
Makasih sudah mampir ke story ku, silakan tinggalkan jejak ya, berupa like, vote dan komennya dibawahπ.
.
...
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
Malam itu, Ibu Parwati sedang menerima tamu dari Yayasan yatim piatu. Mereka ingin memesan beberapa jenis makanan pada Ibu. Parwati. Tidak banyak diketahui orang-orang, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari Ibu Parwati terkadang menerima catering dari berbagai pihak. Hitung-hitung bisa mencukupi kehidupan sehari-hari.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Nyonya" ucap Ibu Yayasan itu sembari berpamitan.
"Mari, terima kasih" balas Ibu Parwati ramah. Setelah tamu-tamunya itu pergi, Ibu Parwati masih berdiri heran saat melihat beberapa mobil berhenti ditengah jalan depan rumahnya.
Tak berapa lama, tampak Varun keluar bersamaan dengan sang Ibu. Beberapa pelayan dan bodyguard mengikuti langkah Ibu dan Anak itu.
"Salam Ibu," sapa Varun tersenyum kecil.
Ibu Parwati melempar senyuman pula. Namun, ia masih terlihat bingung. Ditambah lagi dengan kehadiran Ny. Tara berdiri didepannya.
"Salam Nyonya," sapa Ny. Tara pula.
"Salam," balas Ibu Parwati mencoba untuk tenang. "Mari, silakan masuk" sambung Ibu Parwati lagi.
Ny. Tara dan Varun menduduki sofa lusu yang terbentang itu. Tak berapa lama, tampak Alia yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia terkejut serta tampak tegang melihat kedatangan Varun bersama Ibunya.
"Salam Bibi," sapa Alia memberi salam. Raut wajahnya tampak tegang. Ny. Tara tersenyum kecil padanya.
"Aku benar-benar terkejut dengan kedatangan Anda Nyonya, kalau boleh tahu ada apa sebenarnya ?" Tanya Ibu Parwati memulai pembicaraan.
"Jangan terkejut begitu Nyonya, kedatanganku bukan untuk macam-macam lagi" sahut Ny. Tara sembari melebarkan senyumannya. Ibu Parwati masih diliputi rasa penasaran.
"Varun ingin menikah dengan putri Anda, Alia. Jadi Kami datang kemari untuk melamarnya" jawab Ny. Tara dan mengutarakan tujuannya. Raut wajah Alia tampak sumringah. Kenapa dengan tiba-tiba sekali sikap Ny. Tara berubah kepadanya, pikirnya didalam hati.
"Mm-melamar?" sahut Ibu Parwati masih tidak percaya.
"Iya, bukankah selama ini Varun sangat mencintai Alia?" tanya Ny. Tara menoleh ke arah putranya.
"Iya Bu," jawab Varun sambil tersenyum.
Ibu Parwati tampak terdiam sejenak. Ia masih sulit untuk mempercayai keramahtamahan Ny. Tara kepadanya. Apa yang ia rencanakan kali ini, pikir Ibu Parwati didalam hatinya. Namun, ia mencoba menepis pemikiran negatif itu dari kepalanya.
"Anda tidak usah khawatir, demi kebahagiaan Putraku, Aku bersedia menanggung semua persiapan dan biayanya" ujar Ny. Tara tampak sungguh-sungguh.
__ADS_1
Ibu Parwati memandang ke arah Alia, tampak senyuman kebahagiaan mengambang di wajahnya.
"Maaf Nyonya tapi ini bukan masalah biayanya, Aku..,"
"Ibu, jangan khawatit. Ibuku sudah merestui Aku dan Alia untuk menikah, benarkan Bu ?" ucap Varun memotong perkataan Ibu Parwati.
Varun menatap ke arah ibunya. Ny. Tara dengan penuh keyakinan pun mengangguk.
"Dan Ibuku juga minta maaf atas perlakuan dan sikapnya selama in " tambah Varun lagi.
Ibu Parwati hanya diam dan mencoba mengerti dengan sikap Ny. Tara. Ibu Parwati merasa sedikit kecewa, kenapa bukan wanita itu yang mengucapkan kata maaf kepadanya.
"Alia, bagaimana ? Kau setuju kan, menikah dengan Varun ?" tanya Ny. Tara memandang ke arahnya.
Alia tampak grogi, ia pun mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Ibu Parwati tampak tersenyum kecil sembari mengangguk pelan.
"Alia, ayo cepat jawab. Kau mau menikahkan denganku tidak ?" ujar Varun tak sabar.
Alia masih tampak bengong.
"Biasanya kalau wanitanya diam, itu tandanya dia setuju. Benarkan Alia?" sambung Ny. Tara sembari menggoda gadis itu. Alia pun tersipu malu. Wajahnya memerah menahan perasaany yang bergejolak.
"Sam berikan bungkusannya..!!" pinta Ny. Tara menoleh kepada Asisten pribadinya. Sam kemudian meletakkan semua barang-barang tersebut dimeja.
Ibu Parwati terperangah, begitu pun dengan Alia. "Anda tidak perlu repot-repot Nyonya" ucap Ibu Parwati merasa tidak enak.
"Aku tidak repot, malah ini adalah kewajibanku. Ini adalah tradisi di Keluarga kami" ucap Ny. Tara sambil mengambil sebuah box besar dan membukanya.
"Ini adalah gaun pengantin yang khusus Aku pesan untuk Alia" tambah lagi.
"Pada saat pernikahan nanti, pakailah gaun itu. Kau pasti terlihat sangat cantik" ucap Varun tersenyum lepas.
Alia hanya menanggapi dengan senyuman.
"Oh iya ini, ini adalah perhiasan yang khusus juga Aku pesan untukmu" ucap Ny. Tara sambil memberikannya kepada Alia.
"Bibi, tidak perlu seperti ini. Gaun ini saja Aku sudah bahagia menerimanya" ujar Alia semakin sungkan menerima perhiasan yang sangat mewah itu.
"Eeiihhh.., jangan seperti itu. Ini adalah restu Ibu, kau juga harus memakainya saat pernikahan kita nanti" sahut Varun sedikit memaksanya. Alia pun menerima perhiasan itu, walau dihatinya masih diliputi rasa sungkan.
"Pernikahan akan dilaksanakan dirumah ini nanti, Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk melakukan persiapan disini. Jadi kami akan datang pada hari pernikahan saja, bagaimana?" ujar Ny. Tara sembari bertanya keoada wanita paruh baya didepannya.
"Ibu tentu kan saja tanggalnya, dan Kami akan datang dihati itu" celetuk Varun pula.
Ibu Parwati hanya mengangguk dan mencoba tersenyum. "Baiklah, nanti Aku akan bertanya dulu kepada Pendeta dan akan mengabati kalian secepatnya" sahut Ibu Parwati.
"Baiklah kalau begitu Nyonya, karena sudah malam kami pamit dulu" ucap Ny. Tara dan kemudian berdiri.
"Baiklah," balas Ibu Parwati.
"Salam Ibu, Aku akan datang sebagai menantumu secepatnya" ucap Varun dan membungkuk memberikan salam pada ibu Parwati. Ibu Parwati pun menyentuh kepalanya pemuda itu.
__ADS_1
"Kami permisi Nyonya, salam" ucap Ny. Tara berpamitan.
"Salam..," balas Ibu Parwati. Tak lupa juga Alia mengucapkan salam kepada Ny. Tara.
Ibu Parwati menatap kepergian mereka dengan menyisakan berbagai tanda tanya. Mengapa begitu tiba-tiba sikap Ny. Tara berubah terhadap mereka? Sebelumnya wanita itu sangat membenci bahkan berbicara kasar kepadanya.
.
...
.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
.
...
.
Beberapa hari kemudian,
Ibu Parwati mencoba menepis semua pemikiran buruknya terhada Ny. Tara. Siang itu, Ibu Parwati memanggil Pendeta ke rumahnya untuk melihat rasi bintang mereka. Serta untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
Tampak Pendeta membentangkan rasi bintang Varun juga Alia didepannya. Pendeta mengamati milik Varun, lalu perlahan meletakkannya kembali.
"Pendeta, bagaimana?" tanya Ibu Parwati memperhatikan.
"Nyonya sepertinya pernikahan ini belum bisa dilakukan dalam waktu dekat" ucap Pendeta itu.
"Kenapa Pendeta?"
"Karena saat ini akan berdampak kepada nasib buruk kedua mempelai. Pernikahan hanya bisa dilakukan pada akhir Desember" ucap Pendeta menjelaskan.
Ibu Parwati terdiam sejenak. Apa maksud perkataan Pendeta dengan nasib buruk kedua mempelai? Apakah akan terjadi sesuatu pada Putrinya?
"Pernikahan akan tetap dilakukan dalam Minggu ini Bu" ucap seseorang yang berdiri didepan pintu. Ibu Parwati menoleh pada sumber suara itu.
"Varun..," ucapnya pelan.
.
...
.
ππππππππ
.
...
__ADS_1
.
To be continue