
Hello reader, makasih sudah intip walau dikit ajaπ jejak like, rate dan vote dulu yahπ. Habis baca komen dibawah yahπ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Varun sampai dirumahnya. Denagan wajah kusam , ia melangkah masuk tanpa memperhatikan Ibunya yang sedang bersama seorang gadis.
"Varuunn..," panggil Ny. Tara menghentikan langkahnya saat menaiki tangga. Ny. Tara kemudian menghampirinya. " Varun, Kau dari mana saja ? Shradda sudah menunggumu sejak sore" sambung Ibunya tersenyum.
Varun menoleh dan melihat Shradda, putri dari sahabat Ibunya itu duduk manis. Shradda melemparkan senyumannya, namun Varun tak menggubrisnya. Ia malah membuang muka ke arah lain.
"Sayang, ayo temui dia sebentar. Kasihan kan dia sudah menunggumu cukup lama" bujuk Ny. Tara sembari membawa Varun.
Sebelum Ny. Tara berhasil membawa Varun, dengan cepat lelaki itu menepis tangan Ibunya. "Katakan padaku, apa yang Ibu lakukan di rumah Alia tempo hari?" tanya lelaki itu terlihat kesal.
Ny. Tara terkesiap. Sekarang ia menyadari raut wajah putranya yang kesal. Ny. Tara tak langsung menjawabnya. Ia terlihat bingung untuk mengatakan karena saat itu sedang menerima kedatangan Shradda. Tidak mungkin baginya untuk berdebat dengan Varun saat ini. Demi menjaga imagenya, Ny. Tara mencoba untuk tetap tersenyum.
"Sayang, Kau ini bicara apa ? Mungkin saat ini Kau lelah. Ya sudah, Kau istirahat dulu saja" ujar Ny. Tara mengalihkan topik pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Ibu, Aku ingin mendengar penjelasanmu" rutuk Varun mendesak. Shradda memperhatikan suasana yang kurang mengenakkan, ia pun beranjak berdiri. Mungkin saat ini Ny. Tara bungkam karena keberadaannya. Untuk itu, Shradda berniat meninggalkan Ibu dan Anak itu untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Bibi, Aku sebaiknya permisi dulu. Lain kali Aku akan kemari lagi" ujar Shradda pamit.
"Tapi Shradda..,"
"Tidak apa-apa, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat. Aku permisi dulu, salam π" sahut Shradda lagi. Shradda melirik Varun sejenak, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya segera. Raut wajah masam terpancar darinya.
Ny. Tara tidak dapat menahan kepergian Shradda. Lagipula gadis itu benar, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Varun masih menunggu penjelasan darinya. Sambil menahan kesal, Ny. Tara pun beranjak pergi menuju ruang kerjanya. Varun yang merasa tidak puas, mengikuti langkah Ibunya.
"Ibuu.., Ibu..," panggil Varun sampai diruang kerja Ibunya. Ny. Tara masih mendiamkannya. "Aku tahu, Ibu sudah melakukan sesuatu. Kenapa Ibu kesana ? Apa yang Ibu katakan kepada mereka ?" ujar Varun menginterogasi Ibunya.
Ny. Tara seketika menghentikan kegiatannya membalikkan badan menatap Varun. "Kenapa masih bertanya, bukankah Kau sudah tahu jawabannya" pungkas Ny. Tara.
Varun terdiam sejanak.
"Ibu hanya melakukan yang terbaik untukmu" sambungnya.
"Terbaik..?" tanya Varun dan mendekati ibunya. "Terbaik untuk Ibu atau untukku Bu..?" tanya Varun lagi.
Ny. Tara menoleh pada putranya yang mulai berani berbicara nada tinggi.
"Selama ini Aku selalu menuruti semua keinginan Ibu. Menuruti segala perintah Ibu, Apa Ibu pernah bertanya padaku apa yang Aku inginkan ? Apa yang Aku suka dan tidak. Aoa Ibu pernah bertanya padaku ?"
Varun terlihat kesal dengan sikap Ibunya yang terlalu mengekangnya. Ny. Tara tidak menjawab semua itu, ia hanya mendengus kesal.
__ADS_1
"Kenapa Ibuu..?"
"Karena mereka tidak sederajat dengan Kita Varun "
"Pikiran kuno.., aku benar-benar tidak menyangka pemikiran Ibu sepicik itu" ucap Varun
Plaaaaakkkk
"Varuuunnnn..!!" hardik Ny. Tara sembari mendaratkan tamparannya ke sisi kiri Varun. "Kauuu..(menunjuk ke wajah Varun) setelah mengenal gadis itu, Kau jadi seberani itu pada Ibumu haaahh..." hardik Ny. Tara lagi.
"Apa dia begitu mempengaruhimu hingga Kau berani melawan Ibumu ? Aku selalu menjaga reputasi dan nama baik Keluarga ini, dan Kau akan membawa gadis miskin itu kemari sebagai Menantu " tambah Ny. Tara lagi sembari menunjuk Varun.
"Hanya karena dia dari keluarga miskin, hanya itu alasan Ibu ?" tanya Varun tak habis pikir dengan alasannya.
"Bukan hanya miskin, apa Kau tahu dia putri siapa haaaahh ?"
"Aku tidak peduli dia putri siapa Ibu, Aku hanya mencintainya" pungkas Varun
"Heeaahh.. cinta ? Di kkepalamu hanya cinta.. cinta.. cinta..." ujar Ny. Tara kesal. "Sampai kapan pun putri koruptor itu tidak akan pernah menjadi menantu rumah ini. Kau paham ?" tambah Ny. Tara lagi.
"Aku tidak peduli Ibu. Aku akan tetap mencintai Alia dan hanya akan menikah dengannya" jawab Varun dan pergi meninggalkan Ibunya
"VARUUUUNNN..!!!" teriak Ny. Tara. Namun Varun tak mendengarkannya lagi. Dengan kesal Ny. Tara melemparkan vas yang ada diatas mejanya hingga pecah dilantai.
πππππππππ
Dua Minggu kemudian,
Siang itu Varun tidak konsentrasi untuk bekerja. Dia terus memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Alia. Masih terbayang dipelupuk matanya, terakhir kali saat berdebat dengan Ibunya. Dia mengingat, bahwa Ibunya mengatakan Keluarga Alia adalah Keluarga koruptor.
"Darimana Ibu tahu tentang Keluarga Alia, jadi selama ini Ibu telah memata-matai Alia, dan mencari tahu semua tentangnya" ujar Varun tak habis pikir dengan sikap Ny. Tara.
Varun hendak beranjak menemui Alia di rumahnya, namun dia kembali menghenyakkan tubuhnya di kursi.
"Tidak-tidak, Ibu Parwati masih kesal padaku. Aku harus mencari jalan lain untuk bertemu Alia" ujarnya sembari memutar otak untuk berpikir. Ia kemudian meraih ponsel dan mencari nomor Alia.
"Sayang..," ucap Varun sumringah mendengar suara imut kekasihnya itu. "Bagaimana kabarmu?" tanya Varun kemudian.
"Baik," balas Alia dengan suara pelan. Alia tampak mengendap-endap menerima telpon dari Varun. Ia takut Ibunya kembali mengomel kalau tahu ia masih berhubungan dengan lelaki itu.
"Kenapa kau terdengar berbisik begitu, apa Ibumu ada dirumah?"
"Yah, Ibu sedang diluar bersama pendeta" jawab Alia.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, bisakah Kita bertemu sore ini ?" tanya Varun kemudian. Alia terdiam sejenak. Ia harus mencari alasan terlebih dahulu agar diizinkan keluar oleh Ibunya. "Hello sayang," terdengar suara Varun lagi.
"Baiklah, akan Aku usahakan" jawab Alia kemudian.
"Baiklah.., nanti pukul 3 sore. Ditempat biasa ya," ucap Varun dan mengakhiri panggilannya. Perasaan Varun sedikit lega mendengar suara Alia.
Alia keluar dari kamar mandi setelah selesai menerima panggilan dari Varun. Ia terlihat mondar mandir untuk mencari akal agar bisa keluar nanti sore. Tak berapa lama, kegusarannya buyar saat Ibu Parwati datang menghampirinya.
"Alia..,"
"Iya Bu.,"
Ibu Parwati masuk ke dalam. "Sayang, Ibu akan pergi bersama Pendeta ke Kuil untuk ritual. Kau mau ikut?" tanya Ibunya mengajak.
"**-tidak Bu, Aa-aku di rumah saja. Ibu saja yang pergi, tidak apa-apa kan?" jawab Alia merasa senang. Ia tidak lagi harus memutar otak untuk mencari alasan menemui Varun.
"Baiklah, Kau baik-baik di rumah ya," ujar Ibu Parwati tanpa mencurigai raut wajah putrinya.
Alia langsung melompat senang karena akan bertemu Varun. Tapi ia harus pulang lebih cepat dari Ibu nanti. Gadis itu kembali meraih ponselnya untuk menelpon Varun, dan memberitahunya untuk bertemu saat ini juga. Varun setuju bahkan sangat senang mendengarnya.
Setelah memastikan Ibunya telah benar-benar pergi bersama Pendeta, Alia juga bergegas pergi menuju cafe yang biasa ia kunjungi bersama Varun.
Disebuah Cafe Shop.
Varun telah datang lebih awal. Ia dengan penuh semangat menunggu kedatangan kekasihnya itu. Selang beberapa menit kemudian, tampak dari jauh Alia celingak celinguk mencari keberadaannya.
"ALIIAAA...!!" panggil Varun melambaikan tangannya.
Alia tersenyum dan bergegas menghampiri lelaki itu. Varun tampak bahagia, ia merangkul Alia dan membawanya ke dalam pelukannya. Hatinya tak bisa berbohong, ia begitu merindukan Alia. Beberapa minggu setelah kunjungannya terakhir kali ke rumah gadis itu, mereka tak lagi bertemu.
"Ayo, duduklah..," ujar Varun sembari melepas pelukannya. Varun menarik kursi, mempersilakan gadis impiannya duduk.
"Terima kasih," ucap Alia tersenyum.
"Aku sangat-sangat merindukanmu" ucap Varun menggenggam jemari gadis itu.
"Aku juga sangat merindukanmu" jawab Alia tersenyum. "Hmm.., Aku minta maaf waktu itu Ibu telah menyakitimu." Alia meneruskan perkataannya.
"Seharusnya Aku yang minta maaf, karena sikap Ibuku" sahut Varun dengan wajah rasa bersalah. "Sudahlah, lupakan saja" sambung Varun. Varun terdiam sejenak. Ia tampak ragu-ragu untuk memulai pembicaraannya.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Alia.
Varun menatap Alia dan mengangguk. "Yah..," jawabnya.
__ADS_1
ππππππππππ
To be continueβπ