kemudian.
"Sudah Bu, Aku sudah kenyang" ujar Sidd menghentikan Ibu Parwati untuk menyuapinya lagi.
"Baiklah," Ibu Parwati kemudian mencuci tangannya.
"Maaf Ny. Parwati, sebetar lagi Kita akan melakukan pemujaan, bagimana persiapannya?" tanya salah seorang wanita menghampirinya.
"Oh ya ampun, Aku lupa. Mohon maafkan Aku. Kalau begitu ayo Kita lakukan persiapan dulu. Sidd, Ibu tinggal dulu ya..," ucap Ibu Parwati pamit
"Iya Bu, silahkan" jawab Sidd dan kembali memeriksa pekerjaanya.
Saat tengah asyik memeriksa pekerjaan.
"Hai Sidd..," sapa Alia menghampirinya.
Sidarth membalikkan badannya. Tampak Alia berdiri sembari memperlihatkan tangannya yang telah dihias dengan henna.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Alia.
Sidd tertegun melihatnya. "Bagus, sangat cantik, sama seperti dirimu" jawabnya.
Alia pun tersenyum lepas menanggapi. "Wooww.., Kau sudah pintar menggombal rupanya" canda Alia.
Sidd pun meraih tangan Alia dan menatap hiasan tangannya. "Kau tahu, warna gelap ini bermakna kalau Varun begitu sangat mencintaimu" ujar Sidd menatap Alia dalam, begitu juga Alia.
"Darimana Kau tahu?" tanya Alia merasa sedikit kagum.
"Dari.., dari pikiranku saja" jawab Sidd kembali melanjutkan pekerjaannya.
Drrrrrttt..drrrrrtttt..drrrrtttt (ponsel Alia bergetar).
__ADS_1
"Ponselku bergetar, aeemm.. Sidd bisa bantu Aku?" tanya Alia menghadapnya. Sidd kembali membalik badan menatap Alia.
"Ada apa?"
"Ponselku bergetar, mungkin itu telpon penting. Tolong ambilkan yah..!" Alia memperlihatkan tangannya yang masih basah karena henna.
"Dimana ponselmu?" Tanya Sidd kemudian.
"Disini," jawab Alia sembari memiringkan badannya. Tampak benda kecil itu terselip dilipatan saree Alia. Sidd merasa canggung, karena ponsel Alia melekat disisi perutnya yang tersingkap.
"Sidd, apa yang Kau tunggu. Cepat ambil..!" pinta Alia mengejutkannya.
Sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, Sidd perlahan mengambil ponsel itu. Walau didalam hati, ia merasa tegang, namun ia berusaha untuk tidak menyentuh kulit Alia.
"Dari siapa ?" tanya Alia saat Sidd telah menarik ponselnya.
"Dari Tn. Varun Khanna" sindir Sidd sembari menekan tombol terima.
"Hello Ny. Varun khanna," ujar Varun mengawali.
"Aku bukan Ny. Varun," jawab Sidd menerima telponnya. Varun terlonjak saat mendengar suara Siddarth.
"Sidd, Kau..?" Ia merasa sedikit malu mendengar tawa Sidarth. "Dimana pengantinku?" tanya Varun kemudian.
"Tunggu sebentar," ujar Sidd.
Sidd kemudian membantu memegangkan ponsel Alia. Ia terlihat menempelkan sisi ponsel ke indera pendengar gadis itu.
"Hello Sayang," sapa Alia.
"Sayangku sedang apa?" tanya Varun tampak bahagia.
"Aku sedang memakai henna" jawab Alia.
"Benarkah, apa Kau sudah mengukir namaku juga disana?"
"Tentu saja" jawab Alia tertawa kecil.
Ia bergerak pelan kesana dan kemari, hingga membuat Sidd terus mengikuti langkahnya.
"Eeii.., sudahlah. Aku lelah mengikuti langkahmu terus" ucap Sidarth merasa kewalahan. "Varun, hanya tinggal dua hari lagi. Apa masih bisa bersabar sedikit?" tanya Sidd mengambil alih pembicaraan.
"Sidd kembalikan..!" pinta Alia sembari mengejarnya.
"Varun, sudah yah. Aku tutup dulu. Untuk sementara Kau tidak menghubunginya dulu daahh.." ujar Sidd menjahili sahabatnya itu
"Dasar Kau, apa Kau cemburu haah..?" tanya Varun ditelponnya.
Tut..tut..tut..
"Dasar Jones.." gerutu Varun.
.
...
.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
.
...
.
To be continue..
__ADS_1