
Makasih sudah mampirπmohon tinggalkan like nya, jika berkenan silakan divote dan tambahkan ke list favorit. Makasihππ
.
...
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
Di Kediaman Keluarga Khanna,
Ny. Tara tengah menyiapkan ritual kunyit untuk Putra tunggal Keluarga Khanna, Varun. Tubuh Varun dilumuri dengan pasta berwarna kuning yang sangat wangi.
Suasana dirumahnya juga tampak ramai, meski hanya para pelayannya saja. Ny. Tara datang menghampiri Varun yang saat itu tengah duduk sambil bertelanjang dada.
"Ibu, apa Aku harus seperti ini. Rasanya Aku sangat kedinginan," ucap Varun sedikit nada bercanda.
"Aaaeh.., Kau mau Alia menutup hidungnya saat malam pertamamu?" balas Ny. Tara menggoda Putranya pula.
"Tentu saja tidak, ayo lumuri yang banyak !" pinta Varun meraih tangan Ibunya untuk menambah lebih banyak pasta kunyit lagi.
"Aaeeeh.., Kau ini.." tepis Ibunya menahan tawa. Varun tampak sumringah, ia begitu bahagia karena Ibunya sudah bisa menerima hubungannya dengan Alia.
Saat mereka tengah disibukkan dengan ritual kunyit, Sam si Asisten Pribadi Ny. Tara datang menghampiri Nyonya besar itu.
"Ada apa?" bisik Ny. Tara.
Sam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Ny. Tara. Dengan wajah terkejut, ia bergegas meninggalkan ruang tengah tanpa diketahui oleh Varun.
Ny. Tara memasuki kamarnya, disana ia menerima panggilan telpon dari seseorang.
"Hello..," ucap Ny. Tara mengawali.
"Hello Nyonya, ini Aku Mahesh" jawab lelaki itu.
Ny. Tara sedikit kaget saat mendengar namanya, lalu ia bergegas menuju pintu untuk mengamati orang. "Ya, Tn. Mahesh" jawabnya dengan tenang.
"Nyonya, Aku mendapat kabar kalau Varun akan menikah. Apa semua itu benar?"
Ny. Tara terdiam sejenak. "Iya..," jawabnya kemudian.
"Nyonya bukankah beberapa hari yang lalu Kau berkata bahwa Varun akan menikah dengan Shradda. Lalu kenapa sekarang Kau berubah pikiran? Ini suatu penghinaan bagi Kami Nyonya" pungkas Tn. Mahesh agak kesal.
__ADS_1
Untuk saat Ny. Tara tidak menggubris perkataan dari Tn. Mahesh. Ia hanya mendengarkan ocehan dari lelaki paruh baya itu.
"Aku tidak bisa menerima penghinaan ini Nyonya" ujar Tn. Mahesh lagi.
"Tn. Mahesh, saat ini Aku tengah sibuk. Kalau Kau ingin bicara, katakan semuanya pada Asistenku nanti" ujar Ny. Tara lalu buru-buru memutus panggilannya.
"Telpon dari siapa Ibu ?" tanya Varun tiba-tiba masuk. Ny. Tara dengan tenang meletakkan kembali gagang telponnya.
" Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari klien, Ibu bilang untuk menelponnya nanti saja" jawab Ny. Tara terseyum.
"Oooh.., oh ya Ibu setelah ini apa ada ritual lagi?" tanya Varun kemudian.
"Tidak ada, istirahatlah. Besok adalah hari penting dalam hidupmu kan ?" balas Ibunya sembari membawa Varun keluar.
"Iya Bu. Kalau begitu Aku ke kamar dulu" jawab Varun beranjak pergi.
.
...
.
ππππππππ
.
...
.
"Ibu Parwati, Alia dan Sidarth tampak berdiri didepan patung Dewa Siwa. Pendeta sedang menyiapkan piring pemujaan.
"Nyonya silakan, siapa yang akan melakukan pemujaannya" tanya Pendeta memberikan piringan.
"Aku yang akan melakukannya Pendeta" jawab Alia melangkah maju ke depan. Ibu Parwati tampak mengangguk senang. Hari ini Alia akan melakukan puja sembari meminta restu kepada Ayahnya.
Alia tampak memutar-mutar piring pemujaan didepan patung Dewa Siwa. Setelah itu, Alia mengembalikan kepada Pendeta. Gadis itu kemudian melipat kedua tangannya sembari menutup kedua matanya. Begitu pun dengan Ibu Parwati dan Sidarth dibelakangnya.
"Ayah, besok adalah hari yang sangat penting dalam hidupku. Aku akan menikah Ayah, menikah dengan laki-laki yang sangat baik. Meskipun Ayah tidak lagi disini bersamaku, tapi Aku sangat berharap Kau dapat melihatku dari Surga. Aku mohon restui pernikahanku Ini" ucap Alia didalam hatinya memanjatkan doa.
Ibu Parwati juga tampak memanjatkan doa dalam hatinya. "Suamiku, Putri kita akan menikah. Dia tampak bahagia sekali, Kau bisa melihatnya bukan? Sayang, restuilah pernikahan Putri kita. Semoga saja besok upacaranya lancar dan khidmat" gumam Ibu Parwati didalam hatinya.
"Semoga Dewa mengabulkan semua Doa Kalian" ujar Pendeta sembari memberikan persembahan.
"Terima kasih Pendeta" sahut Ibu Parwati.
Alia mengambil satu ladoo dan bergerak menghampiri Sidd. "Sidd..," ucapnya.
"Hmm..,"
__ADS_1
Alia tampak membrerikan ladoo kepadanya. "Ini, makanlah ladoo ini" ucap Alia menyuapi ke mulutnya.
"Al.., Alia.., aeemm.."
Alia langsung memasukkan ladoo ke dalam mulut lelaki itu. Sidd terpaksa mengunyah dan menelan perlahan.
"Kau sudah membantuku sejauh ini, terima kasih ya," ucap Alia sembari tersenyum.
"Hmm, jangan sungkan. Varun adalah sahabatku, Aku pasti akan melakukan apapun untuknya" balas Sidd juga tersenyum kecil.
"Oh ya, boleh Aku bertanya sesuatu?" ucap Alia.
"Apa, tapi jangan bertanya tentang wanita" pungkas Sidd sembari berjalan.
"Darimana Kau tahu?" sahut Alia tercengang. Gadis itu mencoba mengikuti langkahnya. Ia menghentikan langkah Sidd dengan berdiri didepannya.
"Eeii.., ceritakan dulu. Apa Kau memiliki seorang Kekasih?" tanya Alia menghentikannya.
"Kenapa Kau ingin tahu sekali?"
"Karena selama ini Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan seorang gadis. Apa Kau tidak mempunyai Kekasih?"
"Tidak," jawab Sidd singkat. Kemudian lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Eeii tunggu dulu,"
"Eeeits..,"
Seketika Sidd melekatkan telunjuknya dibibir Alia, hingga membuat gadis itu terdiam sejenak. Kedua matanya sampai juling melihat jari lelaki itu.
"Sudah malam, tidurlah. Besok Kau akan segera menjadi Ny. Varun Khanna hmm.," ujar Sidd dengan nada lembut.
Alia mengangguk pelan.
"Gadis baik," ucap Sidd sembari membelai pelan pipi Alia. Ia tersenyum kecil dan beranjak meninggalkan Alia yang masih terpaku.
.
...
.
ππππππππ
.
...
.
__ADS_1
To be continue