
Mari kita saling mendukung. Jangan lupa tekan like dulu sebelum baca yahπ.
.
...
.
ππππππππ
.
...
.
Varun terenyuh dengan jawaban Alia, dia pun bangkit dan menghapus airmatanya.
"Aku tidak menyangka kalau cintamu tidak sebesar cintaku padamu" rungut Varun putus asa.
Alia hanya diam tak menjawab.
"Aku tidak tahu apa sekarang Kau masih mencintaiku atau tidak. Atau mungkin sekarang sudah mulai jatuh cinta padanya" ucap Varun sembari menunjuk ke arah Sidarth. Sidd sedikit terkesiap mendengar tuduhan Varun.
"Apa yang Kau katakan Varun?" tukas Alia.
"Aku benarkan?" pungkas Varun hingga membuat Alia terdiam kembali.
"Buktikan kalau Aku salah Alia, buktikan..!!" bentak Varun dengan keras.
Alia dan Sidarth terdiam sejenak.
"Ikutlah bersamaku kalau Kau masih mencintaiku..!!" tambah Varun lagi menggenggam jemari Alia. Alia masih terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Aku tidak bisa" jawab Alia.
Varun pun berang, dengan cepat ia menarik Alia dengan paksa.
"Varunn, hentikan. Aku tidak bisa" tukas Alia mencoba melepaskan tangannya.
Namun Varun tidak memperdulikan, ia terus menariknya dengan paksa, dan semakin memperkuat cengkeramannya.
"SIIDDD.." jerit Alia memanggil Sidarth.
Dengan cepat Sidd menghalangi langkah Varun. Varun menatap tajam Sidd dengan penuh kemarahan.
"Lepaskan dia..!!" ucap Sidd menatap Varun dengan kesal atas perlakuan Varun yang kasar.
Varun masih belum melepaskan pegangannya. Ia semakin murka menatap Sidarth.
"Lepaskan Istriku sekarang juga" ucap Sidd lagi yang membuat Alia tersentak mendengar tutur katanya.
Dengan penuh amarah mendengar ucapan Sidd, Varun melepaskan tangan Alia.
"Kau bilang apa barusan? Istri ?" tanya Varun tak suka.
Dengan cepat, Varun melayangkan tinjunya pada rahang Sidarth. Hingga membuat Alia tersentak kaget melihatnya.
Varun mencoba untuk memukul Sidd sekali lagi tapi kali ini Sidd menahan tangan Varun dan membalasnya dengan kuat.
Varun terjerembab ke mobilnya, Alia hendak menolong tapi di urungkannya. Sidd kembali meraih Varun dan memukulnya beberapa kali hingga tak berdaya.
"Dia adalah Istriku," ucap Sidd dan meninju Varun lagi.
"Tapi dia Kekasihku yang Kau rebut" jawab Varun mulai tak berdaya. Kesal dengan perkataannya, Sidd mengancang-ancang untuk memukulnya lagi.
"Siiiidddd.." teriak Alia tidak tega melihat Varun.
Sidd menghentikan serangannya dan menatap Alia yang menangis. Ia jadi tak kuasa dan melepaskan cengkramannya dari Varun.
"Bahkan Kau mulai tunduk padanya Sidd," ucap Varun lemah, tapi masih sempatnya meledek Sidd.
Sidd berbalik dan kembali menonjoknya, hingga membuat Varun pingsan. Melihat hal itu Alia merasakan sakit hati dan kecewa, ia pun berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis. Ia sungguh tidak tega melihat kondisi Varun saat ini.
"Aliaa.." ucap Sidd pelan.
Sidarth kemudian menyuruh Kabir untuk menelpon Ny. Tara menjemput Varun. Lalu kembali ke dalam menyusul Alia.
__ADS_1
Tampak Alia menangis disisi tempat tidurnya.
"Alia..,"
"Kenapa Kau masih memukulnya?" ucap Alia menghapus air matanya.
"Alia maafkan Aku, ini diluar kendaliku" jawab Sidarth.
"Apa, seharusnya Kau tidak perlu membalasnya. Tapi Kau memukulnya dengan sangat banyak" pungkas Alia.
"Maksudmu Aku tidak perlu membalasnya, itu berarti Kau membiarkan dia memukuliku" jawab Sidd mulai kesal.
Alia terdiam mendengar ucapan Sidd .
"Kalau Kau tidak ingin Kami berkelahi, kenapa tadi Kau tidak ikut pergi bersamanya? Kenapa Kau justru memanggilku untuk menolongmu ?" ujar Sidd dengan tegas.
"Bukan seperti itu Sidd.."
"Karena Kau masih sangat mencintainya kan," potong Sidd saat Alia bicara.
Alia terhening sejenak.
"Aku pun tidak ingin memaksamu untuk tinggal bersamaku. Jika Kau mau, Kau bisa pergi bersamanya" tambah Sidd lagi lalu berbalik dan meninggalkan Alia yang terpaku.
Sidd merasa sakit hati dan kembali ke bengkel, untuk memperbaiki mobil yang dirusak Varun.
Tak berapa lama, sebuah mobil datang ke rumah Sidd, tak lain adalah mobil Ny. Tara. Beberapa bodyguard tampak memapah Varun masuk kedalam mobil. Ny. Tara melangkah perlahan menghampiri Sidarth.
"Kali ini Aku memaafkan semua perbuatanmu pada Putraku Tn. Malhotra, karena hal ini terjadi dirumahmu. Kalau ditempat umum sudah pasti Aku akan menuntutmu" ucap Ny. Tara beranjak pergi.
Kabir pun menghampiri Sidd yang masih terdiam memandang kepergian Ny. Tara.
"Tuan, Kau baik-baik saja ?" tanya Kabir mendekatinya.
"Hmm, cepat perbaiki ini sebelum orangnya datang" ujar Sidd kemudian.
"Tuan, bagaimana dengan Kakak Ipar ?"
"Bukan urusanmu" bentak Sidd dan kembali bekerja. Kabir terdiam dan melanjutkan pekerjaannya.
.
...
.
.
...
.
Pada malam harinya dikediaman Khanna, Varun mulai sadar dari pingsannya. Ny. Tara sudah duduk disamping Varun sembari mengusap kepalanya perlahan.
Cahaya lampu kamar membuat Varun mengernyitkan matanya.
"Kau sudah sadar Sayang?" ucap Ny. Tara tersenyum kecil.
Varun mencoba untuk bangkit dari tidurnya. "Aaaahhhk..," rintih Varun. Ia merasakan nyeri pada rahangnya.
"Kenapa Aku ada disini ?" tanya Varun mengusap pelan rahangnya.
"Sayang, bukankah ini Rumahmu, memangnya Kau harus dimana lagi?" ucap Ny. Tara mengusap kepalanya.
Varun terdiam sejenak, ia baru mengingat kejadian tadi siang saat dirumah Sidd. Dia pun merasakan perih diwajahnya, beberapa pukulan dia terima hingga meninggalkan luka memar.
"Sidarth membuatmu seperti ini, kalau ini terjadi ditempat lain Ibu pasti tidak akan melepaskannya" ucap Ny. Tara menyadarkan lamunan Varun. "Ibu minta padamu, jangan pernah kesana lagi" sambungnya.
Varun menyandarkan tubuhnya lagi. Ia sama sekali tidak menggubris perkataan dari Ny. Tara karena saat ini, ia sedang tidak ingin berdebat dengan Ibunya itu.
"Ibu akan suruh pelayan untuk mengantarkan makananmu."
Ny. Tara bangkit dan beranjak meninggalkan kamar Varun. Diluar kamar tampak beberapa pelayan sedang berdiri berjejer.
"Kalian siapkan makan malam untuk Varun dan antar ke kamarnya" perintah Ny. Tara sembari mendongakkan kepalanya.
"Baik Nyonya," ucap pelayan itu menundukkan kepala mereka.
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Alia menyiapkan makan malam untuk Sidarth. Ia merasa bersalah karena telah membuat Sidd tersinggung. Untuk menebus kesalahannya itu, ia memasak makanan kesukaan Sidarth.
Setelah cukup lama menunggu, Sidd masih belum masuk ke dalam rumahnya, hal itu membuat Alia tampak gusar. Ia pun berpikir, apakah lelaki itu begitu marah hingga tidak ingin bicaranya dengannya lagi.
Terdengar langkah seseorang datang dari arah pintu. "Sidd.." ucap Alia berbalik badan.
"Maaf, ini Aku Kakak Ipar. Tuan masih dibengkel" jawab Kabir. Alia semula berpikir yang datang adalah Sidarth.
"Aku ingin mengambil air dulu, permisi Kakak Ipar" ujar Kabir beranjak. Alia mengangguk, ia pun terlihat kecewa.
Alia memberanikan diri untuk menemui Sidarth ke bengkelnya. Disana tampak ia masih sibuk dengan pekerjaanya. Untungnya pemilik mobil yang dirusak Varun tidak jadi datang hari itu. Hingga Sidd masih punya waktu untuk memperbaikinya segera.
Sidd melihat kedatangan Alia, namun ia mengalihkan pandagan saat Alia berjalan ke arahnya.
"Sidd.," tegur Alia berdiri disampingnya.
Sidd tak menyahut panggilan dari gadis itu.
"Aa-aaku ingin bicara sesuatu" ucap Alia lagi.
Sidd masih saja mengacuhkannya. Alia terus berusaha untuk mendekati dan bicara dengannya.
"Sidd, apa Kau mendengarku?" tanya Alia menghalangi langkahnya.
Karena diacuhkan oleh Sidarth, Alia terpaksa mengambil alat yang akan digunakan oleh lelaki itu.
Sidd pun terpaksa berhenti dan mengambil handuk kecil untuk menglap keringatnya. Alia terus mengikutinya.
"Sidd, kenapa Kau diam saja ? Aku ingin minta maaf padamu" ucap Alia mulai merengek, karena selalu didesak Sidd pun mulai kesal.
"Alia, Kau tidak lihat Aku sedang sibuk" ketus Sidarth.
"Aku hanya tidak suka Kau mengacuhkanku seperti ini, setidaknya katakanlah sesuatu" sanggah Alia dengan nada pelan.
"Apa Aku harus selalu menuruti keinginanmu, dan Aku tidak suka bila seseorang menggangguku pada saat bekerja" pungkas Sidarth menatapnya tajam.
Alia terdiam sejenak sembari menatap manik mata lelaki itu. Baru kali ini, ia merasa Sidarth bicara seketus itu kepadanya. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat lelaki itu mengacuhkannya.
"Mm-maafkan Aku," ucapnya pelan. Tak terasa airmatanya menetes. Alia beranjak pergi meninggalkan lelaki itu.
Alia langsung masuk ke kamarnya sambil menangis, Kabir yang menyapanya pun tak dihiraukannya.
"Tuan, kenapa dengan Kakak Ipar?" tanya Kabir menghampiri.
"Bukan urusanmu" ketus Sidarth.
"Oh ya Tuan, Kakak Ipar telah menyiapkan makan malam untukmu. Sana Kau makan dulu" ucap Kabir lagi. Sidd tak menanggapi Kabir, ia kembali melanjutkan pekerjaanya.
Sikapnya juteknya kepada Alia tadi mengganggu pikiran Sidarth. Ia menghentikan pekerjaannya dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Disana Sidd melihat makanan yang sudah disiapkan Alia diatas meja makan. Tidak seharusnya ia bersikap kasar seperti tadi kepada gadis itu.
Lagipula, Sidd juga bingung. Kenapa ia begitu marah karena Alia mencoba untuk membela Varun. Ia hanya merasa tidak menyukai perhatian Alia kepada lelaki itu.
Tok..tok..tok
Sidarth mengetuk pintu kamar Alia.
"Alia..," panggil Siddarth didepan pintunya.
Alia tidak menghiraukan panggilan Sidarth. Ia hanya menekuk wajahnya ke bantal dan menangis disana.
"Alia, Kau dengar ? Aku tidak bermaksud bersikap seperti itu. Tolong buka pintunya..!" ucap Sidarth lagi.
.
...
.
πΊππΊππΊππΊππΊπ
.
...
__ADS_1
.
To be continue