
Bantu dukung karya author yahπ tekan like, rate, vote dan favoritkanβ. Unek-unek tulis di kolom komentar yahππ.
.
..
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
Beberapa hari kemudian Varun dan Sidd datang berkunjung ke rumah Alia. Alia juga tidak tahu kalau Varun akan datang kesana waktu itu bersama Siddarth. Untuk beberapa hari ini Alia tidak menerima telpon dari Varun, mendiamkan lelaki itu. Hingga membuatnya menemui Alia malam itu.
Alia mempersilakan kedua pemuda itu masuk. Varun dan Sidd duduk di sofa lusuh sambil memperhatikan sekeliling. Ibu Parwati yang baru saja keluar dari kamar, sedikit terperanjat dengan kedatangan mereka. Varun dan Sidd memberi salam pada wanita patuh baya itu. Ibu Parwati tampak menunggingkan senyumannya, namun senyuman itu memudar saat ia mengalihkan pandangan ke arah Varun. Ia pun beranjak pergi menuju dapur.
Varun merasa agak bingung dengan sikap Ibu Parwati padanya malam ini. Tidak seperti biasa ia terlihat begitu kesal. Memang apa salahku, pikirnya. Ia pun mengalihkan pandangan kepada Sidd yang terlihat santai.
"Alia," ujar Varun mengawali pembicaraan.
"Hemm..,"
"Kenapa kau tidak menjawab telponku akhir-akhir ini, oh ya kenapa dengan Ibu. Apa dia sedang kesal?" tanya Varun merasa ada yang tidak beres.
"Aa-aku.., aku sedikit sibuk. Maaf yah..,"
Sidd memperhatikan Alia tampak tegang. Gadis itu terlihat meremas-remas jemari tangannya. Sebenarnya, didalam hati Alia sangat khawatir. Saat ini mood Ibunya masih tidak stabil untuk bertemu Varun. Tapi pemuda itu malah datang ke rumahnya untuk bertemu.
"Lalu kenapa sikap Ibu terlihat dingin hari ini ?" tanya Varun.
"Mungkin Ibu hanya kelelahan, jadi membuat moodnya sedikit terganggu" jawab Alia berbohong.
"Kalian sudah makan malam, hari ini Ibu memasak ayam mentega" ujar Alia sembari menawarkan.
"Wah kebetulan sekali, aku belum makan malam" sahut Siddarth sumringah.
"Iya, aku juga" timpal Varun juga.
"Kalau begitu, ayo kita makan dulu" ujar Alia mengajak mereka.
__ADS_1
...----------------...
Di meja makan.
Ibu Parwati tampak menyajikan makanan kepada Alia dan kedua pemuda itu. Sidd hanya fokus menatap ayam mentega didepannya. Sungguh tidak sabar untuk menikmatinya. Sedangkam Varun terus memperhatikan sikap dingin Ibu Parwati.
"Sidd makanlah., " ucap Ibu Parwati mempersilakan Sidd makan. Setelah itu Ibu Parwati langsung duduk dan tidak memperhatikan sekelilingnya lagi. Ia pun mulai menyuapi makanannya dengan menekuk pandangan hanya ke piringnya saja. Wanita itu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Varun.
Alia merasa iba kepada Varun karena diacuhkan Ibunya. Ia pun berdiri untuk mengambilkan beberapa makanan dan menyajikannya untuk lelaki itu.
"Terima kasih sayang," ujar Varun sembari tersenyum. Alia pun mengangguk dan kembali duduk di kursinya.
"Kau belajar untuk menjadi istri yang baik rupanya" goda Sidd spontan.
Mendengar hal itu membuat Ibu Parwati menghentikan makannya. Ia kemudian menghempas sendok hingga menimbulkan suara agak keras. Sontak saja kedua pemuda itu kaget dan saling berbagi pandangan. Mereka merasa heran dengan sikap Ibu dari Alia itu.
Diantara mereka hanya Varun yang merasa ada sesuatu yang memgganjal. Tak berapa lama, Ibu Parwati meninggalkan mereka yang masih menikmati makan malam. Varun beralih memandang Sidd yang tampak lahap mengunyah sepotong paha ayam. Ia melongo, kenapa dia begitu lahap menikmatinya hingga tidak menyadari kondisi sekelilingnya yang agak aneh. Ia juga melihat bibir dari sahabatnya itu belepotan karena minyak. Segitu laparkah sahabatnya itu? pikirnya.
Varun yang masih diliputi kebingungan beranjak pergi menyusul ibu Parwati.
"Mau kemana?" tanya Alia melihat lelaki iti beranjak. Namun Varun tak menggubris pertanyaan gadis itu. Ia terus berjalan menyusul Ibu Parwati. Alia terlihat cemberut, sambil menopang dagunya, tiba-tiba saja suasana menjadi tegang seperti ini. Sidd menghentikan makannya seketika.
"Apa yang terjadi, kemana semua orang ?" batin Sidd yang tak melihat keberadaan Ibu Parwati dan juga Varun. Ia pun meyudahi makanannya. Lalu mengeluarkan saputangan dari saku dan mengelap noda-noda disekitar mulutnya.
Ibu Parwati tampak sedang mencuci tangan dan beberapa perlatan kotor. Varun perlahan datang menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ibu..," tegurnya pelan.
Ibu Parwati menghentikan sejenak pekerjaannya saat mendengar suara pemuda itu. Tak menyahut sapaan Varun, ia kembali meneruskan pekerjaannya lagi untuk mencuci peralatan kotor.
Varun semakin mendekat. "Ibu, apa yang terjadi? Kenapa sikapmu sedikit dingin denganku ?" tanya Varun yang masih kebingimungan.
Ibu Parwati masih dima membatu.
"Apa aku membuat kesalahan ?" tanya Varun lagi.
Ibu Parwati pun menghela nafas. "Tidak.., pergilah !" jawab ibu Parwati sembari mengusir Varun dari sana.
"Tapi kenapa sikap Ibu berbeda hari ini padaku ?" gubris Varun karena merasa tidak dianggap. "Katakan Bu.., ada apa ?" tanya Varun menatap Ibu Parwati.
Ibu Parwati dengan terpaksa menghentikan pekerjaanya. Ia pun berbalik dan menatap tajam Varun.
"Varun.., sebaiknya mulai sekarang hubunganmu dengan Alia diputuskan saja. Dan kau jangan pernah datang kemari lagi" ucap Ibu Parwati.
__ADS_1
Varun terkejut sambil melepas genggaman tangannya pada Ibu Parwati.
"Aa-apa, kk-kkenapa ?"
"Ini demi keselamatan Alia, jadi Aku memohon kepadamu untuk tidak menemui Alia lagi" tambah Ibu Parwati lagi.
Varun menelan salivanya. "**-tapi kenapa bu, Aku dan Alia saling mencintai" sahut Varun.
"Kalau Kau benar-benar mencintainya, maka biarkan dia bebas. Jangan lagi Kau menemuinya. Ini demi keselamatan Alia. mulai besok dan seterusnya jangan datang kemari dan menemuinya lagi. Aku mohon padamu, Nak" jawab Ibu Parwati sembari memohon.
Jauh didalam hati dia juga sangat menyayangi Varun seperti anaknya sendiri. Tapi demi keselamatan Alia lebih baik baginya untuk menjauhkan Varun dari Alia.
Ibu Parwati pun meninggalkan Varun yang masih terpaku. Tanpa disadari ternyata Sidd mendengar semua percakapan mereka, lalu datang menghampiri Varun. Sidd memegang pundak Varun, dan memandang wajah nya yang sedih dan kalut. Karena masih sedikit shock, Varun memutuskan untuk beranjak meninggalkan kediaman Alia.
"Varun..., Varuuuunn" teriak Alia memanggil lelaki itu yang tampak tergesa-gesa. Tapi Varun terus berjalan dan pergi. Alia hanya menatapnya dari jauh.
Sidd berdiri disamping Alia yang tampak putus asa.
"Sebenarnya kalian berdua ada masalah apa?" tanya Sidd menoleh ke arah gadis itu.
Alia menatap dalam Siddarth. Dengan perlahan, Alia mulai menceritakan saat kedatangan Ny. Tara ke rumahnya beberapa wakti lalu. Sidd pun manggut-manggut mendengarnya.
"Sekarang Aku benar-benar bingung Sidd. Disatu sisi Aku sangat mencintai Varun, tapi disisi lain Ibuku juga sangat berarti" ucap Alia dilema.
Sidd menepuk pelan tengkuknya. "Kau yang sabar ya, aku yakin kalian bisa melewati cobaan bersama-sama" ujar Sidd pula.
Diperjalanan, Varun masih mengingat setiap ucapan dari Ibu Parwati. Dengan wajah kesal dia terus melaju kendaraannya sambil memukul-mukul stir mobilnya.
.
...
.
πππππππππ
.
...
.
To be continueβπ
__ADS_1